Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 41 - Bukan Salah Zia


__ADS_3

Rasa bersalah kini justru menghantui Zia, melihat bagaimana Kanaya saat ini dia bingung sendiri. Mereka masih menunggu Kanaya sadarkan diri, Ibra setia menunggu di tepi ranjang sementara Mikhail mondar mandir.


"Bisa kau diam sebentar, Mikhail? Kepala Papa sakit melihatmu."


Mendengar itu barulah dia bisa diam sejenak, duduk di sisi Zia yang kini tengah ketar-ketir. Dia tidak ingin Kanaya pingsan terlalu lama, tapi dia juga takut jika nanti Kanaya bangun dan marah besar padanya.


"Jangan menunduk terus, kamu tidak salah di sini."


Mikhail meraih dagu Zia agar wanitanya itu tidak menunduk. Sejak tadi Zia selalu begitu dan ini sedikit membuat Mikhail merasa bersalah lagi dan lagi.


Sesaat keduanya saling menatap, memar di wajah Mikhail sangat menjelaskan jika pipinya pasti akan terasa sangat perih. Tamparan Ibra bahkan meninggalkan cap lima jari di sana, bisa dipastikan papanya memang marah besar.


Zia paham saat ini mungkin Ibra sangat kecewa padanya, setelah sempat dia perlakukan dengan baik dan kini nyatanya dia tidak menjauhi Mikhail. Bukan tak mau, tapi pria itu yang terus saja membuatnya tak berdaya dengan segala usaha yang dia lakukan.


"Nay ...."


Mikhail sontak bediri dan menghampiri sang mama, Kanaya masih menyesuaikan cahaya di sana. Kepalanya terasa pening dan dengan matanya yang menyipit dia menatap Zia yang menghampirinya dari jarak beberapa meter.


Polos sekali, bahkan Kanaya merasa putranya telah merenggut masa depan remaja. Entah karena wajah Zia yang memang terlihat muda atau matanya saja yang salah.


"Jangan paksakan kalau belum kuat, Nay ... soal mereka Mas yang urus." Ibra menenangkan Kanaya, sering kali marah pada Mikhail namun baru kali ini dia sampai pingsan dibuatnya.


"Ma."


Kanaya menepis tangan Mikhail, demi Tuhan dia kecewa luar biasa. Mikhail mengingkari janjinya sejak lama pada Kanaya, janji dimana dia selalu mengatakan untuk menghormati wanita, tak peduli siapapun itu.


"Apa karena itu kamu selalu mencarinya? Kamu tau sejak awal kenapa diam, Khail?" tanya Kanaya meminta penjelasan, wajar saja jika putranya selalu menanyakan tentang Zia kalau memang alasannya ini.


"Aku tidak tau jika Zia hamil sebelumnya, Ma."


"Lucu sekali kalian, anak sekecil dia kamu hamili? Otak kamu dimana, Khail!!" Kanaya mendorong Mikhail yang kini masih tertunduk, kekecewaan sang mama memang begitu besar bahkan mungkin maaf dari Kanaya yang sulit dia dapatkan nantinya.


"Dia bukan anak kecil lagi, Sayang ... Zia anak magang di kantor Mikhail, dan memang putra kita yang kurang ajar sejak awal."


Ibra buka suara, dan ini semakin membuat posisi Mikhail bahaya. Dia menatap sang papa dengan penuh permohonan dan berharap Ibra takkan menjebaknya di hadapan Zia.


"Anak magang? Benar kamu anak magang, Zia?"

__ADS_1


Zia mengangguk, menautkan jemarinya dan demi apapun saat ini dia merasa tengah diwawancarai guru BK. Kanaya memang terlihat lembut, namun jika marah nampaknya lebih menyeramkan dari siapapun yang suka terbawa emosi.


"Anak saya kurang ajar bagaimana?"


"Ma ...."


"Diam!! Mama tanya dia, bukan kamu."


Mikhail mati kutu, jika Zia jujur maka habis sudah dia hari ini. Pria itu sangat berharap jika Zia akan berbohong dan tidak membuatnya terjebak di posisi sulit.


"Jelaskan saja, saya tidak akan marah," imbuh Ibra turut campur dan demi apapun kini dia sudah menyiapkan kuda-kuda untuk pergi dari kamar orang tuanya.


Ibra adalah saksi mata salah satu kurang ajarnya Mikhail pada Zia, dia pikir setelah hari itu tidak akan terjadi hal gila yang Mikhail lakukan. Nyatanya, semua lebih sinting dari apa yang dia perkirakan.


-


.


.


.


Zia jujur tapi Mikhail menarik sudut bibirnya begitu tipis, dia mendengarkan dengan seksama seakan penuturan korban padahal dia sendiri pelakunya. Ibra yang memang menduga putranya kurang ajar semakin tercengang kala Zia memberikan pengakuannya.


"Lalu?" Kanaya masih terlihat tenang, dia menatap lekat-lekat Zia yang kini tampak pucat pasi dibuatnya.


"Kamu hamil dan memilih pergi begitu tau dia lumpuh , apa benar begitu, Zia?" Kanaya bertanya dengan seriua dan semakin membuat Zia ciut.


"Maaf, Nyonya ... aku tidak bermaksud begitu, dalam perjanjian antara aku dan Pak Mikhail tidak boleh mengusik kehidupan satu sama lain ketika kewajibanku selesai." Zia sakit sekali mendengar dugaan Kanaya, jika boleh dia mengulang dan mengetahui bahwa Mikhail akan separah itu, harusnya dia menetap dan tidak pergi meninggalkan Mikhail sejak malam itu.


Kanaya tidak marah, sama sekali dia tidak menyalahkan Zia. Hanya saja, dia benar-benar tak habis pikir kenapa putranya bisa berubah menjadi pria senakal ini. Kanaya menghela napas panjang, dapat dari mana sifat Mikhail yang begini.


"Ma ... tolong jangan salahkan Zia, ini murni kesalahanku."


"Memang salah kamu!! Ya Tuhan, Mikhail ... Mama meminta kamu untuk berhenti main wanita karena ini! Tapi apa? Tidak dengan cara yang Mama larang kamu melakukannya dengan cara curang begitu!!" sentak Kanaya kesal lahir batin, sejak kecil dididik dan berharap putranya jadi baik, setelah besar Mikhail kian tidak waras dan ini amat menyebalkan baginya.


"Kamu juga! Kenapa mau? Spion mana yang harganya 1 Milyar, Zia ...." Sama-sama buat pusing kepala, Kanaya memejamkan mata dan memukul dadanya menyadari ada yang sepolos Zia.

__ADS_1


"Pak Mikhail bilang, dia tidak beli spion secara terpisah, Nyonya."


Jawaban Zia sukses membuat Ibra tersedak ludah, dia paham memang Zia bisa jadi anak yang baik dan berpikir jika memang dia harus tanggung jawab tentang apa yang dia lakukan. Namun, dia takkan mengira jika alasan Mikhail yang begitu Zia terima begitu saja.


"Astaga, Mikhail!! Kamu memang benar-benar keterlaluan!!"


Mikhail hanya menunduk, meminta maaf saat-saat begini sama halnya dengan percuma karena Kanaya takkan menerima maafnya. Kini, hatinya tengah dibuat gemas dengan kejujuran Zia yang benar-benar membuka rahasianya tanpa sisa.


"Orang tuamu dimana?"


Ibra ambil alih, dia adalah spesialis lamar melamar. Melamar Kanaya walau babak belur, melamar Lorenza untuk Gavin dan kini dia menanyakan orangtua Zia jelas saja untuk mengatakan niat baik yang terpaksa harus dilakukan sebelum anak itu lahir.


"Mas," lirih Kanaya masih takut kejadian sama akan kembali Mikhail alami, dia tidak mengetahui bagaimana keluarga Zia, jika nanti lebih parah dari keluarganya maka sudah tentu akan bahaya.


"Tanggung jawab sepenuhnya, meski sudah terlambat, Mikhail tetap harus meminta Zia baik-baik dari keluarganya, dia punya orang tua ... dan orang tuanya tidak melahirkan Zia untuk kau hamili seenaknya, Mikhail."


Perintah Ibra mutlak, mau bagaimana tanggapan keluarganya nanti menikahi tanpa izin bukanlah hal yang baik. Mikhail harus menghargai kedua orangtua Zia jika menginginkan anaknya.


Tbc


Vote ya pilih up kapan :




Malem, Pagi, Siang.




Malem, Siang, Sore.



__ADS_1


Rekomendasi Novel Selanjutnya.



__ADS_2