
Menyibukkan diri dengan kembali menggeluti rutinitasnya. Sakit satu hari tak membuat Mikhail kehilangan kendali. Semua berjalan baik-baik saja bahkan pria itu harus ke luar kota selama hampir dua minggu untuk urusan bisnisnya.
Ditemani Bryan dan juga Bastian, dia memang tidak diizinkan sendiri oleh Ibra setelah kecelakaan. Alasannya sederhana, Ibra tidak ingin putranya mengalami hal yang sama untuk kedua kali. Apalagi saat ini, Mikhail sudah memiliki keluaraga kecil yang harus dia jaga.
Selama Mikhail pergi pria itu tetap mengawasi Zia dengan seketat itu, dengan Rani sebagai mata-mata sementara Jackson yang harus menjaga kediamannya dan menjauhkan Zia dari orang-orang yang kemungkinan akan membuat Zia terkontaminasi.
Mikhail tidak bercanda, bukan berarti dia jahat karena membiarkan Zia sendirian. Akan tetapi, tidak baik membuatnya terlalu dekat dengan banyak mulut dan nantinya akan meracuni pikirannya hingga memuat Mikhail bingung sendiri menenangkannya.
"Kenapa dua, bos?" tanya Bastian kala Mikhail memutuskan mengambil dua kalung berlian dengan harga yang tidak main-main.
"Hm menurutmu?" tanya Mikhail tanpa mentap Bastian untuk mendengar sendiri kesaksian pria itu.
"Punya selingkuhan, Bos?" tanya Bastian asal ceplos dan berhasil membuatnya menerima pukulan di pundaknya.
"Dasar gila, berani sekali mulutmu."
Ternyata, selain ZIa, sopirnya juga terkontaminasi dengan cerita buruk Mikhail di masa lalu. Sebagai orang baru yang tidak memahami Mikhail secara personal, wajar saja dia bingung sendiri.
"Maaf, Bos ... syukurlah kalau untuk nona semua." Merasa bersalah, namun tidak boleh kelihatan setakut itu di hadapan Mikhail.
"Untuk Mama, terakhir kali aku memberikannya hadiah mungkin satu tahun lalu."
Bastian dibuat bungkam, jawaban Mikhail benar-benar menyentuh hatinya. Sebagai tamparan paing nyata lantaran dia lebih mementingkan Rani daripada ibunya. Sementara Bryan hanya menarik sudut bibir, paham maksud berubahnya wajah Bastian.
Bagi Mikhail, Kanaya tetap akan menjadi wanita dengan tahta yang tidak tergantikan dalam dirinya. Akan tetapi, Zia adalah wanita yang akan menjadi teman hingga nanti Mikhail menutup matanya.
"Sayangi ibumu, Bas ... sebelum terlambat."
Sialan, sepertinya Bryan tengah mengusik Bastian saat ini. Matanya melayangkan permusuhan, baru juga kenal beberapa hari, pikir Bastian kesal sendiri dengan asisten pribadi Mikhail yang lebih tampan darinya ini.
Sengaja mempersingkat waktu, Mikhail ingin memberikan kejutan pada Zia. Kemarin dia sudah mengatakan akan segera pulang, tapi bukan hari ini. Mulai perjalanan sore hari, bisa dipastikan mereka akan tiba ketika hari sudah gelap.
Bagi Bastian perjalanan ini dia anggap liburan, jika Mikhail dinanti Zia dan Mikhayla, maka dirinya ada Rani yang menunggu. Meski itu adalah karangan Bastian sendiri, sejak kapan juga Rani peduli dengan kepergiannya.
-
.
.
.
__ADS_1
Setibanya di rumah, dia sengaja diam-diam. Mikhail meminta Rani untuk tidak mengusik istrinya. Pria itu datang lebih cepat dari perkiraan, melanggar sebuah janji bagi Mikhail adalah hal yang biasa sebenarnya.
"Istri saya dimana?"
"Ada di kamar, Den ... sini saya bawain kopernya."
"Tidak usah, ini berat."
Mikhail menolak, karena tanpa Rani juga dia bisa membawanya sendiri. Pria itu meniti anak tangga dengan perasaan berdebar tak karuan.
Ceklek
"Sayang ...." Mikhail menyapa dengan suara lembutnya, Zia tengah menyusui put
"Mas? Kok pulangnya cepet?"
Bukannya menyambutnya dengan pelukan, Zia justru membuat kening Mikhail berkerut dengan pertanyaannya itu. Sungguh di luar nalar, mau kecewa tapi yang bicara adalah Zia.
"Ya sudah Mas pergi lagi kalau begitu."
Menggunakan jurus pura-pura marah begini tidak berlaku untuk Zia. Yang ada Mikhail semakin diabaikan nantinya. Mau tidak mau dia lah yang menghampiri, Miikhayla sepertinya tengah fokus sekali. Pegangan tangan di jemari Zia menandakan jika dia tidak bisa dipisahkan kali ini.
"Katanya besok, makanya aku tanya."
Bisa saja alasannya, Zia hanya menarik sudut bibir kala Mikhail menghujani pipinya dengan kecupan. Memang cukup lama kerinduan itu terbendung, setelah menikah ini adalah kali pertama MIkhail pergi cukup lama.
"Sana, jangan cium Khayla ... Mas mandi dulu sana," titah Zia kala Mikhail hendak bergantian mengecup putrinya juga.
"Sekali aja, setelah ini Mas mandi ... janji!" seru Mikhail benar-benar meminta.
"Nggak-nggak, mandi dulu nanti mukanya iritasi."
Takut sekali jika putrinya kenapa-kenapa, jika dirinya saja mungkin Zia tidak keberatan. Namun, berbeda jika itu adalah Valenzia. Mikhail mendengkus kesal untuk pertama kalinya, penolakan Zia membuatnya kesal namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Kekesalan Mikhail hanya menjadi tertawaan bagi Zia. Semakin marah Mikhail maka itu artinya semakin berhasil dirinya. Sebentar lagi putrinya akan terlelap, sepertinya Mkhail sengaja mengatur waktu hingga dia tiba jam segini di rumah.
Gemericik air masih terdengar, sementara Mikhail selesai Zia menyiapkan pakaian untuk suaminya. Percayalah, meski dia tidak menunjukkan reaksi berlebihan kala Mikhail datang, bahagia Zia sebesar itu sebenarnya.
"Kopernya masih rapi, dia nggak ganti baju atau gimana?"
Tebakan Zia salah besar, jelas saja itu adalah hasil tangan Bryan yang kembali merapikan isi koper Mikhail untuk bosnya itu.
__ADS_1
Cukup lama Mikhail membersihkan diri, hingga dia selesai kala Zia sudah mengeluarkan semua isi koper suaminya. Sepertinya tidak ada yang kurang dalam hal ini, semua pakaian Mikhail kembali dengan sempurna tanpa kurang satu apapun.
"Kamu ngapain?"
"Astaga!!"
Mikhail yang tiba-tiba memeluknya dari belakang di tengah ritualnya merapikan pakaian Mikhail jelas saja membuat Zia terkejut setengah mati. Zia berdegup tak karuan, Mikhail yang kini berulang kali mengecup pundaknya membuat Zia merinding.
"P-pakai bajunya sana, udah aku siapin, Mas."
Mendadak gugup padahal Mikhail adalah suaminya, pelukan Mikhail yang semakin erat ini terasa berbeda dan ungakapan hati Mikhail terdengar begitu dalamnya.
"Sudah selesai kan?" tanya Mikhail dengan suara lembutnya, bahkan terdengar begitu halus masuk ke indera pendengaran Zia.
"Selesai apanya?"
"Masa nifasmu."
Sengaja mengucapkannya sefrontal itu, Mikhail membuat Zia kebingungan hendak menjawab apa. Sepertinya pertanyaan Mikhail tak juga berganti, sejak kemarin hanya itu-itu saja.
"Ehm, sudah ... terus kenapa kalau sudah?'
Pertanyaan Zia justru memancing suaminya yang kini hanya tersenyum miring. Dia datang diwaktu yang tepat, Mikhayla sudah tertidur. Memang benar-benar anak yang berbakti sejak bayi, pikir Mikhail.
"Mas, kamu belum makan ... nanti maag."
"Mas nggak laper, Zia. Tadi siang sudah makan, jangan khawatir." Tidak ada makanan yang lebih gurih selain istrinya sendiri, jelas saja Mikhail akan menolak jika Zia memintanya makan malam ini.
"Miss you, Zia ... rindu ini sudah terlalu berat, kamu benar-benar menyiksa selama ini." Belum juga dua bulan, Mikhail sudah semenderita ini.
Mikhail membalikkan tubuh istrinya hingga kini keduanya dapat saling menatap lekat-lekat. Merindukan sang istri setiap detiknya, Mikhail dibuat jatuh cinta berkali-kali pada Zia seluar biasa ini.
"Mas sayang kamu, Valenzia."
Ucapan terakhir sebelum Mikhail kemudian kian mengikis jarak dan mengecup bibir tipis istrinya begitu lembut. Mengutarakan seluruh cinta yang nantinya akan abadi dalam perjalanan cinta mereka.
"Wujudkan cita-cita Mas yang lain, Zia." Mikhail membopong istrinya ke tempat tidur, tanpa berniat menyakiti dan senyum itu tak pernah luntur.
"Cita-cita yang mana?" tanya Zia polos karena otaknya memang tidak setajam Mikhail.
"Buat pasukan main bola, kita baru memiliki wasitnya ... pemainnya belum," tutur Mikhail tersenyum tipis, sepertinya tentang hal yang iya-iya Mikhail tak pernah kehilangan alasan.
__ADS_1
END
Bonus Chapter Besok!!