
"Mas, kenapa diem aja?"
Sejak kepulangan Edgard, suaminya terasa berbeda. Dia hanya diam, tampak merenung tapi Zia juga tak tahu kenapa. Jika hanya karena kemarahan Ibra dan Kanaya, rasanya tidak mungkin karena setelah makan siang mereka seakan sudah lupa jika tadi pagi tonjok-tonjokan.
"Nggak, Mas cuma mikirin masa depan kita," tuturnya dengan senyum hangat seperti biasa, bukan pertama kali dia bicara begitu tapi untuk saat ini rasanya berbeda dan Zia menatapnya penuh curiga.
"Jangan bohong, Mas ada masalah ya?"
Mikhail menghela napas kasar, istrinya bahkan merubah posisi duduknya demi bisa menatap mata Mikhail lebih lekat lagi. Memang, interaksi mereka lebih sempurna ketika melalui tatapan.
"Sedikit, nanti selesai."
Perihal masalah, di kantor ataupun dengan siapapun Mikhail tak pernah membawanya ke rumah. Pria itu akan selalu menjawab sama dan Zia tahu ketika semuanya sudah selesai.
"Tapi muka kamu nggak seperti biasanya, beneran nggak mau cerita, Mas?"
Mikhail menggeleng, cerita sama halnya dengan bunuh diri. Meski sebenarnya ini belum pasti dan dia tidak merasa tersentuh meski Edgard mengatakan kehamilan wanita itu sudah membesar.
"Nggak ada, Zia ... Mas tiba-tiba lelah saja, pengen tidur sebentar. Kamu jangan pergi ya, tetap di sini."
Sejenak dia memejamkan mata dan menjadikan paha sang istri sebagai bantalnya. Menghadap ke arah perut Zia yang membesar dan sengaja masuk ke dalam bajunya demi bisa lebih dekat kepada calon bayinya, ya anggap saja Mikhail tengah mengadu sore ini.
Kepala Mikhail rasanya hampir pecah kini, sebelumnya sudah pusing dengan tingkah orang-orang di sekitarnya, dan kini Edgard datang membawa duri yang demi apapun membuat Mikhail tidak bisa tidur sama sekali.
"Kamu kenapa sih sebenarnya?"
Zia yang awalnya senyam senyum dengan ulah suaminya dibuat kesal luar biasa akibat Mikhail tak kunjung tidur melainkan berulah dengan perutnya, awalnya mungkin hanya mengecup lama-lama menjadi gigit padahal perutnya sudah sekencang itu bahkan Zia merasa lapisan kulit perutnya sidah tipis.
"Kenapa, Zia? Mas salah apa?"
__ADS_1
Tanpa rasa bersalah bahkan dia bertanya salahnya dimana, oh Tuhan ... di antara banyak area kenapa harus gigit perut, pikir Zia.
"Jangan digigit, sakit."
Dia tertawa sumbang, Mikhail sepertinya mencoba menghilangkan amarah dan kekacauannya dengan mencari kesenangan dan bermain bersama calon buah hatinya.
"Suka, udah lama nggak gigit-gigitan."
Fantasi Mikhail memang seliar itu, mulut tengilnya sontak mendapat tamparan pelan dari Zia. Dia takkan membalas, Mikhail pasrah sekalipun Zia tarik bibir sepertinya.
"Sayang," panggil Mikhail menggenggam tangan sang istri, lembut dan terasa begitu dingin.
"Kenapa, Mas?"
"Apa kamu bisa mencintai Mas seutuhnya, Zia?"
"Kenapa pertanyaan kamu begitu? Udah begini masa nggak cinta seutuhnya," tutur Zia tetap lembut meskipun rasanya ingin sekali mencolok mata Mikhail yang bertanya hal tak perlu seperti ini.
Pertanyaan macam apa itu, sungguh di bingung sebenarnya kini. Harus dengan cara apa Zia mengatakannya jika seutuhnya dia menerima Mikhail dengan semua kekurangan dan kesempurnaannya.
"Tidak ada karena, aku mencintai Mas tanpa sebab, tanpa alasan dan juga tanpa tapi."
Mikhail terdiam mendengarnya, tanpa tapi? Artinya semua kekurangan Mikhail tidak menjadi sebab kadarnya berkurang. Mata Zia teramat tulus, alangkah bejjatnya jika dia membuat Zia terluka dengan kesalahan yang telah dia perbuat.
"Semuanya kamu terima?" tanya Mikhail kembali ingin memastikan, ini terdengar sulit tapi dia memang butuh penjelasan.
"Hm, tidak semuanya ... aku menerima Mas seutuhnya, apapun kesalahan asalkan jangan mendua saja."
Fakta, meski dia pernah diposisi menduakan Zidan demi uang. Akan tetapi, demi Tuhan dia sangat berharap Mikhail takkan melakukan hal itu padanya, sakitnya diduakan itu luar biasa.
__ADS_1
Mikhail mengangguk paham, sebagaimana prinsip sang mama jika memang dia anti akan perselingkuhan, Zia pun sama. Akan tetapi, kasusnya kali ini berbeda, Mikhail tidak selingkuh tapi semua memang kacau sebelum dia menikah.
-
.
.
.
Terdiam, merenung dan Mikhail memantapkan langkah untuk bergerak sendiri. Sebagai laki-laki, bukan pengecut dan lari dari tanggung jawab seperti yang Edgard katakan.
Menjelang malam, Mikhail memutuskan pergi usai pamit baik-baik pada Zia. Masih berbohong tentu saja, pamit menemui Edgard untuk mengambil kembali guci yang ternyata Zia inginkan dari sahabatnya itu, adalah jalan pintas Mikhail membuat Zia tak curiga sama sekali.
Tanpa memberitahu pada siapapun, termasuk Bryan dan juga Edgard dia mendatangi apartemen lama Edgard yang diyakini Jenny tinggal di sana. Cukup mudah jika Mikhai mau, dia hapal passcode apartemen Edgard dan jelas saja mampu masuk tanpa mengganggu seseorang di dalamnya.
Mikhail tahu resikonya jika dia memunculkan diri di hadapan wanita itu. Jika bukan uang, jelas saja menuntut tanggung jawab. Mikhail tak ingin terlalu lama larut dalam masalah yang juga dia ragukan selama ini, masih ada Aleena sebagai ancamannya setelah ini.
"Dasar boddoh, dia benar-benar tidak menggantinya."
Passcode masih sama dan dia mulai melangkah masuk ke tempat durjana yang dahulu kerap menjadi peristirahatan Mikhail jika Kanaya marah besar.
"Aaah, faster Baby ...."
Baru masuk beberapa langkah, telinga Mikhail sudah mulai terganggu dengan suara-suara wanita yang kini tengah mendayu bersahutan dengan suara pria yang juga berada di puncak gairahnya.
"Aku akan melakukannya lebih cepat ... Jenny!!"
"Please-please!! Aaah aku hampir sampai, don't stop it, Honey. Racauannya kian menggila dan Mikhail sangat mengenal suara lawan mainnya
__ADS_1
"Kau hamil tapi masih menggigit, aku menyukainya ... permainanmu bahkan lebih baik dari Geby."
Tbc