Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 97 - Quality Time (Zi-Mi)


__ADS_3

Sesekali ajak Zia cuci mata, jangan di rumah terus ... nggak minta bukan berarti nggak mau, Mikhail.


Ucapan Kanaya kemarin terbukti nyata saat ini, satu minggu terakhir hari-hari yang mereka jalani cukup sibuk. Pekerjaan, Aleena dan juga Zidan berhasil memenuhi pikiran Mikhail hingga membuat waktu berdua bersama Zia sedikit terkikis.


Akhir pekan kali ini Mikhail ingin membayarnya tuntas, meski hanya memilih pusat perbelanjaan terdekat sebagai tempatnya menghabiskan waktu dan juga uang. Tak apa, tidak setiap hari Zia begini. Lagipula, memanjakan istri tidak akan membuat harta seorang suami habis. Begitulah pesan Ibra yang selalu dia tekankan pada Mikhail sejak dahulu.


"Kenapa ragu? Ambil kalau mau, Zia."


Ingin sekali, hanya saja gaun itu takkan muat bahkan mungkin robek jika dia gunakan. Zia menyentuh perutnya kemudian memilih sadar diri dan menggeleng kala Mikhail hendak meraihnya.


"Nggak akan muat, Mas."


"Ada ukurannya, Sayang ... Mas tanya dulu."


Sudah yakin sekali dia bahwa keinginan Zia akan terpenuhi. Akan tetapi, kenyataan menamparnya dalam sekejab kala wanita cantik berpakaian rapih itu mengatakan yang tersedia hanya ukuran itu. Gaun yang diciptakan untuk wanita-wanita langsing itu memang benar-benar memikat hati.


"Ish, udah aku bilang masih ditanya, Mas bikin malu ah."


Memang yang paling benar itu beli daster, mau ukuran tubuhnya sebesar Mikhail rasanya tak masalah karena memang ukurannya ramah terhadap kaum hawa tanpa pembedaan kurus ataupun berisi, semua dapat merasakan kenyamanannya.


"Ck, store ini kenapa hanya jual gaun ukuran kurcaci? Kalian tidak berpikir nasib wanita-wanita gemoy seperti istri saya bagaimana?"


Gemoy? Sejak kapan Mikhail dapat istilah itu. Demi apapun rasanya Zia ingin berlari saat ini juga. Rupanya Mikhail menganggap ini masalah serius pada penjaga store tersebut, padahal Zia tak sebesar itu. Hanya saja, istrinya yang tengah hamil tidak memungkinkan gaun itu bisa Zia kenakan.


"Maaf, Pak ... koleksi kami memang diperuntukkan untuk wanita-wanita mungil agar tetap terkesan seksi, istri Anda mungkin bisa menggunakannya jika nanti sudah melahirkan."


Wanita itu paham maksud Mikhail, kekecawaan Mikhail memang sangat disayangkan. Akan tetapi, jika dia mengada-ngada dan membuat Zia merasa dibohongi takutnya justru nanti semakin kecewa.


"Mengecewakan sekali, katakan pada bosmu pikirkan juga ibu-ibu hamil ... pilih bahan yang sekiranya bisa melar hingga bisa dipakai wanita yang beratnya lebih dari 100 KG."


Bak mengutarakan suara rakyat, Mikhail benar-benar mewakili banyak hati yang juga ingin terlihat menawan meski bukan golongan mungil seperti yang dimaksud.


"Terima kasih atas sarannya, Pak."


Gagal ditempat yang satu, Mikhail berpindah ke tempat yang lain. Hari ini memang benar-benar harinya Zia seorang, bahkan di kedua tangannya sudah ada beberapa paper bag yang dia tenteng dengan santainya.


-

__ADS_1


.


.


.


"Mas belum boleh ya beli beginian?" tanya Zia kala memasuki store perlengkapan bayi.


Semuanya sangat menggemaskan, Zia seakan ingin menangis karena semua teramat lucu di matanya. Ini adalah surga, sejak memasuki tempat ini Zia bahkan lupa tentang gaun yang tadinya sangat dia inginkan.


"Boleh-boleh saja sebenarnya, larangan Mommy Loren itu cuma mitos, Zia ... lagipula kamu sudah 7 bulan, artinya sudah tau jenis kelaminnya jadi nggak akan salah. Itu yang benar, bukan karena jin seperti yang Mommy katakan."


Benar-benar merusak memang, ucapan Lorenza nyatanya mengusik pikiran Zia hingga wanita itu benar-benar berpikir bahwa larangan membeli pakaian bayi sebelum 7 bulan adalah sebuah kebenaran yang tak terbantahkan.


"Yaudah beli sekarang boleh berarti!!" seru Zia semangat sekali, jika sudah di sini ingin rasanya Zia menguras harta Mikhail hingga kering dalam waktu singkat.


"Hm, boleh tapi jangan terlalu banyak ... nanti nggak muat di mobil," ucap Mikhail wanti-wanti sebelum terjadi, karena saat ini mata Zia sudah menunjukkan jika dia ingin semuanya.


"Iya, nggak."


Dia biarkan istrinya itu mengambil apa yang diinginkan tanpa sedikitpun protes dia lontarkan. Sebanyak apa yang Zia ambil tidak masalah karena selagi masih dalam batas wajar.


"Hitam," jawab Mikhail singkat, jawaban yang sukses membuat Zia terdiam dan menyesal bertanya pada suaminya.


"Kenapa mukanya begitu?"


"Jawab yang bener, masa baju-bajunya warna hitam semua si, Mas."


Dalam segala hal Zia tak ingin mengambil keputusan sendiri. Harus ada peran suaminya di sana, dan perihal pemilihan warna ini Zia sangat membutuhkan saran Mikhail.


"Terserah kamu aja, Zia ... Mas manut, lagipula bayi kita nggak akan protes apapun warnanya, dia mana paham, Zia."


"Ck, Mas nggak seru banget sih, aku butuh saran kamu sebagai papanya." Zia frustasi sekali kala Mikhail masih enggan menjawabnya secara pasti, padahal itu bukan pertanyaan yang sulit, pikir Zia.


"Astaga, yasudah kasih pilihan biar Mas yang pertimbangkan," titah Mikhail kini m serius mode on menatap manik indah Zia.


"Oke Mas pilih ya, nanti Mas mau putri kita jadi cewek kue, cewek mamba atau cewek bumi?"

__ADS_1


"Ap-apa? Maskudnya apa, Zia?"


Perbedaan umur mereka benar-benar jadi penghambat dan Mikhail tidak paham istilah-istilah masa kini. Aneh-aneh saja, lagipula sejak kapan perempuan dikelompokkan begitu, pikir Mikhail.


"Hm, Mas nggak ngikutin zaman ya ... aku lupa kalau suamiku sudah om-om," tuturnya seolah sedih sekali, Mikhail yang tidak memahami maksudnya membuat Zia sedikit lelah padahal belum mendapatkan apa-apa.


"Maksud kamu? Zia kamu jangan ngomong macam-macam ya, kamu pikir Mas nggak denger?"


Merasa terhina sekali dia kala Zia menyebutnya om-om. Padahal faktanya memang begitu, jika Mikhail datang ke taman kanak-kanak tentu mereka akan memanggil Mikhail dengan sebutan begitu karena memang usia Mikhail sudah cukup dewasa.


"Hehe becanda, Sayang ... masa gitu aja marah."


Kali pertama Zia memanggilnya dengan panggilan itu. Bagaimana rasanya? Hati Mikhail seakan tengah terbelah dan dia berlari-lari tanpa arah. Jika saja bukan di tempat umum, mungkin Mikhail akan segera meraup bibir istrinya hingga tak bisa bernapas.


"Ck, lanjutkan pilihannya tadi. Mas nggak paham maksudnya, tolong jelaskan, Zia."


"Ini cewek kue, ini cewek mamba ini cewek bumi!! Tuh, Mas lebih suka yang mana?" tanya Zia menunjukkan 3 pakaian bayi yang berbeda warna dan juga suasananya.


"Cewek bumi bagus, lebih kalem dan juga elegan. Tapi, cewek mamba juga berkharisma ... ehm, cewek kue saja, Zia ... Mas suka putri kita warni-warna," jawab Mikhail setelah menimbang keputusan yang cukup lama, dia bingung karena jika dipakai bayi rasanya meski tidak berwarna juga akan tetap terlihat menggemaskan.


"Warna-warni, Mas," zia membenarkan ucapan Mikhail yang terbalik dan mengganggu indera pendengarannya.


"Hm, iyaa begitu."


Mikhail hanya mengawasi apa-apa yang Zia pilih, tanpa dia sadari sudah hampir sekeranjang baju kotor di rumahnya. Mikhail mulai panik namun hendak menghentikannya tidak bisa. Pada nyatanya, wanita memang sama.


Hingga pada saat dia hendak membayar di kasir, mata Mikhail membola dan mengurungkan niat kemudian hendak menarik istrinya keluar dari tempat itu. Zia yang mendapati Mikhail tiba-tiba begini jelas saja bingung.


"Mas kenapa? Buruan bayar," pinta Zia seraya berusaha bertahan dan di sana.


"Sayang, kita beli di tempat lain yang lebih baik ... ayo," ajak Mikhail sedikit memaksa dan membuat Zia panik luar biasa.


"Maksudnya gimana, Mas? Kamu bilang dong kalau nggak bawa uang banyak," gerutu Zia curiga suaminya kehabisan uang.


"Nanti saja kita bahas, sekarang kita pergi dari sini."


"Khail tunggu!!" Suara lantang itu membuat mereka menghentikan langkah, Zia menoleh kepada seorang wanita yang merupakan kasir di toko ini. Aneh, apa mungkin Mikhail punya hutang, pikir Zia heran sekali.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2