Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 115 - Takdir Cinta


__ADS_3

Ada sebuah kalimat, sederhana namun nyatanya memang benar demikian. Jangan mengenali seseorang dari apa yang kamu dengar. Zidan benar-benar membuktikan hal itu. Bagaimana kini dia mengenal Mikhail sebagai pribadi yang begitu baik, jauh berbeda dengan apa yang Erika katakan.


Sempat membenci Mikhail? Sangat, dunianya hancur kala pertama kali melihat Mikhail masuk bersama Zia ketika dia dirawat di salah satu rumah sakit swasta di ibu kota. Hanya saja, setelah pertemuan itu Zidan menemukan makna nama Mikhail yang sesungguhnya.


Zidan percaya, Tuhan takkan mengenalkan seseorang tanpa alasan. Antara Zia, Mikhail dan dirinya memang sudah ditakdirkan bertemu sebagai sebuah cinta segitiga. Dalam hal ini, dia hanya Tuhan izinkan merasakan cintanya Zia. Sementara Mikhail memang Tuhan takdirkan sebagai pemilik Zia seutuhnya.


"Terima kasih, Bang ... Zia sangat beruntung mendapatkan pendamping sepertimu."


Sebuah pesan singkat yang Zidan kirimkan kepada Mikhail sebagai ungkapan terima kasih. Ya, semenjak mendapat kebaikan Mikhail dia memnag tidak begitu berani berkomunikasi dengan Mikhail secara personal.


Berada di titik ikhlasnya, Zidan sama sekali tidak memendam perasaan dendam sama sekali. Bukan karena merasa berhutang karena kebaikan Mikhail yang rela mengorbankan banyak uang untuk dirinya. Akan tetapi, secara naluri Zidan justru bersyukur Tuhan mempertemukan Zia dengan pria yang lebih baik darinya. Tak peduli bagaimana cara Mikhail merebut kekasihnya dahulu, saat ini biarlah cinta Zidan akan menjadi doa untuk Zia.


Cinta pertama, tidak harus jadi cinta terakhir. Sebagaimana yang sempat Syakil katakan padanya bahwa hati memang tidak bisa dipaksakan. Namun, bukan berarti terpaku pada satu hal yang tidak lagi menjadi miliknya adalah hal yang baik.


Hari-hari Zidan lewati di sini, dia tidak sendiri lantaran Erika senantiasa menemani. Kalau kata Marisa, simulasi jadi suami istri. Lucu sekali, kedekatan mereka yang sudah berjalan sejak enam bulan lalu nyatanya membuat Marisa berharap lebih pada Erika.


"Bagaimana keadaan putra saya, Dokter?"


Dengan senyuman hangat itu saja bisa dipastikan hasil yang Zidan terrma tidak main-main. Kondisi ini teramat langka bahkan tim medis menganggapnya sebagai kesembuhan yang didukung dari dalam diri Zidan sendiri.


Masih bagai mimpi, Zidan bahkan masih merasa terlelap dalam lamunannya. Pulang, dunia begitu cepat berlalu sampai kini dia mendengar dari Syakil bahwa Zia dan Mikhail sudah dikaruniai seorang putri.


"Kita akan bertemu, Zia."


Cita-citanya tepat satu tahun lalu, duduk di taman kota dan mengutarakan sederet impian indah di masa depan kehidupan mereka. Cita-ita mereka tidak terlu tinggi, Zidan yang akan berusaha menggeluti pekerjaannya sebagai arsitektur nantinya, sementara Zia akan menjadi ibu rumah tangga dengan seorang putri yang akan selalu menyambut kepulangannya.


Jika dipikir-pikir, Zia memang cukup tega. Wanita itu mewujudkan cita-citanya sendirian tanpa berniat mengajak Zidan terlibat di dalamnya. Merencanakan bersama Zidan, tapi dia realisasikan bersama Mikhail. Tidak apa, mungkin benar takdir cinta mereka memang hanya berada di titik itu.


"Senangnya jadi Zia, nggak perlu melakukan apa-apa tapi Zidan sudah sebahagia ini, aku iri," celetuk Erika yang sejak tadi memandangi Zidan, senyam senyum tidak jelas namun jika ditanya hanya menjawab tidak ada apa-apa.


"Nggak boleh iri-irian, kamu juga sama ... alasanku tersenyum, Erika."

__ADS_1


Sulit dipercaya, Erika sulit sekali mempercayai ucapan Zidan. Meski, dua bulan terakhir memang Erika adalah sebab tersenyumya Zidan dalam segala situasi.


"Setelah ini, kamu beneran mau datang ke Zia?"


Zidan mengangguk, faktanya memang demikian. Setelah dia sembuh, orang pertama yang ingin dia temui adalah Zia. Bukan karena ingin menemui sebagai mantan kekasih, akan tetapi berterima kaaih pada pria hebat yang kini menjadi bagian hidup Valenzia.


-


.


.


.


Sementara di sisi lain, kediaman Mikhail tengah ramai hari ini. Meski memang biasanya sudah ramai, kali ini cukup berbeda. Dengan pakaian senada Mikhail memperkenalkan putrinya di hadapan para banyak kolega sekaligus rekan bisnisnya.


Aqiqah setara pesta, ya anggap saja kejutan. Orang-orang mungkin banyak yang tidak mengetahui pernikahan Mikhail. Namun, bukan berarti selamanya dia akan sembunyi-sembunyi.


"Selamat, akhirnya menikah juga ... tapi kenapa harus diam-diam?"


Wanita cantik itu bertanya dengan senyum tipis tertarik begitu manisnya. Mikhail hanya tertawa sumbang, dia yang menikah kenapa semua orang justru selalu berkata akhirnya dan akhirnya.


"Kejutan, supaya kamu tidak mengacaukan pestanya."


Candaannya memang ada saja, siapa juga yang berniat mengacaukan pestanya. Lagi-lagi candaan itu hanya membuat si wanita menarik sudut bibirnya tipis.


"Hahah siallan, aku tidak segila itu, Mikhail."


"Erlangga mana? Kenapa datang sendiri?" tanya Mikhail mengerutkan dahi, tumben sekali pasangan legend ini sendirian.


"Seperti biasanya, kerja kerja kerja terus ... aku mulai males, apa aku tinggalkan saja ya, Khail?"

__ADS_1


"Ck, jangan sembarangan!! Mungkin sedang menyiapkan kehidupan kalian di masa depan, siapa tahu kan ... Erlangga itu memang suka kerja, maklumi saja, Ghea."


Ghea mengangguk pelan, mungkin ucapan Mikhail ada benarnya juga. Akan tetapi, sampai kapan dia harus terus menunggu. Sementara pria di hadapannya ini sudah memiliki seorang putri.


"Istrimu mana?" Ghea mengalihkan pembicaraan, dia juga penasaran bagaimana sosok istri sahabatnya. Karena, ketika menikah memang Mikhail merahasiankannya.


Mikhail juga sedang mencari dimana Zia sebenarnya, sejak tadi mereka sempat terpisah karena teman-temannya berbeda. Karena tanpa keduanya duga-duga, teman kampus Zia ikut datang bersama Syakil dengan mengatasnamakan organisasi kampus. Hendak diusir mau bagaimana, pikir Mikhail.


"Sebentar, Ghea ... aku panggilkan dulu, Zia!! Sayang, sini sebentar!!"


Dia berteriak, bukan memanggil biasa. Mikhail mengejutkan Zia yang sedang menyapa teman-temannya. Termasuklah Erika, gadis cantik yang sejak awal selalu menghindari dirinya.


"Cantik kan?"


"Hm, pintar juga cari istri."


Kecantikan Zia memang tidak perlu diragukan lagi, bukan hanya kaum lelaki melainkan kaum hawa juga mengakui jika dia memang cantik. Langkahnya yang pelan dan namun tidak terkesan lelet benar-benar mendefinisikan perempuan anggun.


"Haruslah, dia berlian yang membuatku berhasil melupakan batu akik dalam waktu cepat," tutur Mikhail membanggakan istrinya, mau tidak mau dia akui, memang Mikhail berhasil melupakan Sera dengan cepat hanya ketika menemukan Zia.


"Maaf, Mas. Aku lama," ucapnya pelan, ada teman Mikhail yang terlihat begitu anggun dan pembawaannya dewasa. Baru Zia sadari, wanita-wanita yang mengenal Mikhail menyerupai model semua.


"Kenalkan, ini Ghea ... sahabat Mas. Ghea ini Zia istriku."


Tbc


Yang kemaren menang belum konfirmasi nomornya segera ya.


Rekomendasi Novel Pagi ini✨


__ADS_1


__ADS_2