Gairah Cinta Sang Presdir

Gairah Cinta Sang Presdir
BAB 77 - Paniknya Kanaya.


__ADS_3

Mikhail mungkin tenang dan santai-santai saja di rumah barunya, tanpa dia ketahui saat ini Kanaya tengah ketar-ketir lantaran Aleena benar-benar mengkhawatirkan.


Kekerasan yang Mikhail lakukan bisa saja membuat wanita itu trauma. Sebagai orangtua Adiba dan Abygail tidak bisa menerima perbuataan Mikhail hanya dengan kata maaf dari Kanaya.


Meski Ibra sudah mengatakan untuk tenang, tetap saja kanaya dibuat uring-uringan. Ibra yang begini terkadang tidak bisa Kanaya terima, dia seakan membenarkan tindakan Mikhail bahkan pria itu sempat adu mulut bersama Abygail dan saling menyudutkan satu sama lain.


"Sudah, Nay ... Abygail tidak akan berani macam-macam," ucap Ibra mulai risih dengan Kanaya yang sejak tadi panik dan mencoba menghubungi Mikhail.


"Mas Aby mungkin tidak akan macam-macam, lalu bagaimana dengan Mba Adiba? Kamu denger kan apa kata dia tadi ... semudah itu Mikhail masuk penjara kalau dia mau, Mas."


Jujur saja Kanaya paling takut dengan hal-hal semacam ini. Setelah dulu Lorenza sempat mengalami hal serupa, tanpa Kanaya duga Mikhail justru mengikuti jejak sahabatnya itu.


Memang benar, jika Ibra lihat pertama kali Adiba marah adalah tadi pagi di rumah sakit. Biasanya dia masih sesopan itu walau Ibra dan Abygail kerap berbeda pendapat, akan tetapi setelah kejadian malam itu Adiba bahkan berani membentaknya.


"Mikhail kemana lagi, di telpon nggak aktif ... abis cekek anak orang main ngilang aja, bukannya minta maaf atau inisiatif jengukin kek," omel Kanaya kian kesal saja lantaran sudah ketiga kalinya dia mencoba menghubungi Mikhail.


Sepanjang perjalanan pulang, Kanaya menatap cemas sekeliling dengan sejuta kekhawatiran. Bukan hanya khawatir Mikhail masuk penjara, akan tetapi Aleena yang terbaring juga membuatnya sedih.


Tak bisa dipungkiri dia menyayangi Aleena sama seperti menyayangi kedua putranya. Kanaya memang seadil itu perihal kasih sayang, sejak kecil mereka begitu dekat dan kini Mikhail hampir membuatnya kehilangan nyawa.


Memasuki pintu gerbang, Kanaya sudah merasa aneh pasalnya di sana hanya ada satu security saja. Entah yang lain lalai atau bagaimana, Kanaya juga tidak mengerti sebenarnya.


"Loh-loh? Ini mobil kenapa berkurang juga?"


Kaget, bingung dan panik berpadu kala tiga mobil sudah menghilang dari garasi rumahnya. Jika memang Mikhail pergi bersama Zia, harusnya hanya satu saja.


"Mungkin diluar, Nay ... atau kemana juga Mas kurang tau," tutur Ibra kemudian dan itu tidak masuk akal bagi Kanaya.


Tanpa menjawab pertanyaan Ibra, Kanaya segera masuk dengan langkah panjangnya. Dadanya berdegub tak karuan namun jika ini maling tidak mungkin security di depan santai saja, pikirnya.


"Siska! Lorenza!!"


Dengan suara lantang dia mulai memanggil Lorenza dan Siska yang mungkin masih berada di rumahnya, Kanaya benar-benar panik seakan kehilangan tapi dia bingung apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


"Kemana mereka, Rani!! Mbok Ningsih!!" panggil Kanaya sembari terus meniti langkahnya semakin cepat.


Hingga melewati ruang tamu, dia dibuat terkejut dan bingung setengah mati lantaran ada kejanggalan di sini.


"Loh? Foto pernikahan Mikhail dimana?" Kanaya bertanya-tanya dalam kesendirian lantaran Siska dan Lorenza belum menghampirinya, hanya suara Siska saja yang baru terdengar.


"Foto-foto dia wisuda juga hilang? Astaga ... Mas!! Sini cepetan!!" teriak Kanaya kian panik, jika memang maling untuk apa mereka mencuri benda mati yang tidak bisa diperjualbelikan, pikir Kanaya.


"Kenapa, Nay?"


Derap langkah tergesa Ibra kini terdengar, pria itu bingung dengan teriakan-teriakan sang istri yang begitu melengking hingga membuat gendang telinganya berdenging.


"Lihat, apa mungkin maling?"


Kanaya bingung, Ibra juga bingung, dan semua baru menemukan jawaban kala Siska muncul dari lantai dua.


"Kenapa, Nay? Aku ketiduran, lama banget nunggu kalian berdua, yang lain keluar jalan-jalan sore," ucap Siska kini duduk di sofa mengingat matanya masih lelah.


"Oh itu, dibawa sama Mikhail ... katanya dia suka sama yang ini, kalau mau cetak ulang nggak punya waktu," jawab Siska santai, toh memang demikian faktanya.


"Bawa kemana? Dia pergi kemana memangnya?"


Kanaya mengerutkan dahi, hal ini seperti tidak masuk akal baginya. Lagipula pergi kemana yang bawa foto segala.


"Lah kan dia pamit sama kamu, mereka pindah rumah, Nay ... tadi pagi sekitar jam 09 mereka berangkat," jelas Siska dengan mata beratnya, dia baru saja hendak terlelap dan berpikir Kanaya akan pulang besok paginya lagi.


"Pindah? Pindah apa?"


Tidak ada pembicaraan yang membahas hal ini sebelumnya bersama Mikhail, wajar saja Kanaya bingung dan dibuat heran sebenarnya. Jawaban dari Siska membuat otaknya semakin pusing saja.


"Pindah rumah, Kanaya ... kamu kenapa sih? Orang dia bilang udah pamit kok," tutur Siska kemudian, yang kelihatan bingung bukan hanya Kanaya melainkan Ibra juga demikian.


"HAH??!!"

__ADS_1


Demi apapun Kanaya kaget luar biasa, bisa-bisanya dia kehilangan info sepenting Ini. Perihal Mikhail yang akan pindah dia memang sudah mengetahuinya sejak beberapa hari lalu, tapi tidak juga mengira akan secepat ini.


"Kenapa muka kamu begitu?"


"Ya Tuhan, Mikhail benar-benar gila ... Rani!!!" Kanaya kembali memanggil salah satu pelayannya, akan tetapi yang dia dapati hanya pantulan suaranya saja.


"Jangan teriak-teriak, pembantu kamu semuanya ikut juga, Nay."


"Semua?"


"Iya, semuanya ... karena Mikhail butuh mereka katanya."


Habis sudah, rasanya ingin sekali mengeluarkan sumpah serapah pada Mikhail. Jika dia belum menikah, terserah mau pergi tanpa pamit asalkan pulang. Akan tetapi, kini dia sudah membawa istri jelas saja Kanaya marah.


"Dasar kurang ajar, dibilangin cuma boleh bawa salah satu ... malah bawa semuanya." Kekesalan Kanaya sudah tak main-main lagi, wanita itu kini mencoba menghubungi Zia namun siallnya tidak bisa dihubungi.


"Kok bisa ya, Mas?"


"Ehm kalau soal itu jangan khawatir, Mikhail bilang memang susah signal ... jadi wajar Zia nggak bisa dihubungi, Nay." Sesuai info yang Lorenza dapatkan, memang sulit dihubungi.


Sementara, di sudut kota yang lain, Zia tengah meraung lantaran Mikhail tak sengaja membuat ponselnya ikut berenang. Mikhail yang bodoh dan salah mengira jika istrinya ingin menghabiskan waktu bersamanya di air sore ini.


"Maaf, Sayang ... Mas nggak tau," tutur Mikhail menghapus air mata Zia yang kini tersedu di pinggir kolam seraya mengusap ponselnya yang baru saja Mikhail selamatkan dari dasar kolam.


"Kamu sih, kalau sudah begini gimana coba," rengek Zia mengusap air mata yang masih saja terus bercucuran, dia benar-benar menyayangi ponsel itu lahir dan batinnya.


"Beli lagi, Zia. Lagian sudah jelek begini, hp kamu jadul nanti Mas ganti ya," rayu Mikhail menarik istrinya dalam pelukan.


Pintar sekali dia, setelah sempat membuat Zia hampir tenggelam dan gelagapan demi kesenangannya. Kini, ucapan maaf Mikhail semudah itu Zia terima.


"Sekalian, menghilangkan kenangan kamu, Zia." tutur Batin Mikhail bicara, sekalipun memang semua kenangan sudah Zia hapus, tetap saja Mikhail sama sekali tak suka.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2