Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 13. Pernikahan


__ADS_3

"Bagaimana? setuju tidak?" tanya Kharisa pada Gara yang tampak melamun.


"Ya," jawab Gara dengan ketusnya.


"Jika waktunya tepat, aku tidak perlu menunggu hal lain untuk mengabulkan perjanjian itu. Secepatnya kita akan berpisah." ucap Gara. "Dan satu lagi, jangan pernah berani memanfaatkan kekayaan orangtuaku karena kepercayaan mereka padamu." lanjut Gara mengancam Kharisa.


"Tuan Gara, sepertinya anda perlu menyelidiki tuduhan anda itu apakah benar jika di tujukan pada saya atau tidak. Saya sama sekali tidak tertarik untuk memaman sepeserpun harta keluarga anda. Dan satu lagi, tujuan saya bekerja di sini bukanlah untuk mendapatkan harta, melainkan saya ingin membayar semua bantuan Tuan Tedy dengan kemampuan saya di perusahaan ini." terang Kharisa dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Gara yang sangat tajam itu.


Terlihat mata yang begitu kecoklatan dan bulu mata panjang milik Gara menatap Kharisa dengan penuh amarah. Rahangnya mengeras seakan ingin memakan tulang tubuh Kharisa.


"Baiklah, pernikahan dengan sebuah perjanjian ku harap kau tidak akan mengingkarinya. Jika sampai hal itu terjadi, ingat aku tidak akan bermain-main dengan ancamanku ini." pekik Gara dan segera berlalu pergi.


Kini niatnya untuk berada di kantor itu selama satu hari seperti yang Tuan Tedy perintah membuat Gara enggan untuk melakukannya. Gara sudah terlihat pergi meninggalkan kantor itu dengan sejuta kemarahan di sorot matanya.


Kharisa yang kembali rapuh kini menatap kepergian pria itu yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Perlahan punggung Gara mengecil dari pandangannya hingga pria itu benar-benar tidak terlihat lagi.


"Permainan apa ini? bagaimana bisa ada permainan di dalam pernikahan ku? Kharisa kau sudah menawarkan hal yang seharusnya tidak kau tawarkan. Tapi aku yakin dia pasti akan melakukannya, setidaknya dengan begitu aku tidak akan berlama-lama menghabiskan usiaku dengannya." ucap Kharisa dan segera pergi kembali masuk ke ruang kerjanya.


"Ada apa, Kharisa?" tanya Khard yang sedari tadi terus memandangi Kharisa dari luar ruangan memperhatikan ekspresi Kharisa yang tampak sedih.


Kharisa tersenyum menggelengkan kepalanya menandakan jika dirinya baik-baik saja. Lalu ia kembali fokus melanjutkan pekerjaannya.


***


Setelah begitu banyaknya persiapan untuk pernikahan putra tunggal Tuan Tedy Crisswong, kini tiba saatnya hari di mana keluarga mereka menambah satu anggota baru yaitu Kharisa Agatha.


Paman Kharisa yang bernama Rehan dan Tante Dila ikut hadir di pernikahannya. Pernikahan berjalan lancar, seperti biasa kedua mempelai hanya berdampingan tanpa mau berbicara sedikit pun.

__ADS_1


"Kharisa, Tante sangat senang dan bahagia sekali akhirnya kau menemukan jodoh juga dan semoga kalian bisa hidup berbahagia." tuturnya dengan senyuman yang paling indah ia tunjukkan pada Kharisa dan juga Gara beserta orangtua Gara.


Kharisa justru tidak menjawabnya, ia hanya terdiam tanpa tersenyum sedikit pun. Kemudian Vino dan Vano yang melihat dari kejauhan tampak kesal dengan paman dan tante mereka.


"Lihatlah pasti paman dan tante berusaha mendekati keluarga Kak Risa." tutur Vino.


Vano yang memperhatikan sejak tadi masih tidak bersuara. Ia tampak mencermati setiap pujian yang Tante Dila katakan pada Kharisa agar terkesan sangat dekat dengannya.


Tuan Tedy pun bersama Nyonya Harina hanya tersenyum, sebenarnya mereka tahu bagaima perlakuan mereka berdua selama ini terhadap menantunya itu.


Tuan Tedy sudah memata-matai kehidupan Kharisa selama ia memutuskan untuk membantu Kharisa. Tanpa sepengetahuan Kharisa sendiri. Karena itulah Tuan Tedy sangat yakin jika Kharisa adalah wanita yang tepat untuk anaknya.


Acara berjalan dengan baik hari itu, begitu juga dengan keadaan Tuan Tedy terlihat nampak bahagia.


"Mengapa bisa Ayah sampai sebahagia ini dengan pernikahan ku dan wanita pilihannya? apa istimewanya dia sebenarnya?" gumam Gara begitu enek melihat Kharisa yang berusaha tersenyum lebar saat menyambut para tamu undangan.


Tiba-tiba muncul sosok wanita yang begitu seksi di acara pernikahan itu dengan gaun yang tampak anggun dan cukup terbuka. Semua tamu undangan tertuju pada sosok wanita itu.


Kharisa menekuk wajahnya bingung siapakah sosok wanita itu. Sementara Nyonya Harina dan Tuan Tedy yang begitu ingat siapakah sosok itu hanya menghela nafasnya kasar.


"Ayah biarkan Ibu mengantar ke kamar yah?" tutur Nyonya Harina karena khawatir dengan keadaan suaminya jika melihat wanita itu lebih lama lagi.


Nyonya Harina berhasil membawa suaminya masuk, sementara saat melewati Gara Nyonya Harina membisikkan sesuatu.


"Nama keluarga ada di tanganmu, Nak." ucap Nyonya Harina dan berlalu pergi.


Kini hanya tersisa Gara, Kharisa dan keluarga dari Kharisa. Sosok wanita itu tidak lain adalah Reynka. Kini Reynka tampak melangkah dengan penuh gerakan menggoda menuju ke arah pengantin yang berdiri di depan.

__ADS_1


Kharisa memperhatikan tatapan Reynka pada Gara, sungguh tidak bisa di artikan. Wajah tersenyum lebar dengan mata yang begitu menatap dalam.


Tangan mulus nan lentik menjulur ke arah Kharisa dengan lembut. "Selamat atas pernikahan kalian, semoga kalian bisa berbahagia." ucap Reynka begitu ambigunya.


Dengan ucapan semoga bisa bahagia, seakan ia menantang apakah pernikahan Kharisa dengan Gara akan bisa bahagia? seperti itulah yang Kharisa pahami saat ini.


"Terimakasih." sahut Kharisa sembari membalas senyuman Reynka dan menjulurkan tangannya menerima salaman itu.


Setelah menatap Kharisa dengan senyuman remeh, ia bergerak melangkah ke arah Gara yang enggan menatapnya.


Tiba-tiba Reynka memeluk tubuh Gara dengan hangatnya dan menempelkan erat tubuhnya pada Gara. "Aku merindukanmu, aku sangat merindukanmu. Aku benar-benar salah di masa lalu." bisik Reynka dengan penuh harapan agar Gara mau menerimanya kembali.


"Lepaskan dirimu dari aku." sahut Gara dengan mencengkram kuat lengan Reynka.


Semua para tamu undangan nampak bingung dan terkejut menatap ke arah mereka. Akhirnya Reynka pun menuruti perintah Gara dan berlalu pergi dari mereka. Tapi tak hanya sampai di situ perjuangannya.


Reynka terus menatap Gara dari kejauhan sembari menari-narikan tangannya pada dada yang sedikit terbuka. Kharisa sedari tadi masih terus memperhatikan mereka.


"Sepertinya ini bagus untuk permainan di hari pernikahan ku." gumam Gara yang sadar akan tatapan Kharisa.


Sebenarnya Gara enggan untuk berurusan dengan Reynka lagi. Namun mengingat rasa kesalnya dengan kehadiran Kharisa, ia akhirnya membuat apa pun yang akan membuat Kharisa merasa di injak-injak harga dirinya oleh suaminya itu.


Gara terlihat turun dan melangkah ke tempat para tamu undangan. Kharisa hanya terdiam memperhatikan gerakan suaminya yang melangkah ke arag Reynka.


"Tunggu aku nanti malam, dan pulanglah dulu." pintah Gara tersenyum sinis pada Reynka.


Mereka berdua saling berdekatan dan tampak Reynka yang menyentuh pipi kiri dan kanan milik Gara.

__ADS_1


"Apa-apaan mereka? kalian benar-benar menjijikkan." pekik Kharisa dalam hatinya.


Wajahnya benar-benar sangat marah, bukan karena cemburu namun setidaknya Gara bisa menjaga nama Kharisa sebagai istrinya. Terlebih lagi di situ banyak para rekan kerja Kharisa termasuk Khard dan keluarga Kharisa yang tidak seharusnya tahu akan hal ini


__ADS_2