
Hari mendebarkan itu kini tiba, yang akan melahirkan adalah Zia, yang akan punya cucu adalah Kanaya. akan tetapi, yang sibuk Siska dan Lorenza, seakan mereka belum pernah melahirkan.
"Kenapa harus operasi segala, apa nggak kasihan?"
"Astaga, Mama, udah dijelasin kan alasannya ... lagian yang operasi dokter bukan tukang gigi, jangan norak deh."
Zidny yang sebenarnya khawatir juga makin kesal kala Lorenza mengutarakan keresahannya. Bukan tanpa alasan Lorenza takut, penjelasan Mikhail membuatnya salah paham.
"Ck, salah Mikhail kenapa punya istri kemudaan," sahut Siska yang sedikit lebih paham alasan dokter mengambil tindakan itu pada Zia.
"Ini bukan cuma karena umur, Ma. Zia itu memang tubuhnya mungil, panggulnya kecil ... kenapa jadi nyalahin bang Cio semua."
"Eh Mama kamu nggak salah, Lau, tetangga Mommy yang di Subang juga ngggak bisa lahiran normal karena umurnya yang kemudaan. Kalau masalah pinggul kecil, itu Mama Naya kecil juga tapi dia normal karena memang usianya sudah matang."
Sebuah fakta yang memang tidak bisa dibantah. Kanaya memang termasuk golongan wanita mungil seperti Zia, bedanya Kanaya sedikit lebih tinggi dari menantunya, itu saja.
"Banyak banget tetangganya, Mommy rumahnya dimana sih heran," pungkas Laura sedikit bingung kenapa rumah Lorenza ada dimana-man, pikirnya.
Di saat Mikhail juga berperang dengan kekhawatirannya, mereka justru membahas hal-hal tak berguna sama sekali. Bukannya berdoa seperti yang syakil perintahkan, mereka lanjut bergosip yang tidak jelas.
Mikhail tak lagi bisa fokus dengan hal lain kecuali Zia, maka dari itu Syakil bertugas menghentikan pembicaraan mereka karena biasanya kerap memicu perselisihan yang ujung-ujungnya menyalahkan Mikhail karena memiliki istri terlalu muda.
"Kali ini tolong diam, Papa saja tidak mempermasalahkan berapa usia Zia. Kenapa kalian yang menyudutkan kak Mikhail di sini? Lagipula Zia sudah sembilan belas tahun, secara legalitas dia memang sudah diperbolehkan untuk menikah. Apa yang salah? Mulut kalian!!"
"Syakil." Kanaya mendongak, dia menggeleng pelan dan demi apapun Kanaya merasa tak enak hati pada Siska dan Lorenza.
Kaget, panik dan mereka tersentak kala mendengar Syakil angkat bicara. Jika Syakil sudah marah, jangankan Zidny dan Laura, Kanaya saja terkadang memilih bungkam.
Sejak tadi dia diam, sebagai pengamat situasi Syakil sangat paham apa yang kini Mikhail pikirkan. Memang kakaknya salah, akan tetapi saat ini menghakimi Mikhail bukanlah hal yang tepat.
"Jangan memperkeruh keadaan, kita semua sama-sama mengkhawatirkan Zia, apalagi kak Mikhail."
__ADS_1
Harus dengan cara yang begitu baru mereka bisa tenang sedikit. Selain mengkhawatirkan Zia, jujur saja Syakil juga mengkhawatirkan Mikhail yang ikut masuk mendampingi Zia di ruang operasi. Bukan karena takut Mikhail menangis, tapi yang dia takutkan sifat pemarah dan penakut Mikhail akan bersatu nantinya di dalam sana.
Benar saja kecurigaan Syakil di luar sana, sudah diperingatkan agar dia menunggu di luar. Jangan ikut masuk karena kemungkinan besar jika Mikhail ikut masuk yang terjadi justru kericuhan dan membuat dokter bingung siapa yang akan diselamatkan lebih dulu.
Belum apa-apa Mikhail sudah pucat pasi, sejak pertama masuk ke ruangan itu dia bergetar dan lututnya terasa lemas. Dalam segala hal dia mampu menguasai keadaan, kenapa kali ini benar-benar kesulitan.
Istrinya melahirkan tanpa menjerit dan merintih saja Mikhail sudah begini, andai Zia melahirkan secara normal mungkin lebih parah lagi.
"Berapa lama lagi, Dokter?"
Mulai saja belum, Mikhail sudah merasa berjam-jam di sini. Sungguh demi apapun dia ingin hari ini cepat berlalu. Tangan Mikhail semakin dingin, napasnya semakin tidak normal dan kini kepalanya juga ikut-ikutan sakit.
Sepanjang proses operasi, Mikhail mendadak tobat dan fasih melafadzkan ayat-ayat suci. Bibirnya tanpa henti berucap, namun sayang sama sekali tak memberikannya kekuatan. Pada akhirnya, pria itu ambruk dan jatuh pingsan hingga membuat tenaga medis yang sedang fokus melakukan operasi terganggu sebentar. Ya, dugaan awal memang tiak pernah meleset. Dari awal wajah Mikhail sudah meragukan sebearnya.
-
.
.
.
"Heh? Kenapa malah ikut kesini semua? Mikhail urusan Mama, kamu tunggu di sana."
"Ya kebalik, Ma ... Mama yang di sana, aku yang jaga kak Mikhail."
"Astaga, repot sekali."
Mikhail yang membuat repot, andai saa dia mengikuti saran dari dokter untuk menunggu di luar mungkin hal semacam ini tidak akan terjadi. Biasanya, jika Mikhail pingsan itu lama.
Mereka berbagi tugas, meski saat ini Syakil kesal luar biasa akan tetapi dia mencoba bersabar dan menunggu sang kakak sesabar mungkin.
__ADS_1
"Dasar lemah, yang melahirkan istrinya yang pingsan dia."
Sementara di tempat lain, dengan wajah yang sama-sama cemas, Lorenza berusaha menguatkan Kanaya. Mencoba memberikan keyakinan bahwa tidak akan terjadi apa-apa nantinya.
"Kenapa kamu yang nangis?"
Dia yang menguatkan tapi dia juga yang terlihat lemah, begitulah Lorenza. Kanaya sudah berusaha tenang dari tadi, meski anak dan menantunya sam-sama butuh penanganan dokter.
Kanaya berkali-kali melihat pergelangan tangan kirinya. Sudah hampir satu jam, seharusnya operasi Zia sebentar lagi selesai. Akan tetapi, kekacauan yang Mikhail sebabkan bisa jadi alasan mereka sedikit lama.
Yang Kanaya takutkan, Mikhail belum sadarkan diri sementara operasi sudah selesai. Jika benar begitu, maka sangat disayangkan Mikhail tidak akan menjadi orang pertama yang melihat bayinya.
Benar saja kecurigaan Kanaya, operasi selesai sementara Mikhail belum sadar juga. Mereka berbinar kala operasi Zia dinyatakan berhasil dan keduanya selamat tanpa kurang suatu apapun.
Kelahiran bayi perempuan, mereka bahkan lupa perkara Mikhail yang belum sadarkan diri. Sejak lama tahta Aleena sebagai anak perempuan di keluarga Chandrawyatama bertahan dan kini digeser oleh putri dari Mikhail.
"Siapa yang azanin, Mikhail belum sadar juga, Nay."
Lorenza ngos-ngosan, dia baru saja memastikan keadaan Mikhail. Dan nyatanya, pria itu masih terbaring lemah, sementara Syakil kini ikutan dan nalurinya spontan meninggalkan sang kakak kala mendengar kabar keponakannya sudah lahir ke dunia.
"Ma ... gimana?"
"Udah, Syakil, cucu Mama perempuan!!" seru Kanaya dengan mata yang kini berkaca-kaca.
Kanaya menatap Syakil, tidak ada Mikhail tapi kan Syakil masih bisa diharapkan. Pria itu menatap cemas wajah sang Mama, dadanya juga sama bergemuruh seakan ada kebahagiaan yang tak terungkap dalam diri Syakil.
"Kamu aja yang azanin mau ya?"
Kekhawatiran yang tadi sepertinya hilang begitu saja, tampaknya Kanaya memang hanya khawatir perihal Zia. Dia tidak tenang karena Zia belum juga berhasil melahirkan putrinya.
"Yakin? Kalau kak Mikhail marah gimana?"
__ADS_1
"Udah-udah nggak akan marah, kalau Mikhail pingsan biasanya lama, Syakil."
Tbc