Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 92 - Terjerat Sebelum Dijala.


__ADS_3

Jika di rumah Zia dibuat menangis lantaran Zidan yang tidak baik-baik saja, lain halnya dengan Mikhail. Saat ini, pria tampan itu tengah dibuat gusar akibat kelalaian security hingga membuat Jenny berhasil masuk ke perusahaan menemui Mikhail dengan tipu muslihatnya.


"Demi Tuhan, dia memang anakmu, Mikhail! Aku tidak berbohong!" sentak Jenny dengan napas yang kian memburu, menangis tersedu dan dia tak terima dengan tuduhan Bryan jika bayi yang dia kandung adalah anak pria lain.


"Oh iya? Wake up, Jenny ... ini bukan malam hari."


Di sisi yang lain, Mikhail sama sekali tak merasa itu adalah darah dagingnya. Rasanya sangat tidak mungkin ditelan bisa hamil, pikir Mikhail tertawa sumbang mendengar pengakuan Jenny yang tampak sangat tersakiti.


"Aku tidak bercanda, Khail ... kalaupun kau tidak menginginkan aku, setidaknya tanggung jawab untuknya! Selama ini aku sabar dan percaya jika Edgard benar, tapi nyatanya sampai sekarang kau tetap diam!"


Lucu sekali mendengar pernyataannya, Mikhail menghela napas perlahan. Dia terdiam sejenak dan menatap Jenny dari ujung kepala hingga ujung kaki, kasihan sebenarnya. Anehnya, ukuran perut Jenny masih cukup kecil jika dibandingkan dengan perut Zia dan dari sini saja sudah janggal menurut Mikhail.


"Tanggung jawab bagaimana yang kau mau? Bukankah aku selalu memberikan uang lewat Edgard, apa itu kurang?"


"Nikahi aku, aku tidak mau anak kita lahir tanpa ayah, Mikhail."


Mikhail percaya, orang-orang bodoh itu memang nyata. Namun, yang paling bodoh di antara orang bodoh ialah Jenny. Mikhail sudah mengetahui bagaimana cara mereka menusuk dari belakang, semua sudah jelas dan video mereka bergulat juga tersimpan di ponselnya. Ya, meskipun durasinya tidak full dari mereka pemanasan hingga pelepasan, akan tetapi itu sudah cukup untuk menampar kedua pengkhianat dalam hidup Mikhail.


"Anak kita ... kita punya anak ya ternyata?"

__ADS_1


Senyum Mikhail mulai terlihat tenang, Jenny yang sejak tadi meninggi tiba-tiba luluh. Bryan yang tak jauh dari Mikhail hanya melihat apa yang akan Mikhail lakukan sebenarnya.


"Kapan terakhir kali kau periksa kandungan, tubuhmu terlihat kurus sekali seperti kurang nutrisi."


"Khail!!" Terkejut, pernyataan Mikhail membuat Bryan naik darah sebenarnya.


Jenny menggeleng, tentu saja dia mengeluarkan kalimat-kalimat menyedihkan seakan paling menderita di dunia. Malu karena sendirian, tidak punya uang dan masih banyak lagi.


"Aku terlalu kejam ternyata, kita periksa kandunganmu hari ini ... akan aku temani."


Mata Jenny membulat sempurna, begitu berbinar dan dia mendelik kala menyadari di ruangan Mikhail masih ada Bryan. Dia merasa menang tentu saja, meski Mikhail melarangnya untuk sekedar mendekat tetap saja bagi Jenny ini adalah lampu hijau untuk kembali dalam hidup Mikhail.


"Dasar gila, apa yang Anda lakukan sebenarnya? Bagaimana kalau non Zia sampai mengetahui hal ini?" bisik Bryan pelan, cara Mikhail memang kerap tak tertebak dan resiko terjadi salah paham begitu luar biasa.


Benar juga, dua hari lalu Mikhail memberikan perintah. Belum juga bergerak lantaran hal yang sama pentingnya juga menggila, kini Jenny datang sendiri untuk memudahkan pekerjaan Bryan.


Mereka benar-benar ke rumah sakit, dengan ditemani Bryan dan Bastian yang dipastikan bisa menjaga rahasia. Mikhail mengutak atik ponselnya, membalas pesan singkat sang istri yang pamer kepiting saus padang kiriman Kanaya.


-

__ADS_1


.


.


.


Tiba di rumah sakit semua baik-baik saja dan Jenny salah sangka. Bimantara sempat hampir marah kala Mikhail membawa wanita hamil yang lain. Untung saja ada Bryan, jika tidak mungkin mata Mikhail sudah Bima tusuk menggunakan jarum suntik.


"Tunggu hasilnya, Khail ... walau tanpa melakukan tes DNA juga sudah dapat terjawab dia tidak hamil anakmu, rasanya tidak mungkin kau bisa menghamilinya saat dalam keadaan lumpuh," tutur Bimantara apa adanya, usia kandungan Jenny baru menginjak 15 minggu, sementara Mikhail menjadi manusia normal itu kira-kira 7 bulan lalu.


"Terima kasih, aku melakukan semua ini demi menghindari hal yang tidak-tidak dilain hari." Mikhail juga memiliki keyakinan yang sama seperti Bima sejak pertama kali Jenny masuk ruangannya.


"Hm, keputusanmu sudah tepat."


"Oh iya, Bim ... tolong jaga mulut tentang ini.


Santai saja, Bimantara tak secerewet itu hingga mampu menyebarkan air orang, pikirnya. Mereka memutuskan kembali, demi membuat Jenny tak curiga Bastian diminta Mikhail untuk mengantarnya sementara Bryan meneruskan misi selanjutnya untuk membuat Edgard bertanggung jawab atas penipuan yang sudah dia karang sedemikian rupa ini.


Suasana hati Mikhail sudah tidak memungkinkan untuk kembali ke kantor. Dia lebih memilih pulang dengan menggunakan taksi online, meski sebenarnya dia tidak pernah menggunakan sarana ini sebelumnya. Itupun harus berdebat dulu bersama Bima lantaran titik penjemputan yang Bima tentukan salah.

__ADS_1


"Sabar ya, Sayang ... Mas di jalan, tungguin." Terlalu heboh menjanjikan jika dia akan makan siang di rumah membuat Zia meneros Mikhail hingga menelponnya berkali-kali sejak tadi.


Tbc


__ADS_2