Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 57 - Cari Cara Ala Mikhail.


__ADS_3

Mulutmu harimaumu, Zia semarah itu usai makan siang. Meski memang dia masih memutuskan tetap bersama Mikhail di kantor, tetap saja kemarahan Zia terlihat begitu jelasnya.


Ucapan asal Mikhail melukai hatinya, walau tidak ada kalimat yang mengutarakan sebab dia disebut anak haram adalah sama seperti apa, perasaan Zia berkata arah pembicaraan Mikhail ialah kesana.


"Astaga, benar-benar marah sepertinya."


Tepat di sore hari, Mikhail kehilangan cara. Padahal dia sudah menggunakan jurus andalan dari sang papa jika istri marah maka diamkan sebentar, rayu dan perlakukan semanis mungkin agar dia luluh.


Sayangnya, cara itu tidak berhasil untuk Zia kali ini. Bukan hanya merayu lagi, Mikhail bahkan sudah melakukan hal manis lainnya yang berujung tamparan kecil di bibirnya akibat nekat mengecup bibir Zia yang terlalu lama cemberut.


Menatap punggung istrinya yang kian menjauh, Mikhail hanya bisa menggigit bibirnya kala Zia menghempas pegangan tangannya dan memilih ke kamar sendirian. Istrinya tidak pernah marah namun sekalinya marah dia akan begini, mode diam dan jujur saja Mikhail takut istrinya akan kabur seperti beberapa bulan lalu.


"Kenapa? Nggak dapet juga jambu kristalnya?"


Ini bahkan lebih bahaya dari jambu kristal, Zia bahkan tidak lagi menginginkannya kala Mikhail hendak berusaha mencarinya. Pria itu mengacak rambutnya kasar dan menghela napas perlahan kala Kanaya menghampirinya.


"Bukan lagi masalah jambu kristal, Ma ... dia marah bahkan mungkin sampai lusa dia akan begitu," keluh Mikhail menatap mamanya dengan tatapan sendu, jujur saja hal yang Mikhail takutkan dari seorang wanita adalah kemarahannya, bukan keinginannya.


"Hm? Zia bisa marah juga ternyata?"


"Ya bisa, Ma ... Mama pikir dia siapa tidak bisa marah," tutur Mikhail berdecak heran, sepertinya mengutarakan semuanya pada Kanaya tidak akan menemukan solusi sama sekali.


"Tapi karena apa, Khail? Pasti kamu yang salah kan?"


Mikhail masih terdiam, jika dia mengatakan sama halnya dengan bunuh diri dan akan menyakiti dua wanita sekaligus di hari ini. Pria itu mencari jawaban seraya menggaruk kepalanya yang sedikit gatal itu.


"Hayo karena apa? Apa wanita-wanita simpanan kamu ganggu Zia? Atau karena apa? Hm, jawab! Kamu udah Mama bilangin jangan macam-macam ya, Khail ... sadar kamu itu sudah punya istri, otaknya dipakek!!" cecar Kanaya dengan sejuta kecurigaan yang kini menghantui dirinya, takut sekali jika Mikhail seburuk yang dikabarkan Bryan dan Edgard sebenarnya.


"Bukan karena itu, Mama kenapa pikirannya sejahat itu, simpanan apa? Yang mana, Mama jangan pernah percaya berita yang begini bisa kan?" Sungguh bibir siapa yang berani bicara demikian pada mamanya, ingin rasanya Mikhail masukkan ke penjara.

__ADS_1


"Terus karena apa? Nggak mungkin dia bisa diem persis batang pisang begitu kalau kamu memang nggak buat ulah," ujar Kanaya kemudian.


Selama Zia menjadi menantunya, wanita itu tidak pernah membuat bersikap kekanak-kanakan meski umurnya masih sangat pantas untuk dimanjakan. Zi Berusaha bersikap dewasa dan belajar melakukan tanggung jawabnya sebagai istri dan tidak malu meminta penjelasan dari Kanaya tentang apapun itu.


"Zia tersinggung sepertinya ... aku salah bicara dan itu tidak sengaja, Ma."


"Bicara yang bagaimana?" tanya Kanaya kemudian, pertanyaan yang sukses membuat Mikhail bingung sendiri harus menjelaskan yang bagaimana.


"Jika aku mengatakannya, aku takut Mama akan sama marahnya seperti Zia," tutur Mikhail pelan, alangkah berdosanya Mikhail jika sampai pemilik surganya ini kembali menangis lantaran hatinya tergores setelah lama dia merasa lebih baik.


"Tidak akan, Khail ... Mama perlu tau masalahnya apa, menjalani rumah tangga terkadang perlu sosok penengah ... apalagi kalian masih tergolong muda."


Cukup dia dan Ibra yang merasakan mandirinya menjalin rumah tangga dengan segudang terpaan dan salah paham yang terkadang membuat hati menangis lantaran tidak ada pihak penengah. Mikhail memiliki orangtua lengkap yang begitu menyayanginya, dan Kanaya sebagai seorang ibu tidak ingin putranya larut dalam masalah.


"Zia hanya marah karena aku mengatakan jika aku anak haram, Ma ... aku benar-benar tidak sengaja dan tidak berpikir ucapanku itu akan membuat Zia tidak nyaman."


Kanaya membeliak, matanya kini membola dan hatinya seakan terhenyak mendengar pengakuan Mikhail. Bukan karena tersinggung, melainkan dia memikirkan bagaimana perasaan Zia saat ini.


-


"Mulutmu, Khail, Mama pikir sudah sembuh kebiasaan asal ceplosmu itu."


Hanya bisa berdecak heran dan tidak bisa berkata-kata lagi, mulut putranya memang kerap bicara seenak lidahnya. Jika baru kenal terkadang akan tersinggung dengan ucapannya.


"Dia sedang hamil dan siapapun yang mendengar ucapan kamu seperti tadi jika di posisi Zia tentu akan tersinggung, Mikhail," tambah Kanaya kemudian.


"Maaf, Ma," sesal Mikhail luar biasa besarnya, jika dia renungi sekarang memang itu berpotensi menyakiti Zia sebagai wanita yang hamil sebelum menikah.


"Untuk masalah yang ini, Mama akan coba bicara dan meminta pengertian Zia untuk memahami mulut kamu ... tapi Mama tidak bisa memaksa Zia untuk menerima maaf kamu secepatnya."

__ADS_1


Sedikit heran juga mulut Mikhail yang seperti itu keturunan dari siapa, Ibra tidak begitu apalagi Kanaya.


"Kamu dengar? Melamun aja," sentak Kanaya menepuk keningnya, Mikhail terlalu mendalami perkataan sang mama sebelumnya.


Mikhail mengangguk pelan, dengan adanya Kanaya setidaknya ada titik terang. Pria itu tersenyum tipis dan percaya jika mamanya akan jadi obat terbaik untuk Zia.


"Sudah sana naik, mandi dan kalau perlu usaha lagi ... siapa tau Zia luluh sebelum Mama yang bicara," titah Kanaya lembut, meski sedikit kesal dia berusaha memahami keadaan Mikhail.


Mengikuti saran sang mama, untuk pertama kalinya Mikhail ragu masuk ke kamarnya sendiri. Pria itu bahkan lupa pintu kamarnya didorong atau ditarik, benar-benar sudah gila sepertinya.


Ceklek


Mikhail melangkah pelan, takut sekali istrinya akan menyambutnya dengan tatapan tajam. Namun, sepertinya dugaan Mikhail salah, Zia tidak memberikan tatapan tajamnya, melainkan sama sekali tidak menatapnya.


Untuk pertama kalinya Mikhail merasa diabaikan sesungguhnya. Jika biasanya Zia akan segera meminta Mikhail melepas jas dan menunggu Mikhail membuka pakaiannya setelah pulang kerja, kini dia lebih memilih mengecek ponselnya sembari duduk di tepian ranjang.


"Zia," panggil Mikhail kemudian, dia tidak tahan jika terus begini.


"Zia kamu dengar Mas?"


Zia meletakkan ponselnya dan kemudian menghampiri Mikhail. Seakan mengerti apa yang Mikhail maksudkan. Tetap dengan mulut terkunci, Zia membantu sang suami melepas jasnya.


Tanpa menatap, dan wajah datar itu tak lepas dari tatapan Mikhail. Jika istrinya begini, jangankan marah, hendak bicara saja dia Mikhail segan.


"Buka dasinya," titah Zia pada akhirnya membuat Mikhail menarik sudut bibir, meski terdengar ketus tapi lebih baik daripada istrinya diam persis batang pisang, pikirnya.


"Jari Mas sakit tadi siang kena silet, bisa tolong kamu aja yang lepasin?"


Kesempatan emas, memang sempat dia terluka akan tetapi itu hanya setipis rambut bayi. Alasan Mikhail saja agar Zia bisa lebih lama dekat dengannya.

__ADS_1


"Ck, cuma sekecil itu padahal," gumam Zia pelan, lebih ke menggerutu sebenarnya. Terpaksa namun tetap dia lakukan, dan ini menjadi celah Mikhail untuk melingkarkan tangan di pinggangnya.


Tbc


__ADS_2