Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 63 - Hadiah Pernikahan


__ADS_3

Sesuai dengan kesepakatan, Mikhail dan Zia kini menuju ke lokasi hunian baru mereka. Butuh empat puluh menit perjalanan, dengan kecepatan normal Mikhail meminta Babas tetap hati-hati kali ini.


Bryan sudah berada di tempat yang dituju lebih dulu, sengaja memilih lokasi yang cukup jauh dan lingkungan yang lebih baik. Mikhail memilih tempat itu demi membuat Kanaya tidak mengacaukannya setiap hari seperti di rumah.


"Woah kamarnya berapa, Mas?"


Untuk pasangan yang baru menikah, rumah itu terlalu luas hingga Zia menganga dibuatnya. Ini lebih besar dari rumah utama keluarga Megantara, dan suasananya jauh berbeda.


"Hanya delapan, cukup kan untuk anak-anak kita nanti?"


Hah? Yang benar saja, Mikhail menyiapkan banyak kamar dengan harapan akan membangun keluarga besar bersama Zia. Dia hanya memiliki satu adik kandung laki-laki dan rasanya masih kesepian, Mikhail ingin formasi keluarganya nanti lengkap.


"Suka?"


Jelas saja suka, Zia bahkan tak bisa mengungkapkan apa-apa. Ini bagaikan mimpi baginya, sejak dahulu Zia pernah berharap mampu memiliki rumah sebagus ini.


Mikhail menyiapkan ini sejak lama, sejak hubungan mereka baru saja dimulai. Memerhatikan warna kesukaan Zia, dan mencari tahu hal-hal yang menjadi impian Zia dengan cara curi-curi kesempatan membuka catatan di ponselnya. Hingga Mikhail tuangkan dalam sebuah istana megah yang akan mereka huni untuk menjalani hidup bersama.


Sejak melihat rekaman CCTV dimana seorang gadis tengil merusak mobilnya, Mikhail memang sudah mengincarnya. Mengetahui jika gadis itu memiliki kekasih, Mikhail mencari jalan pintas untuk bisa mendapatkan Zia secara utuh.


Mikhail bukan pria yang kerap mengukir janji, dia tidak pernah mengatakan ingin memperistri Zia seperti pria yang lainnya. Terkadang hanya terdengar becanda hingga sampai akhir Zia bingung sebenarnya Mikhail memang menginginkannya atau tidak.


Dan detik ini, Zia dapat melihat ketulusan cinta Mikhail memang sudah sejak lama tertuju padanya. Pria itu menyukai warna hitam namun memilih nuansa berbeda untuk rumahnya kali ini, semua didominasi dengan warna kesukaan Zia.



"Hadiah pernikahan, ini rumah kamu, Zia."


Rumah atas nama istrinya, Mikhail memeluknya erat-erat. Menyisakan Bryan yang kini pura-pura tak melihat, begitupun dengan Babas yang memilih keluar dan menunggu di luar saja.


"Kenapa begitu? Sama-sama lah, kan sudah menikah."


"Rumah Mas yang sesungguhnya adalah kamu, tempat Mas pulang adalah dimanapun kamu berada ... maka dari itu, Mas minta kamu menetap di sini supaya Mas tidak kesulitan cari kamu lagi," tuturnya melemah, hingga detik ini Mikhail masih setakut itu tentang Zia yang pernah meninggalkannya.


Dia ingin membuat Zia benar-benar terikat dan tidak punya alasan pergi setelah ini. Sekalipun memang Zia ingin mereka berpisah, maka Mikhail saja yang melangkah keluar. Karena dengan cara itu, Mikhail tetap bisa memastikan dimana wanitanya tanpa harus menangis setiap harinya sembari menerka kemana perginya Zia.

__ADS_1


"Maksud Mas apa?"


Zia bergetar mendengar penuturan Mikhail yang kini memeluknya dengan mata terpejam, apa memang Mikhail masih setakut itu dia pergi lagi? Sekalipun pergi, Zia mau kemana lagi, pikirnya.


Dia menggeleng pelan, kenapa juga suasananya berubah jadi menyedihkan begini. Mikhail menarik sudut bibirnya begitu tipis dan mengusap wajah Zia yang sejak tadi menatap ke arahnya.


"Hahah kenapa bingung gitu?"


"Mas yang nggak jelas," celetuknya menggigit jemari Mikhail yang memang sengaja berhenti di bibirnya, memang sudah menjadi goresan takdir jika yang di otak Mikhail hanya itu-itu saja.


"Arrghh, sakit Zia ... jangan gigit jari, gigit yang lain saja kalau mau."


Ada Bryan di sini, namun dia masih sama saja dan tidak sedikitpun mengurangi kadar kemesumannya sama sekali. Mikhail berhasil membuat Zia memerah dan Bryan yang malu sendiri.


Semuanya sudah sempurna, ingin rasanya Zia tempati sekarang juga. Selain karena keinginannya untuk mandiri sejak lama mendominasi, dia juga sangat amat tidak nyaman dengan adanya Syakil dan juga Aleena yang kerap berada di rumahnya jika Mikhail di kantor.


-


.


.


.


Selama di rumah dia selalu terbatas dan jika Zia sudah berlari keluar kamar artinya dia sudah kesulitan bahkan untuk memeluknya. Jika mereka tinggal berdua tentu saja bahagia Mikhail berlipat ganda.


"Nanti Rani yang ikut kita, atau kamu mau pembantu baru?" tawar Mikhail demi memastikan nyamannya Zia yang bagaimana.


"Enggak, sama mba Rani aja."


Tidak ingin terlalu mengizinkan orang luar masuk dalam rumahnya, meski dia yakin Mikhail tidak akan macam-macam tetap saja ketakutannya masih begitu nyata.


"Bentar, Mas ... mau lihat lagi."


Mikhail tersenyum kala istrinya seakan tak mau diajak pulang. Zia masih betah menatap hadiah pernikahan dari Mikhail ini, mereka cukup lama di sini, bahkan Bryan dan Babas mengeluh lantaran ini bukan seperti melihat-lihat saja melainkan simulasi tinggal sementara.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Zia hanya tersenyum bahagia. Mungkin perkara jambu kristal yang hingga detik ini belum dia temukan tak menjadi masalah baginya. Bersandar di bahu Mikhail dia menatap keluar. Hingar bingar kota dibawah langit sore ini masih sama, dunia masih seperti dulu.


"Bas ... kenapa?"


Belum juga setengah perjalanan, mobilnya mulai berulah. Senyum Zia tiba-tiba luntur, dia panik kala Babas juga sama paniknya.


"Sepertinya ban kita pecah, Bos, bengkel dimana ya?"


"Ck, ada-ada saja ... yang benar saja, Bas! Hari sudah mendung begini."


Sangat tidak lucu sebenarnya, belum lagi akhir-akhir ini cuaca semakin sulit diprediksi. Mikhail berdecak namun ini bukan salah Bastian juga. Beruntung tidak jauh dari sana ada salah satu bengkel yang cukup besar dan bisa dijadikan sebagai solusi saat ini.


"Kita duduk disana saja," ajak Mikhail sementara Babas menyelesaikan semuanya, dia tidak ingin ikut campur kali ini.


Hanya ada satu kursi kosong untuk menunggu, Zia tak tega membiarkan suaminya berdiri sementara Mikhail juga sama. Jalan tengah Zia duduk di pangkuan Mikhail, meski awalnya malu lama-lama dia terbiasa begini.


"Mas, aku berat apa nggak masalah?" Zia tak yakin sebenarnya, pasalnya kini dia berbadan dua.


"Biasanya juga Mas di bawah kamu di atas nggak berasa berat, Zia."


Kebiasaan sekali, tanpa dipancing Mikhail bahkan terpancing. Zia tidak sama sekali bicara ke arah sana dan Mikhail mandiri sekali berjalan tanpa diperintah.


Memilih kembali diam, dia tetap sabar menunggu. Zia menatap nanar ke ujung sana, sesaat Zia terdiam dan tatapannya terkunci bahkan dia tak mendengar jika Mikhail tengah bicara padanya.


"Zia!! Kamu dengar Mas?"


"Hah? Apa, Mas?" Zia merubah posisinya menghadap ke jalan raya, Mikhail mengerutkan dahi kenapa istrinya jadi begini.


"Apa? Nggak denger, berisik, Mas ... maaf."


"Ck, apa yang kamu lihat? Hm?" Mikhail melihat ke depan mencari sesuatu yang membuat istrinya bahkan tidak fokus sebelumnya.


Belakangan ini pasukan Mikhail sepertinya melupakan ritual, kolom komentarnya rada sepi, ini pada kemana ya? Apa males komen karena bacanya malam?🙄


- Votenya jan lupa bestie, sama jempolnya digoyang setiap habis baca ya. Jadilah salah satu alasan othornya tersenyum dengan dukungan baik kalian, karena dengan itu kalian sudah mendapatkan pahala (Bikin othor seneng)✨

__ADS_1


Tbc


__ADS_2