Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 74 - Kita Pindah!!


__ADS_3

"Bang bangun woey!! Jangan males biar kakinya cepat sembuh!!"


Pagi-pagi sekali rumah sudah ramai sekali, mereka belum memiliki bayi tapi tidur Mikhail sudah terganggu lantaran Zidny dan Laura sama gilanya di luar sana. Jujur saja dia ingin marah, kepalanya bahkan terasa sakit akibat terkejut dengan cara mereka menggedor pintu kamar Mikhail layaknya maling.


"Astaga ... dua wanita itu menyebalkan sekali."


Mikhail menutup kepalanya dengan bantal, tak lupa tangan kirinya meraba sisi sebelahnya. Sudah terasa kosong dan artinya Zia memang tidak lagi tidur bersamanya.


"Bisakah kalian diam?!!"


Ketukan pintu yang luar biasa dahsyat bahkan, itu bukan lagi ketukan tapi sudah termasuk usaha menghancurkan properti. Pria itu meremmas bantal dengan emosi yang kian tinggi, kenapa semua orang hanya membuatnya kian kacau, pikir Mikhail kesal luar biasa.


"Bang, kami masuk ya?"


"Benar-benar mau mati sepertinya," gumam Mikhail di saat kantuknya benar-benar masih menghantui, pria itu sudah menyiapkan sumpah serapah lantaran Zidny dan Laura benar-benar masuk tanpa izinnya.


CEKLEK


"Woah ... kamarnya jadi cantik, lihat, Kak!! Spreinya nggak hitam legam lagi," seru Laura kala melihat ke arah tempat tidur.


"Iya, gordennya juga udah rada girly ya," tambah Zidny kembali berjalan menelusuri kamar tidur Mikhail.


Perbedaan terlihat jelas dan ini luar biasa kontras. Sangat-sangat memperlihatkan bagaimana pengaruh baik seorang Zia dalam hidup Mikhail. Kamar yang dulunya suram kini terasa lebih hangat dan mereka merasakan semua itu.


"Sekarang aromanya juga beda ya, lebih menenangkan ... wangi-wangi bayi gitu, kalau dulu kan rada bau rokok gitu, Kak," sahut Laura lebih dalam melihat sekeliling kamar Mikhail.


Lama tidak berkunjung dan mereka baru kali ini kembali berani untuk masuk. Mikhail yang berubah beberapa waktu lalu ternyata berimbas besar kepada lingkungannya, jarak kian terasa dan Zidny bahkan sedikit takut padanya.


"Bukan rada lagi, tapi emang bau rokok."


"He-em bener ... ini kayaknya semua dia ganti deh, Bang Cio renovasi apa gimana?"


Malas sekali Mikhail menjawabnya, meski jawaban untuk hal ini sangatlah menarik. Akan tetapi, jika pada mereka dia mendadak malas melakukan apapun meski hanya mengucapkan sepatah kata.


"Keluarlah, kalian mau apa ke kamarku."


Suara serak yang enggan diganggu itu akhirnya terdengar juga, Mikhail masih berdiam di tempat dan tidak punya keinginan untuk bangun lebih cepat.


"Mau lihat-lihat ... tadi udah izin sama Zia, dia bolehin kok."


"Terserah kalian, sudah pergi sana!!"


Mikhail melemparkan bantal dan tepat mengenai wajah Laura. Meski dia terpejam sepertinya mata kaki Mikhail berguna untuk mengetahui keadaan, pikir Zidny.


"Beuh bantalnya juga ikutan wangi, Zia tidur pakek parfum apa gimana, Bang?"


Baru kali ini dia rela mencium bantal sedalam itu. Kerap trauma dengan bantal Laura yang kerap menimbulkan aroma tidak sedap dia merasa bantal yang ada di kamar Mikhail suatu keajaiban dunia.


"Astaga, apa itu penting bagi kalian?"

__ADS_1


Lama menahan akhirnya Mikhail naik darah, pria itu terbangun dan mengacak rambut lantaran kesal luar biasa. Menatap wajah sok polos Zidny dan Laura ingin sekali dia lemparkan dari balkon lantai dua.


"Kan tanya, suatu saat kita berdua juga mau menikah."


Bukan Zidny namanya kalau tidak pandai cari pembenaran, Mikhail menyerah menghadapi dua wanita ini. Ingin pasrah tapi dia tidak rela kala melihat Laura mulai menghias diri di depan cermin dan menyentuh dunia skincare dan make-up istrinya.


"Laura!! Jangan pernah sentuh satupun barang Zia!" ancam Mikhail menunjuk pemilik rambut sebahu itu.


"Oh dua begini boleh berarti, Bang?"


Dengan tanpa dosa dia mengambil dua produk sekaligus dan dia perlihatkan pada Mikhail. Jika ditanya siapa lawan tersulit dalam hidup Mikhail, jawabannya adalah dua orang ini.


"Astaga, Laura ... bodohmu memang abadi sepertinya, itu akibat sekolah di bawah batang ubi," umpat Mikhail seraya menghampiri Laura dan merampas perlengkapan Zia yang dia kacaukan.


"Kan kita satu sekolah, berarti Abang juga di bawah batang ubi?"


Terserah, bodo amat, Mikhail tak lagi perduli. Mereka benar-benar definisi dikasih hati minta jantung. Belum selesai dengan Laura, Zidny juga ikut berulah.


-


.


.


.


"Bang, ini apa? Aku nemu di bawah sana," tutur Zidny sembari memegang lingerie yang baru saja dia temukan di bawah kolong tempat tidur.


Mikhail cepat-cepat menarik paksa barang pribadi milik istrinya itu. Ya, meskipun itu adalah akibat dari perbuatannya, mungkin Zia lupa dan kesulitan mencarinya hingga kain tipis jaring-jaring warna merah merona itu bisa tertinggal di sana.


"Pasti hilang ya? Ahaha bilang makasih kek, kan aku yang berhasil nemuin."


Begitu percaya diri dan memproklamirkan diri sebagai pahlawan. Pagi-pagi mereka berhasil membuat ubun-ubun Mikhail mendidih, jujur saja dia kesal luar biasa.


"Zidny tolonglah, kamu sudah dewasa ... keluarlah selagi masih kuizinkan menggunakan pintu itu," tutur Mikhail begitu lembut, demi apapun rasanya dia marah sekali.


"Aaarrrgghh panas!! Kak Zidny bantuin!!"


Belum sempat Zidny menjawab, teriakan Laura mengacaukan semuanya. Keduanya berlari menghampiri lantaran kesalahan Laura memang fatal.


"Tollol!! Siapa juga yang pakai catokan di tangan!!" sentak Zidny khawatir sementara Mikhail membantu melepaskannya, ya memang mereka bertiga bisa seheboh itu hanya karena satu hal.


"Aku cuma mau cek panasnya merata atau enggak, lagian salahin aja catokannya kenapa cepet panas," tutur Laura membela diri, sungguh dia benar-benar tidak berpikir jika akan sepanas itu.


"Sudah kukatakan jangan perah menyentuh semua ini, you know kualat, Laura?" Mikhail menarik sudut bibir, kali ini dia memang benar-benar bahagia di atas penderitaan orang.


"Lah malah marah, obatin, Bang!"


"Tidak ada obat di sini, di bawah sana minta sama Rani."

__ADS_1


Sudah berapa kali dia mengusir Zidny dan Laura, setelah kecelakaan begini barulah mereka berniat pergi. Mikhail mendorong mereka tak sabar dan kembali menutup pintu kamar begitu kerasnya.


Mikhail duduk dan bersandar di pintu kamar, bernapas lega dan dia menunduk dan memijat pangkal hidungnya. Dia butuh ketenangan, tadi malam dia baru bisa tidur jam tiga pagi lantaran Zia kesulitan mencari posisi.


"Siapa?"


Seseorang kembali mengetuk pintunya, Mikhail perlu memastikan siapa yang datang sebelum membuka pintunya.


"Aku ... Zia, Mas."


Bak menemukan angin segar, Mikhail segera membuka pintu kamar dan menatap Zia dengan mata lelahnya. Sejak tadi dia cari-cari dan istrinya sudah begitu cantik kali ini.


"Kamu sudah mandi?"


"Iya, sudah ... abis bantuin Tante Siska siapin sarapan, ternyata mereka juga pinter masak, Mas."


Terserah, Mikhail tidak butuh info itu. Segera dia menarik pergelangan tangan sang istri untuk segera masuk sebelum makhluk-makhluk pengganggu itu kembali masuk.


"Ih apaan, kenapa kamu begini." Zia panik kala Mikhail kumat dan membawanya ke tempat tidur, kebiasaan sekali tidak tau kondisi begini.


"Kamu belum cium Mas pagi ini ... bisa-bisanya tega ninggalin di kamar sendiri," omel Mikhail menatap setiap inci wajah Zia, hal-hal begini memang kerap Mikhail tuntut sebenarnya.


"Sudah, tadi pagi tapi Mas belum bangun."


"Ya mana berasalah, cium saat tidur itu cuma sepihak, Zia." Mikhail menolak jawaban Zia yang menurut dia itu tidak seharusnya dan kurang tepat.


"Kan sama saja, apa bedanya astaga." Zia benar-benar menyerah dengan Mikhail yang begini.


"Diam," titah Mikhail seraya perlahan mengikis jarak, kegiatan rutin setiap pagi dan itu harus terpenuhi. Baru satu detik dia membenamkan bibirnya di atas bibir ranum Zia, tiba-tiba gangguan tak terduga kembali datang.


BRAK


"Bang!!" Zidny kembali datang dengan tanpa bersalah dan terlanjur basah sudah di dalam kamar mereka. Sungguh, sama sekali Zidny tak menduga jika mereka akan secepat itu melakukannya.


"Mas!!" Zia sontak mendorong Mikhail, kedatangan Zidny yang tiba-tiba berhasil membuatnya pucat pasi.


"Apalagi!!" bentak Mikhail mulai kehabisan kesabaran.


"Anu ... apa, ponsel Laura ketinggalan di meja Zia, izin ambil sebentar." Zidny menunjuk meja rias Zia demi menunjukkan dia memang tidak berbohong.


"Ambil sana."


Ekor mata Mikhail mengikuti gerak gerik Zidny, dan ketika wanita itu benar-benar keluar Mikhail bangkit dan meminta Zia segera bangun dan bersiap. Zia yang panik jelas saja bingung maksud Mikhail.


"Bersiap kemana?"


"Kita pindah, kepala Mas sakit di sini!!" ucapnya kesal sebelum kemudian berlari ke kamar mandi.


Tbc

__ADS_1


-Jan lupa ritual, hari senin vote Abang Mikel masih kosong astagađź’”


__ADS_2