Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 58. Anggrek Dua Kosong Satu


__ADS_3

Di ruangan rawat begitu haru, aura kecemasan menyelimuti orang-orang yang ada di ruangan itu.


Manik mata sendu milik Nyonya Harina memejam perlahan saat melepas pelukan menantunya, Kharisa. Ia melangkahkan kakinya menuju kursi yang ada di samping tempat tidur Tuan Tedy. Tangan putih yang tak lagi kencang itu kini meraih tangan sang suami yang sedang tak berdaya.


Buliran bening menetes di wajah yang masih terlihat jelas kecantikan alaminya itu. "Ayah, maafkan Ibu telah membuat mu khawatir. Ibu sangat lepas kontrol mendengar keadaan putra satu-satu kita. Maafkan Ibu... seharusnya Ibu tidak gegabah hingga membuat Ayah khawatir seperti ini." tuturnya sembari mendaratkan ciuman di punggung tangan suaminya.


Kharisa ikut membungkam mulutnya, ia menangis tanpa suara di belakang Nyonya Harina. Sungguh ini semua kesalahannya.


"Ini karena ku. Aku egois, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi sesuatu dengan Ayah mau pun Gara." ucapnya dalam hati. Tampak pundak dan beberapa bagian tubuh Kharisa ikut bergetar menahan tangisnya yang ingin pecah di ruangan itu.


Langkah ringan yang hampir tak terdengar kini mulai mendekatkan Kharisa pada Nyonya Harina. Ia perlahan menurunkan tubuhnya hingga bersimpuh di hadapan kaki Nyonya Harina.


Dengan buliran bening Nyonya Harina menatap Kharisa cepat. Ia menatap bingung dan mengusap kasar wajahnya.


"Apa yang kau lakukan, Kharisa?" tanya Nyonya Harina.


"Ibu, ini semua salah Kharisa. Kharisa egois dan menyebabkan Gara dan Ayah seperti saat ini. Maafkan Kharisa, Bu. Hukum Kharisa, Bu." ucap Kharisa sembari mencium punggung tangan Nyonya Harina yang sudah ia raih.


Nyonya Harina menggelengkan kepala, ia meraih kedua pundak Kharisa hingga keduanya kini sejajar. Nyonya Harina membawa Kharisa ke dalam pelukannya.


"Ibu tidak menyalahkan mu, Kharisa. Ini semua memang sudah takdir. Jangan menangis lagi. Gara akan segera kembali." Tepukan lembut di pundak Kharisa kemudian melepaskan pelukannya.


Nyonya Harina sangat yakin jika Hengki akan membawa putranya secepatnya. Andai tidak terjadi apa-apa dengan Tuan Tedy, ingin sekali Nyonya Harina ikut ke markas Mr. Dave. Ia ingin melampiaskan kekesalannya selama ini yang telah membuat waktunya dan Gara jadi terbuang sia-sia.


"Kak Risa." panggil Vino dan Vano yang baru masuk ke ruang rawat Tuan Tedy setelah mencarikan buah untuk Kharisa. Mereka takut jika Kharisa akan mual lagi di masa-masa sulit seperti ini.


Kharisa menatap kedatangan dua adik kembar tampannya yang kini melangkah ke arahnya. "Kak, tenanglah. Kakak ipar akan baik-baik saja. Ayah juga akan segera sembuh." tutur Vano menyemangati kakaknya.


"Iya, Kakak percaya itu. Kakak mau ke mushollah duluyah." tutur Kharisa melangkah gontai dengan pandangan hampanya.


Vino, Vano, dan Nyonya Harina menangis melihat keadaan Kharisa yang benar-bebar terpukul. Wanita yang selama ini kuat, selalu menampakkan senyum terkuatnya meski kesulitan begitu silih berganti menimpa Kharisa, namun tidak kali ini. Ia benar-benar rapuh bagai pohon yang telah jabuk hanya menunggu angin menerpa seketika itu juga ia akan tumbang.


"Apa kau meninggalkanku saat ini, Gara? apa kau memang tidak bisa menerima kehadiran ku dan anak yang memang bukan dari cinta kita? Apa memang kehadiran ku tidak kau inginkan? mana janjimu untuk pulang menemui ku? aku lelah, kembali lah. Pulanglah untukku. Aku mohon."


Sepanjang langkah yang gontai itu Kharisa hanya menatap hampa dengan deraian air mata yang terus menemani langkahnya menuju satu-satunya tempat ia mencurahkan hatinya saat itu.


Setelah sampai di mushollah rumah sakit, Kharisa menatap buram karena manik mata indah itu telah di selimuti kristal bening di sana yang menanti giliran untuk jatuh.


Ia mengambil air wudhu, lalu menuju ke tempat beribadah. Ia melaksanakan sholat sunnah. Di setiap sujud, tak lupa Kharisa menyelipkan doa untuk suami dan mertuanya yang sedang mempertaruhkan nyawa saat ini.


Hingga berakhirlah sholat Kharisa, ia duduk dan berdoa kembali. Kali ini Kharisa bukan berdoa, ia lebih terdengar mencurahkan kelelahan hatinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan, hamba tahu ini semua akan berakhir. Tapi bolehkah hamba mengeluh dan bolehkah hamba mengatakan jika saat ini hamba benar-benar lelah? Hamba tidak kuat jika terus berpura-pura kuat seperti ini. Ini semua terlalu sakit, Tuhan. Hamba mohon berikan sedikit kekuatan untuk hamba agar bisa tetap berada di jalan mu hingga usai perjuangan hamba untuk ujian mu. Kembali kan pria yang hamba cintai, Tuhan. Biarkan kami bersatu dengan cinta..."


Doa, harapan, dan keluhan terus terucap lancar di batin Kharisa seiring jatuhnya kristal bening di ujung kelopak matanya.


Ia kembali bersujud sembari menangis tanpa suara. Hanya kedua bahunya yang terlihat terus bergemetar merasakan sakit yang begitu luar biasa.


Vino yang menyusul Kharisa kini hanya menatap kesedihan Kakaknya dari kejauhan. Ia tahu jika Kharisa tidak ingin terlihat menyedihkan seperti itu di depan dua adiknya. Itu sebabnya Vino memilih untuk mengawasi dari jauh.


***


"Ibu, bagaimana keadaan Ayah?" tanya seorang Dokter yang tidak lain adalah Reynka.


Mata sembab Nyonya Harina menatap wanita itu dengan sinisnya. "Ku pikir kau seorang dokter yang bisa memeriksa dengan baik, mengapa harus bertanya padaku?"


Benarlah yang di katakan Nyonya Harina padanya saat ini, sepertinya basa basi Reynka terlontar di waktu atau orang yang tidak tepat.


Reynka seketika membuat segaris senyuman yang tercetak di wajahnya setelah ia meneguk kasar salivahnya mendengar ucapan ketus Nyonya Harina.


"Baik, saya akan periksa Ayah lagi." Dengan tangan yang lincahnya ia memeriksa beberapa bagian tubuh Tuan Tedy dengan pengamatan jelinya.


"Semuanya tidak begitu parah. Ayah akan segera sadar, yang terpenting tidak syok lagi yah, Bu."


Tak lama kemudian, terdengar ponsel milik Nyonya Harina berdering.


Tring...tring...tring.


Dengan cepat Nyonya Harina meraih benda persegi panjang itu dari tas clutch nya. Ia mengangkat panggilan dan membawa benda tipis itu menempel sempurna di daun telinganya.


"Bagai-"


"Gara sudah berada di rumah sakit xx, saya sudah berhasil membawa putramu sayang Gara sedang dalam keadaan mengkhawatirkan.'" Hengki sudah memotong pertanyaan Nyonya Harina.


"Apa? Gara, anakku." Suara lirih Nyonya Harina terdengar syok.


"Aku di rumah sakit yang sama, Hengki. Beritahu aku di mana?"


Setelah mendengar penjelasan pria di seberang telepon itu, Nyonya Harina meminta Vano menjaga suaminya yang masih belum sadar. Sedangkan Reynka sudah berlalu menyusul kepergian Nyonya Harina.


Setelah kepergian keduanya, kini Kharisa mengetuk pelan pintu ruangan dan segera membukanya. Matanya melirik mencari sosok wanita yang tadi duduk menangis memandang penuh harapan pada sang suami.


"Vano, dimana Ibu?" tanyanya.

__ADS_1


"Tadi Ibu pergi menemui kakak ipar yang di rawat di sini juga Kak." jawabnya cepat.


Manik mata yang tidak secerah biasanya itu, kini membuka dengan lebar menampilkan tatapan sempurna di sana. Kharisa begitu terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Apa katamu? Kakak ipar? apa itu Gara?" Kharisa kembali memperjelas ucapan yang ia dengar dengan pertanyaan yang penuh ketidak percayaan.


"Iya Kak, Kakak ipar ada di rumah sakit ini." lanjut Vano lagi.


Dengan langkah cepat Kharisa berlari ke luar ruang rawat Tuan Tedy. Dengan wajah bahagia bercampur sedih ia melangkah cepat mencari informasi untuk suaminya.


"Sus." panggil Kharisa dengan buru-buru.


"Ada yang bisa saya bantu Ibu?" tanya suster dengan wajah ramahnya dan senyum penuh kelembutan.


"Tolong cari di mana ruangan suami saya, namanya Gara, Gara Crisswong."


"Baik, sebentar saya cari yah, Ibu."


Beberapa waktu kini terlewati dengan singkat akhirnya suster memberi tahu keberadaan pasien.


"Pasien bernama Gara Crisswong berada di ruangan Anggrek dua kosong satu, Ibu."


Kharisa yang sudah tidak sabar bertemu dan melihat keadaan suaminya berlari sembari berteriak mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih yah, suster."


"Sama-sama, Bu. Semoga kebaikan menghampiri anda." ucap suster dalam hati yang melihat kesedihan di wajah Kharisa. Sebagai seorang wanita dan seorang istri tentu suster itu sangat tahu bagaimana rasanya jika terjadi dengan suami yang sangat di cintanya.


Kharisa melangkahkan kakinya dengan semangat meski wajahnya tak bisa bersembunyi jika ia masih saja terus menangis.


Mata Kharisa berkeliling melihat nomor-nomor yang menempel di pintu ruang rawat itu. Dua kosong satu. Ia menatap beberapa detik dan segera tangannya membuka pintu.


"Gara, suamiku." ucapan pertama yang terdengar di mulut mungilnya saat menatap Gara yang sedang terbaring lemah dan di bantu beberapa alat medis yang menempel di tubuhnya. Gara sangat lemah saat ini. Beberapa perban juga sudah menempel sempurna di beberapa bagian tubuhnya.


"Kharisa, lemari." panggil Nyonya Harina melambaikan tangannya. Kharisa masih diam mematung di temani air mata yang semakin deras lolos begitu saja.


Saat Kharisa melangkah pertama, tiba-tiba Reynka menggalang jarak antara Kharisa dan Nyonya Harina.


Keduanya menatap heran pada Reynka. Apa yang ingin ia lakukan di saat seperti ini pada Kharisa.


"Menyingkir dari hadapan ku, Reynka!" pekik Kharisa dengan pandangan tajamnya.

__ADS_1


__ADS_2