
"Siapa dia?" gumam Rifal yang begitu penasarannya tentang sosok pria yang sudah kedua kalinya datang menjemput Kharisa.
Mobil Gara kini sudah melaju dan tidak terlihat lagi dari pandangan Rifal.
Sementara Gara yang begitu kesal kini menginjak gas mobil hingga Kharisa beberapa kali memperhatikan wajah suaminya.
"Ada apa dengannya?" gumam Kharisa ketakutan kini tangannya sudah berpegang dengan cukup kuat.
"Pelan-pelan saja." sahut Kharisa dengan ragu.
Namun Gara sama sekali tidak menghiraukan ucapan istrinya. Mobil sudah semakin melaju hingga Kharisa yang kebingungan segera mencengkram erat kursi yang ia duduki.
"Siapa pria itu?" Suara khas Gara tiba-tiba terdengar.
"Atasan ku." sahut Kharisa.
"Siapa pria itu?" hardik Gara begitu kerasnya bersuara hingga Kharisa memejamkan matanya ketakutan bercampur kaget.
Air matanya menetes deras mendengar bentakan Gara, hatinya terlalu merasa sakit meski kata-kata Gara tidak begitu melukai Kharisa namun ketakutannya melihat kemarahan Gara membuat Kharisa begitu merasa sesak.
Terlebih lagi keadaan Kharisa saat ini tengah hamil tentu akan sangat sensitif.
"Apa maksud mu seperti ini?" tanya Kharisa dengan suara bergemetar.
"Aaaaaaa." teriak Kharisa yang semakin ketakutan karena Gara melajukan mobilnya begitu semakin kencang dan melewati beberapa mobil lainnya di depan.
"Katakan siapa pria itu?" Gara kembali berteriak.
"Dia hanya atasanku! hentikan mobil ini!" teriak Kharisa.
Gara segera menghentikan mobil dengan cepatnya. Kharisa membuka pintu mobil lalu turun meninggalkan Gara.
"Kharisa tunggu!" teriak Gara.
Kharisa berjalan terus tanpa mau mendengarkan Gara yang tertinggal di belakang.
"Apa lagi? kau ingin mati kan? matilah sendiri jangan membawaku!" pekik Kharisa saat tubuhnya di tahan oleh Gara yang baru saja berhasil mengejarnya.
"Aku marah mengapa jadi kau yang berbalik marah padaku?" tanya Gara heran.
"Kau sudah gila." pekik Kharisa.
__ADS_1
"Katakan Kharisa, lihat aku. Katakan siapa pria itu?" tanya Gara menyelidik dengan menggenggam erat lengan Kharisa.
"Dia hanya atasanku, apa belum puas? kau mau aku mengakui dia siapaku hah?"
Gara yang melihat wajah Kharisa menangis tanpa henti, tubuhnya sudah bergemetar segera memeluknya erat.
"Jangan dekat dengannya jika dia hanya atasanmu. Aku tidak bisa melihat itu. Besok berhenti dari tempat itu." ucap Gara dengan mudahnya.
Kharisa mendorong tubuh Gara keras hingga pelukan itu terlepas.
"Kau tidak pernah merasakan mencari uang dengan kerja yang baik, kau tidak pernah merasakan kesana kemari mencari pekerjaan. Maka itu sebabnya kau tidak bisa menghargai pekerjaan orang lain. Tidak semudah itu aku berhenti dari tempat ku bekerja." terang Kharisa.
Gara terdiam mendengar ucapan istrinya, ia sadar dengan pekerjaannya selama ini yang sama sekali tidak membutuhkan penghormatan tidak membutuhkan banting tulang demi selembar uang.
"Baiklah aku salah, tapi tolong jaga jarak dengan pria itu. Dia berniat buruk padamu." tutur Gara.
"Iya." jawab Kharisa singkat.
Kemarahan Kharisa luluh saat mengingat dirinya yang pernah terlalu percaya dengan Khard hingga membawanya pada malapetaka. Dan Gara tentu ada benarnya juga mereka harus menjaga jarak jangan sampai kedekatan Kharisa dengan Rifal akan memberikan Rifal hati pada Kharisa.
"Aku minta maaf karena terlalu terbawa emosi." ucap Gara yang sangat langka namun demi Kharisa itu adalah sebuah hal yang biasa di mulai saat ini.
Gara mengusap kedua pipi Kharisa yang banjir dengan air mata, "Kita masuk ke mobil lagi?" ajak Gara meminta persetujuan.
Di kediaman Tuan Tedy, Nyonya Harina di buat yang kedua kalinya hari itu memasak makanan yang lezat dan banyak.
"Bu, jangan terlalu lelah ada Bibi kan yang masak." tutur Tuan Tedy.
"Ibu tidak lelah, Ayah. Hanya masak ini saja kok. Kharisa pasti senang makan masakan Ibu lagi." seru Nyonya Harina.
"Ayah tidak menyangka ternyata mereka bisa bersatu di belakang kita yah, Bu." ucap Tuan Tedy.
"Iya Ayah benar, Ibu sangat tidak menyangka. Dan ternyata perubahan Gara akhir-akhir ini karena Kharisa." tambah Nyonya Harina.
Mereka tampak antusias menunggu kedatangan Kharisa dan Gara ke rumahnya. Rumah ini terasa hidup kembali jika ada Kharisa dan tentu akan ada kedua adik kembarnya yang juga ikut kembali ke rumah itu.
"Akhirnya rumah kita rame lagi setelah sekian lama sepi yah, Bu."
"Iya, kalau begitu Ayah harus cepat sembuh biar bisa lebih ramai lagi." tutur Nyonya Harina memberikan semangat pada suaminya.
"Jangan salah yah Ibu, Ayah sudah kuat kok berdiri lagi." Tuan Aditya kini berusaha berdiri dari kursi rodanya sementara Nyonya Harina yang berada jauh darinya tak melihat aksi suaminya.
__ADS_1
"Ayah." teriak Kharisa panik saat melihat Tuan Tedy yang terjatuh dari kursi roda dan beruntung Kharisa lebih dulu menahan tubuh Tuan Tedy.
"Kharisa." ucap lirih Tuan Tedy menatap wajah anak angkatnya sekaligus menantu kesayangannya itu.
Kharisa menuntunnya kembali duduk di kursi roda. Kharisa menggenggam kedua tangan Tuan Tedy seraya duduk berlutut.
"Ayah maafkan Kharisa, Ayah sampai jatuh sakit seperti ini."
"Kharisa." Nyonya Harina ikut berlari mendekati mereka.
Gara yang baru saja masuk dari rumah hanya berdiri menikmati pemandangan hangat itu. Wajahnya tersenyum sembari berpose bersedekap.
"Baiklah posisiku di rumah ini sepertinya sudah tergeser dengan Kharisa." tuturnya membuat Nyonya Harina dan Tuan Tedy melepaskan pelukannya pada Kharisa.
"Gara, apa-apaan kau ini?" pekik Tuan Tedy.
"Kharisa tidak ada yang perlu meminta maaf, Gara yang salah kau sama sekali tidak perlu minta maaf." sahut Tuan Tedy menatap kesal pada anak putranya.
"Ayo kita makan bersama." ajak Nyonya Harina yang enggan mereka membahas kesalahan itu.
Kharisa mendorong kursi roda Tuan Tedy mendekat ke meja makan. Gara membantu mendorong kursi meja makan agar Tuan Tedy memakai kursi rodanya.
Setelah memastikan Tuan Tedy duduk sempurna, kini waktunya Gara membuka kan kursi untuk istrinya.
Kedua orangtuanya tersenyum senang melihat perlakuan Gara dan Kharisa. Meski masih tampak jelas wajah bingung Kharisa saat ini.
"Ayah dan Ibu tidak marah pada Kharisa?" tanyanya lagi.
"Kharisa, Gara sudah menceritakan semuanya pada kami. Kami tentu tidak habis pikir dengan tingkah Gara sampai bisa membuat mu mengakui hal segila itu. Tapi lihatlah dia sendiri kan yang mencari mu setelah itu?" Nyonya Harina terkekeh melirik wajah putranya yang malu.
"Tapi..." ucap Kharisa yang tidak sempat berlangsung karena Gara sudah memejamkan matanya menatap Kharisa seakan meminta Kharisa untuk tidak menceritakan semuanya lagi.
"Ayah justru meminta maaf dengan Kharisa karena Ayah sudah membiarkan pria brengs*k itu berniat jahat dengan Kharisa. Ayah sungguh tidak habis pikir dengan perlakuan Khard." tutur Tuan Tedy yang membuat mata Kharisa membulat sempurna.
Ia begitu terkejut mendengar jika Tuan Tedy mengetahui hal itu.
"Jadi Ayah tahu?" tanya Kharisa.
"Iya Gara sudah menceritakan semuanya beruntung pria itu tidak sempat melakukan apa-apa kata Gara. Ayah minta maaf yah Kharisa." terang Tuan Tedy.
"Jadi Gara tidak menceritakan semuanya pada Ayah? aku pikir Ayah sudah mengetahui semuanya."
__ADS_1
"Sudah ayo makan lagi." ajak Nyonya Harina.
Mereka kini menikmati makanan yang masih hangat itu. Sampai tak ada lagi terdengar suara percakapan di antara mereka dan berganti menjadi suara dentingan sendok yang saling bersentuhan dengan piring.