Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 60. Kesedihan Nyonya Harina


__ADS_3

Di sebuah ruangan kerja salah satu Dokter di rumah sakit tampak terdengar pukulan bertubi-tubi melayang pada meja kerja yang bertuliskan Reynka Naul.


"Sial...sial... mengapa gagal lagi? harusnya wanita sialan itu sudah di lemparkan sejauh mungkin oleh si Ibu tua itu."


Jas putih yang menempel sempurna di tubuh indahnya di hempaskan ke sandaran kursi kerja miliknya.


Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kemudian memejamkan mata berusaha mengatur ulang strategi apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


"Yah, dia. Dia satu-satunya yang berguna." senyum menyeringai tampak di wajah cantik Reynka.


Ia pergi dari ruangan kerjanya demi melanjutkan kembali tugas kerjanya pada pasien yang lain agar pekerjaannya segera selesai dan melanjutkan urusan pribadinya.


Sementara di ruangan yang berbeda, kini tampak Gara dan Kharisa saling bergenggaman tangan. Tak henti-hentinya Kharisa meneteskan air matanya.


"Jangan menangis lagi. Aku sudah ada di sini. Mau sampai kapan kau terus menangisi suami tampan mu ini? hah?" celetuk Gara dengan wajah sok cool ia menambahkan sebelah alis yang naik.


"Ih..."


"Aw... sakit Kharisa." pekik Gara yang mengusap lengannya karena di cubit dengan sayang oleh sang istri.


Hening. Ruangan itu kembali tak ada percakapan setelah Kharisa menatap dengan penasaran menunggu penjelasan dari sang suami.


"Apa?" tanya Gara yang mengerti tatapan istrinya.


"Jelaskan padaku? siapa dan bagaimana bisa kau berada di sini?"


"Aku sendiri juga tidak tahu, tiba-tiba ada beberapa kelompok sepertinya mereka juga mafia. Mereka menyerang markas Mr. Dave lalu menolong ku, tidak. Lebih tepatnya menolong kami semua yang ada di penjara." terangnya sembari menatap penuh usaha mengingat semuanya.


"Penjara? kau di penjara? apa yang mereka inginkan sebenarnya? bukankah sudah cukup melukai mu seperti ini?" Nada panik Kharisa kembali terdengar memenuhi ruangan itu.


"Ssst." tangan Gara menutup bibir Kharisa.


"Kau sangat buruk jika cerewet seperti itu. Membuat ku jadi semakin gemas."


"Sudah, aku sedang tidak ingin bercanda." celetuk Kharisa lagi.


Gara hanya bisa menghela nafasnya. Hingga keduanya menghabiskan waktu begitu cukup lama di ruangan itu. Tanpa terasa malam sudah semakin larut.

__ADS_1


Bagaimana pun keadaan Kharisa saat ini masih sah sebagai karyawan salah satu perusahaan. Ia tidak akan bisa bebas berada di mana pun saat tiba waktunya bekerja.


Dengan berat hati dirinya mengatakan permohonan maaf pada sang suami.


Usai Kharisa membersihkan diri di kamar mandi, ia membantu Gara menyeka tubuhnya.


Gara terus memperhatikan setiap gerakan tangan Kharisa yang penuh kehati-hatian. "Aku jadi ingin sakit terus kalau seperti ini."


Ucapan Gara yang terdengar tiba-tiba menghentikan gerakan Kharisa. "Kau ini benar-benar tidak memikirkan kekhawatiran ku yah?"


"Salah lagi, maksud ku aku senang karena kau selalu memperhatikan aku. Itu maksud ku."


"Oh jadi selama ini aku kurang perhatian? aku menangis menunggu kepulangan mu saat pergi ke markas itu, kau bilang aku masih kurang perhatian begitu?"


Gara hanya mendengus kesal mendengar cerewetnya Kharisa kali ini.


"Aku mencintaimu." ucapan yang tiba-tiba keluar dari mulut Gara mampu membungkam kecerewetan Kharisa. Mendadak wajah wanita itu memerah karena malu.


Ia kembali menundukkan kepalanya, setelah membantu Gara memakai kembali pakaiannya.


Hening,


"Tentu saja tidak apa-apa, kan ada Reynka yang merawat ku, bukan? bekerjalah aku baik-baik saja di sini."


Mata Kharisa membulat mendengar suaminya menyebut nama sang mantan. "Kau benar-benar yah? mati saja sekalian." pekik Kharisa yang begitu geramnya mendengar ucapan suaminya.


Telinganya seakan berasap mendengar nama wanita pelakor itu.


"Hahaha...kau cemburu ternyata. Tidaklah, aku hanya bercanda. Apa kau benar ingin aku mati? hah?" tanya Gara masih dengan tawa yang terlihat senang mengerjai istrinya.


"Hey...lihat aku. Kemari." Gara memeluk Kharisa perlahan. Wanita itu dengan hati-hati membalas pelukan sang suami karena takut jika beberapa luka di tubuhnya akan terkena sentuhannya.


Keduanya saling berpelukan, Gara merasakan ketenangan saat ini. Sungguh dirinya merasa tidak pernah se-lega ini.


"Aku tidak apa-apa. Bekerjalah, itu sudah tanggung jawab mu, istriku. Kalau nanti suamimu ini pengangguran apa boleh meminjam uangmu dulu?"


Gara kembali menggoda Kharisa. "Jika itu untuk usaha tentu boleh. Tapi, jika untuk hal yang lain tentu saja tidak."

__ADS_1


Gara hanya bisa terkekeh mendengar ucapan Kharisa. "Yasudah ayo kita istirahat, tapi ingat jaga jarak dengan siapa itu?" Gara memanyunkan bibirnya menunjuk ke sembarang arah.


"Presdir Rifal?" sambung Kharisa.


"Hem." sahut Gara.


"Tentu saja. Lagi pula saat ini aku sudah tidak bekerja sebagai sekertarisnya lagi. Karena Rika sudah kembali."


Gara mengangguk paham mendengar perkataan istrinya. Jika benar seperti itu, rasanya Gara akan jauh lebih tenang tanpa harus terus memantau pergerakan Kharisa di kantor itu.


"Yasudah, ayo istirahatlah. Kau harus bekerja besok. Pasti seharian sudah lelah karena khawatir padaku kan?"


"Sepertinya Mr. Dave telah memutus salah satu urat mu yah? semenjak pulang kau jadi over pede seperti ini." ledek Kharisa yang menyadari perubahan suaminya.


Gara hanya tersenyum sembari memejamkan matanya. Kharisa ikut berbaring di sebelah suaminya tanpa banyak gerak karena takut membuat sang suami kesakitan.


Jika di ruangan ini mereka tengah melepaskan rindu dan terlelap, berbeda halnya dengan suasana kamar di tempat Tuan Tedy di rawat.


"Kalian berdua pulanglah istirahat. Biarkan Ibu yang menjaga Ayah di sini." pintah Nyonya Harina pada Vino dan Vano yang setia menemaninya di ruangan itu.


"Baik, Bu. Kami pulang dulu. Ibu kabari saja jika ada perlu apa pun." sahut Vano sopan.


Ia sadar dengan ekspresi Nyonya Harina yang tampak berbeda dari biasanya, wajahnya terlihat tengah berkecamuk dengan perasaan khawatir dan juga amarah. Jika sedikit saja salah bicara maka mereka tentu akan membuat Nyonya Harina tidak bisa menahan emosinya.


Akhirnya dengan diamnya Nyonya Harina, Vino dan Vano memutuskan untuk mencium punggung tangan wanita itu tanpa berani berucap satu kata pun lagi.


Keduanya berlalu pergi, menutup perlahan pintu ruang rawat Tuan Tedy. Hari sudah semakin malam. Mereka pergi ke rumah dengan supir Tuan Tedy.


Di ruangan, Nyonya Harina masih menatap hampa sang suami. Ia menunggu kesadaran suaminya.


"Bagaimana kalau Ayah tahu hal ini? pasti bisa membuatnya kembali sakit. Mengapa banyak sekali yang terjadi belakangan ini pada keluarga ku? sebelum Ayah sadar aku harus menyelesaikan ini semua terlebih dulu." ucapnya dalam hati.


Nyonya Harina tertunduk seketika, hatinya nyeri kala tahu bagaimana kehidupan yang putranya jalani selama ini.


"Anakku, bagaimana kau menghadapi ini semua selama ini? Gara, Ibu tidak menyangka hal terburuk seperti ini kau hadapi. Ya Tuhan, apa ini memang karma yang harus putraku terima atas kejahatannya selama ini? apa aku boleh memohon tukarkan lah penderitaan itu semua padaku saja, jangan pada anakku, Gara." Tangis Nyonya Harina pecah tanpa suara.


Hanya buliran bening yang terus jatuh ke lantai dengan kedua bahu yang terus bergetar karena menahan tangisnya.

__ADS_1


Bagaimana pun, Nyonya Harina sadar semua terjadi atas kehendak yang kuasa. Dan semua yang terjadi begitu menyakitkan bagi Gara, tapi tidak lepas dengan apa yang telah anaknya perbuat pada banyak orang selama ini. Terkadang pelajaran akan jauh lebih sulit dari perlakuan awal.


Dan hal itu terjadi pada kehidupan mereka saat ini.


__ADS_2