Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 95. Pengeksekusian


__ADS_3

Sakitnya hempasan benda kokoh di iringi bunyi antara besi dan tubuh yang semakin hancur itu seakan melampiaskan seluruh sakit yang lama telah terpendam.


Mata kecoklatan khas orang luar yang berhias kelopak dengan kulit berkerut itu mengeluarkan buliran bening seiring tawa puasnya.


Manik mata itu menerawang jauh secercah harapan dan begitu banyaknya hal yang terselip dari semua perlakuannya saat ini. Tubuhnya pun bergerak merasakan reaksi setiap pukulan di tubuhnya.


Flashback on


"Please, help me..." Suara seorang wanita yang merintih kesakitan.


"Please don't...please..." Wanita itu menangis berusaha meronta kesakitan. Kedua kaki dan tangannya tampak di pegang beberapa pria yang terdengar tertawa menggetarkan seisi rumah tersebut.


"Dave, please help me!" tangisnya pecah ketika tubuhnya mulai bergerak mengikuti hentakan pria bertubuh kekar itu.


Sosok pria remaja yang tampan begitu terhenyak menyaksikan pertunjukan di depannya.


"Let me go! don't do that my sister, please!"


(lepaskan aku! jangan lakukan itu pada adikku, aku mohon).


Tubuhnya hanya bisa meronta namun sama sekali tak membuahkan hasil sedikitpun. Matanya berair tak sanggup berkata apa pun lagi.


Di seberang sana dua orang dewasa yang tidak lain adalah kedua orangtuanya menangis meraung. Hati siapa yang tidak nyeri melihat anak gadis mereka di perkosa bergilir dengan lima orang pria bertubuh sangat besar. Dan mereka hanya bisa menangis sementara tubuhnya sudah terikat di kursi.


"Cepat tandatangani surat ini! atau kau mau anak laki-lakimu juga kami bunuh? atau masih kurang untuk merasakan tubuh anak gadismu ini?" pekik seorang pria yang berwajah bringas dengan perawakan brewok berambut gondrong di ikat.


"Mom, Daddy, please." Mr. Dave berteriak memohon pada kedua orangtuanya untuk menyerahkan apa pun yang mereka minta. Sungguh kekuasaan akan bisa hilang kapan saja, namun adik kesayangannya tidak akan hadir untuk kedua kalinya.


"No!" teriak sang Daddy yang membulatkan matanya menatap istri dan anaknya sembari menggelengkan kepalanya.


Kekuasaan saat itu di pegang penuh oleh sang istri, karena memang istrinyalah yang jauh berkuasa atas kepemilikan saham di perusahaan tersebut.


"Mom, please!" Mr. Dave memohon pada sang Ibu.


Sekali lagi ia berteriak ketika mendengar rintihan sang adik yang kembali merasakan perlakuan kasar pada pria yang menyetubuhi dirinya.

__ADS_1


"Gracia!" teriaknya seketika membulatkan matanya melihat wajah lebam, bibir bengkak dan mata yang banjir akan air mata. Sementara kedua pahanya sudah terbuka begitu lebar memperlihatkan darah yang bersimbah di lantai bernuansa putih itu.


"Gracia..." ucap lirih sang Ibu yang melihat putrinya sudah tak lagi bergerak bahkan matanya tak lagi menutup dan menatap ke atas. Bibir mungilnya terbuka lebar.


Tanpa mendengar ucapan suaminya lagi, ia pun segera menandatangani surat penyerahan seluruh aset perusahaan mereka.


"No, Elisabeth!" bentak Frans yang masih tetap bersikeras menahan apa yang menjadi hak mereka.


Tangan wanita itu segera bergegas di atas kertas menandatangani surat yang sudah di letakkan di depannya.


Namun sayang, usahanya sama sekali tidak memberikan apa yang mereka harapkan.


Dor! Dor!


Dua kali suara tembakan pun terdengar melesat pada arah yang sama hanya bergeser sedikit. Mata coklat Mr. Dave membulat tak percaya melihat apa yang ia saksikan. Kedua orangtuanya meregang nyawa setelah mendapat tembakan tersebut.


Kini tangan yang menggenggam pistol itu kembali mengarah pada bocah remaja yang tersisa sendiri di ruang itu.


"Goodbye little boy." ucapnya terkekeh hingga suara itu menggelegar memenuhi ruangan tersebut.


"Sial! go...go!"


Para kawanan tersebut berlari melarikan diri, bagi mereka tak ada gunanya juga membawa Mr. Dave yang masih ingusan itu. Selama aset yang mereka inginkan sudah mereka dapatkan.


Flashback off


Bagi Mr. Dave hidupnya akan berarti jika ia bisa menguasai dunia seutuhnya dan hanya dengan menjadi seorang mafia ia akan mampu mewujudkan impiannya untuk menguasai dunia tanpa bisa di tindas siapapun lagi.


Tidak ada kehidupan lain yang ia inginkan, memiliki keluarga, baginya hanya akan menjadi kelemahan seperti apa yang terjadi pada orangtuanya.


Cinta. Hanya satu hal yang akan melumpuhkan akal sehat. Satu kata yang mampu menundukkan kekokohan pendirian diri kita.


"Cepat tandatangani ini!" kembali Mr. Dave di desak untuk menandatangani surat di depannya.


Semua kekayaan yang ia ambil paksa dari para pengusaha kaya dan tentunya berkat bantuan usaha Gara.

__ADS_1


Sejenak siksaan tersebut terhenti kala terdengar suara dering ponsel seorang penjaga di ruangan tersebut terdengar.


"Baik!" jawabnya setelah mendengar perintah dari atasan.


Dor!


Tembakan pun melesat di jantung Mr. Dave seketika tanpa ada tawar menawar lagi. Yah, Hengki telah memerintahkan untuk melenyapkan pria itu, dan untuk seluruh kekayaannya bisa di urus agar kembali pada pemilik masing-masing.


***


"Haaah, akhirnya." Gara tampak menghela napasnya kasar setelah membaca pesan dari Hengki.


Di sebuah hotel berbintang di Kota kecil tersebut, Gara memutuskan untuk menginap satu malam dengan istrinya karena memang perjalanan mereka tidak bisa segera mengejar waktu penerbangan.


"Ada apa?" tanya Kharisa mendekati sang suami.


"Mr. Dave sudah di eksekusi." sahut Gara.


"Innalilahi...apa tidak ada cara lain?" tanya Kharisa merasa hal itu sangat mengerikan baginya.


"Tidak, Mr. Dave orang yang berbahaya. Tidak akan ada ujungnya jika dia masih hidup. Aku akan mengembalikan semua hak yang sudah kami rebut dulu pada pemiliknya."


"Baiklah jika memang itu yang terbaik. Ayo mandilah. Kita besok harus segera berangkat." pintah Kharisa.


Malam sudah semakin larut, Gara tampak jauh lebih segar. Hatinya masih tampak gelisah mengkhawatirkan sang Ayah yang masih juga belum sadar.


"Mau aku pijat?" tawar Kharisa.


"Jangan, aku sedang tidak tenang. Jangan sampai kamu tidak bisa bangun besok." ucap Gara dengan tampang datarnya.


Kharisa sedikit mengernyitkan dahinya. "Aku memijat tubuhmu, tidak ada yang membuat ku sampai seperti yang kau katakan."


"Kalau memijat yang ini? apa kamu sanggup? aku sedang naik-naiknya ini? lebih baik kamu istirahat yah. Aku akan segera menyusul." pintah Gaya dengan senyum ganjilnya.


Kharisa tampak bergeleng kepala mendengar ucapan suaminya. Bisa-bisanya di saat seperti ini Gara masih membicarakan hal itu, tidak puaskah dia sudah mengurung istrinya selama berada di pulau itu? sampai Kharisa pun tidak sempat merasakan liburan bermain di pulau tersebut.

__ADS_1


__ADS_2