Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 20. Keangkuhan Gara


__ADS_3

Mendengar ucapan suaminya Kharisa pun segera pergi dari kamar mandi dan meninggalkan Gara seorang diri.


"Dasar sudah di tolong masih saja tidak tahu berterima kasih justru membuatku merasa semakin malu." Kharisa tampak menggerutu kesal lalu ia melanjutkan duduknya untuk kembali fokus bekerja.


Belum sempat wanita itu kembali mengumpulkan konsentrasinya, suara Gara pun kembali terdengar berteriak dari dalam kamar mandi. "Hai wanita, kemarilah aku sudah selesai." teriaknya tanpa mau menyebut nama Kharisa.


"Kalau saja aku tidak mengingat statusku sebagai istrimu sudah aku tinggal kau malam ini sendirian." tutur Kharisa dengan melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.


Namun seketika pintu kamar mandi terbuka matanya kembali membulat lalu ia menutupnya dan membalikkan tubuhnya sembari berteriak. "Tidak bisakah kau lebih memiliki rasa malu sedikit saja?"


Mendengar lontaran istrinya Gara justru tertawa ia merasa hal itu sangat lucu di dengarnya. Namun seketika Gara menghilangkan tawa dari wajahnya itu.


"Apa aku tidak salah dengar? bukankah kau yang tidak memiliki rasa malu? lalu mengapa harus aku yang memiliki rasa malu padamu sungguh menjijikan."


"Sudahlah sebaiknya saat ini aku tidak usah meladeni ucapannya hanya membuatku tidak konsentrasi bekerja saja." gumam Kharisa.


Setelah dengan ragu-ragu Kharisa membantu Gara untuk menutup resleting celananya kini ia pun memapah tubuh Gara untuk kembali berbaring di atas tempat tidurnya. Dengan telaten ia memberikan Gara selimut memastikan jika pria itu berbaring dengan baik dan nyaman meskipun ia merasa tatapan Gara padanya sangat membuat dirinya benar-benar ingin melempar wajah pria itu.


***


Di rumah Tuan Tedy, Nyonya Harina, dan kedua adik kembar Kharisa tampak menikmati makan malam mereka.


"Vino, Vano, makanlah dengan banyak kalian tidak perlu mengkhawatirkan Kakak kalian, ia baik-baik saja dengan suaminya di sana tutur Tuan Tedy.


Suasana yang damai dan tentram tampak berbeda dengan suasana di rumah sakit yang selalu terasa panas.


"Apakah untuk malam ini Kak Risa tidak pulang ke rumah Ayah?" tanya Vino.


"Tidak Vino, kakakmu akan menemani suaminya, sebagai istri yang baik tentu harus berada di dekat suaminya selalu." terang Tuan Tedy.

__ADS_1


"Ohh iya bagaimana dengan proses belajar kalian? apakah semuanya berjalan dengan baik?" tanya Tuan Tedy lagi.


Vino dan Vano menjawabnya dengan serentak, "Tentu saja Ayah, semuanya sangat baik karena kami ingin bersungguh-sungguh dan segera bisa membantu Kak Risa."


Tuan Tedy dan Nyonya Harina saling menatap lalu memandang kedua wajah pria tampan yang mirip itu, mereka menatap kagum kemudian Tuan Tedy kembali bertanya. "Apa tidak sebaiknya kalian Ayah uruskan saja untuk mendaftar sekolah? tentu semuanya tidak memakan waktu dan proses yang lama."


Mendengar tawaran Tuan Tedy, mendadak Vino dan Vano saling bertatapan. "Maafkan kami Ayah, selain kami ingin mengikuti proses dengan baik kami juga tidak berani mengambil keputusan tanpa adanya persetujuan dari Kak Risa." jawab Vano dengan tegas.


Tuan Tedy yang mendengarnya pun tersenyum lalu ia mengangguk beberapa kali merasa lagi-lagi jawaban dari pria di hadapannya ini yang masih terbilang sangat muda semakin mencuri hatinya.


"Sungguh kalian berdua sangatlah luar biasa, Kakak kalian sudah sangat baik mendidik kalian berdua hingga kalian tumbuh dengan rukun meskipun tanpa ada kedua orang tua kalian. Ayah benar-benar kagum andai anak kami bisa seperti kalian tentu hati kami juga begitu lega." tutur Tuan Tedy.


"Oh iya saya lupa kalau kalian sudah terpisah lama." lanjut Tuan Tedy lagi saat melihat ekspresi wajah Vino dan Vano karena saling bertatapan.


"Tidak apa-apa Ayah, lagi pula kami sudah melupakan hal itu dan yang kami pikir selama kami berpisah kami ingin menikmati waktu bersama dan hidup bahagia bertiga dengan Kak Risa ketika sudah tiba waktunya." tutur Vino.


Mereka pun kembali menikmati makan malam itu dengan nyaman. Nyonya Harina yang membantu Tuan Tedy untuk meminum obat obatnya setelah makan kini sudah selesai dan berpamitan pada Vino dan Vano untuk membawa Tuan Tedy ke kamar beristirahat.


Mereka berdua pun ikut meninggalkan tempat makan dan menuju ke kamar mereka untuk melanjutkan pelajaran yang sudah mereka terima satu hari tadi.


"Van, kita video call Kak Risa yah? rasanya takut terjadi apa-apa dengan Kakak, lagi pula suaminya Kak Risa itu terlihat sangat menyeramkan." ucap Vino dengan memperagakan tubuhnya yang seperti bergemetar ketakutan seraya bersuara "Hiiiiii."


"Iya, sebentar." sahu Vano.


Tak lama setelahnya panggilan pun terhubung. "Hay Kak," sapa Vino sementara Vano masih fokus menatap kakaknya seraya memegang ponsel miliknya.


Kharisa pun tersenyum sembari melambaikan tangannya untuk menyapa kedua adik kembarnya. "Hai Vino Vano apakah kalian sudah makan malam?" tanya Kharisa.


Vino dan Vano serentak menganggukkan kepalanya memberi jawaban jika mereka sudah makan, lalu mereka bertanya kembali "Bagaimana dengan Kak Risa apakah sudah makan?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya Kakak sudah makan baru saja selesai." jawab Kharisa.


Belum sempat banyak percakapan antara adik dan kakak itu tiba-tiba terdengar suara rintihan dari Gara. "Aaaaaaa." teriaknya.


Dengan cepat Kharisa pun mengakhiri panggilan video call itu tanpa mengatakan apa pun pada kedua adiknya. Vino dan Vano saling berpandangan seakan mereka bingung dan penuh tanda tanya.


"Ada apa?" tanya Kharisa.


"Aku haus." sahut Gara.


Kharisa yang dengan refleks mengambil gelas di atas meja terhenti saat Gara bersuara. "Siapa yang mengatakan aku ingin bantuan darimu?"


Kharisa yang menarik nafas lalu menghela dengan kasar segera keluar dari ruangan untuk memanggilkan salah satu suster untuk membantu suaminya.


Tak lama setelahnya suster pun datang. Ia membantu Gara untuk minum dan kemudian bertanya apakah ada yang akan dibutuhkan lagi namun, Gara hanya terdiam dan Kharisa mempersilahkan suster itu untuk keluar dari ruangan.


"Astaga mengapa ada manusia semacam dirinya ini?" gumam Kharisa.


Kini Kharisa pun kembali duduk di sofa untuk melanjutkan kerjanya, namun tidak hanya bekerja ia melakukan sebuah panggilan video yang ia tujukan pada Khard.


Mata Gara seketika tertuju dengan tajam, "Apa yang dia lakukan? melakukan panggilan video dengan pria lain sementara aku suaminya ada bersamanya saat ini." gumamnya.


"Benar-benar wanita murahan." lanjutnya lagi.


Nyatanya tidak seperti yang Gara bayangkan, saat ini Kharisa melakukan panggilan video untuk membahas beberapa pekerjaan yang telah ia selesaikan dan meminta untuk memeriksanya sementara Gara yang bosan mendengar percakapan kerja mereka itu memejamkan matanya untuk tertidur.


"Apa dia tidak sadar dengan tatapan pria itu padanya?" Gara kembali memperhatikan tatapan Khard yang sedari tadi memandang Kharisa dengan tatapan begitu dalam.


Mungkin karena Kharisa terlalu fokus dalam bekerja ia sampai tidak sadar jika sedang mendapat tatapan darj Khard.

__ADS_1


__ADS_2