Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 84 - Real Benalu


__ADS_3

............ Lanjut


"Kau hamil tapi masih menggigit, aku menyukainya ... permainanmu bahkan lebih baik dari Geby."


"Itu karena milikmu besar, milikku bahkan terasa sesak, Sayang."


Menjijikkan, memang pada dasarnya murahan wajar saja jadi wanita panggilan. Mikhail kembali berada di posisi yang sama, empat tahun lalu dia juga sempat merasakan hal ini. Hanya saja, dia tidak sakit karena wanitanya melainkan pria yang kini berada di dalam sana.


Mereka tidak menutup pintu kamar, jelas saja Mikhail mampu mendengar dan melihat semuanya dengan jelas, pergulatan hebat yang sempat dia saksikan dengan sosok pria yang membelakanginya membuat Mikhail benar-benar muak.


"Hahaha aku suka pujianmu, kau memang pantas disebut pemain sesungguhnya."


Dada Mikhail bergemuruh, bukan karena sebagai pasangan yang memergoki kekasihnya. Melainkan sahabat, orang terpercaya dan sempat dia anggap lebih baik dari orang tuanya. Kini, dunia seakan memperlihatkan betapa tajamnya pisau dalam sebuah pertemanan.


"Bagaimana selanjutnya? Apa aku harus tetap menunggunya, lelah sekali begini ... sejak awal aku sudah katakan padamu kita gugurkan saja."


"Jangan menyerah, sebentar lagi dia akan datang ... percayalah, hati Mikhail selembut itu jika terkait tanggung jawab."


"Damn it, kau selalu mengatakan hal yang sama.. Buktinya hingga detik ini dia bahkan belum datang, anak ini menghambat pekerjaanku. Sejak hamil, tidak ada pria kaya yang mau membayar mahal padaku lagi."


"Shuut, calm down, Baby. Kau lupa Mikhail itu siapa? 1 M saja bisa dia berikan semudah itu, santai saja lah."


Mikhail berdecih tak percaya, apa yang sebenarnya kini dia alami. Wajar saja Edgard kembali membicarakan masalah uang kompensasi dan perawatan agar Jenny tutup mulut sebelum pulang, mungkin ini sebabnya.


Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya kini mengeras bersamaan dengan kilatan mata yang kian tajam. Percintaan mereka belum usai, Jenny masih terengah-engah dan Edgard tetap memburunya.


Erangan dan d3sahan itu semakin membara dan Mikhail benar-benar ingin muntah. Bukan pertama kali memergoki sahabatnya itu tengah bermain di 4tas tubuh wanita, akan tetapi kali ini dia benar-benar jijik hingga ke akarnya.


Mikhail hendak melangkah masuk, namun dia urungkan niatnya. Bukan karena dia pengecut, hanya saja Mikhail memilih cara yang lebih baik untuk menghadapi pengkhianat sebaik Edgard.


Pria itu bermain halus, itu artinya Mikhail juga demikian. Jika dia masuk dan menghajar Edgard saat ini juga, itu sama halnya dengan membuat Jenny besar kepala. Untuk apa dia marah dengan kekerasan yang pada akhirnya tentu akan menyakiti dirinya sendiri.


"Badjingan ... benalu sepertimu memang tak pantas hidup lama, Edgard."

__ADS_1


Di Kembali, meski menyakitkan hatinya sedikit lebih tenang setelah mendengar percakapan konyol yang dia dengar pasangan itu. Pasangan? Entahlah, lebih tepatnya binatang mungkin.


Menelusuri perjalanan panjang dengan perasaan bergemuruh dan tak karuan. Entah mengapa sesakit ini rasanya, pengkhianatan kali kesekian yang Mikhail dapatkan dari sosok sahabat dekatnya.


Terlahir sebagai pria kaya membuat Mikhail memberikan segalanya jika sudah menyayangi orang, siapapun itu. Wanita, sahabat ataupun lainnya. Bagi Mikhail uang bisa dicari namun hati tulus tak semudah itu terganti.


Kehadiran Edgard di titik terendahnya memang membuat hidup Mikhail lebih baik dari segi perasaan, namun tidak pergaulan. Itulah kenapa Syakil benar-benar membenci pria yang menjadi pengaruh buruk kakaknya.


1 M bisa Mikhail keluarkan dengan mudah, itu benar adanya. Selama ini hidup Edgard bisa dikatakan bergantung pada Mikhail sebenarnya, pria yang tak punya pekerjaan tetap dan hanya bisa menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, akan tetapi itu tidak membuat Mikhail merasa terbebani sama sekali.


Drrrt Drrt Drrt


Mikhail menepi, sebagaimana titah Zia jika sedang dihubungi jangan meneruskan kemudi. Syukur-syukur malam ini dia mendapat izin pergi sendiri tanpa harus diantar Babas. Itupun harus merayu Zia lama sekali, istrinya hampir sama posesif seperti mamanya akhir-akhir ini.


"Hallo kenapa, Sayang?"


"Den, Non Zia panas ... cepet pulang ya."


Sialan, sudah dipanggil sayang yang terdengar justru suara Rani. Mikhail panik, tanpa menjawab lagi dia segera melaju dengan kecepatan tinggi. Panas? Istrinya baik-baik saja ketika ditinggalkan, apalagi yang salah, pikir Mikhail mulai menerka-nerka.


.


.


Sesaat, Mikhail melupakan apa yang tadi dia lihat, Istrinya lebih penting. Pria itu masuk dan segera menghampiri Zia yang kini meringkuk di tempat tidur.


"Kenapa? Kamu sakit?" Kekhawatirannya terlampau besar, dia bertanya begitu gugup sembari memastikan suhu tubuh Zia dengan telapak tangannya.


"Pusing ... Mas kenapa lama banget, bilangnya bentar." Kepalanya terasa pening, tapi tetap berusaha duduk kala Mikhail sudah berada di sampingnya.


Mikhail menghela napas panjang, yang membuat dia lama adalah jarak tempuh ke sana. Hanya saja, Zia yang mengira tujuan Mikhail hanya berbeda komplek saja jelas kecewa karena hampir satu jam dia menunggu di balkon dan Mikhail belum kembali juga.


"Maaf, Zia, Mas ada urusan sedikit makanya butuh waktu."

__ADS_1


Istrinya pucat, badannya panas ditambah lagi Zia yang terus menekan perutnya membuat Mikhail khawatir luar biasa. Zia tidak pernah sakit sebelumnya, hal seperti ini jelas saja membuatnya ketar-ketir.


"Aku mual, Mas."


"Muntahkah!"


Zia mendongak menatap wajah khawatir Mikhail, dimana-mana seharusnya dia dituntun ke kamar mandi, bukannya justru membiarkan istrinya muntah di tempat.


"Mana bisa muntah di sin ... Uweeek." Belum dia selesai bicara, isi perutnya keluar semua dan sukses membuat suaminya kotor dalam waktu sekejab.


"Maaf, Ma... uwweekk." Dengan sisa tenaganya Zia menarik selimut agar tidak lagi mengotori suaminya. Mikhail segera menarik beberapa lembar tisu di atas nakas. Mengelap mulut Zia yang membasah dengan begitu lembut, belum apa-apa Zia sudah terlihat lemah.


"Kamu dari mana memangnya?" tanya Mikhail curiga, tidak mungkin istrinya begini tanpa sebab.


"Sana," tutur Zia menunjuk balkon kamar yang hingga saat ini masih terbuka.


"Astaga, Zia!!! Berapa lama kamu di sana?" desak Mikhail meninggi, kebiasaan sekali istrinya kerap berdiam diri di sana padahal udara dingin dan malam ini memang hujan rintik.


"Mas lama!! Makanya aku tunggu, kamu sih buat khawatir." Benar saja dugaan Mikhail, istrinya pasti masuk angin hingga bisa panas begini.


"Astafirullah, Valenzia ... sudah Mas katakan kalau selesai Mas pulang, kamu tunggu di kamar dan tidur duluan kalau ngantuk. Kenapa keras kepala begini?" Seorang Mikhail yang bahkan tak pernah mengucap salam kini sampai istighfar dengan kelakuan istrinya. Jangankan satu jam, sepuluh menit saja berdiam diri di balkon dengan udara dingin seperti itu bisa masuk angin.


"Sudah minum obat?" tanya Mikhail lembut namun jujur saja saat ini dia ingin sekali mengutuk istrinya itu.


"Udah, tapi keluar lagi karena aku muntah," jawabnya singkat, ada beberapa obat yang Rani berikan dan semuanya keluar sendiri.


"Lalu gimana? Kita ke rumah sakit saja mau ya?"


Tidak, Zia benci rumah sakit. Jika sudah sakit begini sudah tentu jarum-jarum sialaan itu akan menusuk punggung tangannya, dan dia tidak suka.


"Nggak, Mas kerokin aku aja bisa kan?"


Mana bisa Mikhail melakukan hal itu, seumur hidup dia tidak pernah merasakan, apalagi melakukannya. Dia bingung kala Zia memintanya melakukan hal itu, namun untuk menolak dia juga tak bisa. Lagipula kenapa harus ada hal-hal yang begitu padahal dokter dan dunia medis lebih bisa diandalkan menurutnya.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2