
Langit yang biru kini mulai berotasi bertukar menjadi orange. Lalu lalang kendaraan semakin ramai, menandakan hari untuk para aktivitas di luar rumah agar segera pulang ke tempat peristirahatan masing-masing.
Angin sore itu tampak begitu sejuk, menemani dua orang pria yang berwajah sama tampannya tengah duduk di sebuah cafe outdoor. Rambut yang klimis masih berdiri kokoh akibat penataan dari minyak rambut yang memperkuat pesonanya.
Dua gelas es Coca cola menemani obrolan serius mereka. Vano dan Vino memilih tempat tersebut untuk berbicara dari hati ke hati.
"Pria seperti dia harus di hukum. Aku tahu hukuman yang pas untuk dia itu apa, Van." ujar Vino masih bersikukuh untuk menghakimi Gara, sang Kakak ipar.
"Sekarang kamu lihat Kak Risa." Vano menyodorkan ponsel pada saudara kembarnya yang menampilkan foto wanita tengah duduk membelakang menatap ke arah luar jendela dengan balutan selimut.
Tidak hanya sampai di situ saja, ia menggeser kembali layar ponselnya, Kharisa yang tidur dengan wajah tirus dan pucat serta mata sembab menjelaskan betapa sedihnya dirinya jauh dari sang adik.
Vino terdiam melihat wajah Kakaknya yang begitu menyedihkan. "Sekarang bukan saatnya untuk mengusik kebahagiaan Kak Risa dengan masa lalu. Kita berdua sama-sama tahu jika Kakak ipar sudah berubah banyak." tutur Vano kemudian menghela napas pelan.
Diam membisu. Hanya itu yang bisa Vino lakukan. "Katakan, kapan kita pernah membuat Kak Risa bahagia? bahkan untuk membalas keringat Kak Risa untuk membeli sesuap nasi pun kita belum mampu lakukan. Dan sekarang kau mau Kak Risa dan keponakan kita sakit?" ujar Vano.
"Apa kau yakin pria itu tidak akan menyakiti keluarga kita lagi?" tanya Vino dengan suara beratnya.
Vano mengangguk pelan. "Yakin. Aku yang akan tanggung jawab jika sampai Kakak ipar menyakiti Kak Risa maupun keluarga kita." sahut Vano dengan mantap.
"Oke, ayo." ajak Vino.
"Kemana?" tanya Vano mengernyitkan dahinya.
"Aku ingin meminta maaf pada Kak Risa." tutur Vino kemudian.
Vano tersenyum lega mendengar ajakan saudara kembarnya. Keduanya berpelukan kemudian Vano menuju ke kasir untuk membayar minuman mereka.
"Cuman minuman saja, Mas?" tanya pelayan itu pada Vano.
"Ada apa? kau meragukan kami orang baik? kita hanya butuh tempat untuk berbicara saja. Kembaliannya ambillah." Vino berbicara sebelum Vano bertanya pada pelayan tersebut. Tak lupa bocah tengil itu memainkan sebelah matanya membuat kasir wanita itu tersipu malu.
"Yok." Vino merangkul Vano keluar dari cafe tersebut.
Vano menggeleng pelan sembari tersenyum. "Sifat playboy mu masih menempel ternyata." ujar Vano.
***
Di kediaman Tuan Tedy.
Mobil pewaris tunggal CW Sejahtera baru tiba di halaman rumah Tuan Tedy.
__ADS_1
Tampak suami istri berusia paruh baya keluar menyambut kedatangan anak dan menantunya.
"Sayang, bagaimana kata Dokter?" tanya Nyonya Harina merangkul menantunya berjalan masuk ke dalam rumah.
"Baik, Bu." jawab Kharisa seadanya.
"Kata Dokter Kharisa tidak boleh stress, Bu. Takutnya nanti berdampak pada perkembangan bayinya." sahut Gara di belakang yang mendorong kursi roda Tuan Tedy.
"Ayo Ibu antar ke kamar."
Kharisa berbaring lagi di tempat tidur di temani Nyonya Harina.
Masih tampak sedih di raut wajah menantu cantiknya itu. Untuk berbicara saja Nyonya Harina tidak berani, ia takut akan membuat Kharisa menangis jika mengingat adiknya lagi.
Di sisi luar kamar.
"Ayah, Gara kembali ke kantor yah." ucap Gara menghentikan dorongan kursi roda itu.
"Baiklah, hati-hati Gara. Ayah selalu mendoakan mu agar bisa bahagia dan sukses." tutur Tuan Tedy menatap penuh harap pada sang suami.
Gara tersenyum dan memeluk sang Ayah. Pria itu melangkah menuju kamarnya setelah memastikan Tuan Tedy duduk di sofa dengan tenang di awasi pelayan.
Tok Tok Tok
Hanya Nyonya Harina yang menatap kedatangan sang putra. "Gara..." sambut Nyonya Harina.
"Kharisa, aku ke kantor sebentar menyelesaikan pekerjaan. Nanti sebelum makan malam aku segera pulang. Kita makan bersama yah?" Satu kecupan ringan mendarat di kening sang istri sembari mengusap anak rambut yang menutupi kening sang istri.
Tidak ada jawaban ataupun respon dari wanita berparas ayu dan perut yang mulai terlihat itu. Kembali Gara mengelus perut sang istri dan mendaratkan satu ciuman di sana.
"Bu, Gara berangkat dulu." ujarnya setelah mencium punggung tangan Nyonya Harina.
"Hati-hati, Nak."
Setelah kepergian Gara, Nyonya Harina membantu menantunya untuk membersihkan diri di kamar mandi. Hanya sebatas menuntun ke kamar mandi. Usai aktivitas mandi, Nyonya Harina pun membantu menyisirkan rambut Kharisa yang tidak di urusnya lagi.
Tok Tok Tok
Ketukan pintu kembali terdengar bersuara di luar kamar Kharisa.
"Apa ada yang tertinggal?" batin Nyonya Harina mengira itu adalah anaknya.
__ADS_1
Saat ia berjalan hendak membuka pintu, dari luar pintu sudah lebih dulu terbuka kala knock pintu terputar.
Tampak dua wajah yang sangat sama namun berbeda kini berdiri di ambang pintu kamar.
Nyonya Harina langsung menyingkirkan tubuhnya agar tidak menutupi pandangan mereka pada wanita yang berbaring tanpa ekspresi itu.
Seketika itu juga salah satu dari pria itu berlari menghambur memeluk wanita yang terbaring menatap langit-langit kamarnya.
"Kak Risa, maafkan Vino Kak." tangisnya terdengar begitu jelas bahkan Kharisa yang tadinya tenang tampak kaget mendapat respon mendadak itu.
"Vino..." ucap lirih Kharisa.
"Kak Risa, maafkan Vini. Kakak jangan sedih seperti ini. Cuma Kakak yang Vino sama Vano punya." tangisnya semakin kencang seraya mengeratkan pelukannya.
"Kamu mengunjungi Kakak?" tanya Kharisa menitihkan air matanya merasa seperti mimpi. Bahkan tangannya begitu lemas untuk membalas pelukan sang adik.
"Vino akan tinggal bersama Kakak. Kakak jangan menyiksa diri Kakak seperti ini lagi. Vino tidak akan meninggalkan Kak Risa."
Mendengar kata tinggal bersama, seakan seluruh kesedihan dan keputusasaan Kharisa sirna sudah. Senyuman mengembangkan di wajahnya, ia bangkit dari pembaringan setelah Vino melepaskan pelukannya dan duduk di sisi kasur itu.
"Kakak sayang sama kamu, Dek. Maafkan Kakak." Keduanya berpelukan kembali di susul oleh Vano yang bergabung memeluk dua tubuh saudaranya.
Nyonya Harina tersenyum lega dan dengan gerakan pelan wanita paruh baya itu menutup pintu memilih untuk menemui suaminya.
"Kak kurus sekali." ucap Vino memperhatikan wajah Kharisa yang tampak tulang pipinya lebih menonjol.
"Kak selalu memikirkan makan apa adik Kakak di luar sana? bagaimana jika tidak makan? Kakak tidak mungkin bisa makan di sini, Vino." sahut Kharisa bersemangat meski suaranya terdengar lemas.
"Mulai sekarang Kak Risa tidak boleh sedih lagi. Vino akan terus menjadi adik yang penurut buat Kakak." janjinya begitu terdengar tulus.
Sementara di sisi yang berbeda.
"Ini apa-apaan main batalkan kerja sama seenaknya?" gerutu Randa yang berada di ruangan Gara kala itu.
"Ada apa, Randa?" tanya Gara penasaran.
"Aku merasa ada yang mengambil kliennya kita, Gara. Satu persatu perusahaan yang bekerja sama dengan kita membatalkan kerja sama. Bahkan mereka rela membayar denda di dalam kontrak kerja sama yang sudah kita sepakati. Ini pasti ada yang tidak beres." tutur Randa memijat tengkuknya karena lelah seharian ini bekerja.
Mendengar hal itu, Gara tampak tenang. "Sudah pekerjaan besok mari kita pikirkan besok. Ini sudah waktunya kita istirahat. Ayo kita pulang. Aku ingin menemani istri ku makan malam." ujar Gara.
Keduanya berjalan beriringan, namun mendadak terdengar alarm kebakaran di gedung perusahaan CW Sejahtera itu. "Gar,"
__ADS_1
"Randa." ucap Gara dan Randa bergantian setelah saling memandang.
Keduanya pun langsung bergegas berlari turun menggunakan tangga darurat tersebut.