Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 108. Pengalaman Pertama


__ADS_3

Hari yang terlewati dengan banyaknya aktifitas pun berganti menjadi sore yang siap menyambut malam untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah.


Dua mobil datang bersamaan di halaman besar milik Tuan Tedy sore itu. Sayangnya suasana masih seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada dua wajah yang tersenyum hangat menyambut kepulangan mereka. Kharisa menatap rumah itu setelah kakinya ia pijakkan di tanah halaman.


"Ada apa?" tanya Gara yang melihat tatapan kosong sang istri pada rumah bernuansa putih tulang itu.


"Rasanya rumah begitu sepi saat Ayah dan Ibu tidak ada. Tapi mau bagaimana lagi? mereka juga harus menikmati masa tua mereka saat ini." seru Kharisa kemudian melangkah menuju rumah bersama dengan Randa dan juga dua adik kembarnya yang baru tiba dari perusahaan sang Ayah.


Langkah mereka masing-masing menuju kamar untuk segera membersihkan diri. "Selamat sore Tuan, Nyonya." sapa para pelayan dengan hormat.


"Sore, Bi." jawab Kharisa.


"Sore juga, Silvi." sapa Randa yang terdengar begitu akrab tanpa memberikan panggilan Bibi di awal nama itu.


Semuanya begitu acuh mendengar sapaan genit itu.


Di dalam kamar, Gara tampak memandangi gerakan Kharisa yang mulai membuka pakaiannya terlihat kesulitan. "Kemari aku bantu. Besok-besok jangan pakai baju yang ketat seperti ini. Kasihan anak kita." ucapnya seraya menarik pakaian itu dari bawah ke atas.


"Iya," jawab Kharisa singkat.


"Setelah makan malam apa mau kita keluar belanja baju?" tawar Gara.


"Tidak perlu, baju yang longgar masih banyak di lemari." tolak Kharisa.


"Itu saja tidak cukup." jawab Gara lagi.


"Sudahlah, hamilku hanya beberapa bulan lagi. Setelah itu badanku sudah kembali kecil lagi." ucapnya.


"Maksudku seterusnya jangan memakai pakaian yang ketat. Bukan saat sedang hamil saja." terang Gara.


"Memangnya ada apa? apa tubuhku jelek?" tanya Kharisa merasa bingung.


Gara terdiam membisu. Ia bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya. "Tidak Gara. Jika kau mengatakan yang sebenarnya dimana harga dirimu? tapi jika melarangnya saat ini juga pasti urusannya akan semakin panjang. Hah...sial! wanita hamil kan suka berprasangka buruk dan sangat sensitif." batin Gara merutuki kekesalannya yang tidak bisa ia utarakan pada sang istri.


Tubuh Kharisa sangat menggoda meski selalu berbalut pakaian formal dan jas, tidak menutup pandangan lekuk jas pun masih menampilkan kesempurnaan tubuhnya.


"Yasudah lupakanlah. Ayo mandi bersama." anaknya tanpa memberikan waktu untuk Kharisa mengajukan pertanyaan berikutnya.


"Tapi..." Kharisa tidak bisa melanjutkan ucapannya saat bibir mungil itu telah di serang oleh sang suami saat berada dalam gendongannya.


Gara melangkah dengan hati-hati menuju kamar mandi tanpa memperhatikan arah tujuannya. Sementara Kharisa tengah terpejam menikmati serangan bibir sang suami. Entah mengapa sejak hamil, keduanya merasa hasrat mereka jauh lebih menggebu-gebu.


Pintu kamar mandi pun tertutup dengan dorongan kaki Gara. Dan saat itu juga terdengar suara, "Braaak!"


"Ah...shit!" pekik Gara memaki lantai yang menjadi tumpuan bokongnya kala ia terjatuh karena licinnya lantai kamar mandi.


"Astaga..." Kharisa begitu terkejut saat menyadari mereka terjatuh.


"Kharisa, maafkan aku. Kau tidak apa-apa! apa ada yang sakit?" Gara yang kesakitan kini lebih khawatir dengan keadaan sang istri yang terduduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak apa-apa. Untung saja kau sempat mengayun tubuh ku tadi." terang Kharisa melihat wajah sang suami yang sudah memerah.


"Syukurlah." jawab Gara lega setelah memastikan istrinya baik-baik saja.


"Bagaimana denganmu?" tanya Kharisa.


"Sepertinya aku akan ambien. Sakit sekali. Lagu pula ini kenapa kamar mandi sampai banjir seperti ini!" Gara menatap kran air yang bocor pada hingga memenuhi bathtub tersebut.


"Ayo ku bantu." Kharisa mengulurkan tangan setelah berdiri di hadapan sang suami.


"Aku tidak kuat. Rasanya sakit sekali." jawab Gara yang memegangi bokongnya.


"Oke, tunggu sebentar." Kharisa beranjak keluar kamar meninggalkan sang suami yang masih kesakitan.


Tak lama setelah itu datanglah tiga orang pria ke dalam kamar mandi. "Astaga, mengapa jatuhnya di kamar mandi Gar? apa kau berniat..." Randa yang menyodorkan pertanyaan segera di tepis oleh Kharisa karena malu.


"Randa, cepat bantu suamiku. Kasihan dia." serunya.


Randa, Vino, dan Vano pun membopong tubuh Gara dari kamar mandi menuju tempat tidur dengan posisi menelungkup.


"Masih aman kan bagian belakang. Depan bisalah masih di pakai." ledek Randa yang terkekeh melihat kesialan menimpa sahabatnya.


"Memangnya kalo dari belakang bisa?" tanya Vino sontak membuat Kharisa dan Randa saling menatap.


"Vino, Vano kalian keluar. Kakak mau mandi. Randa, tolong panggil tukang pijat yang bagus. Kasihan Gara." pintah Kharisa.


"Nggak mau ngurutin suami sendiri nih?" goda Randa lagi.


"Salah urat nggak apa-apa. Asal goyang kuat pasti Gara sembuh kok."


"Dari tadi banyak ngomong yah. Keluar sana." pekik Gara yang kesal sejak tadi masih diam kini akhirnya bersuara juga.


Randa pun keluar, tinggallah Kharisa dan juga sang istri di kamar itu. "Apa sakit betul?" tanya Kharisa mendekati wajah sang suami.


"Iya." jawab Gara singkat.


"Lagian mau mandi masih mau begituan. Beginilah jadinya. Aku tinggal mandi dulu tidak apa-apa yah?"


"Hem." jawab Gara singkat.


Kharisa mengusap kepala sang suami setelah itu ia pun beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah kegiatan mandi Kharisa usai, kini akhirnya ia berbaring menemani suaminya yang masih tidak bergerak dari posisi semulanya.


Tok Tok Tok


Ketukan pintu pun terdengar dari luar kamar. Kharisa dengan cepat melangkah dan membuka pintu kamarnya.


"Ini tukang pijat untuk Gara." ucap Randa.

__ADS_1


Seorang pria paruh baya tampak berdiri dan segera di persilahkan Kharisa untuk masuk. "Silahkan Pak. Suami saya habis jatuh tadi. Tolong di sembuhkan yah Pak." pintah Kharisa dengan sopan.


Randa pun ikut masuk atas perintah dari Kharisa.


"Risa." panggil Gara tanpa melihat istrinya berada dimana.


"Iya aku di sini." ucap Kharisa menggenggam tangan suaminya.


Celana pun mulai di lucuti oleh pria paruh baya setelah tertutup oleh selimut yang tidak begitu tebal.


Pijatan demi pijatan mulai bergerak. Sesekali terdengar suara tawa dari pemilik tubuh. Kharisa bingung melihat suaminya yang tidak mengatakan apapun namun terus tertawa.


"Hehehehe hehehehe sudah Pak saya geli." ucap Gara.


Belum sempat ada jawaban dari pemijat tersebut, tiba-tiba terdengar. "Ah..." teriak Gara mengejang kuat kala pijatan itu menyentuh bagian yang sangat sakit menurutnya.


"Tenang, ini memang sedikit sakit. Karena harus di lurusin biar nggak makin parah yang terbentur tadi." seru tukang pijat itu.


"Ah...ah sakit." Gara mengejang hebat hingga genggaman tangannya pada sang istri begitu kuat.


"Pak pijatnya pelan-pelan kasihan suami saya." tutur Kharisa tidak tega.


"Maaf, Bu. Memang harus seperti ini jika masalah yang seperti ini. Tapi hanya sebentar saja kok."


Randa tertawa cekikikan melihat tengkuk leher Gara yang memerah sama rata dengan wajahnya yang telungkup.


"Hah niatnya mau bersenang ria, malah sial seperti ini." gerutu Gara dalam hati.


Tring Tring Tring Suara dering ponsel memecahkan keributan di ruangan kamar itu. Kharisa hendak berdiri dan melepaskan genggaman tangannya, namun Gara tidak melepaskan sedikit pun genggaman itu.


"Ada telepon." ucap Kharisa berusaha menjelaskan.


"Jangan pergi." Gara bersikeras masih meminta di temani.


"Randa tolong yah." pintah Kharisa dengan tidak enak hati.


"Oke, sebentar aku ambil." Randa berjalan mengambil ponsel dan memberikan pada Kharisa.


Sebuah panggilan video terlihat di layar ponselnya. "Ibu." sahut Kharisa begitu girangnya dan langsung mengangkat panggilan video itu.


"Halo sayang." sapa Nyonya Harina sembari melambaikan tangannya.


"Ibu, bagaimana kabar kalian? baik-baik saja kan?" tanya Kharisa antusias.


"Iya, Ayah dan Ibu sangat baik. Kalian sedang apa? mengapa sepertinya ribut sekali?" tanya Nyonya Harina yang heran mendengar suara seorang pria yang tidak asing terus berteriak.


Kharisa tersenyum lebar. "Kharisa, kamu tidak menyiksa putra Ibu kan?" canda Nyonya Harina.


Kharisa pun menampilkan Gara di sebelahnya yang tengah mendapat pijatan dari pria asing itu. Nyonya Harina tak henti-hentinya terkekeh melihat anaknya kesakitan di tangan orang lain. Bahkan ini adalah pengalaman pertama Gara yang merasakan pijatan selama hidupnya.

__ADS_1


Tawa geli dan teriakan kesakitan terus saling bersahutan di seberang telepon itu. Tuan Tedy pun ikut mendengarkan sembari tertawa bersama sang istri.


__ADS_2