
Kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya baru akan dimulai. Sebagaimana impian Zia, mandiri dan terfokus menjadi istri yang terbaik untuk suami. Tidak begitu banyak harapan Zia saat ini, yang terpenting menjalin maghligai impian bersama Mikhail.
Semua tugas-tugasnya masih sama, menyiapkan keperluan sang suami meski terkadang perutnya calon bayinya sedikit berulah. Zia bahkan harus duduk diam demi menunggu malaikat kecilnya sedikit tenang, mungkin cita-cita Mikhail akan terwujud dan putranya akan benar-benar menjadi pemain sepak bola.
"Zia, kenapa duduknya begitu?"
Mikhail menghampiri sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Pria itu sedikit heran lantaran Zia yang tiba-tiba terdiam, dan berlutut di depan lemari.
"Ehm? Biasa," jawab Zia yang kemudian dapat Mikhail mengerti tanpa perlu dia jelaskan kembali.
Mungkin memang benar, yang bisa menjadi obat hanyalah pelakunya sendiri. Mikhail mengelus pelan perut Zia, berharap malaikat kecilnya akan sedikit tenang.
"Kira-kira anak kita lagi apa, Zia?"
"Berenang mungkin, Mas," jawab Zia kemudian, senyumnya terbit bersamaan dengan kekehan Mikhail usai mendengar jawaban asal Zia.
Niat hati hanya menenangkan sesaat, namun yang terjadi justru berbeda. Mikhail akan selalu betah berlama-lama dihadapan perutnya, membangun interaksi antara dia dan calon buah hatinya.
Entah apa yang kini Mikhail bicarakan, mungkin jika perlu sampai politik dia bahas. Meski Zia sudah mengingatkan berkali-kali agar Mikhail segera mengenakan bajunya, tetap saja pria itu menunda-nunda hingga pada akhirnya rambut Mikhail kering sendiri.
"Mas, aku pegel kamu begini terus."
Masih menggunakan handuk dan dia sama sekali belum memiliki rencana untuk mengenakan pakaiannya. Mikhail duduk bersila di sisi Zia agar merasa lebih dekat dengan calon buah hatinya, sementara saat ini Zia tidak bisa betah berlama-lama dengan posisi begitu.
Harus diprotes dulu baru Mikhail mau mengalah, Zia tersenyum tipis kala raut wajah Mikhail berubah seakan tak ikhlas dengan permintaan Zia.
"Aku sudah siapkan sarapan, Mas pasti suka."
"Kamu yang masak? Tanpa bantuan Rani?" Mikhail ragu, biasanya akan ada campur tangan orang lain jika di rumahnya.
"Iya, Mba Rani cuma bantuin," jawab Zia kemudian berlalu, kembali mengambilkan perlengkapan Mikhail yang belum sempat dia siapkan.
"Apa iya? Sepertinya kebalik," ungkap Mikhail membuat Zia kesal luar biasa, bisa-bisanya tebakan Mikhail benar.
"Ya sama sajalah."
Zia mengambil acak dasi Mikhail senada dengan kemejanya. Tidak ada yang berubah meski dia pindah kemarin, pekerjaan harus tetap dia utamakan. Lagipula jarak ke kantor tak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, meski memang dia harus lebih cepat sepuluh menit dari biasanya.
__ADS_1
"Kamu nggak masalah Mas kerja hari ini?"
"Nggak, kan aku nggak sendirian, Mas."
Mikhail mengangguk pelan, sepertinya Zia memang terlahir mandiri dan tidak begitu merepotkan. Sekalipun kerap merasa kesulitan dia tidak pernah meminta Mikhail harus ada di sisinya.
"Oh ya kalau ada tamu jangan diterima," ucap Mikhail membuat Zia mengerutkan dahinya, ini jelas saja terdengar aneh baginya. Bagaimana mungkin dia bisa menolak jika sewaktu-waktu ada tamu yang datang, Mikhail memang kurang waras sepertinya.
"Kenapa begitu?"
"Ya jangan saja, sekarang banyak orang jahat, Zia."
Semua, tanpa terkecuali. Mikhail sebenarnya menolak kedatangan Zidny dan Laura juga. Jika mereka datang kepala Mikhail mungkin rasanya sakit sendiri.
Tak ingin memperpanjang masalah, Zia memilih patuh dan dia mengangguk mengerti. Toh yang Mikhail ucapkan memang benar, lingkungan ini masih begitu asing baginya. Belum lagi, memang cukup sepi dan jarak antara rumah yang satu dengan lainnya memang cukup jauh.
Sebenarnya tidak salah apa yang Mikhail ungkapkan pada Zidny dan Laura kemarin. Hanya saja memang tidak separah itu. Jangankan hiruk pikuk babii, di sini bahkan Zia tidak mendengar teriakan tetangga ataupun lalu lalang kendaraan yang menganggu.
-
.
.
.
Axel, Jackson begitupun Babas ada di meja makan. Sedikit terkejut pasalnya ini bukan kebiasaan mereka. Tegasnya Ibra membuat Axel dan Jackson cukup berbatas dan tidak berani berbuat macam-macam. Kini, Mikhail justru tidak suka kala mereka menolak.
"Udah ... jangan pulang malem ya, Mas," tutur Zia seraya merapikan dasinya, mereka terlalu manis untuk menjadi pemandangan di pagi hari.
"Iya, Mas usahakan."
Pertama kali merasakan jadi istri yang mengantar kepergian suaminya ke kantor tanpa harus malu-malu jika Mikhail mengecup keningnya. Tidak ada Syakil yang kerap tiba-tiba muncul ataupun deheman Kanaya lagi, ya mereka merasakan makna rumah tangga secara utuh mulai hari ini.
"Mas pergi, hati-hati di rumah ya ... jangan terlalu lelah." Pesan Mikhail sebelum pergi Zia balas dengan anggukan pelan, meski memang dia sendiri menghindari hal-hal yang membuatnya lelah tetap saja saat ini Mikhail tak hentinya mengingatkan.
Mikhail melangkah seraya melambaikan tangan sebagai tanda perpisahannya. Akan tetapi, baru juga beberapa langkah, sebuah mobil berwarna putih yang sangat familiar di matanya masuk setelah Axel menunduk dan membukakan pagar.
__ADS_1
"Mama!!" teriak Zia bahagia luar biasa, dia bahkan melambaikan kedua tangannya kala meyakini yang datang adalah Kanaya.
Panik, dia gelagapan dan bingung harus bagaimana. Langkah Mikhail terhenti dan dia menelan salivanya pahit kala melihat kaki jenjang sang Mama mulai terlihat.
"Shitt!! Kenapa mereka datang jam segini?"
Mikhail menggigit bibir bawahnya, sang mama sudah berjalan menghampiri dan bisa dipastikan telinganya akan terasa sakit akibat omelan Kanaya. Dengan bersedekap dada, Kanaya menatap tajam Mikhail kemudian menarik telinganya hingga pria itu meraung kesakitan.
"Aaaarrghhh!! Aduh-aduh, Mama!! Datang-datang jewer, nggak sopan."
Mikhail meringis dan kini tertunduk tak berdaya lantaran Kanaya tak segan-segan menyakitinya. Zia yang berada tak jauh dari mereka jelas saja bingung dan tidak mengerti apa yang membuat Kanaya semarah itu pada suaminya.
"Bagus!! Ternyata kabur-kaburan sudah jadi tradisi kamu ya, Khail!!" Kanaya gemas sekali bahkan ingin rasanya dia tarik telinga Mikhail hingga putus jika bisa.
"Aawww, MaMa! Stop!! Papa, tolong tenangin ini istrinya," pinta Mikhail dengan wajah yang sudah memerah, sementara Kanaya justru semakin menambah kekuatannya.
"Kamu sembarangan bawa menantu Mama pergi tanpa pamit, sopan kamu begitu? Hm?"
Tidak puas menarik satu telinga, Kanaya menarik dua-duanya dan jelas saja sakitnya berlipat ganda dan amat luar biasa. Mikhail terpejam, kesaktian sang mama masih sama meski usianya tak lagi muda.
Sementara Ibra hanya diam dan menatap dua orang dengan wajah datarnya. Terserah, kali ini memang Mikhail yang salah dan dia juga ingin sekali menghajar putranya itu.
"Masuk!! Mama perlu bicara."
"Tapi, Ma ... aku mau ke kantor, sudah hampir telat," ujar Mikhail cari alasan dan sama sekali takkan membuat Kanaya tersentuh.
"Halah!! Cari alasan, nggak ada!! Biar Bryan yang urus, kamu selesaikan dulu urusan sama Mama." Matilah Mikhail, mana mungkin dia bisa lari saat ini. Kasihan sekali, namun Zia tak bisa berbuat apa-apa kala Mikhail ditarik Kanaya persis kambing kurban.
"Ma, sakit sumpah!!"
"Bodo amat!! Kamu lebih buat Mama sakit hati, Mikhail!!"
Tbc
Tetep dukung Mikhail, Bestie ... bantu dia bertahan dalam keterpurukan eaeaea apaan dah.
Berhubung ini sepertinya belum bakal end padahal udah sebulan, pengumuman give away aku tetapkan tanggal 15 Agustus ya. Masih ada waktu, dan doain rezeki Mikhail berlimpah biar bisa kasih jatah tanpa perlu dikasih vote-hadiah dulu❣️
__ADS_1
Malem ini othor bawa rekomen novel buat dibaca sementara Khail Up.