Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 111 - Mikhayla Qianzy


__ADS_3

Setelah 24 jam pasca operasi, Zia mulai memperlihatkan kesakitannya. Nyeri itu mulai terasa, sebisa mungkin tidak membuat Mikhail khawatir, wajahnya berusaha tenang namun Mikhail tak sebodoh itu dibohongi.


"Sakit?"


"Nyeri sedikit," jawab Zia pelan, meski sejak tadi Mikhail terfokus pada putrinya sama sekali Zia tak lepas dari perhatiannya.


"Kalau sulit jangan dipaksa, Mas pompa saja ya?"


Cepat-cepat Zia menggeleng, dia masih mampu dan lebih baik menyusui putrinya sendiri. Hingga saat ini Zia masih sedikit geli, padahal memang itu suaminya sendiri.


"Kenapa? Malu?"


Semudah itu Mikhail menebak raut wajah istrinya. Bagi Mikhail memahami Zia sangatlah mudah, hanya dari lekuk bibirnya saja paham isi hati wanita itu.


"Sama suami malu, aneh."


Aneh menurut dia tapi tidak bagi Zia, jika bukan untuk urusan yang iya-iya wanita itu merasa malu, tatapan Mikhail terkadang membuatnya geli.


"Nggak apa-apa begini, lagian kasihan kalau harus diganggu, Mas ... dia lagi nyenyak-nyenyaknya."


"Yakin? Nggak capek kamu begitu?" tanya Mikhail berkali-kali demi memastikan istrinya memang tidak kesulitan.


"Enggak kok, sama sekali nggak capek."


Zia mulai menikmati perannya menjadi ibu, pengikatan batin antara dia dan putrinya terasa begitu menyenangkan bagi Zia. Meski memang sangat butuh usaha untuk dia bisa menggendong malaikat kecilnya itu, akan tetapi sedikitpun tidak ada keluhan yang Zia lontarkan dari bibirnya.


Mikhayla Qianzy


Sebuah doa yang Mikhail sematkan untuk putrinya. Seperti penuturannya dahulu bahwa yang jago menciptakan nama adalah Ibra. Setelah berkali-kali mengusik sang papa dan meminta saran terkait nama putrinya, akhirnya tercipta juga nama sederhana namun bagi Zia ini benar-benar sangat indah.


Mikhayla, dari segi manapun artinya amat sangat baik. Berharap putrinya akan benar-benar berhati malaikat semasa hidupnya. Begitupun dengan Qianzy, Mikhail benar-benar memikirkan nama untuk putrinya dalam waktu yang cukup lama.


"Qianzy artinya apa?"


"Keberuntungan ... dengan hadirnya dia di dunia ini sudah jadi sebuah keberuntungan untuk kita berdua, Zia."


Zia tersenyum, apa yang suaminya ungkapkan memang begitu manis. Dia bahkan tidak terpikirkan untuk mencari nama-nama seperti itu, dia percaya doa yang Mikhail sematkan di sana akan benar-benar menjadi nyata.


"Terima kasih, Papa, namaku bagus sekali."


Mikhail menarik sudut bibir, lucu sekali wanita ini, pikirnya. Benar kata Kanaya, bayi punya bayi memang begitu menggemaskan, Zia masih sangat muda untuk memiliki seorang anak.


"Papa ...."


Mimpi apa dia disebut papa, seorang pria yang dulunya hanya menganggap wanita hanya mainan kini dia dikaruani anak perempuan yang nantinya akan menjelma menjadi wanita dewasa seperti sang mama.

__ADS_1


Jujur saja Mikhail memiliki ketakutan tersendiri, bukan dia tidak ingin punya anak perempuan. Akan tetapi, bayang-bayang kesalahannya di masa lalu membuat Mikhail setakut itu jika suatu saat nanti putrinya akan dipertemukan dengan pria seperti dia.


"Iya papa, kamu kenapa merenung begitu, Mas?"


"Hah? Nggak, Mas terlalu bahagia, Zia."


Terlalu bahagia, mungkin saja benar suaminya memang terlalu bahagia. Dapat Zia lihat dari gurat wajahnya Mikhail memang sebahagia itu, sejak tadi dia tak melepaskan Mikhayla selain untuk disusui.


Dia pelit, enggan berbagi dan tidak mau terbagi. Hati Mikhail terasa hangat lantaran bidadarinya kini sudah ada dua. Posesifnya juga akan bertambah, sewaktu masih dalam kandungan saja pihak keluarga yang ingin mengelus perut istrinya tidak dia izinkan, apalagi orang lain.


Tanpa dia sadari bahwa dengan hadirnya Mikhayla, itu artinya Mikhail harus rela menjadi yang kedua. Karena setelah ini bisa dipastikan istrinya akan lebih fokus pada putrinya.


Cukup lama keduanya hanya memandangi malaikat kecilnya, semua memang tampak baik-baik saja. Hingga, Zia mendongak kala mendengar perut Mikhail berbunyi, pandangan keduanya terkunci dan ekspresi datar Mikhail terlihat lucu bagi Zia.


"Mas belum makan?" tanya Zia seraya menghela napas pelan, dia juga lupa tentang hal ini.


"Belum," jawab Mikhail tersenyum simpul, sudah menjadi kebiasaan sebenarnya jika terjadi sesuatu dia malah memberikan senyum sebagai pelengkap jawabannya.


"Dari kemarin?"


Jika Zia ingat-ingat Mikhail memang hanya terfokus pada dirinya, apa-apa yang Zia butuhkan Mikhail selalu lebih dulu memberikan tanpa menunggu istrinya meminta bantuan. Sungguh, Zia benar-benar lupa akan hal sepenting ini.


"Makan dulu sana, mumpung Syakil belum lama ... susulin gih," titah Zia lembut, memberikan perintah pada Mikhail haruslah selembut mungkin karena pria ini tidak menyukai kekasaran.


"Tapi Mas nggak lap_"


"Nggak gimana?"


Shitt, Mikhail kesal sekali kenapa perutnya tidak bisa diajak kompromi. Bukan tidak lapar, melainkan dia belum mau meninggalkan ZIa siang ini. Mikhail paham jika dirinya keluar maka bisa dipastikan pasukan Zidny dan Laura akan berkuasa bahkan mungkin tidak akan memberikan kesempaatan untuknya tenang.


"Nanti aja, tadi Mas makan roti dikit. Sekalian makan siang."


"Nggak boleh, kalau belum nasi artinya belum makan."


Baiklah, sepertinya memang Mikhail tidak bisa menghindari kehendak istrinya kali ini. Meski dia sudah meyakinkan kalau dirinya belum lapar namun fakta yang ada berkata lain hingga Mikhail takkan semudah itu untuk menghindar.


-


.


.


.


Kaku sekali, sudah berapa lama dia tidak makan berdua bersama Syakil seperti ini. Mungkin bisa di rumah sakit, akan tetapi sejak dahulu di antara mereka tidak ada yang terbiasa.

__ADS_1


Memilih restoran dekat rumah sakit, Mikhail masih menunggu pesanannya datang sementara Syakil terus menikmati dengan tenang tanpa sedikitpun keinginan untuk menunggu sang kakak.


"Aku kira kuat sampai empat hari ke depan," tutur Syakil tanpa menatap Mikhail meski sekejap saja, kalimat sarkas yang sengaja dia utarakan karena memang sejak Mikhayla lahir pria itu seakan lupa jika dia juga butuh nutrisi.


"Zidan bagaimana?"


Ditanya apa nyambungnya kemana, sudah biasa Syakil menemukan kakaknya begini. Hal ini biasanya dia lakukan karena malas menjawab pertanyaan Syakil, bagi Mikhail terkadang diam tidak menjadi jawaban terbaik.


"Semakin membaik, dia mungkin akan menemuimu ketika sudah sudah benar-benar sembuh."


Mikhail mengangguk mengerti, dia mungkin tidak bisa memastikan keadaan Zidan setiap minggunya. Akan tetapi perihal biaya dia tidak pernah lupa dan untuk masalah ini Syakil yang bertugas membantunya.


"Oh iya ... aku dengar-dengar Edgard dipenjara, kenapa belum Kakak kunjungi?"


"Malas." Terserah, Mikhail tak lagi peduli nasib pria itu. Bagi Mikhail 15 tahun penjara rasanya kurang untuk membuat Edgard jera.


"Woah, kenapa? Kan sahabat, dulu pernah bilang bahwa dia lebih baik dari saudara. Berubah pikiran?"


"Berhenti bahas masalah ini, Syakil. Urusan orang dewasa," pungkas Mikhail sedikit kesal karena memang Syakil sekalinya bertanya kerap mengusik jiwanya.


"Aku cuma tanya, salahnya dimana?"


"Itu salahnya, pertanyaanmu yang jadi masalahnya."


Beruntung saja makanannya sudah tiba, jika tidak mungkin mereka akan kembali beradu mulut dan bisa berakhir baku hantam. Mikhail yang lapar kemungkinan besar membuat dia sensitif jika Syakil membahas tentang Edgard.


"Oh iya, ganti pertanyaan kalau begitu."


"Apa lagi?" Sensi sekali, nadanya terdengar meninggi dan ini cukup membuat Syakil terkejut.


"Apa yang sebenarnya Kakak lakukan terhadap Erika? Kenapa dia setakut itu setiap aku membahas tentangmu?"


"E-rika?" Mikhail mengerutkan dahi, berusaha mengingat apa memang dia punya kesalahan terhadap wanita yang bernama Erika itu.


"Iya ... bahkan dia mengaku trauma, Kakak apakan dia?"


"Bocah itu ngadu?"


Padahal sudah Mikhail tegaskan jangan coba-coba buka mulut jika tidak ingin sengsara di masa depan. Sungguh picik sekali pikiran Erika yang memilih berlindung di pundak Syakil yang jelas-jelas Mikhail tak bisa berbuat seenaknya lagi.


"Berarti benar, kasihan sekali Mikhayla punya Papa berdarah psikopat sepertimu ... dia bilang sampai nggak keluar kamar selama seminggu karena takut bertemu manusia." Syakil berdecak heran, setelah mendengar potongan cerita dari Erika dia hanya bisa meminta maaf atas kelakuan kakaknya.


"Salah dia kenapa bohong, cuma disekap dua jam sudah trauma ... berlebihan sekali temanmu itu." Mana mau dia dinilai salah, sekalipun tindakannya termasuk kriminal bagi Mikhail apa yang dia putuskan semuanya benar.


Tbc

__ADS_1


Rekomendasi novel siang ini by Mom Al



__ADS_2