
Gara yang sudah melangkah ke kamar mandi kini mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. Kharisa yang mendengarnya segera memakain handuk untuk menutupi tubuhnya.
"Sini." ucap Kharisa menjulurkan tangannya ke luar sedikit membuka pintu kamar mandi.
Gara yang enggan bersuara segera memberikan piyama itu ke arah Kharisa. Pintu kamar mandi kembali tertutup dan Kharisa melihat pakaian yang ia ambil barusan. Tangannya beberapa kali memutar-mutar pakaian itu dengan menatapnya bingung.
"Piyama? dal*mannya? Ya Tuhan tidak ada sama sekali, iya aku yang benar saja menyuruh Vino mengambilkan dalaman untukku. Lalu bagaimana ini?" gumam Kharisa kebingungan memikirkan dirinya harus keluar dari kamar mandi dengan piyama tanpa memakai dalaman.
Akhirnya Kharisa memakai piyama itu lalu ia kembali membalut tubuhnya dengan handuk dari luar di bagian dada hingga ke bawah. Setidaknya handuk itu bisa menutupi area sensitifnya.
Pintu kamar mandi terbuka kepala wanita cantik yang segar natural kini terlihat mengintip ke bagian luar kamar mandi. "Aman." tuturnya berlari kecil dan segera masuk ke kamar. Kharisa menutup pintu kamar lalu menguncinya dengan cepat.
"Huh sepertinya pria itu sudah pergi." tutur Kharisa yang lega saat bisa menghindar dari sang suami. Tubuhnya ia balik dan bersandar ke pintu yang tertutup kemudian Kharisa memejamkan matanya.
"Apa sudah selesai mandinya?" Suara Gara yang tiba-tiba terdengar di ruangan kecil itu membuat Kharisa membuka matanya dan melotot.
"K-kau." ucap Kharisa dengan wajah syoknya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kharisa lagi.
"Menepati janjiku." sahut Gara.
"Janji? itu bukan janji melainkan ancaman." pekik Kharisa.
"Sudah diamlah, berhenti mengajakku berdebat. Ayo sekarang siapkan makan untukku, aku lapar." tutur Gara tampak acuh.
Kharisa yang ingin melangkah ke lemari pakaiannya segera di tarik oleh Gara ujung handuk yang melingkar sempurna itu.
"Astaga." Kharisa begitu terkejutnya saat melihat tingkah suaminya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kharisa sembari menutupi tubuhnya dengan kedua tangan miliknya.
"Bajumu basah jika handuk itu terus kau lilitkan di sana. Jangan malu padaku aku sudah bisa menebak isinya."
Kharisa mendengar ejekan suaminya begitu geram, tangannya sudah mengepal erat namun Gara justru menunjukkan ekspresi santainya.
Ia kembali meraih handuk itu lalu mencari dalaman dan baju lainnya untuk ia pakai di kamar mandi. Melihat Kharisa yang salah tingkah seperti itu Gara hanya terus mencermati setiap gerakan istrinya yang selalu salah-salah saat memilih di dalam lemari itu.
__ADS_1
Sesekali mata Kharisa melirik ke arah suaminya agar tangannya melindungi tubuh dan isi lemari itu secara bergantian.
"Jaga matamu!" pekik Kharisa.
"Untuk apa aku menjaganya? bahkan ukuran bra mu saja aku tahu."
Mata Kharisa membulat tajam mendengar perkataan suaminya itu, Gara yang medapatkan tatapan dari sang istri hanya menyunggingkan senyuman mengejek.
"Tuh." tunjuk Gara dengan mengarahkan mulutnya ke beberapa pakaian Kharisa yang sudah terhambur di lantai itu.
"Kau." Kharisa beranjak dari depan lemari dan mengumpuli beberapa pakaian yang memperlihatkan dalaman Kharisa terpampang nyata di depan mereka.
Wajah Kharisa memerah menahan malunya, tanpa berani mengatakan apa-apa lagi. "Sebaiknya kau pulang saja, di sini tidak cukup untuk tidur berdua." pintah Kharisa.
"Aku akan pulang tapi jika bersamamu." sahut Gara.
"Aku tidak akan mau kembali ke rumah itu lagi."
Kharisa kembali menutup pintu kamar itu dan berlalu ke kamar mandi. "Apa Vino di suruh olehnya untuk memilihkan baju ini?" gumam Kharisa menerka-nerka perbuatan Gara.
"Kak Risa." ucap Vano yang melihat Kharisa masuk ke kamar mereka.
Kharisa enggan menjawab ucapan Vano, ia melihat Vino yang berbaring acuh seketika di tarik telinganya. "Aw...Kak Risa sakit." rintih Vino seraya mengusap beberapa kali telinganya.
"Kamu nakal yah. Kenapa kamu kasih Kakak baju seperti tadi, Vino?" pekik Kharisa.
"Baju? baju apa Kak?" tanya Vino terkejut.
"Vino, Kakak lagi tidak bercanda."
Vino yang kebingunan kini baru ingat sesuatu. "Kakak ipar." ucapnya pelan.
"Iya, pasti dia menyuruhmu kan?" Kharisa kembali bersuara.
"Bukan, Kak. Tadi Kakak ipar yang meminta Vino pergi. Memangnya Kakak ipar memberikan Kakak baju seperti apa?" tanya Vino penasaran.
"Ih...Vino. Sudahlah." Kharisa enggan mengatakan pada adiknya dan ia memilih untuk segera pergi dari kamar dua adik tampannya itu.
__ADS_1
Kharisa kembali ke dapur dan memasak untuk makan malam mereka, Gara yang memilih beristirahat di kamar kini memejamkan matanya dengan wajah yang masih tampak tersenyum.
"Semua pasti akan baik-baik saja." ucapnya lalu terlelap dalam tidur indahnya itu.
"Kak, Kakak istirahat saja biarkan kami yang memasak." ucap Vano.
"Sudah tidak apa-apa. Kakak harus memasakkan untuk dia." tutur Kharisa enggan menyebut nama suaminya.
"Kak, apa Kakak mencintainya?" tanya Vano dengan hati-hati.
Kharisa mendengar pertanyaan itu seketika terdiam dan menghentikan aktifitasnya. "Kakak sudah tidak punya hak untuk mencintai orang, Kakak sadar diri Kakak sangat tidak baik." gumam Kharisa.
"Kak." panggil Vino seraya mekanjutkan masakan yang lainnya.
"Sudahlah kalian tidak perlu mempertanyakan hal seperti itu, cinta itu hanya di miliki anak seusia kalian." terang Kharisa.
"Itu berarti Kakak dan Kakak ipar tidak saling cinta?" tanya Vano bertanya dengan tepatnya.
Kharisa yang bingung harus mengatakan apa akhirnya memilih untuk pergi dari dapur dan menata makanan yang ada di meja makan. Bayangannya masih terus terlintas dirinya yang sudah di setubuhi oleh Khard. Apa pun sama yang ia lakukan sama sekali tidak bisa mengembalikan semuanya.
"Apa aku masih berhak mencintai seseorang dengan diriku yang seperti ini dan kehadiran bayi di dalam rahimku ini?" gumam Kharisa menatap tangan yang tengah mengelus perutnya dengan tatapan nanar.
Seorang wanita tentu akan sangat bahagia ketika mendapat kepercayaan dari Tuhan untuk titipan bayi, namun berbeda dengan Kharisa. Ia sangat menginginkan anak tapi bukan dari hasil yang kotor seperti itu.
Vino dan Vano tengah sibuk dengan aktifitas mereka di dapur hingga, Kharisa yang seorang diri kini terduduk meratapi perutnya yang masih rata.
"Apa yang harus ku lakukan dengan anak ini? tidak mungkin aku terus melanjutkan pernikahanku dengannya sedangkan anak di dalam rahimku benih dari pria yang tidak tahu diri itu." gumam Kharisa.
Tanpa sadar air mata yang selalu ia cegah untuk jatuh kini sukses membasahi wajah naturalnya itu. Kharisa memijat pelan keningnya memikirkan langkah apa yang harus ia ambil. Dengan hadirnya Gara di hidupnya kembali membuat Kharisa semakin bimbang.
"Mengapa kau datang? mengapa kau memilih kembali saat aku sudah berhasil lepas darimu? Kau selalu datang di saat waktu yang tidak tepat, Gara."
***
Di balik jeruji besi tampak pria tampan tengah duduk dengan wajah tersenyum puasnya. "Kharisa, aku yakin cepat atau lambat kau pasti akan menjemputku dan membebaskanku. Aku sangat yakin meski kita hanya melakukan itu sekali pasti kau hamil." ucap Khard terkekeh seorang diri.
"Aku yakin tidak mungkin pernikahan kalian masih tetap berlanjut dengan kehadiran benih ku di dalam rahimmu sayang." tutur Khard dengan penuh keyakinannya.
__ADS_1