Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 61 - Pulang Diam-Diam


__ADS_3

Jaket setebal itu, hampir seperti pakaian di musim dingin. Mikhail menuruti kemauan istrinya tapi dengan janji hanya sebentar saja. Ke minimarket depan perumahan karena memang ini belum tengah malam.


"Bas tunggu di sini, atau mau masuk juga?" tawar Mikhail pada sang sopir yang selalu siaga dan siap mengantarnya kemanapun dan kapanpun.


"Saya tunggu aja, Bos ... tidak lama kan?"


"Hm, istriku banyak ulahnya akhir-akhir ini," bisik Mikhail pelan, Zia yang sudah jalan lebih dulu tidak mungkin mendengar ucapannya.


"Mungkin ngidam, Bos, turuti saja."


Mikhail mengangguk kemudian berlari mengejar Zia yang sudah tak sabar masuk ke sana. Entah apa tujuan Zia sebenarnya, jujur saja Mikhail tidak yakin jika yang dia kemari hanya demi sabun kewanit*aan itu saja.


"Cepat ya, jangan terlalu lama ... ketauan Mama bisa kenyang Mas makan omelan, Zia."


Sebelum menikah dia memang anak mama, setelah menikah Zia yang lebih Kanaya perhatikan. Sedikit saja salah, Mikhail harus siap menerima imbasnya. Istrinya seakan jadi harta paling berharga saat ini, mungkin karena Kanaya tidak memiliki seorang putri.


"Baru juga sampai, Mas," ujar Zia melanjutkan langkahnya, mata Zia spontan mencari benda yang dia ingini di rak paling ujung sana.


Membebaskan istrinya memilih tanpa dia batasi, meski sebenarnya sudah sedikit aneh dan Zia mulai mencari-cari barang yang rasanya tidak terlalu berguna.


"Payung? Buat apa, di rumah banyak."


"Tapi kan warna abu-abu monyet begini belun ada, biar pas buat Mas kerja kalau pakai jas abu-abu."


Sejak kapan juga Mikhail pergi pakai payung? Lagipula siapa yang peduli perpaduan warna yang dia gunakan, pikir Mikhail mulai tak habis pikir degan ulah Zia.


"Ya sudah terserah kamu, sudah ya ... kita pulang setelah ini," ungkap Mikhail bicara baik-baik, entah itu memang penyakit wanita atau memang Zia yang sengaja menunda lantaran masih betah di luar hingga sengaja lama sekali.


"Aku boleh ambik es krim nggak?"


"Satu saja, ini malam nanti perutmu sakit."


Sedikit berat namun terpaksa dia iyakan, setidaknya mereka bisa pulang dalam waktu dekat. Jujur saja Mikhail mengantuk bahkan dia menguap berkali-kali di hadapan istrinya.


"Mas mau?"

__ADS_1


"Enggak, ngilu."


Dia sudah dewasa dan tidak lagi menyukai hal-hal seperti Zia. Mikhail hanya bertanggung jawab tentang uangnya saja, saat ini memang peran Mikhail sebagai ATM berjalan milik Zia.


Di depan kasir Zia menunggu dengan sabar belanjannya dihitung. Sementara Mikhail berada di belakang Zia sembari memainkan ujung rambut Zia.


"Ada lagi, Mba?" tanya wanita cantik berseragam merah itu sopan sebagai kasir yang melayani Zia.


"Kond*omnya satu, Mba" sahut Mikhail asal dengan begitu santainya.


"Heeh!! Kamu jangan mulai ya, Mas ... enggak, Mba. Nggak usah dengerin orang gila satu ini," tutur Zia begitu paniknya dengan wajah yang kini sudah memerah, walau sebenarnya perut Zia sudah menjawab apa status mereka tetap saja Zia malu dengan kelakuan Mikhail.


"Jadi nggak, Mba?"


"Enggak, dia becanda ngapain didengerin ya Tuhan," kesal Zia kepada wanita itu lantaran tak bergerak cepat padahal dia sudah malu luar biasa.


Selesai bayar, Zia mundur dan Mikhail yang membawa semua belanjaannya. Ketampanan Mikhail memang tidak bisa dibohongi, dua wanita itu bahkan tidak fokus dan salah satunya tanpa sengaja meminta nomor ponselnya.


"Minta sama istri saya, saya lupa nomor ponsel," jawab Mikhail sebelum berlalu dan merangkul pundak Zia, sengaja dia perlihatkan jika memang wanita itu jadi pemiliknya.


Zia tak peduli meski seorang wanita secara nyata hendak mencuri perhatian Mikhail. Selama suaminya tidak merespon dia tidak terlalu masalah dan cemburu tak selamanya harus dilampiaskan jadi amarah, pikirnya.


"Kalau pelan-pelan nanti dia cair, Mas."


Ada saja jawabannya, Mikhail sepertinya takkan pernah menang jika berdebat bersama Zia. Setelah melihat istrinya begitu lahap dan sesenang itu menikmati ice cream di tangannya, Mikhail semakin yakin jika Zia memintanya keluar hanya untuk ini.


"Bas, jalannya pelan-pelan saja."


Jika sedang bersama Zia dia akan berubah, biasanya Mikhail akan selalu tergesa-gesa dan meminta Bastian melawan arah jika bisa.


"Ngebut aja, Bas ... aku suka," pinta Zia kemudian, melihat jalanan sepi dan rintik hujan yang di luar sana Zia merindukan saat-saat dia kerap menggila bersama Erika ketika kuliah.


"Hujan, Zia, kamu jangan macam-macam ... jangan ikuti perintahnya, Bas."


Untuk keinginan lainnya mungkin Mikhail akan usahakan, namun jika jatuhnya membahayakan meski Zia menangis darahpun takkan dia biarkan.

__ADS_1


-


.


.


.


Masuk persis maling, Mikhail takut sekali ketahuan jika dia mengizinkan Zia keluar malam ini. Mikhail menarik pergelangan tangan Zia dan keduanya meniti anak tangga begitu pelan dengan menimbulkan tanya di benak Zia.


"Kalian dari mana?"


"Astaga!!"


"Haaaa!!!"


Padahal sudah berusaha diam-diam, namun suara Syakil berhasil membuat keduanya terkejut bersamaan. Mikhail berdecak kesal dan ingin rasanya dia memukul wajah Syakil yang hendak turun dengan wajah ngantuknya.


"Bikin kaget aja, kalau jantungku copot gimana?" sentak Zia dengan mata tajamnya, untuk pertama kali Mikhail dibuat terkejut dengan bentakan Zia pada adiknya.


"Sorry ... nggak sengaja, kalian pasti diem-diem kan? Ketahuan Mama habis kalian, Kak."


"Makanya jangan cepu! Awas aja main ngadu ke Mama," tutur Zia kemudian, dia benar-benar kaget bahkan rasanya es krim di lambungnya mendadak ingin keluar saat ini juga.


"Hahah istriku galak kan? Jangan macam-macam, Syakil, kamu belum kenal siapa Zia sebenarnya," tutur Mikhail kemudian melewati Syakil, mengikuti langkah istrinya yang sudah lebih dulu pergi.


"Dasar menyebalkan, jauh sebelum kamu mengenalnya, aku sudah paham sifatnya, Khail."


Syakil bermonolog, menatap punggung kakaknya yang kini kian menjauh. Meski kemudian dia menarik sudut bibir lantaran kembali mendengar bagaimana cerewetnya Zia, sudah lama dia tidak pernah begitu.


Menjadi saksi perkembangan hidup Zia, dia merasa jauh lebih baik daripada Zidan yang hingga saat ini masih kerap bertanya dimana Zia berada. Dia tidak pernah menyesal pernah mengenal Zia sebagai sosok sahabat, dia juga bersyukur dengan hadirnya Zia sebagai istri untuk Mikhail. Tidak bisa dipungkiri, Mikhail kian baik setelah menikah dan Syakil menyadari hal itu.


"MIKHAIL GELAP!!! JANGAN DIMATIKAN!!"


Teriakan Zia terdengar samar namun itu masih jelas, Syakil yang hendak meneruskan langkahnya kini urung lantaran dibuat penasaran dengan teriakan Zia. Ya, meski sebenarnya teriakan seperti itu kerap dia dengar lantaran Zia terkejut dan Mikhail yang memang jahil luar biasa.

__ADS_1


"Terserah kalian, aku harap segera pindah bulan depan ... teriakan Zia membuatku jantungan," omel Syakil menggeleng pelan, sudah tertebak pasti Zia berteriak sebegitu histerisnya lantaran Mikhail mematikan lampu sementara Zia tidak suka gelap, pikirnya.


Tbc


__ADS_2