Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 60 - Berani Berbuat, Terima Akibat.


__ADS_3

Dalam keadaan Zia yang diam saja Mikhail dibuat gila rasanya. Hal ini bagai candu tiada habisnya, Mikhail melakukannya dengan lembut dan berirama mengikuti denyut jantungnya.


"Jangan bangun dulu, Zia ... salah sendiri kamu marah lama kali ini," tutur Mikhail di sela kesibukannya.


Sepelan apapun Mikhail melakukannya, senyenyak apapun tidur Zia tetap saja dia sadar dengan guncangan bak gempa beberapa skala ricther itu. Zia meracau begitu paniknya dan mencari Mikhail di sampingnya, mungkin dia benar-benar berpikir ini adalah gempa.


"Aarrrgggggghh!! Hhmmmppp ...."


Kesadarannya masih di awang-awang, dia tengah bermimpi terbuai rayuan Mikhail. Kini terbangun dia melihat sosok besar dengan jarak begitu dekat dengannya, sontak saja dia berteriak begitu kencang sampai Mikhail panik dan membekap mulut istrinya.


"Shuut, Sayang! Tenang."


Bukan sekali Mikhail begini, sebelum mereka menikah juga pernah dia lakukan tapi memang tak senekat ini. Zia persis korban pemerkosa*an sekarang, Mikhail tak menghentikan gerakannya meski Zia setakut itu dan mengiranya maling.


"Ih apa-apaan sih!! Kamu ngapain?!!"


Zia menjauhkan tangan Mikhail yang menutup mulutnya, kemarahannya bahkan belum selesai dan kini sudah berani membuat ulah.


"Kamu mau masuk penjara? Ini pelecehan ibu-ibu hamil tau?!!"


"Pelecehan apa? Kan memang hakku, apa salahnya?"


Pria itu tertawa sumbang, sama sekali tak merasa bersalah. Zia masih punya tangan yang bisa dia gunakan untuk mencubit lengan Mikhail lantaran dia sulit untuk menarik tubuhnya.


"Aku nggak izinin ya, Mas ... maen masuk-masuk seenak jidat," umpat Zia dengan bibirnya yang maju beberapa centi, bukannya mikir suaminya malah tertawa tanpa henti.


"Nggak masuk, tau dari mana?"


"Ya kan berasa!!"


"Tapi memang enggak, Zia."


Pembohong sekali dia, istrinya bukan lagi anak kecil yang sebodoh itu dan percaya jika ucapannya benar. Meski ketutupan perut secara nyata Zia sadar jika Mikhail menyerangnya.


"Ck, udah sana, Mas! Apa nggak capek gerak mulu?" Dia hanya bisa berdecak pelan, ingin marah tapi Mikhail yang begini selalu membuatnya kembali luluh lagi sebenarnya.


"Jangan gerak, Zia ... tanggung, dikit lagi."


Mikhail menahan pinggul istrinya, Zia ingin mengindar namun Mikhail bergerak sebelum istrinya benar-benar melepaskan diri.


"Bodo amat," umpat Zia menepuk dada Mikhail cukup kuat, selama pernikahan mungkin ini sensasi bagi Mikhail.


"Menolak suami dosa, Sayang."


Mengatasnamakan dosa, dia membuat Zia tak berdaya dan tidak punya kuasa untuk melawannya. Sambil menyelam minum air, Mikhail tengah memanfaatkan keadaan untuk membuat istrinya luluh malam ini.

__ADS_1


"Tapi suami juga nggak bisa memaksakan kalau istrinya nggak mau, aku masih marah kamu sadar nggak sih?"


Zia terus saja mengomel sementara Mikhail masih bertahan dan memperjuangkan haknya malam ini. Bukan hanya dada Zia yang sesak melainkan bagian intinya juga.


"Dimanapun setidaknya cari cara biar istrinya nggak marah, bukan curi-curi kesem... eeunngghhh."


Mikhail tak lagi mendengarkan celotehan istrinya, dia mencari cara lain untuk membuat Zia luluh dalam buaiannya. Cukup mudah bagi Mikhail menemukan titik sensitif dan membuat istrinya mengeluarkan suara indahnya.


"Sekarang maunya gimana? Mas berenti kalau memang masih marah."


Siallan, memang pintar sekali memainkan hati perempuan. Ancaman Mikhail selalu begini, mengancam akan meninggalkan di saat sayang-sayangnya. Pria itu memang selalu berhasil membuat seseorang yang sebelumnya menolak menjadi meminta pada akhirnya.


"Jangan," pinta Zia menahan pergelangan tangan Mikhail kala dia hendak melepaskan dirinya, hanya sekadar ancaman tapi benar-benar membuat Zia setakut itu kehilangan.


Terlanjur basah, berenti di tengah dua-duanya akan sama pusingnya. Persetan dengan kemarahan beberapa jam lalu, yang mereka inginkan pada nyatanya sama ketika sudah bertemu dengan keadaan begini.


-


.


.


.


Brugh


Rasa kantuk yang tadinya menghantui Zia, kini hilang begitu saja. Dia memang pantang diganggu tidurnya, mungkin akan terbangun dalam waktu yang lama.


Mikhail menoleh dan menatap lekat Zia yang juga menatapnya, sejak tadi sang istri menyeka keringat di wajahnya. Yaps, semudah itu membuat Zia luluh dan melunturkan amarahnya.


"Masih marah?" tanya Mikhail lembut, jika dilihat dari apa yang istrinya lakukan Zia memang tidak marah lagi.


"Enggak lagi," jawabnya singkat, menyiksa Mikhail hampir delapan jam dengan diamnya sepertinya sudah cukup berlebihan.


"Jangan marah seperti tadi lagi ya, Mas tersiksa Zia."


Diabaikan seribu orang yang lain sepertinya lebih baik daripada diabaikan istrinya. Mikhail menepikan anak rambut istrinya yang sedikit acak-acakan akibat keringat di keningnya.


"Mulut kamu juga jangan sembarangan seperti tadi, bukan cuma sama aku tapi orang lain juga."


Mikhail mengangguk pelan, pelajaran yang benar-benar berharga baginya kali ini. Mulut yang tidak bisa dikondisikan itu sepertinya harus dijaga dengan sebaik mungkin.


Belum juga lima belas menit, Mikhail sudah terlihat mengantuk dan matanya mulai mengecil saat ini. Hal yang paling Zia tidak suka, Mikhail yang mengacaukan tidurnya tapi justru Mikhail yang tidur duluan juga.


"Jangan tidur!! Enak aja, buka matanya."

__ADS_1


Jika biasanya akan Zia biarkan suaminya tidur duluan, lain halnya dengan kali ini. Bisa dipastikan Zia akan bisa tidur beberapa jam lagi jika sudah diganggu begini.


"Kamu mau lagi?" tanya Mikhail dengan senyum tengilnya, matanya sudah memerah tapi Zia tidak ingin membuat Mikhail kembali meninggalkannya tidur duluan malam ini.


"Jangan ditinggal tidur, kamu kebiasaan begini ... kamu yang bangunin, kamu juga yang ninggalin."


"Ngantuk, Zia ... kamu belum?" Mikhail memaksakan matanya bisa menatap Zia dengan keadaan sesadar-sadarnya.


"Belum, Mas jangan tidur dulu, aku takut sendirian."


Benar juga, ini sudah malam dan di luar mulai terdengar rintik hujan. Zia paling tidak suka gelap berpadu dengan hujan dan kesendirian, Mikhail menghidupkan lampu kamarnya kini demi bisa membuat istrinya tenang sebelum tidur.


"Masih takut?"


"Enggak, tapi Mas tetep nggak boleh tidur duluan ... di drama-drama biasanya suami baru tidur saat istrinya udah tidur," jelas Zia begitu runtut dan berharap suaminya akan bersikap demikian.


"Hm, jangan khawatir." Meski matanya sudah mengantuk, dia pastikan istrinya tidur lebih dulu malam ini.


Beberapa menit berlalu, Zia belum memperlihatkan tanda-tanda jika dia akan tidur. Wanita itu masih sibuk memainkan rambut Mikhail yang kian panjang saja entah kapan dia akan memotong rambutnya yang bergelombang itu.


"Mas, pakai shampo yang mana? Kenapa wanginya beda."


"Shampo kamu," jawab Mikhail masih setia menatap lekat-lekat sang istri, begitu sulit untuk mengalihkan tatapannya dari Zia walau semenit saja.


"Shampo aku? Yang mana?" Merasa sedikit aneh, karena ini adalah serupa dengan aroma sabun kewaanitaan miliknya.


"Coklat, yang kecilnya segini."


"Hah? Itu kan buat itu ... kenapa kamu pakai buat rambut? Itu bukan shampo astaga," tutur Zia panik namun masih selembut itu.


"Terlanjur, Zia! Lagipula Mas suka wanginya."


"Mas abisin?"


"Hampir." Jawaban itu jujur dan memang nyata Mikhail hampir menghabiskannya.


"Kok hampir? Kamu gimana sih? Itu baru aku beli satu minggu lalu!" geram Zia mendengar jawaban santai Mikhail yang mengatakan jika sabunnya hampir habis.


"Besok beli lagi, jangan marah dulu."


"Ck, kamu mah ... beli sekarang boleh nggak?"


"Yang benar saja, Zia! Ini malam, Sayang ... hujan juga, apa kamu setega itu sama Mas? Hm?"


"Ayolah, Mas, sekalian jalan-jalan! Kita udah lama nggak keluar malem, tuh baru jam 11 malem." Sepertinya memang salah dia membangunkan Zia malam ini.

__ADS_1


"Mas!! Jangan pura-pura tidur, aku congkel biji matanya ya!" rengek Zia kemudian, jika punya keinginan biasanya harus saat itu juga dan malam ini dia merindukan berada di luar bersama Mikhail.


Tbc


__ADS_2