Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 69. Bom


__ADS_3

Setelah keluarnya Tuan Tedy dari rumah sakit, kini hari kedua ia berada di rumah. Dan pagi ini saat yang tepat bagi Reynka melanjutkan aksinya.


Di depan cermin hias terlihat pantulan wajah cantik dan tubuh sempurna berbalut jas putih kebanggaannya. "Oke, sempurna." Reynka memperhatikan penampilannya dari atas hingga bawah. Tampak senyuman terlukis di wajahnya.


Bukan senyuman meneduhkan, lebih tepatnya senyuman penuh tak tik jahat.


Ia bergerak melangkah menuju kasur dan meraih tas kerja miliknya. Mobil melaju ke kediaman Tuan Tedy. Sepanjang jalan Reynka terus saja bernyanyi mengikuti musik yang terputar menemani aktifitas paginya.


Tring


Tring


Bunyi suara ponsel yang seketika menghentikan aksi bahagia Reynka.


"Eh Ayah mertua, tampaknya ia sangat menanti kedatangan menantunya ini." Dengan senyum mengembang Reynka mengangkat panggilan itu.


"Iya halo, Ayah. Reynka akan segera-"


Tuan Tedy yang enggan mendengar banyak ucapan dari wanita itu segera memotong pembicaraan. "Aku minta jangan datang kesini. Sudah ada Dokter lain yang akan merawat ku."


Panggilan pun terputus. "Tapi, halo...halo. Ah sial!" Reynka memukul stir mobil. Ia begitu kesal mendengar jika posisi dirinya sudah di ambil alih oleh orang lain.


Mobil yang melaju dengan kecepatan rata-rata kini berbelok ke arah rumah sakit. Tatapan marah jelas terlihat di wajah fresh itu. Ia melajukan mobilnya tanpa perduli dengan kendaraan lainnya.


***


Sedangkan di sisi lain, tampak para pelayan menyiapkan tempat makan ala restoran pinggir laut. Bedanya kali ini yang jadi objek bukanlah laut, melainkan kolam renang.


"Mengapa kita menuju ke arah kolam? bukankah mobil ada di depan?" tanya Kharisa tampak heran saat Gara menuntunnya.


"Ayolah, kamu pasti suka dengan yang sudah ku persiapkan." Gara terus melangkah dengan tatapan lurus ke depan.


Setelah sampai di depan kolam, benar saja Kharisa tersenyum. "Kita mancing di sini?" tanyanya masih tak percaya.


"Iya, apa kamu tidak menyukainya?"


"Aku sangat suka, ikannya jadi terlihat jelas. Kalau begitu ayo kita mancing." Kharisa duduk di pinggir kolam sedangkan tangannya menjulur seolah meminta pancingan yang di genggam pelayan.


"Silahkan, Nyonya."


"Terimakasih, Bi."


"Sama-sama, Nyonya."


Gara menggeleng melihat antusias Kharisa yang menunggu pancingannya untuk mendapatkan ikan. Setelah beberapa menit berlalu, kini Gara mulai melihat pancingan sang istri bergerak.


"Kharisa, itu pancingannya sudah ada yang makan."


"Oh iya, aku harus bagaimana ini?" Kharisa menarik pancingannya tanpa memutar reel untuk memperpendek jaraknya dengan ikan.


Gara terkejut melihat Kharisa berlari menjauh dari pinggir kolam demi membawa ikan itu naik ke daratan. "Astaga, mengapa kau seperti itu, Kharisa?"

__ADS_1


"Gara bantu aku!" teriaknya.


Pelayan tertawa melihat betapa hebohnya ketika ibu hamil memancing. "Mengapa kau berlari? bahaya dengan perutmu!" Gara mengejar sang istri sampai akhirnya ia meminta Kharisa memberikan pancingan itu padanya.


"Biar aku bantu."


Dengan santainya Gara menggulung reel dan berjalan mendekati kolam. "Oh begitu, mudah saja ternyata." Kharisa bergumam sendiri sembari memperhatikan gerakan sang suami. Ia kembali mengejar Gara yang berada di tepi kolam tengah mengangkat ikan yang ia dapatkan.


"Ye... akhirnya aku bisa memakan ikan hasil pancingan ku sendiri."


"Mau mancing lagi?" tanya Gara.


"Tidak,"


"Itu ikannya masih banyak, Kharisa."


"Aku hanya ingin merasakan mancing dan makan dari hasilku sendiri."


Jika saja mereka semua tahu keinginan Kharisa, tentu tidak perlu menaburkan ikan sebanyak itu di kolam.


Gara hanya bisa menghela nafasnya, keringat di dahinya bercucuran sedikit. Kharisa tentu bisa melihatnya dengan jelas. "Kemari." Kharisa meminta sang suami mendekat dengannya.


Ia mengusap pelan peluh di kening sang suami. "Kau ini jorok sekali, untuk apa berkeringat seperti ini?"


Usai mengusap peluh itu, tiba-tiba Kharisa mendaratkan satu ciuman di kening sang suami.


Hal itu sontak membuat mata Gara membulat sempurna. Ia tercengang tanpa bisa berkata-kata.


Kharisa dengan senyum mengembangnya berlalu membawa ikan serta pancingannya. Para pelayan yang masih berjaga di sekitar mereka tampak ikut gemas dengan tingkah Kharisa.


"Iya, Nyonya."


Sedangkan Gara perlahan meraih keningnya. "Dia mencium keningku barusan? apa aku tidak bermimpi?" ucapnya dalam hati.


Kharisa kini tengah semangat menyiapkan bumbu untuk memanggang ikan hasil pancingannya. Jangan di tanya di mana para penghuni rumah lainnya. Mereka sengaja berada di kamar demi menuruti permintaan Gara untuk sementara menjauh dari keduanya.


Sedangkan Vino dan Vano sudah mulai aktif di kantor milik Tuan Tedy dengan sampingan berkuliah.


Gara duduk di Bean beg yang di sediakan oleh pelayan sembari menunggu sang istri memasak.


"Tara... ikannya sudah masak." Kharisa membawa piring dan mendekati sang suami.


"Apa kau senang seperti ini?" tanya Gara menatap wajah bahagia Kharisa.


Sepertinya drama ngidamnya sudah membuat Kharisa kembali lupa dengan hal yang menakutkan itu.


"Ehem. aku sangat senang. Terimakasih, sudah membuat ku bisa merasakan apa yang aku inginkan."


Sejenak Kharisa terdiam, manik matanya melirik ke arah bagian paha Gara. Seolah tatapan itu sangat jelas jika ingin mengatakan sesuatu.


"Apa ada yang kau inginkan lagi?" tanya Gara cukup paham.

__ADS_1


"Apa aku boleh makan dengan duduk di pangkuan mu?" tanyanya dengan nada ragu.


Senyum terlukis di wajah tampan Gara, dengan senang hati pria itu menepuk pahanya memberi isyarat agar Kharisa melakukan apa yang ia inginkan.


Tanpa ada kata lagi, Kharisa segera mendaratkan tubuhnya di pangkuan sang suami. Gara hanya menikmati momen langka itu. Kini ia melihat bagaimana senangnya Kharisa makan ikan hasil pancingannya.


"Kau tidak mau?" tanya Kharisa berusaha menawarkan makanan pada Gara.


"Tidak, makan saja. Kau pasti sangat lapar."


"Untung saja dia tidak mau, aku memang hanya menawarkannya saja. Tidak bermaksud untuk membaginya." Kharisa bergumam dengan senyuman bahagianya.


Meski sebenarnya Gara juga merasa ingin merasakan masakan istrinya. Tapi kali ini ia harus bisa menyampingkan keinginannya.


Di sela-sela makannya, tiba-tiba suara gaduh kembali terdengar di kediaman Tuan Tedy. Suara bom terdengar di depan sana.


"Apa itu?" Kharisa sontak beranjak dari pangkuan Gara.


Semua yang ada di sana begitu panik, berlari mendatangi sumber suara.


"Tunggu di sini, jangan kemana-mana." pintah Gara yang berlari cepat di ikuti para pelayan.


Sementara Kharisa hanya berdiri sendiri di tepi kolam, namun tiba-tiba suara drone terdengar di atas. Kharisa mendongakkan kepalanya.


Kharisa semakin penasaran, karena benda kecil itu semakin rendah hingga akhirnya berada di dekatnya.


Terdengar suara rekaman yang terputar dengan sendirinya. "Kharisa, tunggu aku. Sebentar lagi aku akan segera keluar. Kita akan bersama. Aku sudah sangat menantikan malam panjang kita yang begitu nikmat kembali terulang."


"Khard." tutur Kharisa mendadak syok. Begitu juga dengan benda kecil itu segera kembali menjauh saat suara rekaman itu sudah selesai.


Wajah bahagia Kharisa kini berubah ketakutan. Ia menutup kedua telinganya sembari melangkah mundur tak beraturan.


"Tidak... tidak. Aku tidak mau. Pergi!" Kharisa berlari gontai hingga tanpa sadar kakinya menabrak bongkahan batu yang tertata indah di halaman sekitar kolam itu.


"Aaaa." teriaknya sontak semua terkejut. Suara yang nyaring kini tak terdengar lagi.


Gara yang baru sadar jika ini salah satu pengalihan perhatian mereka dari Kharisa, segera berlari kembali. Namun kepanikan mereka terjawab sudah setelah melihat keadaan Kharisa yang terbaring pingsan di rerumputan halaman.


"Kharisa!"


"Nyonya!"


Gara dan pelayan berlari mendekat, matanya semua tertuju pada kedua kaki Kharisa. Darah segar mengalir banyak di sana.


"Bi, tolong minta Pak Jun siapkan mobil."


"Baik, Tuan."


Bi Yati dan Bi Silvi segera berlari menghampiri Pak Jun di halaman rumah. Pria itu masih mengecek sisa ledakan bom yang di lemparkan dari luar gerbang tadi.


"Kharisa, bertahanlah." Gara menggendong istrinya dengan langkah setengah berlari.

__ADS_1


Di kediaman Tuan Tedy tampak begitu panik, sementara di jarak yang tidak begitu jauh dari kediaman itu, tawa puas terlihat dari Reynka.


"Kalian berani menolak ku, aku tidak akan membiarkan hal itu. Kalian lupa siapa aku?" Reynka segera melajukan mobilnya sebelum keamanan menutup jalur.


__ADS_2