
"Kenapa?"
"Berbalik, saya mau ganti baju."
Lama tak bertemu dan rasanya luar biasa kaku, lagi-lagi Mikhail membawanya ke hotel. Bukan karena dia ingin memanfaatkan kesempatan, akan tetapi Mikhail tidak ingin Zia pergi lagi dari hidupnya.
"Ganti saja, aku juga ingin melihatnya."
Alih-alih menuruti kemauannya, Mikhail justru menarik pergelangan tangan Zia agar lebih dekat dengannya. Sekian lama tak melihat tubuh itu, jujur saja dia merindukannya.
"Jangan bercanda, saya makin lama kalau begini."
Ya terserah, bahkan jika boleh Mikhail ingin Zia tidur tanpa busana sekalian. Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Zia, dia duduk di tepian ranjang hingga wajahnya tepat menghadap perut Zia yang sudah membesar.
Mereka kehilangan banyak momen, Mikhail sadar dia terlambat menemukan Zia. Seharusnya sejak awal dia tidak memberikan celah Zia pergi dari hidupnya, pria itu terdiam dan merenung di tanpa mengucapkan apa-apa.
Dia tidak menginginkan sek*s untuk saat ini, yang dia inginkan hanyalah bisa menatap wanita ini di saat malam berakhir. Berapa banyak hari sulit yang Zia alami tanpa Mikhail di sisinya, menjalani peran sebagai wanita berbadan dua dan di usianya masih belia sendirian adalah kebodohan Zia yang akan Mikhail kutuk bahkan hingga anaknya dewasa
"Kenapa kamu tega menyembunyikan dia dariku? Apa kamu pernah berpikir untuk membesarkannya sendiri?" tanya Mikhail dengan sorot tajam yang tak bisa Zia hindari, pria itu tampaknya benar-benar marah dan kesal dengan keputusan Zia yang seenaknya.
Dugaan Mikhail salah, jangankan berniat membesarkannya sendiri, dia bahkan sempat berusaha membuang anak itu dengan segala cara, bahkan hampir menghilangkan nyawanya sendiri lantaran tak ingin anak itu hadir dalam hidupnya.
"Zia, aku tanya ... jawab, Sayang."
Zia membuang pandangannya, wanita itu tak kuasa menatap mata Mikhail yang menatapnya begitu lekat di sana. Sudah beberapa waktu berlalu namun penyesalan itu masih sama, bukan menyesali kehamilan akan tetapi penyesalan kala dia sempat tak terima awalnya.
"Saya nggak punya uang buat pulang waktu itu, Pak."
Dia berbohong? Tentu saja, permasalahannya bukan itu. Zia memutuskan benar-benar menerima takdirnya dan memilih hidup berdua bersama buah hatinya kelak. Setelah memutuskan pergi kala itu, Zia benar-benar tidak ingin kembali lagi.
"Boddoh! Uangmu dariku kemana? Habis secepat itu rasanya tidak mungkin," ujar Mikhail kemudian, wanita seirit Zia sepertinya tidak mungkin menghabiskan uang secepat itu, pikirnya.
"Ya mungkin-mungkin aja lah, Pak ... hutang keluarga saya banyak, uang sekolah Ricko dan lainnya juga tanggung jawab saya."
__ADS_1
Dia masih cerewet seperti dulu, ekspresi wajahnya masih sama jika menjelaskan sesuatu. Mikhail hanya bisa menghela napas perlahan, sungguh wanita ini membuatnya tak habis pikir.
"Dan kamu adalah tanggung jawabku, Zia."
Sesaat, Zia terdiam mendengar ucapan pria ini. Entah kenapa kalimat itu terdengar lebih manis daripada ucapan cinta dan penuturan kasih sayang ataupun semacamnya.
"Maaf ya, aku terlambat ... seharusnya sejak awal aku memang menikahimu, bukan mendapatkanmu dengan cara yang begitu."
Mikhail akui itu salah, tidak ada pembenaran terhadap perbuatannya. Bahkan jika Kanaya mengetahui dia sudah menghamili anak orang, mungkin Kanaya akan menyesal telah memanjakannya akhir-akhir ini.
"Jangan menyesal, dari awal kesepakatan kita sudah jelas bahwa tidak ada satupun yang menyesal setelahnya."
Senyum itu menenangkan sekaligus menyayat batin Mikhail sebagai pria. Dia sudah menghancurkan anak gadis orang akan tetapi tidak dianggap salah, Zia bodoh atau bagaimana, pikir Mikhail menghela napasnya kasar.
-
.
.
.
"Tanya apa?"
"Laki-laki yang tadi, apa sebelumnya pernah macam-macam, Zia? Jawab sejujurnya, aku tidak akan marah." Mikhail bertanya serius, dia yakin Zia tak semudah itu menyerahkan diri pada laki-laki seperti pria yang tadi dia temui.
Zia menggeleng, sebelumnya dia memang tidak pernah mengalami hal buruk seperti tadi, pertama kalinya dan semua itu terjadi di hadapan Mikhail.
"Yakin? Kamu tidak berbohong kan?"
"Hm, yakin."
Sepertinya memang benar, dan Mikhail tak ingin membuat Zia terlalu lama berdiri akibat dia yang enggan melepaskan pelukannya. Rambut wanita itu bahkan sudah kering, dan kini barulah Mikhail sadar untuk segera melepaskannya.
__ADS_1
Pertama kali Mikhail harus berusaha menahan kerinduan yang membuatnya hampir gila itu. Dia sengaja mengancingkan piyama Zia pelan-pelan, seakan tak ikhlas jika tubuh istrinya tertutup segera.
"Selesai ... selamat tidur, istriku."
"Hah?" Zia mengerutkan dahi, ucapan Mikhail sebelum mengecupnya membuat Zia berdegub tak karuan, ada-ada saja pria itu.
"Kenapa? Kamu risih?"
"Enggak, cuma kaget aja."
Bukan pertama kali namun hal itu berhasil membuat Zia lagi-lagi gugup dibuatnya. Statusnya sejak dulu memang begitu di mata Mikhail, walau terkadang dia geli jika Mikhail mengakuinya sebagai istri.
"Itu harapan ... jangan pergi lagi, Zia, kamu tidak tahu kan bagaimana aku disaat kamu tiba-tiba menghilang waktu itu?" Mikhail tak akan menjelaskan sulitnya dia tanpa Zia, hanya saja di waktu yang akan datang Mikhail tidak ingin Zia kembali pergi tanpa sepengetahuannya.
"Maaf, seharusnya saya menunggu lebih lama lagi waktu itu."
Zia sudah cukup lama menanti, akan tetapi Mikhail yang berkali-kali mengabaikannya setelah hari itu membuat Zia berpikir jika Mikhail muak dan tidak menginginkannya lagi.
"Saya saya saya ... sampai kapan kamu begitu, ubah Zia! Kita bukan sedang berbisnis." Setelah lama dia resah dengan panggilan Zia yang tak jua berubah meski sudah hampir 6 bulan berlalu, akhirnya tersampaikan juga.
"Ya kan biar sopan! Di surat perjanjiannya jelas pihak kedua harus tetap sopan dan menempatkan diri sebagai bawahan pihak pertama ... Bapak yang buat sendiri peraturannya begitu." Masih dia ingat jelas poin-poin dari surat perjanjian yang dia tandatangani waktu itu, bahkan sampai kepada peraturan dilarang mengumpat dalam hati juga Mikhail tuliskan.
"Apa iya?"
Pura-pura lupa adalah jurus paling ampuh bagi Mikhail, pria itu benar-benar menyebalkan sebenarnya di bagian ini.
"Iya, perjanjiannya memang begitu."
"Sudahlah, lupakan ... lebih baik pikirkan nanti kamu mau menikah maharnya berapa, jangan pikirkan yang lain." Mikhail menarik Zia dalam pelukan, guling paling nyaman untuk dia peluk.
"Sebelum memikirkan itu, apa kehadiranku bisa diterima keluarga Bapak? Kalau orangtua Bapak nggak terima gimana?" Ketakutan itu kembali menghantui Zia, dia setakut itu akan penolakan seseorang tentang bagaimana dirinya.
"Jangan pikirkan, itu urusanku ... jika Mama ataupun Papa menolak kehadiranmu maka sama artinya dengan memintaku angkat kaki dari rumah." Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dan ini tidak akan pernah dia ingkari.
__ADS_1
Tbc