
"Sudah turun semua?"
"Aman, Bos."
Meski hanya sebagai pengamat, tapi Mikhail benar-benar memastikan tidak ada yang tercecer. Terlebih barang-barang milik Zia, menurut Mikhail jika barang-barang miliknya mungkin bisa tergantikan dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Sementara itu, Zia dengan bantuan Rani mulai merapikan pakaian yang tak sedikit itu. Mikhail berkata hanya membawa sebagian saja, akan tetapi jika Zia perhatikan lagi kenapa bisa sebanyak ini.
Sebelum menata semuanya, Rani sempat dibuat tersenyum kala menyadari walk-in closet di sisi kamar mereka teramat menggemaskan. Terbiasa dengan kamar Mikhail sebelumnya, jujur saja Rani merasa pendapat orang-orang tentang perubahan majikannya memang benar adanya.
"Non, ini nona yang minta?" tanya Rani hati-hati, sejak tadi suasana di sini sedikit sunyi dan cukup menenangkan hingga wanita itu berusaha menciptakan kehangatan.
"Ehm? Enggak, Mbak ... mas Mikhail semua yang atur semuanya," tutur Zia menarik sudut bibir kala semua sudah tersusun rapi.
Pertanyaan Rani dapat dia tebak arahnya kemana, memang semua terlihat persis kamar milik anak perawan. Sejak pertama masuk kamat memang sudah suasana sudah begitu, Zia juga merasakan betapa Mikhail mengutamakan dirinya dalam segala hal.
Usai dengan kesibukannya, Zia berpindah ke tempat lainnya. Pindahan dadakan yang tentunya membuat semua serba tergesa, Mikhail benar-benar menguras tenaga banyak orang, tak terkecuali Axel dan Jackson.
Meski memang sudah siap dihuni, tetap saja harus dibersihkan lagi. Belum lagi foto pernikahan yang dia bawa dari rumah orang tuanya harus ditempatkan simetris dan Mikhail tak terima ketidaksempurnaan sedikit saja.
"Kiri dikit, Om!" pinta Mikhail mengarahkan Axel, sementara Jackson menahan bagian bawahnya.
Jika Jackson tahu tugasnya akan merangkap mengurus hal-hal semacam ini, rasanya lebih baik dia ikut Ibra ke rumah sakit.
"Sudah belum? Om encok, Mikhail!!"
Tiada dia duga jagoan kecil Ibra yang dulu kerap dia gendong ketika dikerumunan kini mengaturnya sekeras latihan militer hanya demi fotonya terpajang sempurna.
"Ck ... tahan sebentar, Om!!" pinta Mikhail lantaran Jackson mulai bergetar dengan alasan sendinya mulai bermasalah.
"Axel cepat!! Gantian kalau memang tidak bisa!!"
"Sabar, Jackson ... ini kurang 5 CM ke kiri," ucap Axel masih menghitung dengan begitu telitinya.
"Astaga!! Ini berat!!"
__ADS_1
Jackson mulai tak sabar, biasa mengemban tugas berat melindungi majikan kini dia beralih profesi seperti ini. Mana mungkin dia terbiasa dengan mudah, Mikhail menepuk tangannya sebagai isyarat agar mereka berhenti bicara
"Sebentar, dikit lagi ... Bas, coba sini!" titah Mikhail meminta Bastian mendekat, Mikhail matanya sedikit tak fokus.
"Kenapa, Bos?"
"Coba kamu di sini, apa sudah lurus?" tanya Mikhail yang membuat Jackson menghembuskan napas kasarnya.
"Eum dua centi ke kanan, Bos."
Astaga, sejak tadi hanya begitu saja. Selicih beberapa centi dan kenapa itu seakan jadi penting sekali. Padahal pekerjaan ini tak seharusnya rumit, Mikhail saja yang menjadikan hal ini amat sulit.
Axel menggeser ke kiri sedikit, dia pikir sudah benar namun suara Bastian kembali mengejutkannya.
"Jadi yang benar ke kiri atau ke kanan, Babas?!!" bentak Axel mulai kesal juga, sebelumnya dia membuat kesal Jackson. Kini, semua berbalik dan telapak tangannya seakan gatal ingin menampar mulut plin-plan Bastian.
"Kanan!! Telingamu dimana."
Jarang-jarang Bastian bisa membentak dua pria berbadan kekar itu. Biasanya, meminta dibukakan pintu saja dia segan, kini Mikhail melimpahkan tanggung jawab padanya, jelas saja dia memanfaatkan kesempatan emas ini.
"Kau sengaja membuat kami kesulitan, Bas?"
"Udah Om, cukup ... itu sudah pas, nggak goyang juga."
Bagaikan bidadari yang menyelamatkan mereka kala Iblis menghantui, Jackson ingin mencium punggung tangan Zia sebagai ucapan terima kasih rasanya. Pinggangnya sudah terasa pegal, begitupun dengan Axel yang tak kalah lelahnya. Otot-otot mereka dipaksa bersabar dan itu luar biasa melelahkan, untuk pertama kalinya kedua pria itu mengeluh dengan tugas yang diberikan.
"Kok pas? Masih kurang simetris, Sayang," protes Mikhail dan merasa sedikit tak puas dengan hasil kerja mereka.
"Yaudah, Mas pasang aja sendiri ... minta bantuin sama Babas, akumah ogah!!" ungkap Zia kemudian berlalu pergi tanpa peduli pria itu akan mengatakan apa nantinya.
"Astaga, Bas ... sana lurusin," tutur Mikhail yang sontak membuat Babas menggeleng cepat, pria ini semakin menyulitkan, pikir Bastian.
"Kalau menurut pandangan mata saya, ini sudah sangat-sangat simetris, Bos ... pencahayaannya juga pas dan perfect!! Bang Axel sama Bang Jackson memang jago segala hal ini mah!!" puji Bastian pintar sekali mencari pembelaan, demi membuat Mikhail mengurungkan niatnya dia menukar pernyataan yang tadinya selalu komplen kurang rapi.
-
.
__ADS_1
.
.
Menjelang sore, Mikhail membersihkan kolam renang sementara Zia bersantai di pinggirnya. Dengan begitu sabar dia menunggu suaminya selesai, sebenarnya tidak begitu kotor dan sebelumnya Bryan sudah sempat memastikan rumah mereka siap untuk dihuni. Hanya saja, beberapa daun kering yang beterbangan ke permukaan kolam sedikit mengganggu mata Mikhail.
"Mas," panggil Zia mulai berjalan menelusuri pinggiran kolam yang basah itu, memandangi lingkungan sekitar yang memang luar biasa menangkan.
"Jangan kemana-mana, duduk diam tunggu Mas selesai, Zia," tutur Mikhail lembut dan terus fokus dengan pekerjaannya, meski sebenarnya punggungnya terasa sedikit panas akibat paparan mentari yang masih berkuasa.
"Nggak kemana-mana, aku tetap di sini," jawab Zia tersenyum senang kala kakinya bertemu dengan laintai yang terasa basah itu.
"Ck, licin, Zia ... jangan di sana, duduk seperti tadi," titah Mikhail persis seorang papa yang mengatur anak gadisnya.
"Cepet makanya, lama banget bersihin daon doang," omel Zia yang menurutnya tidak perlu, lagipula belum akan digunakan saat ini juga.
Demi menuruti perintah Mikhail, Zia memang menyingkir dan mencari tempat yang tidak membahayakan. Ya, sedikit banyak dia paham maksud Mikhail adalah dia takut Zia terpeleset sebenarnya.
Rumah yang Mikhail bangun untuk Zia memang begitu luas, sengaja dia dirikan di atas tanah yang bahkan terkenal paling luas di tempat itu hanya demi kenyamanan dia bersama keluarga kecilnya nanti.
"Mas, kenapa masih banyak tanah kosongnya di sana?" tanya Zia menunjuk ke depan dimana hamparan rumput hijau yang begitu indah cukup luas tersisa.
"Sengaja, buat lapangan bola," jawab Mikhail tanpa menoleh sang istri yang kini menatapnya tak percaya.
"Hah? Lapangan bola? Kamu mau buka rumah kita untuk umum, Mas?" tanya Zia kemudian, dia tidak pernah berpikir akan mengizinkan warga se-RT masuk ke dalam rumahnya sekaligus jika hanya untuk bermain.
"Ya enggaklah, pemainnya anak-anak kita kan cukup," jawab Mikhail kemudian, harapannya teramat besar padahal satu saja belum lahir.
"Aku hanya sanggup mengandung paling banyak tiga kali, Mas ... sisanya kamu saja yang hamil, kamu pikir nggak berat kemana-mana bawa perut begini?" celoteh Zia sedikit kesal lantaran Mikhail seakan benar-benar menginginkan anak sebanyak itu.
"Zia, kan Mas nggak cuma diem aja. Kamu hamil juga Mas perlu usaha, olahraga siang malem ... hamilin kamu tu susah, berkali-kali baru jadi padahal aku sudah usaha maksimal," tuturnya seakan benar-benar menderita padahal tugasnya paling mudah.
"Idih, Mas cuma nyumbang sper*ma udah kayak paling menderita, yang hamil aku, yang lahirin juga aku ... suami macam apa itu?" Zia melengos dan seakan tak sudi menatapnya hingga nanti malam.
"Suami produktiflah, Zia, gitu aja masih tanya."
"Terserah!! Mending tu kolam kamu isi aja ikan nila ... biar ngasilin dan otak kamu nggak cuma mikirin bikin anak!!" omel Zia sudah persis ibu-ibu yang kerap Mikhail anggap sebagai racun dunia, tukang gosip dan doyan marah di lingkungannya. Kini, istrinya sudah memperlihatkan bagaimana dia beberapa tahun ke depan.
__ADS_1
"Apa salahnya? Yang namanya suami istri bikin anak kan memang tujuan menikahnya."
Tbc