Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 97. Mencintai Kelebihan Maupun Kekuranganmu


__ADS_3

Jika dalam satu kesempatan kamu belum berubah, mungkin ada dua dan tiga kesempatan yang berbeda mampu merubahmu. Berusahalah lebih giat lagi.


_____________________________________


"Mario, maafkan aku. Aku mohon."


"Reyn, aku capek-capek kerja di rumah sakit. Belum lagi ngurus kerjaan pengiriman. Kamu malah asik-asikan main sama pekerjaku! Dimana rasa malumu? hah!" bentak Mario.


Mario Herlambang, pemilik perusahaan yang mengelola beras sekaligus berprofesi sebagai Dokter spesialis mata.


"Kalian semua pergi dari sini. Kalian ku pecat!" teriak Mario mendidih. Amarahnya sudah sampai naik ke ubun-ubun saat itu. Wajah putihnya pun tampak memerah.


Yah, rumah besar mewah yang bergabung dengan salah satu gudang besar penyimpanan beras itu menampung Reynka selama mereka belum menikah. Mario sengaja untuk meminta Reynka tinggal bersamanya, ia sangat mencintai wanita itu.


"Mario, kamu marah sama aku? ini kekuranganku. Aku tidak bisa menghindari hal ini. Maafkan aku." Reynka menangis menundukkan wajah tanpa berani menatap pria di hadapannya itu.


Suasana begitu mencekam setelah kepergian para anggota yang sempat merasakan nikmatnya bermain ramai itu.


Mario tampak menatap tajam pada Reynka, wanita yang ia cintai begitu memalukan dirinya. Tapi entah mengapa rasa cintanya bahkan tidak bisa hilang saat seperti ini pun.


Reynka mulai melangkah hendak meninggalkan pria itu, "Tunggu!" panggil Mario seketika itu tangannya melingkar di pinggang Reynka dari arah belakang. Dagu lancip itu menempel sempurna di pundak Reynka.


"Lihat ketulusanku, Reyn. Apa kamu tidak bisa melihatnya? bahkan aku mau memaafkan semua keburukanmu. Apa itu masih kurang?" tanyanya dengan suara lirih nyaris tak terdengar.


Reynka menggeleng pelan. "Aku bukan wanita yang pantas mendapatkan cintamu. Aku begitu sulit mengendalikan keinginanku itu. Kamu akan malu karena ku."


Perlahan tangan Mario membalikkan tubuh wanita di hadapannya setelah melepas pelukannya. Reynka masih menunduk tanpa berani menatap.


"Berjuanglah demi cintaku. Aku akan membantu melewatinya. Ini pasti ada yang tidak beres. Kamu bahkan begitu candu sampai tidak bisa mengendalikan diri bukan?"


Reynka tampak mengangguk pelan. Benar apa yang Mario katakan itu. Ia begitu candu dengan sentuhan pria asing. Seakan tubuhnya mendapat tarikan magnet untuk melayani sasarannya.


Kedua tangan pria itu bergerak mengusap lembut rambut sisi kiri dan kanan milik Reynka. "Aku mencintaimu kelebihan maupun kekuranganmu, Reynka. Aku benar-benar tulus. Berjuanglah demi aku."

__ADS_1


"Bagaimana jika kamu tahu di hatiku masih ada Gara, Mario? apa kamu masih mau berjuang untukku? aku benar-benar wanita yang memalukan. Hasrat ku saja tidak bisa aku kendalikan." batin Reynka menatap nanar pria di depannya.


Saat itu juga Mario membawa tubuh Reynka ke dalam dekapannya. Wangi aroma parfum menyeruak di indera penciuman wanita itu. Manik mata hitam legam milik Reynka tertutup sempurna kala ia menikmati wangi aroma khas Mario. Darahnya seakan mengalir deras di tubuhnya.


Mario yang tadinya berwajah datar kini mengernyitkan dahi kala merasakan sensasi hangat menyisir di area lehernya. Begitu membangunkan gairah.


"Reyn, apa yang kamu lakukan?" tanyanya cemas kemudian melepaskan pelukannya saat itu juga.


"Aku menginginkannya, Mario." ujar Reynka lirih.


Tidak. Tidak mungkin Mario mau melakukan hal itu, sementara beberapa waktu yang lalu Reynka telah melakukan hal itu dengan beberapa pria. Sungguh di luar nalar.


"Reyn, ayo masuk ke rumah. Kamu harus mulai belajar mencegahnya. Jangan kamu turuti nafsu itu."


Mario menggandeng tangan wanitanya masuk ke dalam rumah. Dan memaksa Reynka untuk mandi tanpa ia ikut masuk ke dalam kamar Reynka.


Di ruang kerjanya, Mario duduk termenung. Tangannya memijat pangkal hidungnya, sungguh ia benar-benar mencintai wanita yang buruk.


***


Setelah perjalanan dua jam lebih dengan transit satu kali di Kota Balikpapan, akhirnya pesawat Garuda itu mendarat sempurna di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.


"Bangunlah!" pintah Gara pada Kharisa yang tampak menggeliat di lengannya.


"Eits...kemari." Gara kembali menarik Kharisa saat hendak merentangkan tangannya dan merubah posisi tidurnya ke samping jendela. Hampir saja kepala itu membentur jendela.


"Sudah sampai?" tanya Kharisa masih dengan suara khas bangun tidurnya.


"Iya. Ayo." Mereka mulai turun dari pesawat dan langsung menuju keluar bandara. Tidak ada yang menyambut kedatangan mereka, karena memang semua masih sibuk.


Mobil taksi bandara melaju memecah keramaian kota tersebut. "Halo, Bu. Iya Gara dan Kharisa langsung ke rumah sakit sekarang." ucapnya dengan menghela napas setelah mendengar suara di seberang sana.


"Ada apa?" tanya Kharisa penasaran.

__ADS_1


"Ayah sudah sadar. Sekarang sudah di bawa ke ruang rawat." terang Gara.


"Syukurlah." jawab Kharisa ikut senang mendengarnya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Gara mencemaskan keadaan sang istri yang nampak letih itu.


Kharisa mengangguk pelan. "Baik, jangan khawatir padaku." ujarnya tersenyum.


"Aku... bukan khawatir. Hanya saja takut di rumah sakit nanti jadi tambah pasien hanya karena kau kelelahan." elak Gara membuang muka ke arah depan setelah mengatakan kegengsiannya itu.


"Aku sakit mungkin akan ada Randa yang merawatku. Dia kan pria baik perhatian lagi." Mendengar ucapan Kharisa, wajah Gara yang tenang berubah menjadi masam.


"Apa kalian dekat jika di belakangku?" hardiknya mulai tampak kesal.


"Bisa jadi." ketus Kharisa menanggapi pertanyaan sang suami.


"Pak, tidak jadi ke rumah sakit. Jalan ke alamat xxx." pintah Gara mengejutkan Kharisa.


"Loh kok ke rumah?" tanyanya bingung.


"Sepertinya Randa harus mendapatkan perawatan dari tanganku ini. Biar rumah sakit tambah pasien. Bagaimana?" tanya Gara setengah menaikkan alis sebelahnya.


"Pak, ke rumah sakit sekarang!" ucap Kharisa.


"Ke alamat xx, Pak." hardik Gara melalui kaca spion mobil di depan.


"Ini yang mana yang benar yah, Pak, Bu?"


"Rumah sakit!"


"Alamat xx!"


Kharisa dan Gara saling bersikeras pada pendirian mereka, hingga supir mobil tersebut kebingungan mengendarai mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2