
"Kak Risa." tutur Vino dengan cepatnya membukakan pintu untuk kakaknya dan juga kakak iparnya.
Kedua adik Kharisa begitu cepat menyambut kedatangan mereka di samping mobil.
"Vino, Vano, bawa beberapa berkas yang ada di mobil ke kamar." pintah Gara.
Kharisa sudah berlalu masuk ke dalam kamar dengan cepat tanpa memperdulikan suaminya lagi. Ia masih malu dengan perlakuan Gara yang sudah menciumnya dengan lancang itu.
Gara menyusul Kharisa ke dalam kamar dan melepaskan jas yang menempel di tubuhnya.
"Mandilah dan kita makan di luar malam ini." pintah Gara.
"Kau pergi makanlah di luar. Aku bersama adikku makan di rumah." sahut Kharisa.
"Kita makan bersama dengan adikmu di luar. Tidak ada penolakan atau aku akan membawamu mandi bersama!" ancam Gara.
Kharisa yang mendengar ancaman itu segera berlalu keluar kamar menuju kamar mandi. "Sudah menumpang, mengancam ku lagi. Merepotkan saja." umpat kesal Kharisa.
Ia mandi dengan cepat tanpa mau menghabiskan waktu lebih lama di kamar mandi.
"Cepat pergi cepat pulang. Iya aku sudah sangat lelah bekerja seharian." ucapnya.
Di luar Gara meminta Vino dan Vano segera bersiap untuk ikut bersamanya makan di luar.
"Wah kita makan enak malam ini." ucap Vino.
"Kau ini seperti Kakak tidak pernah memberikan makan enak saja." ketus Vano.
Gara segera kembali ke kamar tanpa memperdulikan perdebatan adik iparnya itu.
Melihat Kharisa yang sudah selesai mandi ia segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Hah rasanya ingin sekali dia ku bawa pergi dari kontrakan ini. Tapi itu sepertinya tidak akan mungkin." gumam Gara merasa malas jika harus berlama-lama di rumah kecil itu.
Kharisa tampak memakai pakaian seperti biasa selalu terlihat formal sekali pun di luar jam kerjanya.
Hanya di waktu tertentu saja ia akan berpenampilan yang berbeda. Yaitu saat latihan menembak mau pun memanah. Ia kerap kali menggunakan pakaian lebih tomboy dan terbuka.
"Apa itu?" tanya Kharisa yang penasaran dengan beberapa tumpukan berkas di meja kamar kecil itu.
Belum sempat tangannya berhasil membukanya, kini Kharisa di kejutkan oleh Gara.
"Jangan di buka. Nanti malam saja jika ingin membuka." pintah Gara.
"Aku sama sekali tidak tertarik untuk membukanya. Tadi hanya ingin membuang ku fikir itu sampah." terang Kharisa dan segera keluar dari kamarnya.
Ia enggan untuk berlama-lama di kamar bersama suaminya. Lebih baik ia duduk di kamar kedua adiknya sembari menunggu Gara yang berpakaian.
__ADS_1
"Kak Risa, dimana Kakak ipar?" tanya Vino.
"Di kamar pakai baju." sahut Kharisa.
"Loh Kak, harusnya Kakak kan membantu suami Kakak berpakaian." tambah Vano.
Mata Kharisa memutar malas mendengar ucapan adiknya itu. Ia menghela nafasnya kasar dan segera berdiri lalu keluar dari kamar itu.
"Kau ini membuat Kak Risa kesal saja." pekik Vino.
"Tapi memang tugas seorang istri seperti itu, apa kau tidak tahu?" tanya Vano dengan wajah polos.
"Benar-benar menjengkelkan sekali dia di rumah ini. Aku jadi merasa tidak punya kamar." umpat kesal Kharisa yang saat ini sudah duduk di kursi meja makan.
Gara yang baru selesai memakai pakaian kini keluar kamar dengan kunci mobil yang ia genggam.
"Vino, Vano sudah siap?" panggil Gara.
Kedua pria kembar itu berlari keluar menghampiri Gara dan Kharisa.
"Iya Kakak ipar sudah." jawabnya bersamaan.
"Ayo kita pergi." ajak Gara.
Vino dan Vano segera melangkah keluar rumah, Kharisa yang memperlihatkan wajah datarnya ikut melangkah di belakang adik-adiknya. Sementara Gara berada di posisi bagian paling belakang.
Beberapa menit telah berlalu kini Gara sudah menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang cukup bagus tidak terlalu mewah.
Mereka semua turun dan mengikuti langkah Gara yang mengarah ke sebuah meja di bagian sudut restoran itu.
Tak lama pelayan pun datang menyodorkan menu kemudian Gara meminta kedua adik iparnya untuk memilih makanan.
"Pilihlah apa yang kalian ingin makan." pintah Gara yang mengerti dengan tatapan ragu Vino dan Vano setelah melihat harga makanan di sana.
"Ayo kamu juga pilih mau makan apa?" pintah Gara pada Kharisa.
Semua sudah memesan makanan yang ingin mereka makan. Gara pun juga seperti itu, ia sudah memilih makanan.
Sembari menunggu pelayan mengantarkan makanan itu, ia tampak mengecek ponselnya sama sekali tidak ada panggilan atau pesan dari Randa.
"Apa dia sudah pergi bersama Mr. Dave? mengapa tidak mengabari ku saat mau berangkat?" gumam Gara ada yang aneh kali ini.
"Ah mungkin dia lupa karena terlalu sibuk." gumam Gara segera memasukkan kembali ponsel di saku jasnya.
"Hey ada apa?" tanya Gara yang terkejut saat melihat Kharisa berlari ke toilet.
Ia segera menyusul istrinya tanpa perduli dengan beberapa pengunjung yang ada di toilet wanita itu.
__ADS_1
"Tuan, ini toilet-" (ucapannya sudah terhenti saat Gara mengatakan status mereka).
"Di dalam istri saya sedang hamil muda, dia membutuhkan ku." sahut Gara pada cleaning servis itu.
Gara memijat tengkuk leher Kharisa, di sana Kharisa sudah memuntahkan seluruh isi perutnya lagi.
Tubuhnya sangat lemas, Gara membantu Kharisa untuk membersihkan wajahnya. Ia mengusap pelan punggung Kharisa dan memapahnya agar kembali ke tempat duduk.
"Kak Risa sakit?" tanya Vano cemas.
"Tidak, Kakak hanya masuk angin saja." sahut Kharisa.
"Kak, sepertinya...Van, kita sepertinya akan memiliki keponakan." seru Vino dengan penuh semangatnya memeluk tubuh saudara kembarnya.
Vano yang sadar akan tatapan Kharisa segera menghentikan pelukan itu. "Kau ini bicara apa? Kak Risa sedang tidak enak badan." bantah Vano.
"Kakak ipar, bagaimana kalau kita bawa Kak Risa ke Dokter saja?" usul Vino lagi.
Gara terdiam melirik ke arah wanita di sampingnya. Belum sempat ia menyetujui ucapan Vino, Kharisa sudah lebih dulu menghentikan percakapan tidak penting itu.
"Kalian mau makan atau kita pulang saja!" pekik Kharisa.
Vino seketika terdiam mendengar ancaman itu. Ia bisa melihat jelas wajah Kakaknya yang begitu tegas.
Gara yang melihat kemarahan Kharisa tersenyum mengetahui ketakutan yang Kharisa rasakan saat ini. Namun bagi Gara kehamilan Kharisa kali ini adalah justru penolong untuk pernikahan mereka.
Tak lama makanan yang mereka pesan pun sudah tiba, segera mereka semua makan.
"Mengapa ayam ini terlalu amis sekali?" ucap Kharisa tanpa bisa menyembunyikan indera penciumannya lagi.
"Kak Risa, Vino cium ayamnya tidak bau kok. Justru sangat enak aromanya." tutur Vino.
Setelah mencerna ucapan Kharisa Vino kembali ingat dengan prasangkanya pada kehamilan kakaknya.
"Kak, sepertinya benar Kakak hamil."
Gara hanya membungkam mulutnya berusaha tetap berekspresi datar meski dirinya ingin tertawa mendengar keyakinan adik iparnya itu.
"Vin." tegur Vano yang menyadarkan saudara kembarnya.
"Maaf Kak." ucap Vino segera melanjutkan makannya saat tatapan Kharisa benar-benar tajam.
"Apa salahku sih yang membantu Kak Risa memberikan informasi dari dugaanku? mengapa jadi aku yang salah?" gumam Vino sembari mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
Suasana senyap, hanya suara dentingan sendok yang saling beradu di piring kaca itu seakan mewakili perasaan yang begitu menikmati makanan enak.
Karena Gara hadir saat inilah yang membuat Vino dan Vano bisa makan di luar. Kalau tidak, mereka tentu hanya terus makan di rumah karena selain keadaan mereka yang masih belum begitu berkecukupan, Kharisa masih harus bekerja keras menabung untuk masa depan dua adiknya.
__ADS_1
Kharisa juga selalu pulang sore dan sangat lelah, karena itulah Vino dan Vano tidak mungkin mengajaknya keluar.