Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 99 - Iblis Sesungguhnya.


__ADS_3

Setelah kemarin menghabiskan waktu berdua bersama Zia dengan penuh kebahagiaan, keesokan harinya suasana sudah berubah secepat itu. Mikhail memejamkan mata kala mengetahui semua kebusukan Edgard.


Apa yang pernah Mikhail berikan, entah bagaimana caranya sudah berubah menjadi atas nama Edgard. Aset dengan jumlah yang tak sedikit, jika dia pikir-pikir lagi sejak lama Edgard berusaha menguasai apa yang dia punya.


Memanfaatkan keadaan kala Mikhail mabuk hingga dia bisa mendapatkan tanda tangan Mikhail dengan mudah dalam membuat beberapa aset atas namanya adalah hal yang hingga saat ini masih tidak Mikhail sangka.


"Sudah saya katakan sej ...."


"Stop, Bryan! Jangan membuatku semakin tersudut dalam hal ini ... mana aku tau kalau dia sejahat itu."


Hendak berbuat banyak juga Mikhail bingung, sebenarnya tempat tinggal yang Edgard buat atas nama dia memang Mikhail berikan sebagai tempat tinggal sementara. Hanya saja, Mikhail mengatakan boleh ditempati, bukan berarti dia berikan cuma-cuma.


"Dia melarikan diri bersama Jenny juga?" tanya Mikhail membuang napas kasar.


"Tidak, dia meninggalkan Jenny dalam keadaan tak berdaya di apartemen ... sepertinya dia melarikan diri bukan hanya karena menghindari Anda, Pak ... tapi," tutur Bryan sedikit ragu.


"Tapi apa?"


"Dia melakukan kekerasan pada Jenny dan kemungkinan Edgard takut jika sampai polisi menangkapnya karena kejadian ini," jelas Bryan menerka jawaban paling tepat atas semua ini.


Jika memang yang Edgard hindari adalah Mikhail saja, harusnya dia juga membawa semua surat-surat penting yang sudah susah payah dia ubah dengan nama dirinya. Akan tetapi, yang terjadi justru berbeda dan anak buah Bryan hanya menemukan Jenny yang pingsan dalam keadaan mengenaskan tanpa busana.


"Lalu bagaimana dengan jalaang itu? Kalian bawa ke rumah sakit?"


"Tentu saja, tidak mungkin dikubur saat itu juga," jawab Bryan singkat, pertanyaan Mikhail terlalu aneh.


"Ck, akhir-akhir ini kenapa kau tidak sopan padaku, Bryan?"


Mikhail benar-benar dibuat heran dengan perubahan Bryan. Pasca kebenaran terkait tingkah laku Edgard terungkap, Bryan seolah-olah menunjukkan jika yang salah dalam segala hal adalah Mikhail.


"Sopan, Pak ... mungkin perasaan Anda saja."


Ini buktinya, Bryan bisa menjawab seenaknya padahal sebelum kejadian ini, menatap Mikhail saja dia takut. Hanya karena tebakannya benar, Bryan merasa menang dari segala sisi.


Beberapa hari lagi hasil tes DNA itu akan segera keluar. Walau secara logika semua tidak ada yang akan percaya jika Jenny mengandung anaknya, Mikhail tetap ingin mengantongi bukti ilmiah untuk menampar pernyataan gila yang mungkin saja merusak rumah tangganya.

__ADS_1


Dengan kejadian yang mengakibatkan Jenny begini, kemungkinan baik buruknya bisa saja terjadi. Jika keberuntungan memihak Mikhail, maka bisa dipastikan Jenny akan jujur dan mengungkap semua yang Edgard lakukan selama bersamanya. Akan tetapi, di lain sisi bisa jadi Jenny tetap kekeuh meminta pertanggung jawaban dari Mikhail nantinya.


"Kenapa Edgard bisa begitu? Biasanya dia lembut pada setiap wanita," tutur Mikhail merasa hal ini sedikit aneh, meski sahabatnya itu sudah main belakang hati nurani Mikhail memang masih menganggapnya pria yang pernah berjasa di masa lalu.


"Ck, Anda berpikir jika Jenny yang begitu bukan ulah Edgard? Semua mungkin saja, Pak ... dulu juga dia terlihat begitu baik, tapi sekarang nyatanya bagaimana? Beruntung saja bukan MN Group dan seluruh aset keluarga Megantara berubah atas namanya. Jadi, saya sarankan untuk tidak menilai Edgard sebaik itu lagi."


Mikhail dibuat bungkam atas pernyataan Bryan. Asisten pribadinya memang benar, menilai seseorang baik hanya karena dia pernah baik bukanlah hal tepat, bisa jadi itu hanya senjata untuk membangun citranya agar dipercaya sebagai malaikat penyelamat.


"Kau melibatkan polisi dalam hal ini, Bryan?"


"Tentu saja, yang dia lakukan termasuk tindak pidana ... ini bukan lagi tanggung jawab kita, Pak. Orang seperti dia memang sepatutnya mendekam di penjara."


Bryan sempat membenci Jenny, akan tetapi setelah melihat bagaimana keadaan wanita itu hatinya terhenyak dan jiwa kemanusiaannya tersentuh seketika. Lebam, luka serta tubuh Jenny yang benar-benar seakan tak ada harganya itu membuat Bryan merasa malu sebagai laki-laki.


"Baguslah, kita serahkan saja pada pihak berwajib ... aku jadi tidak sabar ingin mengunjunginya di penjara," tutur Mikhail menarik sudut bibir, pria itu tersenyum tipis sembari berputar-putar di kursi kekuasaannya.


Mikhail tidak begitu tertarik untuk mengotori tangan dan membuang tenaga untuk menghajar Edgard. Lagipula yang dia permasalahkan di sini hanyalah tentang kebohongan terkait kehamilan Jenny. Jika perkara uang atau yang lain sebenarnya dia tidak terlalu peduli.


Mau lari kemana juga Edgard takkan lama bertahan, Edgard tidak terlalu pintar dalam segala hal. Hanya saja memang liciknya dia licik luar biasa hingga Mikhail sendiri dibuat tak bisa berkata-kata.


"Najish!! Kau saja, aku alergi wanita itu."


Alergi, padahal sebelum mengenal Zia pria itu bahkan rela digigit drakula gigi tumpul itu. Sekarang, melihatnya saja dia geli, pikir Bryan.


-


.


.


.


"Cantik, untung saja tidak meninggal ... kalau tidak apartemennya pasti angker."


Hujan-hujan begini, malam hari dan bisa-bisanya Tono membicarakan hal semacam itu pada Ucok, dua anak buah Bryan yang ditugaskan menjaga Jenny selama di rumah sakit. Hal itu Bryan perintahkan demi membuat wanita itu aman, takutnya Edgard justru datang dan membuat rencana Bryan untuk membuat Jenny berkata sejujurnya akan gagal.

__ADS_1


"Ck, ini rumah sakit, Tono!! Kalau dia benar-benar meninggal bagaimana?" Ucok ketar-ketir, pasalnya Jenny memang belum sadarkan diri setelah 24 jam mereka bawa ke rumah sakit.


"Ya sudah, paling sundel bolong di rumah sakit ini nambah personil," tuturnya seenak dengkul dan sukses membuat bulu kudu Ucok meremang.


"Dasar sinting!! Kamu memang benar-benar iblis ternyata!!" sentak Ucok menepuk pundak Tono kuat-kuat.


Sudah hampir jam sembilan malam, dan rumah sakit kian sepi akibat curah hujan di luar sana. Meski tugas mereka hanya berjaga seperti ini, demi Tuhan ketakutan benar-benar membelenggu pria berkumis tipis itu kala Tono mulai membahas hal-hal mistis begini.


"Mueheheh penakut amat kamu, Cok ... wajar saja istri kamu minta cerai," ejek Tono seenaknya, menghubungkan hal yang sama sekali tidak ada jalannya.


"Diam kamu, Ton. Kamu belum pernah merasakan bagaimana rasanya punya istri." Ucok menepuk punggung Tono dan mulai berkeluh kesah sebagai seorang duda.


"Hm, sepertinya menyenangkan ... apalagi kalau istrinya seperti Non Jenny, pasti aku bahagia setiap detiknya," bisik Tono malu-malu, memang dasar mata keranjang, lihat yang mulus sedikit dia begitu.


"Kamu tau dia siapa kan, Ton? Dia murahaan kalau kata bos ... yakin terima?"


"Iya, aku tidak peduli dia siapa ... sekalipun sudah jadi sundel bolongpun tetap aku terima, cantik sekali," ucap Tono seraya menatap jauh dengan otaknya yang kini berpikir nakl.


"Jaga mulutmu, dia datang beneran gimana?"


"Aku peluk, Hahahahah!!!" sahut Tono tanpa takut sama sekali, hingga derab langkah benar-benar menghampiri dalam sepi dan sukses membuat mereka Ciut dalam sekejab.


"Kamu dengar itu apa?"


"I-iya cok, ini seperti langkah kaki tapi kenapa malam-malam begini? Dia semakin dekat," bisik Tono pelan dan tubuhnya mulai bergetar.


"Kamu sih, sudah kukatakan jangan asal bicara."


PLAK


"Aaarrrrrggghhhhh!!!! Setan!!" teriak mereka bersamaan menggema sepanjang koridor rumah sakit.


"Ampun nyi sundel!! Jangan ganggu saya, Tono yang salah!!" teriak Ucok hendak pergi namun bagian leher baju mereka seakan ditarik dan membuat mereka kian histeris.


"Ck, dasar sinting!! Kalian berdua kenapa?"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2