
Bingung sebenarnya, hendak marah yang bagaimana karena pada akhirnya Mikhail tetap tidak tega. Saat ini dia masih memilih diam, istrinya berhasil membuat jantungnya seakan di acak-acak.
"Mas tidak memintamu untuk meninggi, tapi sepertinya mental kamu terlalu merendah sampai akhirnya diinjak seperti tadi," ucap Mikhail menghela napas perlahan, memberikan Zia pelajaran dengan cara kasar seperti pada Syakil juga bukanlah hal yang tepat.
Persis anak SMA masuk ruang BK, begitu banyak yang Mikhail sampaikan agar Zia mengerti jika tidak selamanya sikap manis seseorang maksudnya baik. Dia bukan malu Zia diperlakukan seperti itu, akan tetapi tidak terima.
Dia begitu menyayangi istrinya, bahkan membuatnya tidur larut malam saja Mikhail tidak tega. Lalu kini orang-orang yang tidak dia kenal justru menganggapnya upik abu, mana mungkin Mikhail terima.
Cukup lama dia terdiam, Zia menatap ujung sepatunya yang digerak-gerakan sejak tadi. Jujur saja dia lelah berdiri dengan posisi yang sama seperti ini, terlalu lama dan menyebalkan sekali.
"Tatap mataku," titah Mikhail meraih dagunya, sejak tadi Zia justru menunduk dan hanya mengangguk pelan dengan setiap ungkapan Mikhail.
"Kamu siapa?" tanya Mikhail kemudian, suara dingin yang begitu mengintimidasi masih sama seperti tadi. Tampaknya Mikhail memang masih semarah itu hingga kini tetap diam saja.
"Zia," jawabnya singkat, dia menatap Mikhail sedikit bingung lantaran pertanyaan ini sedikit sulit dia jawab.
"Zia siapa?"
"Valenzia," jawab Zia kemudian, perasaan ini pernah dia rasakan kala dia masih menjadi mahasiswa baru tahun lalu.
"Itu namamu, Mas tanya kamu siapa?"
"Istri kamu," jawab Zia mulai paham maksud Mikhail saat ini.
"Siapa?"
Persis ospek dan Zia harus menjawab cepat pertanyaan kilat dari Mikhail.
"Direktur utama MN Group.
"Bagus, kamu bukan Zia yang dulu lagi! Kalau perlu sombongkan statusmu itu."
Sikap sombong Mikhail memang harus diwariskan sedikit pada Zia sepertinya. Istrinya ini terlalu baik dan berpikir semua manusia itu baik, berbeda jauh dengan prinsip hidup yang Ibra ajarkan sejak kecil.
"Sombong?" Zia menatap Mikhail lekat-lekat, sedikit bingung kenapa suaminya justru mengajarkan hal semacam itu.
"Iya, tidak ada perintah yang perlu kamu turuti kecuali suami ... yang berhak memintamu melakukan ini dan itu hanya Mas, Zia." Mikhail menekan setiap kalimatnya, ingin sekali Mikhail memperpanjang urusan dengan para wanita-wanita yang tadi. Hanya saja, alangkah ruginya jika perhatian Mikhail justru tertuju pada mereka.
__ADS_1
"Terus bagaimana dengan Tuhan?"
"Itu beda cerita, Mas bukan bicara masalah agama, Zia."
"Ah iyayaya, paham."
Sebenarnya ini adalah hal sepele. Namun, entah kenapa Mikhail benar-benar perlu megajarkan Zia dalam-dalam sepertinya. Dalam keadaan mereka yang begitu serius, perutnya berbunyi untuk kesekian kali.
"Aku lapar, Mas, nanti saja lanjutkan kalau masih mau marah," gumam Zia pelan, meski begitu lembut namun dapat terdengar Mikhail dengan jelas.
Tidak punya bantahan lain, lagipula ini hampir masuk jam makan siang. Mikhail menuruti keinginan Zia, meski hatinya masih begitu kesal akan tetapi luluh sendiri pada akhirnya.
Beberapa menit lalu dia sekasar itu, tetapi kini Mikhail bahkan takut jika langkahnya terlalu cepat. Beberapa pasang mata yang tadi sempat melihat Mikhail menarik kasar istrinya mungkin terkejut kini.
"Masih sakit?"
"Hah? Enggak lagi," jawab Zia pelan dan menarik pergelangan tangannya.
Memang kemerahan masih terlihat, Mikhail kehilangan kesadaran hingga membuat Zia tersakiti sebelumnya.
"Maaf, Mas kasar tadi?"
"Sedikit," jawab Zia singkat, sedikit kasar dan cukup membuatnya terkejut. Meski sudah Kanaya jelaskan, dibalik sikap lembut dan hangat Mikhail, tersimpan sikap buruk yang mungkin akan Zia temukan seiring bertambahnya usia pernikahan.
Diperlakukan bak ratu, Mikhail membantah semua pernyataan yang meragukan cintanya untuk Zia. Keduanya berjalan beriringan layaknya pasangan sempurna, tanpa tahu sebelumnya jantung Zia seakan pindah dari tempatnya akibat wejangan Mikhail.
-
.
.
.
Mengenal banyak sekali jenis wanita, bisa dikatakan Zia adalah wanita paling sederhana dan tidak banyak ulah. Zia tidak akan pernah menjawab terserah jika ditanya mau makan apa, dia juga bukan tipe wanita yang meminta banyak hal sewaktu Mikhail bertanya ingin apa.
"Makanmu sedikit sekali, apa kenyang?"
__ADS_1
Dia mengangguk pelan, sama seperti biasanya porsi makan Zia adalah setengah porsi makan Mikhail. Menghabiskan makanan Zia adalah hal yang seakan menjadi tanggung jawab baru bagi Mikhail sejak pernikahannya.
"Kenyang ... sepertinya kebanyakan sarapan," jawabnya kemudian, benar-benar bertentangan dengan ucapannya beberapa saat lalu yang mengatakan jika dia sangat lapar.
"Ya sudah sini, kebiasaan makan hanya setengah."
Mungkin bagi beberapa orang kebiasaan ini akan terlihat aneh. Namun, tidak bagi Mikhail. Dia suka melakukannya, menghabiskan makanan istrinya hingga tuntas semakin kerap dia lakukan lantaran na*fsu makan Mikhail yang juga dua kali lipat.
"Kenapa Mas mau? Ini bekas aku padahal," ungkapnya kemudian, sedikit heran juga kenapa Mikhail mau. Padahal, sewaktu awal mengenalnya pria itu begitu pemilih dan tidak sembarang makan.
"Mas suka semua tentang kamu, sisa makananmu, sisa kasih sayangmu juga Mas mau."
Setengah bercanda namun itu adalah fakta, dia bersama Zia kala itu hanya mengambil sisa kasih sayang Zia untuk Zidan. Meski pada akhirnya dia yang berkuasa tetap saja Mikhail dulunya semenyedihkan itu tanpa Zia ketahui.
"Sisa kasih sayang gimana? Utama lah, masa sisa."
Zia meremat tisu hingga menjadi sekecil kelereng, ucapan Mikhail sejenak menghentak jiwanya. Apa yang pria itu maksudnya sebenarnya dia juga tidak mengerti.
"Hahah utama ya? Syukurlah jika utama."
Mikhail tertawa sumbang, hanya kalimat sederhana dan berhasil membuat Mikhail tergila-gila. Hingga dia lupa jika sebelumnya wanita di hadapannya ini sempat membuat amarahnya membuncah bahkan kepalanya ingin pecah.
"Oh iya, setelah Mas pikir-pikir kamu sama Syakil satu kampus ya?" Mikhail lupa mempertanyakan hal ini sebelumnya pada Zia, dia sempat bertanya tentang ini pada Syakil namun jawaban adiknya itu benar-benar menyebalkan.
"Ehm, iya ... tapi Syakil nggak kenal aku."
Jawaban mereka sama, kompak sekali dan Mikhail hanya mengangguk mengerti. Sepertinya Syakil tidak berbohong, begitupun dengan Zia.
"Ah, syukurlah kalau begitu ... dia cupu, sudah sedewasa itu masih dilarang pacaran, Syakil itu anak Mama, Zi." Sebelumnya Zia sudah mendengar hal ini dari Kanaya sebelumnya, tanpa mereka ketahui bagaimana cara Syakil berusaha meruntuhkan kesetiaannya pada Zidan sejak semester kedua.
"Kalau Syakil anak Mama, terus Mas anak siapa? Anak Papa ya?"
"Bukan, kalau kata om Adrian Mas anak haram," jawab Mikhail asal, dia keceplosan dan lupa jika Zia juga tengah mengandung putranya yang juga terjadi di luar pernikahan.
"Mas!!" bentak Zia melemparkan tisu yang sejak tadi dia bulatkan.
"Ya Tuhan, maaf ... Mas tidak bermaksud ... maaf, Zia."
__ADS_1
Kebiasaan Mikhail yang kerap asal bicara berakibat fatal saat ini. Zia tidak terima dengan ucapan suaminya sontak memegang perutnya, seakan takut jika bayi dalam kandungannya mendengar ucapan Mikhail.
Tbc