
"Kita tidur satu tempat saja, mengapa harus berbeda kita masih sah, kan?" tanya Gara.
Kharisa tampak bergemetar tubuhnya berkeringatan, Gara bisa melihat kegugupan sang istri. Gara kembali merebahkan tubuh Kharisa di kasur lalu ia ikut berbaring di sebelahnya.
"Ada apa?" tanya Gara yang melihat Kharisa bergeser menjauh meski hal itu sebenarnya percuma ia lakukan.
Keadaan kasur Kharisa yang begitu tidak baik membuat keduanya selalu saja terkumpul di tengah. "Aku gerah." jawab Kharisa.
"Aku tahu kau pasti gugup denganku." bisik Gara yang sudah membenamkan wajahnya pada leher Kharisa sementara tangannya dengan lancang melingkar di perut rata Kharisa.
Belum sempat Kharisa menepis tangan suaminya, kini tangan Gara sudah lebih dulu mengeratkan kembali pelukannya dan mengatakan. "Diamlah aku mengantuk sekali."
"Mengantuk tapi mengapa harus seperti ini sih?" gumam Kharisa yang begitu kesalnya namun ia tidak berani membangunkan Gara yang sudah terpejam. Bulu mata panjang suamiya terasa tertutup Kharisa bisa merakan hembusan nafas yang meniup lehernya menandakan jika Gara sudah terlelap.
Menunggu waktu untuk menyingkirkan tangan pria itu, tanpa sadar Kharisa juga ikut tertidur dengan lelapnya. "Ternyata dia sudah tertidur." gumam Gara yang tersenyum melihat wajah istrinya yang begitu menyedihkan di sana.
Bukannya memperbaiki posisi tidur itu, kini Gara kembali mengeratkan tangannya memeluk tubuh Kharisa, merasa tidak puas dengan posisi itu ia kembali melancarkan aksinya dengan melingkarkan kaki jenjangnya pada tubuh Kharisa.
Masih seperti malam-malam biasanya, Gara kembali gelisah. Ia selalu tidak bisa tenang setiap malam. Matanya yang tadi tertutup kini ia buka perlahan. Semua perbuatan yang lakukan di masa sebelumnya terus menghantui pikiran pria itu.
"Sial mengapa aku masih belum bisa tidur juga?" umpat kesal Gara dalam hatinya.
Cukup lama pria itu berusaha memaksa dirinya untuk terlelap namun akhirnya gara menyerah. Ia bangun dari tidurnya dan melepaskan pelukan itu pada Kharisa.
Gara melangkah duduk pada kursi kayu yang ada di kamar kecil itu tepat di depan kaca make up Kharisa. "Semua sudah terjadi Gara, tidak bisa kembali lagi." ucapnya dalam hati.
Semua insiden pelenyapan para nyawa yang sudah Gara lenyapkan atas perintah Mr. Dave selalu menghantui Gara.
"Apa yang dia lakukan?" Kharisa bertanya dalam hatinya saat sadar jika tubuh Gara sudah tidak ada di dekatnya lagi. Matanya perlahan ia buka dan mengintip Gara yang tengah menunduk saat duduk di kursi.
"Apa dia memiliki masalah?" gumam Kharisa penasaran.
Cukup lama wanita itu memperhatikan Gara yang melamun sampai akhirnya Kharisa merasa tidak bisa menahan rasa penasarannya itu.
"Mengapa kau belum tidur?" tanya Kharisa.
Gara terkejut melihat Kharisa yang sudah berdiri di belakangnya. "Kau belum tidur?" Gara kembali bertanya tanpa menjawab Kharisa.
"Ada apa? apa ada masalah?" tanya Kharisa.
__ADS_1
Gara membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh Kharisa yang berdiri di depannya saat ini. Wajahnya ia sandarkan pada perut rata Kharisa sedangkan kedua tangannya sudah melingkar sempurna di tubuh istrinya.
"Aku sangat mengantuk, tapi selalu saja tidak bisa tidur." tutur Gara.
"Mengapa dia jadi selembut ini padaku?" gumam Kharisa yang merasa begitu tidak menyangka dengan sikap Gara padanya.
"Kau tidurlah." pintah Gara sesaat setelah melepaskan seluruh isi hatinya dengan memeluk tubuh Kharisa.
Khasia beranjak kembali ke tempat tidurnya ia beberapa lama memperhatikan suaminya sampai akhirnya tanpa sadar matanya sudah tertutup dengan sempurna.
Waktu yang begitu cepat berputar tanpa sadar Gara masih saja dengan posisi seperti tadi, matanya masih tampak segar meski tubuhnya sudah sangat lelah.
Ia tidak memperhatikan keadaan Kharisa yang sejak tadi menggeliat tampak menikmati kasur yang tidak begitu nyaman di tidurinya itu.
Waktu subuh sudah datang, Kharisa segera bangun saat mendengar alarm yang berbunyi. Gara yang duduk tersadar akan hal itu.
Kharisa bergegas dari kamarnya dan mengambil air wudhu lalu ia menjalankan sholat subuh. Tidak perduli bagaimana kotornya dirinya yang terpenting Kharisa akan selalu menjalankan kewajibannya dan terus meminta ampun.
Meski pun Tuhan tahu jika hal ini bukanlah kesalahan Kharisa, Gara hanya memperhatikan aktifitas istrinya di kamar itu.
Setelah sholat Kharisa sudah beranjak ke dapur di sana sudah ada Vino dan Vano tengah memasak sarapan untuk mereka.
"Pagi." balas Kharisa.
"Kakak ipar belum bangun, Kak?" tanya Vino.
"Sejak malam dia tidak tidur." jawab Kharisa.
"Hah serius, Kak? apa kalian..." ucap Vino yang menggantung ragu jika Kharisa akan memarahinya.
"Vino, Kakak sudah katakan pikiranmu bagus-bagus. Kakak iparmu tidak bisa tidur, dia selalu seperti itu." ucap Kharisa.
Setelah menjawab pertanyaan adiknya, Kharisa termenung sesaat. Ada rasa kasihan melihat Gara yang terus tidak pernah tidur tenang sepanjang malam. Namun ia juga tidak ingin terlalu ikut campur dengan kehidupan pria yang tidak mencintainya bahkan tidak menganggapnya istri.
"Aw." rintih Kharisa saat tanpa sengaja tangannya sudah teriris dengan pisau.
"Ada apa?" Gara seketika berlari keluar dari kamar dan menghampiri tiga bersaudara itu di dapur.
Matanya membulat menatap tangan Kharisa yang mengeluarkan darah, "Berikan tanganmu." ucap Gara yang langsung membenamkan jari lentik itu pada bibirnya hingga menghentikan aliran darah kecil itu.
__ADS_1
"Wah so sweet." Vino bersuara tanpa sadar mata Kharisa sudah menatapnya tajam.
"Kakak ipar, kami ke depan dulu." Vano menarik kasar tangan Kakaknya mengajaknya untuk meninggalkan Kharisa dan Gara di dapur.
"Sudah berhenti darahnya." ucap Gara melepas tangan Kharisa dari mulutnya.
"Terimakasih." ucap Kharisa lalu segera kembali melanjutkan aktifitas masaknya.
"Kau tidurlah ke kamar." pintah Kharisa.
"Tidak, aku ingin di sini saja." ucap Gara.
"Apa sebaiknya kau tidak pulang saja?" tanya Kharisa lagi.
"Nanti setelah aku mengantarmu kerja aku segera pulang." terang Gara.
Kharisa seketika menatap suaminya terkejut. "Mengantarku? tidak, itu tidak perlu aku tidak mau kau mengantarku." bantah Kharisa.
"Kau masih istriku, jangan membantah pada suami." pekik Gara.
"Secepatnya aku akan mengurus perce-" (Ucap Kharisa yang belum sempat melanjutkan perkataan cerai itu tangan Gara sudah lebih dulu menekan bibir pink itu dengan jari telunjuknya).
"Jangan pernah berniat untuk pisah dariku, atau aku akan memberi tahu pada Ayah semuanya?" ancam Gara.
Mata Kharisa tampak berkaca-kaca. "Apa lagi tujuanmu? apa kau tidak puas membuat hidupku seperti ini? apa lagi yang kau inginkan? aku sudah mengikuti keinginan kita selama ini untuk berpisah. Lalu mengapa kau memaksaku lagi mencegah perpisahan yang seharusnya sudah terjadi sejak lama?"
Kharisa berbicara dengan nada pelan namun sedikit menekan pada suaminya karena rasanya ia sudah sangat lelah jika terus bersangkutan dengan Gara. Ia menangis dan Gara dengan cepatnya memeluk tubuh istrinya yang sudah menangis tersedu-sedu.
"Kita perbaiki ini semua, aku yang akan bertanggung jawab atas anak itu." ucap Gara.
"Tidak, aku tidak mau. Ini adalah pilihanku jangan memanfaatkan musibah ini sebagai alat untuk kau mempermainkan aku lagi. Sudah cukup semua, sudah cukup Gara." pekik Kharisa dengan berusaha memberontak dari pelukan suaminya.
Namun Gara begitu kuatnya memeluk tubuh Kharisa, matanya ia pejamkan berusaha merasakan ketenangan itu saat berada di dalam pelukan Kharisa.
__ADS_1