Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 45 - Selesai Meminta


__ADS_3

Pagi-pagi buta Mikhail sudah terbangun dari tidurnya, sedikit tak rela meninggalkan Zia yang masih terlelap. Dengan langkah sedikit terburu dia kembali ke kamar tidurnya.


"Kakak dari mana?"


"Astaga!! Syakil!!"


Karena terlalu buru-buru, Mikhail hampir menabrak Syakil yang hendak turun seperti pagi-pagi yang biasa. Memang, Syakil sedikit lebih peduli dengan kebugaran tubuhnya dibanding Mikhail.


"Dari mana sih? Oh aku tau ... jangan-jangan dari sana ya?" tebak Syakil menunjuk ke arah kamar tamu, gelagat Mikhail sebenarnya cukup mudah diketahui.


"Apa maksudmu?"


"Hahah dasar, melamar saja belum bisa-bisanya maksa tidur bersama." Syakil menggeleng pelan seakan tindakan Mikhail benar-benar salah.


"Diam kalau mau punya SIM di umur 20."


Kesempatan emas, ini pertanda baik yang bisa Syakil jadikan sebagai senjata. Meski jujur saja, sedikit perih rasanya kala dia menyadari Mikhail benar-benar tidur di kamar Zia.


"Mobil baru juga?"


"Jangan memanfaatkan kesempatan, Syakil."


"Ck, ya sudah ... Mama belum bangun? Tumben, biasanya sudah di dapur bantuin bibi." Syakil kemudian berlalu dan seakan melupakan perkara SIM yang sejak dulu dia impikan.


"Eits!! Mau kemana?" Mikhail menahan kepergian Syakil, mulut pengadu adiknya perlu ditakuti sebenarnya.


"Lepaskan, jangan buang waktuku, Kak ... jadwalku padat hari ini." Syakill menepis tangan sang kakak, dia benar-benar berusaha membuat Mikhail jatuh dalam lubang kelicikannya.


"Ck, iya mobil baru."


Tak ingin terlalu panjang urusan, jujur saja Mikhail tak punya keberanian sebesar itu pada Kanaya. Meski di hadapan Zia dia seakan pelindung yang tak takut apapun, saat ini saja Mikhail takut Kanaya mengetahui jika dia tidur bersama Zia malam ini.


"Deal?!" Syakil menarik sudut bibir, dia tersenyum menang dan sebahagia itu dalam hatinya.


"Hm."

__ADS_1


Kali pertama dia kalah, Mikhail menuruti keinginan kurang ajar Syakil. Mata polos Syakil yang seakan tak berdosa itu sedikit menyebalkan, akan tetapi demi membuat posisinya aman dan Zia tidak disalahkan, mengeluarkan dana cukup besar untuk bocah ini tidak masalah, pikir Mikhail.


"Ah baiknya ... kenapa tidak dari dulu begini, kita pasti akur, Bro!!"


"Terserah, pergi sana! Mataku sakit melihatmu, Syakil."


Benar-benar tidak bisa ditebak, beberapa menit lalu dia sangat baik bahkan nada bicaranya saja begitu lembut. Dan kini, kala sudah di posisi aman, dia kembali kumat dan bicara dengan nada tingginya.


"Mobilnya aku minta Papa saja, pasti Papa ikhlas."


"Astaga, baiklah Syakil ... mobilmu akan datang segera, jangan coba-coba kendarai sebelum punya SIM! Paham?" Pasrah sekali, sepertinya Syakil benar-benar menguji kesabarannya sebagai seorang Kakak.


"Siap, Bos."


Pagi-pagi saldonya terancam terkuras, dan kembali lagi alasannya karena Zia seorang. Jika dihitung-hitung, uang yang Mikhail keluarkan dalam proses mendapatkan Zia lumayan besar juga.


Melihat Syakil yang kini berlalu dengan santainya, Mikhail hanya menghela napas kasar. Terserah! Dia juga tidak peduli, yang terpenting hari ini dia harus benar-benar siap untuk bicara baik-baik pada keluarga Zia.


Sedikit takut, sebagaimana yang sang papa ceritakan tentang pengalaman melamar mamanya cukup sulit dan menyedihkan. Saat ini, Mikhail tidak takut jika dia menerima penolakan atau bahkan babak belur karena kemarahan keluarga Zia. Demi apapun yang dia takutkan hanyalah takut jika sampai Zia yang mengalami hal buruk dari kejadian ini.


.


.


.


"Gugup?"


"Bias saja."


Mikhail menjawab dengan begitu santainya. Padahal, saat ini dadanya bergemuruh bahkan tak karuan bagaimana kacaunya. Dia menatap sekeliling, lingkungan yang sederhana namun menyejukkan mata.


Tempat ini bukan termasuk kawasan terpencil, akan tetapi bukan juga pusat kota. Ya, meski sebenarnya Zia sangat khawatir Mikhail akan mengatakan tempat tinggalnya sebagai pedalaman, persis seperti kost Erika dahulu.


Tidak ada sambutan spesial, karena Zia juga tidak memberitahukan maksud dan tujuan dia pulang kali ini apa. Hanya tatapan aneh dari kedua orang tuanya, terutama Ricko yang baru saja pulang dari sekolah ketika mereka tiba.

__ADS_1


"Apa kalian sudah menikah sirri lebih dulu?"


Ayah dari Zia mulai bersuara, sejak tadi dia mendengarkan bagaimana cara Mikhail meminta izin padanya untuk menikahi Zia secara sah baik agama maupun hukum negara.


"Be-belum, Pak ...."


"Belum? Lalu bagaimana bisa?"


Di mata orang tuanya ini adalah hal yang tidak wajar, sang ayah sejak tadi sudah terlihat marah. Berbeda dengan ibunya yang begitu santai menerima mereka. Tentu saja alasannya karena uang, dia melihat peluang kehidupannya akan lebih baik dengan pernikahan putrinya ini.


"Maaf, Pak ... untuk hal ini, semua murni karena kesalahan saya."


Ibra mengangguk pelan kala jawaban itu akhirnya berani keluar dari mulut Mikhail. Sempat takut dia akan berbohong dan mengatakan jika keduanya sudah menikah lebih dulu, tapi ternyata Mikhail lebih memilih untuk jujur seperti yang Ibra ajarkan padanya.


Pria paruh baya itu hanya diam, sejenak menatap Zia dari kejauhan. Putrinya sudah tumbuh menjadi anak yang cantik, seseorang membuatnya hamil di usia muda. Anak yang dulu dia dapatkan dengan segala usaha, ketika dewasa pria ini merebutnya dengan mudah.


Menolak percuma, jika dia menolak maka sama saja membuat hidup putrinya tersiksa. Belum lagi istrinya sudah memberikan kode agar tetap diterima dan jangan banyak ulah.Ya, saat ini memang dia tidak punya kekuasaan untuk marah dan sebagainya lantaran sudah lima tahun menjalani peran sebagai ayah tanpa memberikan nafkah.


Merasa gagal sebagai ayah, dia hanya berharap Mikhail memang suami yang baik untuk putrinya. Tidak menginginkan hal apapun, dia bahkan melepaskan Zia selepas-lepasnya. Soal pernikahan, ibunya meminta tidak melakukannya di kediaman wanita ataupun diketahui tetangganya.


"Biarkan mereka taunya kalian sudah menikah, ibu malu kalau sampai mereka tahu apa yang menjadi alasan Zia menikah muda bahkan meninggalkan bangku kuliah."


Meski dia menerima Mikhail sekeluarga, bukan berarti wanita itu siap malu. Dia memutuskan melakukan hal itu demi kebaikan dirinya ke depan. Tidak mengapa tetangga hanya mengetahui bahwa Zia sudah menikah, bukan hendak menikah.


"Menikahlah tanpa perlu melibatkan kami di hari itu, Zia."


Alasannya mereka hanya satu. Malu, itu saja. Hal yang Zia takutkan benar-benar nyata. Mereka malu dengan apa yang menimpanya, andai saja Mikhail tidak kaya, mungkin sang ibu akan mengusir mereka sejak awal memasuki rumah itu.


"Tapi, Bu ... bagaimana bisa tanpa melibatkan kalian?"


"Bisa saja, lagipula suami saya sudah tidak terlalu kuat untuk perjalanan jauh ... akan tetapi jika ingin menikah di sini secara jelas saya menolak. Keluarga saya adalah orang terpandang, saya tidak siap jika harus menerima cibiran mereka akibat perbuatan nakal Zia."


Ingin marah, tapi tak bisa. Kanaya menahan Mikhail yang hendak bicara dengan sigapnya. Pria itu tidak tahan mendengar ucapan ibunda Zia yang menganggap kehamilan Zia benar-benar aib keluarga.


"Baiklah, jika memang begitu kemauan pihak Zia ... sebagai ayah dari Mikhail kami akan menerimanya." Meski sedikit kesal dengan cara mereka, Ibra tetap harus terlihat tenang dan sopan lantaran usia orangtua Zia dan dirinya memang terlihat banyak berbeda.

__ADS_1


......... Tbc


__ADS_2