Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 28. Surat Permintaan Maaf


__ADS_3

"Semoga Ayah baik-baik saja." gumam Gara seraya mengeratkan kepalan tangannya karena gelisah.


"Sepertinya ada yang tidak beres sampai Ayah bisa kembali kambuh."


Randa yang sudah menambahkan kecepatan mobil sesuai yang di pintah oleh Gara kini menginjak semakin jauh gas mobil itu.


***


"Ya Tuhan sembuhkan suamiku. Saya mohon biarkan waktu lebih lama lagi dengan suamiku. Aku belum siap untuk sendiri. Ayah bertahanlah Ayah, kita akan menikmati masa tua kita berdama dengan kehadiran cucu kita kelak." tutur Nyonya Harina yang terus meneteskan air matanya di ruang tunggu.


Ia tampak memeluk tubuhnya sendiri dengan eratnya sementara kepalanya ia sandarkan pada dinding pembatas ruang suaminya dan ruang tunggu itu.


"Apa yang terjadi dengan Kharisa sebenarnya? aku sungguh sulit mempercayai jika dirinya memiliki kelainan seperti itu." gumam Nyonya Harina yang masih ragu akan pengakuan Kharisa.


Namun ia tidak bisa mengatakan apa pun karena Kharisa dan kedua adiknya sudah pergi dari rumah.


Tak lama setelah itu, Gara pun hadir dengan langkah yang berlari menuju tempat Nyonya Harina berada saat ini menunggu suaminya.


"Gara." panggil Nyonya Harina yang melihat sosok putranya di hadapannya saat menunduk ke bawah ada sepasang kaki yang berdiri di sana.


"Bagiamana dengan Ayah?" tanya Gara.


Nyonya Harina masih menangis dan segera memeluk erat tubuh putranya. Ia menangis takut hingga Gara bisa merasakan tubuh yang bergemetar di dalam peluknya saat ini.


Sedingin apa pun Gara, jika Nyonya Harina yang sedih ia sungguh tidak akan tega. Akhirnya Gara membalas pelukan ibunya.


"Ibu, Ayah akan sembuh percayalah." ucap Gara dengan mengelus punggung Nyonya Harina.


"Gara, ibu takut. Ibu sangat takut jika terjadi apa-apa dengan Ayahmu. Ibu takut Gara, Ibu belum siap."


"Bu, tenanglah semua akan baik-baik saja, Gara akan mengusahakan kesembuhan Ayah." ucap Gara.


"Ibu menyesal memberitahukan kabar Kharisa pada Ayahmu, andai Ibu menutupi hal itu tentu Ayahmu tidak akan sakit lagi."


Gara yang terkejut mendengar pengakuan Nyonya Harina mendadak detakan jantungnya terhenti.


"Jadi Ibu sudah tahu jika Kharisa di perkosa?" gumamnya.


"Apa Kharisa baik-baik saja, Bu?" tanya Gara.


Nyonya Harina yang menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus menetes membuat Gara begitu terkejut.


"Bu, apa yang terjadi?" tanya Gara panik.


Belum sempat Nyonya Harina menceritakan pada Gara, kini ponsel Gara berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk.


Gara yang melepaskan tubuh Nyonya Harina segera meraih ponsel dari saku jasnya dan menggeser layar ponsel itu kemudian ia menempelkan benda kecil dan tipis itu pada telinganya.


"Tuan, Nyonya Kharisa sudah pergi ini saya di beri surat oleh pelayan di rumah anda." terang Randa.


"Apa? pergi? apa isi suratnya?" tanya Gara begitu terkejutnya.


"Saya akan membawakan suratnya kesana, Tuan." ucap Randa yang sudah di dalam mobil.


Sedangkan Nyonya Harina yang sudah tahu akan hal itu hanya menangis menatap wajah putranya.


"Gara, jadi selama ini kalian belum melakukannya?" tanya Nyonya Harina.

__ADS_1


"Sudah, Ibu jangan mengkhawatirkan hal itu." ucap Gara.


"Kharisa, apa yang kau lakukan? mengapa harus menyerah saat ini? aku tidak memintamu melakukan hal itu. Ini murni kesalahanku, tidak seharusnya kau pergi dan mengakui kesalahan yang bukan dari dirimu." gumam Gara merasa tidak tega.


***


"Kak, mengapa kita pergi dan mengapa kita tidak memakai rumah yang dulu saja?" tanya Vino penasaran karena mereka saat ini tinggal di kontrakan yang berukuran sangat kecil.


Kontrakan yang hanya terdiri dua kamar dan dapur saja tanpa ada ruang tamu.


Kharisa dan kedua adiknya berdiri di depan pintu kontrakan yang baru mereka masuki. Sedangkan pemilik kontrakan itu baru saja pergi setelah mendapatkan pembayaran separuh dari Kharisa.


"Semoga dengan seperti ini penderitaan hidupku tidak akan tersangkut paut dengan mereka lagi." gumam Kharisa yang meneteskan air mata di kedua pipinya.


Vino dan Vano saling menatap seolah bingung karena Kharisa sama sekali tidak mengatakan apa pun pada mereka.


"Vino, Vano, kalian fokus belajar agar bisa sukses. Jangan khawatirkan Kakak," tutur Kharisa dengan melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Di kamar Kharisa merebahkan tubuhnya dan kembali ingatan tentang kejadian di hotel itu menghantuinya.


"Kharisa, kau kuat. Ayo bangkitlah jangan mengingat hal itu lagi dan sekarang tugasmu adalah menghidupi dua adikmu. Jangan sampai mereka ikut sedih melihatmu." ucapnya bangkit dari tempat tidurnya dan memebrsihkan kamar itu.


"Ada apa yah dengan Kak Risa?" tanya Vino begitu penasarannya.


"Apa ini ada kaitannya dengan suaminya atau dengan Tuan Tedy?" Vano ikut menduga-duga.


Belum sempat keduanya saking menebak yang terjadi tiba-tiba suara Kharisa terdengar. "Vino, Vano bantu Kakak membersihkan rumah." teriaknya pelan.


"Iya, Kak." jawab keduanya serentak dan bangun dari duduk mereka saat itu juga.


Ketiga saudara itu sudah bekerja bersama membersihkan rumah yang berukuran kecil dengan telatennya.


"Kalian setelah ini hubungi guru private kalian yah, karena Kakak mau istirahat dan besok Kakak akan mencari kerja pagi-pagi." ucap Kharisa memecah keheningan.


"Iya, Kak." jawab Vano dan Vino gugup.


Kharisa terlihat sangatlah kuat, meski dalam dirinya yang paling dalam tubuhnya terasa sangat rapuh. Namun ia bukanlah wanita yang mau larut dalam kesedihannya.


Masih banyak harapan untuknya bertahan hidup, setidaknya jauh dari keluarga Tuan Tedy membuat Kharisa sedikit hilang bebannya.


Kini di rumah sakit Randa yang baru saja tiba segera menyodorkan selembar surat yang di tulis Kharisa untuk Gara.


Gara membaca dengan seksama kata demi kata yang tertuang di iringi tetesan air mata yang sudah mengering di lembar putih itu.


"Tidak, Kharisa. Bukan seperti ini caranya." ucap Gara dalam hati seraya menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Kharisa. Bukan begini caranya. Kau juga membuatku luka jika seperti ini. Mengapa kau pergi tanpa mengatakan apa pun padaku? luka ini akulah yang membuatnya, masalah ini akulah penyebabnya mengapa justru kau yang merusah namamu di hadapan orangtuaku?"


Randa dan Nyonya Harina memandangi wajah Gara yang sejak tadi terdiam mencermati setiap tulisan yang tertuang di dalam surat itu.


Isi surat


Untuk Gara, suamiku.


Maafkan aku telah masuk ke dalam kehidupanmu dengan lancang dan pergi darimu juga dengan lancang.


Aku, Kharisa. Telah menyerah atas perjanjian yang telah kita sepakati, aku sadar jika dengan bertahannya aku di keluarga kalian, aku hanya akan mencoreng nama baik keluarga kalian.

__ADS_1


Aku tidak akan sanggup membuat Ayah dan Ibu terluka. Diriku sudah kotor, aku tidak sanggup menampakkan wajah kotorku pada mereka yang sangat membanggakan diriku.


Saat ini aku ingin memulai hidupku dengan kedua adikku, dan aku minta jagalah kedua orangtua kita dengan baik. Pastikan dirimu aka bertanggung jawab sebagai putra laki-laki mereka.


Aku sangat menyayangi Ayah dan juga Ibu, mereka harus bisa bahagia melihat putra harapannya memimpin perusahaan itu. Aku sudah tidak bekerja di sana lagi.


Dan terimakasih atas jasamu yang membantuku saat insiden itu. Aku minta maaf karena telah membuat hubungan kau dan Ayah menjadi renggang.


Aku mohon satu darimu, biarkan aibku hanya kau dab aku yang tahu. Hanya satu permintaanku.


Isi surat selesai


"Kharisa, mengapa seperti ini jadinya? kau membuatku semakin penuh rasa bersalah." Gara yang menundukkan kepalanya dan duduk di kursi memijat erat keningnya yang tak kuasa menahan kesedihannya.


"Gara." Suara Nyonya Harina meraih pundak putranya.


"Ibu, istirahatlah. Gara akan menjaga Ayah. Biarkan Randa mengantarkan Ibu pulang." tutur Gara tanpa mau mengatakan apa pun lagi.


Fikirannya begitu pusing mengkhawatirkan Ayah dan juga Kharisa saat ini. Ia tidak ingin jika Nyonya Harina juga akan sakit.


"Randa, antar Ibu pulang." tutur Gara.


"Baik, Tuan." jawab Randa dan ia segera mengajak Nyonya Harina segera keluar.


Nyonya Harina dan Randa melangkah keluar dari rumah sakit menuju mobil, sesampainya di mobil mereka segera masuk kemudian Randa melajukan dengan kecepatan sedang.


Sementara Tuan Tedy masih belum bisa di jenguk karena keadaannya masih berada di ruang ICU.


Tangan yang masih sakit itu tidak begitu di rasakan oleh Gara, karena masalah yang ia hadapi jauh lebih menyakitkan.


Andai ada perpisahan yang lebih baik tentu permusuhan antara Gara dan Kharisa, bukan perpisahan yang meninggalkan rasa bersalah seperti ini.


Kehadiran Kharisa yang selalu membuat Gara kesal perlahan membuat dirinya merasa terlengkapi dan saat ini kepergian Kharisa benar-benar membuat Gara kehilangan separuh hatinya.


"Aku akan secepatnya menyusulmu, aku harap dengan beberapa waktu aku membiarkanmu sendiri itu akan membuatmu jauh lebih tenang dan bisa mengambil keputusan untuk kembali ke rumah." ujar Gara penuh harap.


Kini Gara di kejutkan kembali dengan suara ponselnya yang berdering menandakan ada sebuah panggilan masuk.


"Mr.Dave." begitu ucapnya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel itu.


Tanpa basa-basi lagi Mr.Dave segera berkata, "Sore cepat temui aku di markas." pintahnya dan belum sempat Gara menjawabnya sambungan telepon sudah terputus.


"Apa lagi ini?" pekik Gara begitu geramnya. Belum selesai satu masalah kini masalah baru datang lagi.


"Seharusnya ada kau yang menenangkan ibu saat ini." Gara kembali berharap jika Kharisa akan hadir.


Nyonya Harina dan Tuan Tedy masih tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Kharisa sebenarnya.


"Terimakasih, Randa." ucap Nyonya Harina yang baru saja tiba di kediamannya di antar oleh Randa, kemudian ia melangkah masuk kedalam rumah sementara Randa melajukan kembali mobilnya.


"Kehidupan Tuan sangatlah rumit." gumamnya seraya menggelengkan kepalanya.


"Terlebih lagi dengan wanita itu, kasihan sekali dia. Semoga saja benih pria itu tidak tumbuh." lanjutnya lagi.


Setelah beberapa menit perjalanan Randa kembali ke rumah sakit kini mobilnya sudah tiba di halaman parkir rumah sakit tempat Tuan Tedy di rawat.


Dengan cepat Randa melangkah menuju tempat Gara duduk saat ini. "Tuan," sapa Randa.

__ADS_1


Gara yang mendengarnya tidak menjawab ia hanya melirik kehadiran Randa di sampingnya.


__ADS_2