
"ALENA JAGA MULUTMU!!!"
Bersamaan dengan langkah Zia yang kini terhenti, derab langkah yang lain kini terdengar kian dekat. Bentakan tak kalah kasar bahkan membuat Zia sendiri terperanjat karenanya.
"Apa? Alena? Sopan santun kamu dimana, Syakil?"
Perhatinnya berpindah pada pria tampan yang baru saja datang dengan wajah tak bersahabatnya. Melangkah semakin pelan dan tak melepaskan Alena dari tatapan tajamnya.
"Pertanyaan itu harusnya untukmu, dimana telak sopan santunmu itu?"
Dia baru saja pulang, sedikit lelah dan juga pikiran sama kusutnya. Syakil sudah sedikit terbebani dengan adanya Zia di rumahnya, namun dengan sikap Alena yang memperlakukan Zia layaknya wanita murahan Syakil benar-benar tak terima.
"Woah, sepertinya kalian berdua sama-sama terpengaruh wanita licik ini ya? Hebat juga dia, kedua putra Om Ibra bisa luluh dalam waktu bersamaan, atau jangan-jangan ... kamu bukan hanya dipakai Mikhail, tapi Syakil juga?"
Alena menarik sudut bibir, menatap Zia semakin rendah seakan tak punya harga diri. Syakil yang juga berani tidak sopan padanya menimbulkan tanya tentang siapa Zia sesungguhnya.
"Tutup mulutmu!! Pikiranmu sekotor itu? Cih dengar, Alena!! Tidak semua wanita sama sepertimu, dan tidak juga semua pria itu sama seperti orang-orang terdekatmu!!" sentak Syakil dengan amarah yang bahkan naik ke ubun-ubun, kali ini Alena bukan hanya menghina Zia tapi juga dirinya.
"Maksud kamu apa?!"
Dia yang membahas hal itu lebih dahulu. Namun, ketika Syakil hendak mengusik kehidupan pribadinya dia tidak terima. Padahal, sama sekali belum terucap oleh Syakil bagaimana dia sebenarnya.
"Sebelum kamu berbicara buruk tentang Zia, ada baiknya berkaca lebih dulu ... sekalipun kamu suci tetap tidak berhak mengatakan hal sehina itu tentangnya, Alena."
Syakil semakin mendekatinya, sementara Zia masih mematung dan bingung hendak melakukan apa. Dia tidak paham bagaimana hubungan Syakil dan Alena sebelumnya, di saat seperti ini Zia hanya berharap tidak menjadi perusak hubungan siapapun itu.
"Berkaca? Hello, Syakil ... kenapa memangnya dengan aku? Dari ujung kepala hingga ujung kaki aku bahkan jauh lebih baik dari dia, dasar aneh ... om Ibra juga kenapa mau nerima dia, apa tidak ada pilihan lain."
Telapak tangan Syakil sudah gatal luar biasa mendengarnya. Hanya saja dalam hidup dia belum pernah memukul perempuan, terlebih wanita ini adalah keponakan kesayakan Kanaya dan juga satu-satunya cucu perempuan keluarga Chandrawytama.
"Huft melelahkan, aku mau tidur saja ... Tante masih lama kan pulangnya?"
Usai menghina dan mengatakan hal-hal yang menusuk hati Zia, wanita itu kemudian berlalu dan tak peduli bagaimana marahnya Syakil. Benar-benar menganggap semua ucapannya tak ada yang salah, berlalu ke lantai dua dimana memang ada satu kamar yang dia kerap tinggali jika tengah berada di rumah ini.
__ADS_1
"Jangan diam saja kalau dihina, Zia ... kamu berhak di rumah ini, bahkan jika perlu tampar sesekali." Syakil bicara layaknya seorang teman yang tidak suka temannya diam saja ketika ditindas.
Zia hanya mengangguk pelan, seakan tunduk dengan perintah Syakil. Meski tatapannya tidak tertuju pada Zia tapi dia tetap memperhatikan kakak iparnya sedetail itu.
"Ck, kamu kenapa jadi pemalu begini? Apa masih marah, Zia?"
Setelah hari dimana mereka membeli cincin itu, Zia dan Syakil tidak pernah bicara satu sama lain. Keduanya memilih diam dan menjaga jarak sebisa mungkin.
"Enggak," jawabnya singkat dan memilih kembali ke kamar, memang tempat terbaik dan ternyaman hanyalah di sisi Mikhail.
"Dia bahkan lupa mengucapkan terima kasih, Zia benar-benar berubah hmm." Syakil menghela napas kasar, selain kehilangan pujaan dia juga kehilangan sahabat terbaiknya. Kakaknya memang benar-benar serakah, pikir Syakil.
-
.
.
.
Sudah hampir 30 menit, dan Zia selalu melakukan hal yang sama. Diam-diam mencuri pandang kemudian mengalihkan pandangan cepat-cepat, dan selalu berhasil Mikhail tangkap melalui ekor matanya.
"Bukan," jawab Zia sedikit bingung hendak memulai, dia ragu sebenarnya mengatkan hal semacam ini.
"Lalu apa? Ada yang mengganggu pikiranmu? Katakan saja, aku tidak sepeka yang kamu bayangkan."
Sejak tadi Mikhail menghabiskan waktu dengan membaca buku kesukaannya, sementara Zia duduk di sampingnya seraya memainkan benda pipih di tangannya.
"Aku boleh minta sesuatu enggak?"
Mikhail menghentikan aktivitasnya, Zia adalah wanita hamil yang sejak awal bertemu belum pernah meminta macam-macam, jujur saja saat ini dia takut jika Zia merasakan sesuatu yang disebut sebagai ngidam.
"Bo-boleh, apa?" Mikhail ragu, khawatir jika nanti istrinya minta hal yang tidak masuk akal, minta cerai misalnya.
__ADS_1
"Kita hidupnya mandiri saja, jangan terus di sini ... aku nggak masalah rumahnya kecil, bukan karena aku nggak suka tinggal di sini, tapi aku nggak mau setelah menikah justru persis anak bayi yang harus dilayani."
Selain dia merasa tak nyaman satu atap dengan Syakil, Zia juga merasa tak nyaman lantaran sesudah menikah Kanaya justru seperti punya anak bungsu yang harus dia jaga setiap harinya.
Sarapan yang disiapkan begitupun dengan susunya, Zia juga dimanjakan Kanaya persis anak yang baru beranjak remaja, terbukti dengan beberapa hari sebelum akad berlangsung dan dia masih di kamar tamu, Kanaya bahkan mengecup kening dan memastikan Zia tidur cepat setiap malamnya.
Bukan tidak nyaman, Zia sangat bersyukur dengan apa yang dia terima. Namun ketakutan akan membuat kecewa Kanaya dengan posisinya sebagai menantu mengalir begitu saja, apalagi hari ini dia bahkan bangun siang dan melewatkan kewajiban untuk membantu Rani menyiapkan sarapan.
"Hm, tunggu rumahnya selesai ya, Sayang ... setelah itu baru kita pindah."
"Hah?" Zia melongo mendengar ucapan Mikhail, segala sesuatu yang dia lakukan memang selalu penuh kejutan.
"Mungkin beberapa bulan lagi bisa ditempati ... untuk sekarang di sini dulu ya? Atau kamu mau kita sewa apartemen sementara rumahnya jadi?" Mikhail memberikan penawaran, hal itu sudah lama dia siapkan. Bahkan sebelum dia kecelakaan, hanya memang sempat tertunda karena Bryan tidak mau salah mengambil langkah.
"Bapak kok nggak bilang?" Zia bahkan pindah posisi karena merasa tak percaya dengan ucapan Mikhail saat ini, jika memang disiapkan kapan dia memulainya, pikir Mikhail.
"Ays, sejak kapan aku menikahi Ibumu, Zia ... Mas atau Honey, Beb, Sayang apa susahnya?" Perkara panggilan, suasana hati Mikhail bisa seburuk itu, Zia yang masih saja keceplosan membuatnya geram seketika.
"Iya-iya, gitu aja jadi masalah ... sama satu lagi." Mikhail pikir sudah selesai nyatanya masih ada tambahan.
"Apalagi? Jangan minta jet pribadi untuk saat ini, Zia. Suamimu tidak sekaya yang kamu bayangkan lagi ... pengobatanku lama dan itu sangat-sangat mahal, Zia." Terdengar becanda namun ini memang faktanya.
"Enggak, bukan itu ... aku mau kuliah lagi, apa boleh?" Dia memang harus mengulang, Zia rela karena tidak mau menyesal sepanjang hidupnya.
"Tahun ajaran baru? Terus kamu jadi juniornya Syakil, Zia ... untuk apa, Sayang? Kamu juga sudah jadi istriku," tutur Mikhail amat lembut, takut jika Zia sensitif dengan hal ini.
"Kalau nggak diizinin nggak masalah, permintaan kedua ini sifatnya sunnah jadi nggak wajib dituruti." Zia berucap santai meski hatinya benar-benar ingin, namun sepertinya Mikhail takkan pernah mengizinkan hal itu terjadi.
Mikhail menggigit bibirnya, berperang dengan kecemburuan adalah hal yang melelahkan. Istrinya masih sangat muda, Jika benar tahun ajaran baru yang Zia maksudkan itu artinya dia sudah selesai melahirkan, dan melepaskan Zia yang kembali seperti gadis Mikhail tak serela itu.
"Kita lihat saja nanti," tuturnya enggan berjanji untuk hal ini, dulu saja seorang Zidan yang sama sekali tidak mungkin jadi saingannya saja bisa membuat Mikhail terbakar, apalagi jika nanti Zia kembali dan jelas saja pesonanya akan membutakan orang-orang yang sempat kehilangan Zia.
Tbc
__ADS_1