
"Hentikan mobilnya sekarang." pintah Gara.
"Untuk apa? nanti orang jahat bagaimana?" Kharisa tampak ketakutan. Namun Gara tanpa mengatakan lagi langsung mengambil alih kemudi stir dan mengehentikan mobil itu.
Kharisa mulai panik, ia menatap sang suami yang sudah meraih pistol yang ia selipkan di pinggang.
"Tunggu di sini." pintah Gara hendak membuka pintu mobil.
Kharisa dengan cepat meraih tangan sang suami kemudian menggelengkan kepalanya. Gara menoleh melihat Kharisa seakan tidak ingin terjadi apa-apa dengannya.
"Jangan turun." ucap Kharisa dengan raut cemasnya.
"Semua baik-baik saja." Gara menggenggam tangan sang istri dan tersenyum.
Sementara di sisi lain, tepat di mobil belakang dari mereka terlihat seseorang mengepal erat tangannya. "Sialan, mereka tahu aku mengikuti."
Khard pun melajukan mobilnya. Kharisa dan Gara menyadari mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.
"Benar, mobil itu mengikuti kita." ujar Gara.
Suasana hening. "Sudah jangan khawatir." Gara mengelus pipi sang istri yang terlihat takut.
Ia sadar jika kehidupannya dan sang suami sepertinya sedang terancam. "Aku takut jika ada orang nekat lagi."
"Jangan berpikir hal yang buruk. Semua akan baik-baik saja. Kita pulang sekarang?" tanya Gara.
Kharisa pun menganggukkan kepalanya kemudian ia di minta turun untuk bertukar posisi dengan Gara.
"Biarkan aku yang membawa mobil."
"Tapi hidungmu..."
"Sudah aku baik-baik saja."
Mobil melaju ke arah rumah dengan kecepatan rata-rata. Sepanjang jalan Gara tampak berpikir.
__ADS_1
"Siapa orang tadi? sepertinya aku harus hati-hati sekarang. Sial mobilnya juga kenapa harus memakai kaca yang gelap seperti itu?"
batin Gara.
"Siapa yah orang tadi? Ya Tuhan mengapa aku jadi sangat takut?" batin Kharisa sendiri.
Keduanya saling diam dengan pikiran mereka masing-masing. Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat.
Hingga mobil akhirnya tiba di kediaman Tuan Tedy. Keduanya turun serentak dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Belum sempat mereka menuju ke kamar, suara Nyonya Harina terdengar menyambut kedatangannya. "Kharisa, ada apa? Gara kenapa Kharisa pucat seperti ini?" tanya Nyonya Harina.
"Em... tidak, Bu. Kharisa tidak apa-apa kok. Kita mau mandi dulu yah, Bu?" Kharisa berpamitan dengan sang ibu mertua.
Nyonya Harina tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. "Gara ke kamar, Bu." Keduanya meninggalkan Nyonya Harina menuju kamar mereka.
Kharisa tidak ingin membuat orangtuanya yang tersisa kembali khawatir dan mencemaskan dirinya.
Di dalam kamar.
"Aku hanya takut keluarga kita terancam." ujar Kharisa.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Oke?"
Tanpa terasa buliran bening lolos begitu saja di wajah Kharisa saat saling bertatapan dengan sang suami.
Gara menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Sebelah tangannya mengelus lembut rambut sang istri yang tertata dengan rapi.
"Ayo mandi." ajak Kharisa.
***
Di sisi lain tepatnya di sebuah apartemen tampak seorang pria mengacak kasar rambutnya sembari membanting kunci mobilnya.
"Ah...sial, aku bingung harus memulai semuanya dari mana? mengapa jadi seperti ini? telingaku gatal jika harus terus mendengarkan perkataan Reynka yang menagih janji terus."
__ADS_1
Khard membanting tubuhnya kasar ke tempat tidur dan menatap langit-langit kamar itu. Wajahnya terlihat frustasi.
"Bahkan mereka selalu berdua, tidak ada kesempatanku untuk membawa Kharisa kembali padaku. Tidak mungkin aku bisa mengalahkan Gara." ucapnya geram.
"Kharisa, apa pun yang harus aku lewati tidak perduli. Yang terpenting kita akan bisa hidup bahagia bersama. Aku tidak rela melihat keluarga itu menjadikanmu aset perusahaan mereka."
Khard begitu gelisah, rasanya waktu begitu membuatnya tersiksa jauh dari wanita yang ia cintai. Tiba-tiba ia terbangun saat mendengar pintu terbuka.
Tampaklah sosok wanita dengan jas putih kebanggaannya tersenyum sumringah di depan pintu itu. Khard mengernyitkan dahinya tak mengerti apa yang terjadi.
"Ini jadwal khusus untukmu beraksi. Usahakan jangan sampai gagal. Besok siapkan semuanya dan atur sebaik mungkin." Reynka melempar selembar kertas yang bertuliskan seluruh jadwal kegiatan Gara dan Kharisa dalam satu minggu ini.
Khard meraih kertas itu. "Kau...dapat ini dari mana?" tanya merasa heran.
Karena setahunya jadwal untuk orang-orang berkedudukan penting di perusahaan itu tidak akan mudah di dapatkan. Terlebih perusahaan Tuan Tedy begitu besar tali kekeluargaannya. Karena sikap ramah Tuan Tedy dan selalu mensejahterakan seluruh pekerjaannya tanpa membeda-bedakan membuat kesetiaan begitu terjalin erat di perusahaan tersebut.
"Sudahlah tidak penting aku tahu dari mana? buktinya kau sendiri mampu berkhianat bukan? mengapa tidak dengan yang lainnnya."
Reynka pun membaringkan tubuhnya di kasur itu, sementara Khard masih terdiam menatap tulisan di hadapannya. Rasa penasaran begitu menghantuinya. "Siapa yang berani berkhianat di perusahaan itu? sungguh ini di luar dugaanku." batinnya.
"Sudahlah yang terpenting aku segera mendapatkan keinginanku bersama Kharisa."
Khard menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, di kamar mandi ia tengah fokus membersihkan tubuhnya di bawah siraman air shower, begitu terkejutnya pria itu tiba-tiba ada tangan lentik yang sudah melingkar di tubuhnya dari belakang.
"Astaga, kau...mengapa mengejutkan diriku saja?" Reynka begitu beraninya selalu meminta kehangatan dari pria itu.
"Apa kau tidak ingin membagi milik Kharisa untukku?" godanya.
Khard dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap Reynka. "Tentu aku tidak akan mau membaginya, tapi jika nanti sudah bersama Kharisa ku. Untuk saat ini aku masih milikmu."
Keduanya kembali melakukan aksi saling menghangatkan di bawah guyuran shower yang terasa sangat dingin.
Reynka, wanita yang cantik namun entah seperti selalu menginginkan belaian pria. Hingga kecantikan dan kesuksesan yang ia raih seakan tertutupi dengan hawa nafsunya.
Keinginan yang begitu besar untuk mendapatkan Gara, apa pun akan ia lakukan. Bukan semata-mata karena cinta. Melainkan karena ia tidak akan menyerah selama belum merasakan sentuhan dari pria yang ia inginkan.
__ADS_1