Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 98. Masa Lalu


__ADS_3

"Ya Tuhan, sudah kita ke rumah sakit. Aku tidak ada apa-apa dengan Randa. Sekarang khawatirkan Ayah saja." ucap Kharisa menghela napasnya.


Gara mendadak terdiam, hanya matanya yang menatap penuh penuntutan untuk kejelasan. "Bertahanlah menjadi pria gengsi." ketus Kharisa yang memutar malas bola matanya.


Keduanya saling berjauhan duduk di mobil tersebut dan memiringkan tubuhnya agar saling membelakangi.


Supir di depan hanya menggeleng pelan sembari nyengir sendiri memperhatikan pemandangan canggung dari spion di depannya.


"Anak sekarang wajahnya saja dewasa-dewasa, tapi tingkahnya masih bocah hehehe." batinnya.


***


Dua bulan telah berlalu semenjak kepulangan Gara dan Kharisa dari bulan madu yang gatot alias gagal total itu, kini semua sudah berjalan semestinya.


Langit yang masih menyisakan tangis embunnya kini perlahan mulai terhenti seiring terpancarnya mentari yang cerah. Pagi itu para keluarga di kediaman Tuan Tedy nampak bahagia menikmati pemandangan di halaman rumah.


"Kakak dan Kakak ipar jangan mesra di depan kami yang polos ini. Nanti kita iri bagaimana? apa Kakak ipar mau meminjamkan Kak Risa?" celoteh Vino sembari menaikkan sebelah alisnya.


"Cari di luar sana, enak saja pinjam-pinjam. Mau ku cabut pita suaramu!" sentak Gara menajamkan tatapannya.


"Berani kamu sakiti adikku?" Kharisa menatap kesal pada suaminya yang tengah merangkul pinggangnya dengan posisi duduk di kursi taman.


"Berani, tidak ada yang boleh menyentuhmu. Meskipun kedua adikmu." ujar Gara menantang.


"Vino, Vano, ingat nasehat Kakak. Pacaran itu hanya membuang-buang waktu."


"Siap Kak Risa. Tapi ngomong-ngomong Kakak ipar kok sensi sekali sih belakang ini. Kemarin Randa yang di pukul gara-gara habis bantu Kak Risa menyelesaikan kerjaan." ucap Vino keceplosan dan saat itu juga tangannya membungkam mulutnya.


Tuan Tedy yang masih duduk di kursi roda di temani Nyonya Harina tercengang menatap ke arah Gara bersamaan dengan Kharisa.


Gara menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak, Vino. Kamu bicara apa?" tanyanya gugup.


"Ada apa denganmu, Gara? Randa itu sahabatmu yang paling setia, bukan?" tanya Nyonya Harina tidak habis pikir.


"Sejak kapan kamu jadi seperti itu? aku hanya meminta tolong dengan Randa. Kamu tidak bisa kan?" tanya Kharisa.


Entah bagaimana bisa, ucapan Kharisa mendadak membuat hatinya menjadi rendah. "Iya aku tidak bisa membantumu. Randa jauh lebih dari segalanya. Itukan yang membuatmu meminta bantuannya." Gara berbicara meninggikan suara hingga semuanya menjadi bingung.


Pria itu melangkah cepat memasuki rumahnya dengan wajah merah padam. Menyala kala mentari pagi itu menyoroti wajah putihnya.


Kharisa menggeleng melihat tingkah kekanakan suaminya. "Ada apa dengannya, Bu?" tanya Kharisa lemas.

__ADS_1


"Ibu juga tidak tahu, Sayang. Sudah sepertinya suasana hatinya sedang tidak enak saat ini. Makanya dia sensi sekali." seru Nyonya Harina menenangkan menantunya.


"Ibu sih mintanya waktu itu sambil ngambek-ngambek, jadinya gini deh." ledek Tuan Tedy sembari mengulum senyum.


"Is...si Ayah malah bercanda. Itu nurut sifat Ayah tuh. Pemarahan, pengambekan lagi. Kharisa, nanti kalau buatin cucu Ibu jangan seperti Gara yah? susah di atur. Pusing kepala Ibu."


Sejenak senyuman Kharisa menghilang saat teringat suatu hal. "Cucu..." ujarnya lirih hingga tak terdengar.


Yah dua bulan sudah ia sama sekali tidak memperdulikan tamu bulanannya. "Kharisa masuk ke dalam duluan yah, Ibu, Ayah?"


"Yasudah ayo Kak, bareng." ajak Vano berjalan beriringan bersama sang Kakak. Sementara Tuan Tedy dan Nyonya Harina tinggal bersama dengan Vino. Jangan di tanya dimana Randa, pria itu sedang tidak sehat di dalam kamar. Akibat peringatan keras yang di beri oleh Gara.


Di dalam kamar,


"Ish...tega yah nyakitin teman yang sudah setia hanya demi istri. Kalo bukan teman terbaik sudah ku balas." gerutu Randa.


Brakk...


Suara hempasan pintu terdengar terbuka mendadak. Randa bahkan terkejut melihat kehadiran Gara di dalam kamarnya.


Keduanya saling menatap tajam. Randa pun enggan berkomentar apa pun pada sahabatnya itu.


"Maaf." ujar Gara selepas menghempaskan tubuhnya di atas kasur empuk milik sahabatnya.


"Tuh." sahut Gara menunjuk dengan dagunya pada wajah sang sahabat.


"Bisa yah? gara-gara istri sampai ngorbanin sahabat." ledek Randa lagi.


"Ah...aku juga tidak tahu kenapa sulit mengendalikan kemarahan saat ini." tutur Gara frustasi.


"PMS kali..." ledek Randa sesekali memegang wajahnya yang lebam.


Kharisa yang menuju dapur segera menghampiri sang pelayan yang tengah sibuk berkutat dengan peralatan masak di sana.


"Bibi, tolong Kharisa dong. Belikan test pack di minimarket."


"Hah? Nyonya hamil?" kedua pelayan tersebut langsung tercengang heboh.


"Ssst jangan berisik Bibi. Kharisa juga belum tahu. Makanya tolong beliin dulu yah?" pintah Kharisa tersenyum memohon.


"Baik, Nyonya."

__ADS_1


Setelah kepergian salah satu pelayan tersebut, kini Kharisa pun beranjak menuju halaman yang baru-baru ini di sediakan oleh sang suami untuknya berlatih memanah.


Sudah seminggu belakangan, Kharisa kembali menggeluti hoby memanah yang sudah lama ia tinggalkan karena begitu banyaknya tragedi belakangan ini.


Tangan lentik nan mulus itu kini mulai menarik anak panah tersebut. Sebelah mata Kharisa mulai menyipit kala memfokuskan pandangannya pada sasaran di depan. Terdengar melesat kencang, namun sayang sasaran Kharisa kali ini melesat jauh dari arah sasarannya.


"Ayo fokuskan bidikannya, Kharisa."


Kharisa menoleh ke arah sumber suara, tampak wanita paruh baya mendekati dirinya dengan senyuman teduh.


"Ibu..." ucapnya.


Dua wanita itu kini saling berlomba untuk memanah. Nyonya Harina satu jalur dengan menantunya. Mereka memiliki hoby yang sama.


Di sela-sela aksi keduanya. "Kharisa..." panggil Nyonya Harina.


"Iya, Bu." jawab Kharisa masih sambil memfokuskan tujuannya.


"Apa kamu mencintai anak Ibu?" tanya Nyonya Harina tanpa memandang menantunya.


Kharisa tersenyum. "Apa senyuman bahagia Kharisa masih tidak memperlihatkan cinta itu, Bu?" tanyanya.


"Terimakasih yah, Nak. Kamu menerima masa depan dan masa lalu anak Ibu?" tanya Nyonya Harina lagi.


Kharisa melepaskan busur di tangannya kemudian tersenyum menatap mertuanya. "Kharisa mencintai suami Kharisa, Bu. Gara sudah berusaha berubah demi pernikahan kami. Kharisa tentu menerima baik maupun buruknya Gara."


***


Sedangkan di kamar,


"Bagaimana sudah selesai semua pengembalian hak atas para korban itu?" tanya Gara menatap Randa.


Keduanya berbicara begitu serius, "Ayah, Vano mau datangi Randa dulu. Pagi ini Vino sama Vano ada tugas kampus, jadi mau minta titip hasil kerja kemarin dengan Randa." ucap Vano melewati sang Ayah.


Tuan Tedy tersenyum mengangguk. Namun sayang langkah adik Kharisa terhenti di depan pintu kamar itu, ia menghentikan langkahnya saat mendengar perbincangan Gara dan Randa yang tanpa sengaja.


"Ada beberapa keluarga yang belum menerima hak mereka," Raut wajah Randa menegang kala menatap Gara. "Salah satunya keluarga istrimu, Kharisa."


Mata tajam Gara yang teduh seketika membulat sempurna, mendengar ucapan sahabatnya itu. Bibir merah mudanya terbuka dengan gerakan refleks.


Bibir itu tergerak gagap. "Mak-maksudmu? Kharisa? keluarga Kharisa juga korban? begitu? Dan korban dari kita? tidak...tidak mungkin Randa." Gara begitu syok mengetahui kebenaran itu.

__ADS_1


Begitu juga dengan pria yang tengah berdiri mematung di depan pintu, tangannya sudah mengepal erat, bahkan wajahnya yang putih itu memerah bak anak tikus yang baru lahir.


__ADS_2