
"Ssshh, pelan-pelan," pinta Mikhail dengan suara lemahnya.
Selesai mandi, meski harus dipaksa dan dibantu jalan ke kamar mandi lantaran kakinya yang benar-benar sakit itu, kini Zia mengobati luka di keningnya.
Tidak begitu besar, namun bisa dipastikan ini sangat menyakitkan. Mikhail terpejam dan mencoba untuk tenang hingga Zia benar-benar selesai. Sudah selembut itu Zia melakukannya dan Mikhail masih mengeluh.
"Udah," ucap Zia pada akhirnya sebelum dia menjauh dan mengembalikan obat dan lainnya.
Kecelakaan dadakan yang Mikhail alami memang cukup membuatnya ketar ketir sebagai istri. Terlebih lagi kakinya benar-benar sakit dan Zia sadari sepertinya sedikit bengkak.
Mikhail masih memaksakan diri untuk tetap turun dan bergabung makan malam di ruang makan. Meski Zi sudah memintanya untuk diam dan akan membawakan makanan ke kamar, dia menolak semudah itu.
"Hati-hati, apa mau pakai kursi roda aja, Mas?" Zia menawarkan hal yang sekiranya memudahkan Mikhail, akan tetapi pria itu menggeleng cepat dan memilih tetap turun lewat lift saja, ya malam ini dia sedikit berlebihan.
Begitu hati-hati dan dia berusaha untuk berjalan normal. Sakit sekali, ngilu dan kaku bersatu di sana. Semakin Mikhail paksakan maka sakitnya semakin terasa. Akan tetapi, dia tidak mau jika Kanaya kembali membawanya ke rumah sakit dan membuat kakinya kembali dibelenggu gips berhari-hari.
"Kamu kenapa, Khail?"
Mikhail menggeleng cepat, segera duduk di sisi Zia dan memilih diam tanpa mengucapkan apa-apa. Percayalah ketika berhasil duduk sakitnya bahkan masih terasa.
"Yang bener? Nggak masuk angin kan? Tumben banget diem."
Perbedaan itu jelas sekali, biasanya dari jarak beberapa meter dia sudah menyapa orang-orang di ruang makan meski hanya mengucapkan selamat malam, dan kali ini dia benar-benar berbeda.
"Kamu bisu, Mikhail?" tanya Ibra mulai geram lantaran putranya terkesan mengabaikan Kanaya, jujur saja Ibra tak suka.
"Udah, Mas ... dia mungkin masih marah, kamu sih."
Tebakan Kanaya begitu awalnya, mungkin tadi sore Ibra keterlaluan sebenarnya. Luka di kepalanya seakan menunjukkan betapa kejamnya Ibra sebagai papa.
"Kenapa, Nay? Memang dia yang salah, Mas bahkan sama sekali tidak menyakitinya," tutur Ibra membela diri, sama sekali dia tidak merasa bersalah pada putranya karena memang demikian.
"Ck ... kenapa Mama yang jadi ribut sama Papa, cepat makan."
Tak biasanya dia yang risih dengan pembicaraan di meja makan. Biasanya Mikhail sendiri yang kerap mengundang amarah dan menjadi amukan Ibra lantaran ada saja pembicaraan di hadapan makanan.
"Semakin mencurigakan, dia benar-benar baik saja kan, Zia?"
Kanaya menatap lekat menantunya, Zia ragu untuk bicara lantaran Mikhail yang melarangnya. Akan tetapi dia sendiri khawatir dengan keadaan Mikhail, hingga Zia memilih untuk bicara jujur. Tak peduli meski nantinya Ibra akan marah besar padanya.
__ADS_1
"Kaki Mas Mikhail sakit, Ma, Pa ... bahkan jalan ke kamar mandi saja dia sulit."
BRAK
"Mikhail, kenapa cuma diam?"
Ibra menggebrak meja dan sontak menunduk. Pria itu memeriksa pergelangan kaki Mikhail segera, padahal makanannya baru masuk sesuap. Ketakutan Ibra semakin bertambah mengingat tadi sore Mikhail mengeluh sakit.
"Mas kenapa? Apa yang kemarin retak bermasalah lagi?"
"Sebentar, Mas periksa dulu."
"PAPA!! JANGAN DITEKAN!!"
Mikhail meringis, berteriak dan suaranya bahkan memekakan telinga. Ketika di kamar Zia sudah membuatnya berteriak begini, dan ketika di ruang makan Mikhail kembali merasakan sakit yang lebih luar biasanya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!! Syakil minta Babas siapkan mobil," titah Ibra panik luar biasa.
Jika saja Mikhail sebelumnya tidak mengalami kelumpuhan, mungkin mereka takkan sepanik ini. Sudah Mikhail duga akan terjadi hal konyol semacam ini, Kanaya pergi ke gudang demi mencari kursi roda yang dulu dia gunakan.
"Zia di rumah saja ya, Sayang," tutur Kanaya sontak membuat mata Mikhail membulat sempurna.
"Jangan bentak Mama kamu, Mikhail!!" sentak Ibra tak kalah marahnya, pantang sekali Kanaya mendapatkan kata kasar dari siapapun termasuk putranya sendiri.
-
.
.
.
Semua dibuat panik, pasca kecelakaan memang Ibra dan Kanaya takut dengan segala hal yang terjadi pada putranya. Syakil flu saja Ibra turun tangan, apalagi kini Mikhail yang kembali mengalami sakit di kakinya.
Tak hanya Bastian dibuat repot, melainkan Ningsih dan juga Rani lantaran Kanaya menduga mereka akan lama di rumah sakit. Zia tak pernah jauh dari Mikhail, pria itu tak melepaskan istrinya meski di lain sisi Ibra juga tak melepaskannya.
"Bas cepat, Bas!!" titah Ibra kala Babas mulai melaju dengan kecepatan normalnya.
"Pelan-pelan saja, Bas ... aku tidak akan mati dalam waktu dekat," sanggah Mikhail sebelum Bastian benar-benar melaju kencang.
__ADS_1
"Ck, ngebut Bas," ucap Ibra lagi, dia sekhawatir itu pada Mikhail hingga yang ada di pikirannya hanya tiba di rumah sakit dengan segera.
"Jangan, Bas!! Ada istriku di sini, Papa kenapa tidak berpikir kesana?" Untuk pertama kalinya Mikhail membentak papanya, hanya demi Zia meski memang sakit di kakinya cukup menyiksa.
"Astaga, Papa lupa ... maaf, Khail. Ya sudah, Bas pelan-pelan saja." Ibra benar-benar lupa jika Zia berada di samping putranya, bukan maksud tak peduli keadaan tapi memang benar dia lupa perihal kehamilan Zia.
Syakil yang duduk di depan hanya memutar bola matanya malas. Entah kenapa untuk yang kali ini dia merasa Mikhail hanya cidera biasa, mungkin keseleo yang sekali urut bisa kembali normal, pikirnya.
Yang dibawa adalah pasien sakit kaki, tapi hebohnya melebihi pengantar pasien yang hendak melahirkan. Tiba di rumah sakit, tim medis juga sama paniknya. Terlebih dokter yang sedang bertugas adalah seseorang yang menemani proses penyembuhan Mikhail sebelumnya.
"Astaga, yang sakit cuma kaki ... kenapa kalian menganggapku seperti akan mati?"
"Mama percaya kamu kuat, Mikhail."
"Mama astaga!!"
Kesal sekali rasanya, apalagi kala Kanaya mengenggam tangannya dan meminta Mikhail bertahan dengan kalimat-kalimat lirihnya. Mikhail tidak suka kericuhan yang justru membuat istrinya semakin panik saja.
Selang beberapa saat setelah pemeriksaan singkat oleh dokter tersebut, akhirnya mereka bisa bernapas lega dan Zia bisa berhenti menangis. Dia menangis bukan hanya karena keadaan Mikhail, akan tetapi paniknya Kanaya yang bahkan hampir pingsan lantaran menebak kaki Mikhail akan diamputasi adalah sebab air mata Zia tumpah ruah.
"Jadi cuma keselo, Dokter?" Ibra memastikan, dia benar-benar takut jika tulang kaki Mikhail mengalami masalah.
"Benar, Pak ... ini hanya cidera ringan, dan disarankan Mikhail tidak banyak gerak dulu beberapa waktu dekat," ungkap pria berjas putih itu, jujur saja dia juga takut jika Mikhail kenapa-kenapa.
Sudah Syakil duga, ke rumah sakit memang hanya menunda makan malamnya saja. Kasihan sekali Zia yang kini sudah memerah, pikir Syakil sebelum kemudian memilih berlalu keluar menemui Bastian.
"Bagaimana? Puas, Pa? Ma?" tanya Mikhail berdecak kesal, pria itu mengacak rambut dan menatap wajah mereka satu persatu dan berakhir di Zia, sang istri.
"Kami hanya khawatir, Khail."
"Benar, Khail ... kami semua khawatir padamu." Ibra membenarkan, meski dia paham saat ini putranya mungkin marah karena kejadian ini Zia menangis sejadi-jadinya.
"Kami keluar dulu, tenangkan istrimu," pamit Ibra lembut dan dia menarik pergelangan tangan Kanaya agar segera berlalu.
Tinggalah mereka berdua, hanya berdua dan Zia mendekati suaminya. Mikhail masih diam, istrinya banyak menangis dalam waktu beberapa menit saja.
"Mas."
"Sudah, jangan menangis ... Mas bilang apa kan? Jangan katakan apapun, cukup kamu yang tau, Zia." Pria itu menyeka air mata sang istri, meski jujur saja hatinya berdesir melihat Zia yang setakut itu dia terluka.
__ADS_1
Tbc