
"Kau yakin? Jangan main-main ya, Bas!! Ini tidak lucu sama sekali."
Jackson sudah memastikan tidak ada siapapun sebagaimana kecurigaan Bastian. Pria itu berdiri di belakang Jackson dengan langkah ragu, dia tidak mungkin salah lihat, lagipula jika memang tidak ada apa-apa kenapa ketiga anjiing peliharaan Mikhail menggonggong begitu luar biasa.
"Yang main-main siapa? Memang benar aku lihat dari dalem dia pakai serba hitam, postur tubuhnya hampir mirip bos muda ... ck, mana mungkin mataku salah."
Dia sangat yakin tebakannya benar, akan tetapi Bastian bahkan tidak memiliki keberanian untuk mencarinya. Banyaknya berita kriminal akhir-akhir ini adalah alasan dia jadi begini, Jackson lama-lama risih lantaran Bastian terus memegang pundakny dari belakang.
"Ck, lepaskan aku!! Kau membuatku semakin sulit bergerak, Bastian." Jackson menggoyangkan pundaknya agar pria itu menjauh dan tak menempel persis prangko seperti ini.
"Kita berpencar saja, Bang Jack ke arah timur ... aku ke selatan dan Bastian ke arah barat."
Memang dasar kampret, Bastian mendelik pada Rohman yang tiba-tiba mengatur rencana ini. Sebagai pria paling lemah di antara mereka, Bastian sudah pasti ciut duluan. Dibawah rintik hujan yang perlahan semakin reda namun udara luar biasa dinginnya tidak membuat Rohman dan Jackson berpikir untuk menghentikan pengejaran.
"A-aku ikut Bang Jack saja, Man ... lagipula tidak mungkin dia lari ke arah barat, karena itu adalah jurang." Jurang yang tak seberapa itu dia jadikan alasan.
"Dasar boddoh, kemungkinan besar dia lari ke arah barat itu lebih besar, Bastian."
Jackson berbisik sembari menjitak kening Bastian agar pria itu sadar segera. Entah kenapa otaknya sedikit kurang berfungsi, pikir Jackson semakin heran.
"Tidak mungkin, lagian kalau dia lari ke jurang itu sama saja bunuh diri ... meski memang bukan jurang yang dalam, tapi ini licin dan bisa jadi dia jatuh terpeleset hingga akhirnya cidera."
Dia terlalu banyak penjelasan, hingga tidak menyadari jika Jackson sudah benar-benar bergerak ke arah timur sebagaimana kesepakatan mereka."
"Loh? Bang?!! Tungguin!!"
Dia panik seraya bingung hendak berlajan kemana, apalagi kala dia hendak berusaha menahan kepergian Jackson, Rohman sudah pergi juga meninggalkan dirinya.
"Memang ****** ni botak dua!!"
Ketar-ketir sendiri padahal beberapa saat yang lalu dia lah yang paling mendesak Jackson dan Rohman untuk bangun lantaran tertidur pada saat berjaga. Ternyata benar, Ibra memilih seseorang bersadarkan kemampuan dan sesuai dengan posisinya masing-masing.
Tak punya pilihan lain, dengan keberaniannya yang seujung kuku itu Bastian tetap mencari ke arah barat. Memang paling dekat, akan tetapi bisa dipastikan di sana sangatlah gelap. Jika bukan takut diamuk Mikhail besok paginya, sudah pasti Bastian lebih memilih tidur malam ini.
Di sisi lain, seorang pria yang kini tengah susah payah menahan sakitnya merasa lega kala yang berlari ke arahnya bukan Jackson. Ya, Edgard memang mencoba mendatangi kediaman Mikhail karena mulai menyadari Bryan sudah bertindak sejauh ini hingga membuatnya tidak mampu berkutik.
"Ays siallan!! Bangshaat ... Bastian anjiing!!"
__ADS_1
Caci maki keluar dari mulutnya, tanpa henti sembari masih berusaha menghindari kejaran orang-orang Mikhail. Dia yang mengubah keadaan hingga sesulit ini, orang-orang yang dia kenal baik kini justru menjadi ancaman.
-
.
.
.
Niatnya malam ini ingin bertemu Mikhail secara pribadi, mendatanginya dan berbicara empat mata sebelum Mikhail benar-benar murka. Cukup lama mengenal Mikhail, dia sangat paham kemungkinan Mikhail luluh dan menerima maafnya sangat besar jika dia menggunakan cara ini.
Akan tetapi, orang-orang Mikhail yang membuat Edgard takut untuk mendekat. Apalagi kala dia mengetahui bahwa Jenny dibawa pergi Bryan malem itu, jelas saja Bryan takkan tinggal diam dan bisa dipastikan orang-orang Mikhail yang lain telah mengetahui perbuatan buruknya, pikir Edgard.
"Semua ini karena jallang murahan itu!! Andai kau patuh dengan perintahku, maka hal semacam ini tidak akan terjadi!!" Rencana Edgard tidak begini awalnya, dia meninggalkan Jenny untuk menyiapkan segala sesuatu demi bisa membuat wanita itu benar-benar lenyap.
Akan tetapi, ancaman Jenny bahwa dia akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Mikhail membuat Edgard gelap mata. Jika sampai hal itu terjadi, maka rencananya akan gagal total, sementara tujuan utama Edgard untuk menguasai seluruh kekayaan Mikhail belum berhasil setengahnya.
Dengan langkahnya yang tersoek-soek, Edgard tetap mencoba untuk pergi dari sana. Telapak kakinya yang kini berdarah benar-benar menyiksa hingga bernapas saja rasanya dia tidak bisa. Dalam kegelapan dia meraba, tujuannya saat ini hanya segera ke mobil dan pergi sebelum salah satu di antara mereka menemukan dirinya.
"Ayolah!! Kenapa hanya luka sekecil itu kau jadi lemah, Edgard!!" desis Edgard kemudian melepas sepatunya, entah benda apa yang menusuk kakinya hingga sesakit ini.
"Man!! Bagaimana?"
"Tidak ada apa-apa, mungkin benar kata Bang Jack kalau kamu salah lihat."
Dada Edgard bergemuruh kala mendengar suara itu, matanya membola lantaran jarak mereka sangat dekat. Dicekam ketakutan, bahkan kini bernapaspun Ergard hati-hati sekali.
Srek
Aahh shitt!! Dasar boddoh! Memang benar-benar tidak berguna!!
Berusaha diam sejak tadi namun yang terjadi justru Edgard menciptakan suara hingga berhasil membuat Bastian dan Rohman yang berada di atasnya sadar ada yang tidak beres.
"Rohman turun!! Itu orangnya!! BANG JACK!! Cepat kesini!!" teriak Bastian bahkan terdengar serak dan Edgard tak punya kesempatan untuk melarikan diri kedua kalinya.
Bugh
__ADS_1
Bugh
"Siapa kau? Apa tujuanmu mengawasi rumah ini?"
"Hajar lagi, Man sampai pingsan!!" seru Bastian geram sekali, pria itu sudah membuatnya hampir jantungan malam ini.
Tanpa melihat siapa yang dia pukuli, Rohman terlalu bersemangat hingga membuat Edgard kelimpungan. Hingga pukulan itu berhenti kala Jackson meminta Rohman untuk berhenti.
"Stop, Man!! Lihat wajahnya, dia Edgard sahabat bos muda!!"
"Hah?"
Rohman yang sudah terlanjur menghantam Edgard dengan berbagai pukulan, kini angkat tangan dan melepaskan pria itu dari kekuasannya. Dia terkejut kala sorot cahaya menerangi wajah Edgard yang sudah terlihat lemah.
"Gawat, bagaimana ini? Bastian yang memintaku menyerangnya, Bang ... sumpah!!"
Pada faktanya, orang-orang Mikhail belum mengetahui kebusukan Edgard sebenarnya. Pria itu salah menduga dan membuat dirinya terluka seperti ini.
"Salah dia kenapa harus ngendap-ngendap seperti maling, sudah naik saja, Man ... bos tidak akan marah karena kita hanya melakukan tugas yang seharusnya!!" Terserah apa kata Mikhail nanti, yang jelas mereka sudah melakukan tugas dengan baik.
"Bagaimana? Dia pingsan?"
"Angkat!!" titah Bastian seenaknya.
"Kau kira mudah? Bantu aku!!"
Terlalu semangat hingga membuat Rohman benar-benar terjun dan kini justru dia yang menambah beban Jackson. Mau bagaimana lagi, seseorang yang diduga pencuri nyatanya sahabat bosnya sendiri. Akan tetapi, jika niatnya baik kenapa harus masuk dengan cara yang begitu? Pikir Jackson.
"Kita harus bagaimana, Bang?"
"Bawa masuk ke rumah, dia pingsan dan Bastian panggilkan Mikhail sekarang," ujar Jackson kala tubuh tinggi Edgard sudah berhasil mereka selamatkan.
"Waduh? Mana berani saya, Bang," tolak Bastian benar-benar menolak, untuk yang satu ini dia menyerah sebelum berperang.
"Ck, lalu harus bagaimana? Saya juga tidak berani ... kau saja, Man." Jackson melempar tanggung jawab, dia juga tidak berani jika harus mengusik Mikhail malam hari.
"Kalau kalian saja tidak berani lalu bagaimana saya? Nyerah!! Lebih baik diperintahkan jaga pintu sampai pagi daripada harus bangunkan den Mikhail," jawab Rohman sama pesimisnya.
__ADS_1
Tbc