Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 104. Pernikahan Dan Kepergian


__ADS_3

Terkadang cara Tuhan menyingkirkan yang tidak tepat begitu menyakitkan sebelum menghadirkan yang sangat tepat untuk kita. Agar kita bisa lebih mengerti artinya proses dan lebih menghargai apa yang kita dapatkan dari proses panjang dan tidak akan menyia-nyiakannya.


____________________________________________


Tangisan yang membuat pendengarnya menjadi terusik kini tak mampu melanjutkan tidur lelapnya lagi. Di sebuah kamar yang tampak berantakan, pria yang berbaring dengan nafas yang teratur perlahan menggeliat, netra itu terbuka saat menyadari tangisan di ruangan kamarnya.


"Reynka... apa yang kau lakukan?" teriaknya panik kala melihat wanitanya sudah menangis tersedu-sedu bahkan pergelangan tangannya sudah mengeluarkan banyak darah.


Mario. Yah pria itu adalah Mario yang sudah menerima segala kekurangan wanitanya yang sangat ia cintai.


Wajah yang pucat pasih membuat pria itu semakin khawatir. Dengan gerakan cepat memakai pakaian, ia pun membawa Reynka ke rumah sakit. Sekalipun ia seorang Dokter, rasanya tidak akan bisa melakukan sesuatu dengan baik melihat wanitanya meregang nyawa.


***


Di kediaman Tuan Tedy


"Vano..." Kharisa bergumam setelah Dokter mengatakan dirinya baik-baik saja.


"Kharisa," panggil Gara sembari mengusap kening sang istri.


Perlahan manik mata Kharisa terlihat bersinar namun sendu. Masih terlihat jelas raut kesedihan di dalam tatapan itu.


"Gara, suapi Kharisa makanan. Ini Ibu masak bubur campuran sayur biar bayinya sehat." tutur Nyonya Harina menyodorkan semangkuk bubur hangat yang sangat menggugah selera tentunya.


"Nanti saja. Aku belum lapar." ujar Kharisa membuang wajah ke arah lain.


Dia tidak bisa marah dengan siapapun saat ini. Ia hanya marah dengan keadaan yang membuatnya harus menjadi serba salah. Tidak mungkin seorang Kakak yang begitu sayang dengan adiknya rela membiarkan sang adik hidup di luar sendiri. Tapi, bagaimana Kharisa akan memilih adiknya jika ia harus meninggalkan sang suami.

__ADS_1


"Kak Risa, makanlah yang banyak. Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan." Suara sang adik yang membuat Kharisa menoleh ke arah pintu kamarnya.


Satu Adik. Yah hanya tersisa satu adiknya yang bersama dengannya saat ini. "Vano..."


Vano melangkah mendekati sang kakak dan memeluknya begitu hangat. "Vino baik-baik saja, Kak. Dia hanya butuh waktu. Jangan khawatirkan dia. Kakak punya tanggung jawab pada baby di dalam perut Kakak."


Vano mengusap air mata Kharisa pelan. "Kharisa, biarkan aku yang akan menyelesaikan semuanya dengan Vino. Ijinkan aku merebut hatinya dengan usahaku sendiri." sahut Gara yang akhirnya terdengar setelah lama bungkam.


Kharisa menatap dalam sang suami. Tampak jelas Gara sangat serius dengan ucapannya. Perlahan terlihat kepala wanita itu mengangguk mengiyakan ucapan sang suami.


"Sekarang makan yah. Anak kita butuh tenaga untuk berkembang." Gara menyuapkan makanan pada sang istri.


Kharisa menerima perlakuan baik sang suami. Vano dan Nyonya Harina tersenyum melihat suasana yang menyejukkan hati mereka.


Hari-hari berlalu begitu cepat.


Acara pernikahan Reynka dan Mario tengah berlangsung secara meriah. Keduanya saling menebarkan senyuman. Semenjak insiden bunuh diri itu, Mario berjanji tidak akan melakukan hubungan badan dengan kekerasan. Ia sangat takut kehilangan Reynka. Begitu pula Reynka, wanita itu pun berusaha menghilangkan waktu bertemu dengan pria lain menghindari hal-hal yang tidak di inginkan terjadi lagi.


"Terimakasih Reyn, kamu sudah mau berjanji hidup bersamaku selamanya. Mari kita memulai hidup baru di tempat baru." Mario menatap penuh harap pada wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.


Para tamu undangan menatap pemandangan yang begitu membahagiakan tersebut. Mereka semua tersenyum bisa menyaksikan kebahagiaan dua Dokter yang saling mencintai di depan sana.


Tepukan meriah terdengar bersorak kala Mario mengatakan pernyataan yang lebih tepatnya mengajak sang istri pindah tempat. Tidak ada jawaban selain tetesan air mata dari dua manik mata indah Reynka.


Seketika wanita itu memeluk pria tampan di depannya sembari menangis terharu. Ia membisikkan sesuatu pada sang suami. "Iya, aku mau, Mario. I Love You." ucapnya lirih.


Begitu bahagia Mario mendengar persetujuan sang istri. "I Love You too, Reyn."

__ADS_1


Hari yang begitu membahagiakan bagi keduanya pun masih berlangsung usai acara pernikahan, mereka tanpa menunda waktu segera mengemasi barang.


Mario sudah jauh-jauh hari menyiapkan kepindahan tugasnya bersama sang istri. Reynka tentu sudah mengetahui dan menyetujui, hanya saja rasanya masih tidak percaya dengan semua ini. Mario. Pria tulus yang menerima dirinya benar-benar akan membawanya ke dunia baru.


Di bandara, dua pasang suami istri yang baru sah tersebut tampak bergandengan tangan berjalan menggeret koper besar mereka. Setelah melewati beberapa tahap pemeriksaan di bandara, keduanya pun terbang bersama pesawat menuju ke London. Yah, mereka akan memulai semuanya kebahagiaan mereka di sana. Berakhirlah masa pahit Reynka yang selalu mengemis cinta Garanya Kharisa.


Tuhan ternyata lebih baik memberikan dirinya pria yang begitu besar mencintainya dan jauh lebih paham sosok Reynka di bandingkan Gara.


***


"Vino, mau sampai kapan kau seperti ini? Kakakmu begitu sedih setiap hari memikirkan dirimu." Gara berteriak saat Vino dengan wajah lesunya menunggu taksi untuk pulang ke kosan kecil miliknya sepulang kerja.


Matanya yang masih berapi-api memandang Kakak iparnya berdiri tak jauh dari mobil yang terparkir.


"Kalau kau khawatir dengan Kakakku, pergilah dari hidupnya. Kakakku tidak bisa meninggalkanmu, Kaulah yang harus meninggalkan Kak Risa." pintah Vino melangkah mendekati Gara.


"Tidak, sudah cukup aku menyakiti istriku. Tidak akan lagi kulakukan hal bodoh seperti sebelumnya. Aku mencintai Kharisa." ucap Gara kekeh.


"Sampai kapanpun aku tidak akan sudi memiliki Kakak ipar pembunuh sepertimu. Seharusnya kau sadar diri, kau tidak pantas bersanding dengan wanita sempurna seperti Kak Risa." ucapan Vino cukup menusuk dada Gara, namun bukan Gara namanya jika akan langsung mundur.


"Aku sadar sangat kekurangan, dengan hadirnya Kharisalah maka aku akan sempurna. Sampai kapanpun tidak akan ku lepaskan wanita yang begitu aku cinta. Dan sampai kapanpun kau juga adik ipar ku. Tolong Vino, aku khawatir dengan keadaan Kharisa. Jika kau tidak bisa menerimaku, setidaknya pikirkanlah Kharisa. Dia begitu sedih jauh darimu."


Gara melangkah meninggalkan adik iparnya memasuki mobil. Vino masih terdiam. Sudah lama ia tidak mengunjungi sang Kakak, bahkan saat ini dirinya begitu sibuk bekerja demi mencukupi kehidupan sehari-hari dan biaya kuliahnya.


"Mengapa Kak Risa begitu keras kepala sekali, Kak? Vino tidak bisa menerima pria itu lagi." ucap Vino yang terkejut saat terdengar suara lain dari arah yang tidak jauh.


"Kau yang keras kepala, bagaimana bisa menyalahkan Kak Risa, Vin?" Vano berjalan setelah memastikan kepergian Gara.

__ADS_1


Vino menatap begitu tajam pada saudara kembarnya yang berdiri di hadapannya. Terakhir mereka bertemu saat saling menyerang. Dan kini kemarahan itu masih terlihat jelas di wajah keduanya.


__ADS_2