Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 63. Memberikan Ketenangan


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit Rifal segera menggendong Kharisa. Wajah panik terlukis jelas di wajah tampan Rifal.


Kharisa segera di periksa oleh Dokter, Beberapa waktu berlalu, kini dengan antusiasnya Rifal mendengar penjelasan Dokter.


"Keadaan pasien sangat lemah, sepertinya pasien mengalami stress berat. Ini sangat berbahaya dengan usia kandungannya. Tolong untuk di bantu agar tidak terlalu berpikir berat yah."


"Bagaimana untuk saat ini, Dok? apa masih baik-baik saja?" tanya Rifal.


"Sejauh ini masih aman, beruntung kandungan istri anda kuat."


"Oh...em maaf Dok-"


"Tidak apa-apa, saya tinggal dulu. Ini resep yang harus di tebus. Dan untuk satu hari ini kita biarkan istri anda di rawat dulu yah."


"Oh iya baik, Dok."


Entahlah apa yang di dalam pikiran Presdir tampan itu. Wajahnya berbinar-binar saat terbayang jika wanita yang tidak sadarkan diri di depannya ini benar istrinya.


Rifal mengelus lembut kening yang sedikit tertutup oleh anak rambut itu.


Perlahan senja mulai datang, matahari keemasan turun menepi di jalan. Bulatnya mentari sore membuat rona merah terbakar di ujung langit yang tampak orange kekuningan hari itu.


Pantulan cahaya senja mulai menyelinap masuk di sela-sela tirai putih menyilaukan mata yang tengah terlelap.


Perlahan manik mata hitam legam itu terbuka, setelah tidur panjangnya. Gara mengusap kasar wajahnya dan melirik di sekitar ruangan itu.


"Sudah sore mengapa Kharisa belum juga pulang?" tanyanya mulai cemas.


"Bu." sahut Gara yang melihat Nyonya Harina baru keluar dari kamar mandi.


"Kau sudah bangun ternyata, Ibu sedang menunggu Kharisa ini waktunya kau harus membersihkan tubuh. Apa minta bantuan suster saja?"


"Suster? Ibu jangan bercanda. Gara tidak mau, Bu." ucapnya. "Kharisa sebentar lagi pasti datang kok." lanjutnya lagi.


Nyonya Harina tergelitik hatinya melihat kepanikan putranya saat di tawarkan dengan suster.


"Oke-oke, tapi ini sudah sangat sore mengapa istrimu belum juga pulang?"


"Tolong telpon, Bu."


Nyonya Harina segera meraih tasnya, ia menelpon Kharisa.


Telepon tersambung.


"Halo."


Kening Nyonya Harina berkerut seketika mendengar suara laki-laki dari seberang sana. Matanya melirik Gara yang menatapnya menunggu penjelasan


"I-ini siapa?" tanya Nyonya Harina ragu dan matanya masih saja melirik ke arah Gara.


Kalau saja Gara tidak sakit mungkin pria itu sudah merebut ponsel Ibunya.


"Bu, berikan padaku."


Nyonya Harina mengangkat tangannya di depan mengisyaratkan jika Gara harus diam dulu dan menyerahkan semuanya padanya.


"Bu..." Gara kembali bersuara.


"Saya Rifal, ini ibunya Kharisa?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya, dimana Kharisa?"


"Kharisa pingsan, ini saya sedang menunggunya. Tadi sudah sadar namun sepertinya Kharisa mengalami stress berat hingga histeris ketakutan. Dokter memberikan obat penenang."


Nyonya Harina membungkam mulutnya yang tercengang, Gara semakin penasaran apa yang di dengar ibunya? dan siapa yang berbicara di seberang sana?


"Di rumah sakit mana yah?"


"Di rumah sakit x, Bu."


"Syukurlah kebetulan sekali kami di rumah sakit yang sama."


Gara membulatkan matanya mendengar kata rumah sakit, bisa di pastikan istrinya sedang mengalami suatu penyakit.


Nyonya Harina sudah mendapatkan informasi tentang ruangan menantunya. Panggilan segera berakhir dan Nyonya Harina memberi tahukan pada Gara.


Mata Gara memerah, sungguh menyakitkan tiap kali sang istri terancam mengapa dirinya selalu tidak bisa berguna layaknya suami pelindung.


"Bu, tolong kita segera kesana."


"Baik, sebentar Ibu akan meminta bantuan dengan suster dulu. Tunggu di sini yah."


Nyonya Harina berlalu meninggalkan Gara dengan sejuta kegelisahan di dirinya.


Setelah di bantu dengar suster meskipun sangat menyakitkan, Gara tidak perduli ia tetap ingin segera menemui istrinya.


Nyonya Harina, Gara dan suster kini sudah melangkah menuju ruangan Kharisa dengan kursi roda yang ia dorong.


Terdengar tiga ketukan di ambang pintu yang terbuka. Membawa mata hitam bersih itu melirik ke arah pintu.


Kursi roda tampil paling terdahulu, matanya kembali melotot menyaksikan keadaan Gara. Sungguh di luar dugaan.


"Istri anda mengalami stress dan seperti ketakutan. Saya tidak tahu jelas, mungkin anda sebagai suaminya yang jauh lebih paham. Kalau begitu saya permisi dulu."


Presdir Rifal memutuskan segera pergi, ia enggan untuk berlama-lama dengan Kharisa. Hatinya selalu saja bergetar jika berdekatan. Tentu pria tampan itu tidak ingin menjadi orang ketiga di rumah tangga Gara dan Kharisa.


"Terimakasih yah." ucap Nyonya Harina saat Rifal hendak melangkah melewatinya.


"Sama-sama, Ibu." Senyuman yang paling meneduhkan para kaum hawa tentunya.


Nyonya Harina membalas senyuman Rifal dengan penuh.


Gara sudah menatap dalam wajah wanita yang saat ini berbaring di depannya. "Kharisa." panggil Gara lirih.


Nyonya Harina memeluk tubuh Gara yang masih setia di kursi roda itu. "Kharisa menderita, Nak. Ini karena Ayah dan Ibu."


"Bu, Gara mohonlah jangan ungkit hal itu lagi. Lupakan itu. Kharisa akan lebih malu jika kembali mengingatnya."


Nyonya Harina melepaskan pelukannya pada Gara dan beralih memeluk Kharisa dan mencium keningnya. Tangannya mengusap pelan kening Kharisa.


"Maafkan Ibu, sayang."


Nyonya Harina tampak meneteskan air mata sembari mencium tangan yang ada di genggamannya.


Terlihat perut Kharisa yang mulai berisi di bawah sana.


Cukup lama keduanya berada di ruangan itu sampai jam menunjukkan pukul tujuh malam. Gara sampai tak lagi mengingat tentang kesehatannya. Berulang kali Nyonya Harina meminta untuk ia kembali ke ruangannya namun Gara menolak.


"Gara, ayo kembalilah. Ibu akan membawa mu ke sini lagi jika Kharisa sudah sadar."

__ADS_1


"Tidak, Gara harus menjaga Kharisa, Bu. Sus, tolong urus ruangan saya agar saya bisa pindah di sini."


"Baik, Pak."


Suster segera keluar dari ruang rawat Kharisa tanpa penolakan.


Selama mulut masih baik-baik saja tidak akan ada yang bisa mencegah keinginan seorang Gara.


Setelah mereka berada di satu ruangan yang sama, kini terlihat kelopak mata yang tertutup sesekali bergerak pelan. Kharisa membuka matanya.


"Kharisa." sapa Nyonya Harina dan Gara bersamaan.


Wajah mereka tersenyum lebar, namun sayang senyuman itu pudar ketika melihat reaksi Kharisa yang bangkit dari tidurnya dan mendorong kebelakang tubuhnya.


"Tolong jangan, aku mohon." tangis kembali terdengar pecah di ruangan itu. Kharisa melihat jelas sosok Khard di depannya.


Nyonya Harina yang mendekati dirinya terlihat seperti Khard yang sedang ingin menyetubuhi dirinya lagi.


"Kharisa, ayo. Kita hidup bersama dengan anak kita. Aku akan membahagiakan mu. Kita harus pergi dari keluarga itu."


"Tidak... tidak, pergi!" Kharisa menangis histeris hingga menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut tipis itu.


"Kharisa." panggil Gara yang hanya bisa mengeluarkan suara tanpa bergerak.


Kharisa sama sekali tidak bisa bertingkah normal, rasa takutnya benar-benar membuat dirinya panik.


"Kharisa, ahh." Gara merintih saat memaksakan tubuhnya harus bergerak dan meraih sang istri.


Ia tidak bisa menahan diri melihat Kharisa ketakutan seperti itu. Nyonya Harina tercengang melihat Gara.


"Gara." ucapnya syok. Bagaimana bisa Gara yang tadi berusaha menahan diri demi kesembuhan kini malah memaksa dirinya seperti itu?


"Gara, aku takut. Dia akan datang lagi. Dia mau membawa ku pergi. Tolong jangan biarkan dia membawaku. Aku tidak mau." Kharisa memeluk erat tubuh suaminya.


Sama seperti saat ia berada di hotel, Gara datang memeluknya. Hanya kehadiran Gara yang bisa membuat Kharisa sadar lagi.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu, kau istriku. Jangan khawatir pria brengsek itu tidak akan bisa membawa istriku. Oke?"


"Aku takut. Aku takut. Dia akan datang."


"Kharisa, dengar. ah..." Gara meringis merasa tubuhnya sangat sakit. "Aku tidak akan membiarkan hal itu."


Wajah Kharisa yang sembab dengan buliran bening yang terus turun kini menatap wajah tampan suaminya. Gara mengapit wajah Kharisa dengan kedua tangannya.


"Aku akan melindungi mu. Tetaplah di sampingku."


Tidak ada jawaban. Kharisa masuk ke dalam pelukannya. Hingga mereka tidur berdua di atas tempat tidur itu. Nyonya Harina hanya bisa menjadi pengamat pasangan di depannya.


Sakit? tidak. Gara sama sekali tidak lagi memperdulikan sakitnya. Berpelukan dengan Kharisa membuatnya rela dan melupakan


luka di tubuhnya.


"Sebaiknya aku pergi saja." Nyonya Harina melangkah pergi menuju ke ruangan suaminya.


Setelah kepergian Nyonya Harina, Kharisa kembali terdengar lagi suaranya.


"Tidak, aku tidak mau. Jangan bawa aku. Aku mohon."


Gara terbangun mendengar suara istrinya yang semakin mempererat pelukannya itu. Gara mendaratkan ciuman di kening Kharisa cukup lama.

__ADS_1


__ADS_2