
Setelah Vino dan Vano selesai menyiapkan makan malam kini mereka pun bergegas untuk membersihkan dirinya.
Beberapa waktu setelah itu keduanya pun sudah keluar dari kamar.
"Kak Risa sepertinya belum juga bangun." tutur Vino.
Akhirnya Vano pun memutuskan untuk masuk ke kamar kakaknya. Benar, Kharisa masih terlelap dalam tidurnya saat ini.
"Kak. Kak Risa, bangun. Mandilah dan kita segera makan." Suara Vano terdengar pelan di telinga wanita itu.
"Tidak, tidak, aku belum siap menikah." Suara Kharisa terdengar dengan tubuh yang beberapa memberontak.
"Menikah?" tanya Vano dalam hati karena terkejut mendengar perkataan Kakaknya.
"Vano." Kharisa yang tersadar dari mimpinya kini menyadari kehadiran adiknya itu.
Ia menatap wajah Vano yang penuh tatapan menyelidik padanya.
"Apa barusan perkataan Kakak ada benarnya?" tanyanya begitu penuh arti hingga Kharisa yang menjawabnya pun kebingungan.
"Oh yah ada apa kau kemari?" Kharisa yang belum siap membicarakan pada adiknya memilih untuk mencari topik pembicaraan lainnya.
Vano yang bingung akan ekspresi Kharisa memilih untuk bungkam meskipun matanya masih tetap menatap dalam pada dua bola mata indah wanita cantik di depannya itu.
"Kakak segera mandilah, kita sudah memasak untuk makan malam." pintah Vano dengan lembutnya dan segera berlalu pergi dari kamar itu.
Kharisa masih nampak lemas karena tidurnya yang di iringi dengan fikiran tentang pernikahan yang tidak di inginkannya itu.
"Apa yang sedang Kakak alami?" tanya Vano dalam hati.
Raut wajah tampannya kini nampak menekuk ketika tiba di hadapan Vino. "Hey, ada apa dengan wajah jelekmu itu?" tanyanya penasaran pada Vano.
"Ti-dak." jawab Vano berbohong.
__ADS_1
Kini keduanya hanya duduk di kursi meja makan sembari menunggu kehadiran Kharisa. Tak beberapa lama setelahnya, Kharisa pun datang dengan baju piyama dan juga rambut yang masih tergelung handuk.
Wajah natural tanpa make up dan tanpa lipstik benar-benar membuatnya sangat nyaman di pandang.
"Kalian berdua kenapa sih?" tanya Kharisa kebingungan melihat dua adiknya memandangnya begitu penuh dengan tatapan kagumnya.
"Wajah Kakak sungguh cantik," tutur Vino dengan senyuman manisnya.
"Iya benar, kelak aku juga ingin memiliki istri secantik Kakak. Kira-kira siapa yah pria yang beruntung mendapatkan Kakakku ini?" ucapnya dengan wajah penasarannya.
Tiba-tiba wajah tersenyum itu menekuk saat ia mengingat perkataan yang tanpa sengaja Kharisa katakan tadi saat tidur.
"Pria itu pria jahat, Vano, Vino. Kakak sungguh tidak bisa membayangkan jika pernikahan Kakak bisa di pertemukan dengan pria sepertinya. Dan dia bukan hanya sekedar jahat, tapi sifatnya sungguh tidak dewasa sama sekali. Semoga akan ada hari keajaiban yang menghampiri Kakak kelak." gumam Kharisa penuh harapan.
Kini suasan meja makan tampak hening, dua pria itu tengah sibuk saling melemparkan pandangan karena bingung melihat Kharisa yang diam melamun dengan kedua bola mata yang tampak berkaca-kaca.
"Eh ayo kita makan, Kakak sudah lapar sekali. Apa masakan adik-adikku begitu nikmat?" tanya Kharisa yang baru tersadar dari lamunannya.
Kini mereka menikmati makan malam dengan ekspresi wajah yang begitu tidak bisa di artikan. Rumah sederhana begitu menenangkan suasana malam yang begitu hening.
Itu semua tentu berkat Tante mereka yang sudah berlaku keras. Setidaknya Vano dan Vino bisa mendapatkan pelajaran yang begitu banyak dari kesengsaraan hidup mereka.
"Oh iya bagaimana belajar kalian tadi? apakah semua berjalan dengan baik?" tanya Kharisa lagi.
"Iya, Kak Risa. Tentu semuanya berjalan dengan baik. Secepatnya kami akan berusaha menguasai semua agar bisa ikut ujian paket itu." ucap Vino.
Kharisa lega mendengarnya, namun ia kembali terfikirkan bagaimana jika ia menikah dengan Gara? apakah kedua adiknya tidak akan ikut tinggal bersamanya? lalu apa Kharisa sanggup jika harus kembali berpisah dengan adiknya?
Kini fikirannya kembali terfokus pada dua adiknya itu. Seusai makan, Kharisa berusaha mengumpulkan keberaniannya dan kekuatannya untuk berbicara dengan mereka.
Kedua sendok pun ia letakkan perlahan di atas piringnya. Tangannya ia genggam erat sesekali ia melepaskan genggaman itu menggambarkan jika dirinya saat ini sedang gugup.
"Vino, Vano, Kakak sebentar lagi akan menikah." ucapnya dengan sangat hati-hati. Lalu wajah mengernyit dengan menggigit bibir bawahnya kecil menanti respon sang adik.
__ADS_1
"Hah, menikah?" Suara keduanya serentak terdengar begitu terkejutnya hingga sendok mereka terhempas ke dasar piring.
"I-iya, kalian kenapa?" Kharisa bertanya balik setelah menjawab pertanyaan adik kembarnya itu.
Vano dan Vino saling menatap curiga. "Kak Risa, bukan dengan Tuan Tedy, kan?" tanyanya begitu menyelidik.
"Bukan," jawab Kharisa sembari menggelengkan kepalanya.
"Huuuuhh," Hembusan nafas mereka terdengar begitu lega.
Lalu kembali muncul rasa penasaran itu lagi. "Lalu dengan siapa, Kak Risa?" tanya Vino.
"Em...dengan anaknya Tuan Tedy." jawab Kharisa ragu.
Kedua pria itu tampak tersenyum bahagia dengan menatap Kakaknya. "Apa karena itu Kakak sampai memimpikannya barusan?" taya Vano yang teringat akan ucapan Kharisa saat tidur tadi.
"Sudahlah jangan di bahas, ayo bersihkan meja makan lalu istirahatlah." pintah Kharisa dengan cepat bangun dari duduknya.
"Cie cie Kak Risa mau menikah. Dengan anak Tuan Tedy lagi. Pasti anaknya sangat menarik, Ayahnya saja begitu baik." ledek Vino seraya membersihkan meja makan itu.
"Andai kalian tahu pria itu seperti apa, pasti kalian tidak akan membiarkan Kakak menikah dengannya." ucap Kharisa dalam hatinya.
***
"Mulai saat ini kau harus bisa menjaga sikapmu, tinggal hitungan hari kalian akan menikah." tutur Tuan Tedy dengan meneguk air minum seusai makan malam.
Gara hanya diam dan menghentikan makannya. Pria itu tampak mendorong kursi dan berlalu pergi tanpa menyelesaikan makannya terlebih dulu.
"Gara." teriak Tuan Tedy.
"Sudah, Ayah biarkan dia tenang dulu." Nyonya Harina berusaha menenangkan suaminya yang hendak naik emosinya.
"Ibu lihatkan, ini semua gara-gara Dave terlalu memperlakukan anak kita begitu berandalan. Padahal dulu dialah yang Ayah percaya untuk membantu Gara. Bukan merusaknya." Suara Tuan Tedy meninggi seketika.
__ADS_1
Namun semua sudah terlanjur, apapun yang sudah terbentuk di dalam diri manusia tentu akan sulit di rubah oleh orang lain terkecuali dirinya sendiri yang memiliki keinginan untuk berubah.