
Tepat di sebuah pabrik, seorang pria dengan penampilan penyamaran nyaris tak terlihat sedang berdiri di sebelah dinding pembatas. Mata tajamnya tak lepas menatap sosok mobil yang baru saja berhenti di sebuah tempat parkir yang terbuka itu.
"Aku sungguh tidak sabar membawamu pulang hari ini, Kharisa." ujarnya lirih seraya tersenyum licik.
Senyuman yang tampak ganjil itu seketika padam saat melihat sosok pria bertubuh tinggi dari dalam mobil memijakkan kakinya sempurna di bumi itu. Dahinya berkerut hingga membentuk beberapa lipatan. Bahkan tangannya sudah menghantam keras dinding di sisinya.
"Sial, jadwal apa-apaan ini?" umpatnya kesal merasa tertipu kali ini dengan jadwal yang Reynka sudah dapatkan dari seorang mata-mata.
Dari kejauhan tampak Gara sudah membukakan pintu mobil untuk sang istri dengan bergandengan tangan keduanya pun berjalan memasuki area dengan di temani kepala pimpinan pabrik milik perusahaan CW Sejahtera itu.
Begitu terlihat jelas di wajah Khard ketidak relaan melihat wanita yang begitu ia cintai kini tersenyum bahagia bersama pria yang pernah menjadi majikannya.
"Aaaaa." Suara teriakan Kharisa mengundang kepanikan siapa pun yang mendengar.
Khard yang tanpa sadar hampir saja berlari untuk meraih tubuh Kharisa meski mereka memiliki jarak jauh. Sayangnya Gara lah yang memenangkan kesempatan untuk menyelamatkan Kharisa.
Wanita itu hampir saja terjatuh karena high heelsnya tersandung kayu yang melintang di bawah kakinya.
"Lain kali hati-hati jangan memandangiku terus." Wajah Kharisa merona merah mendengar kepedean tingkat dewa suaminya itu.
Kharisa dengan sigapnya mendorong tubuh suaminya yang masih mendekapnya. "Sembarangan kalau bicara." celetuknya kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan sang suami.
Yah seperti jadwal yang di dapat Khard sebelumnya, jika sebenarnya hari ini adalah jadwal Kharisa untuk memantau seorang diri. Karena seharusnya Gara berada di sebuah proyek untuk melihat proses pembuatan tempat wisata yang digunakan untuk masyarakat dari perusahaan CW Sejahtera. Namun siapa yang bisa menghalau jika sang Tuan sudah mengatakan tidak ingin di pisahkan dari sang istri.
Alhasil Khard yang merasakan begitu kecewa kali ini.
Tanpa ada yang menyadari jika pria itu terus menatap pergerakan Kharisa dari sudut yang tersembunyi.
Tiba-tiba Kharisa melihat ke arah lain, matanya menangkap sosok pria yang menatap ke arahnya dengan jarak yang sudah tidak begitu jauh lagi.
"Khard..."ucapnya lirih.
Mata yang sangat ia kenal, yah pandangan penuh ambisi untuk menguasai Kharisa masih jelas terngiang di ingatan wanita itu. Kharisa yang tadinya sangat antusias melihat ke sekeliling bangunan itu mendadak diam mematung.
Di belakang sana Gara tengah berbincang serius dengan pria yang bekerja di tempat itu. Wajahnya mencermati sang istri yang diam membisu terlihat mencari kesana kemari entah apa. Dengan cepat Gara berlari mendekati sang istri.
"Ada apa?" tanyanya penasaran setelah sampai di sisi Kharisa.
"Dia...dia ada disini." ucap Kharisa.
__ADS_1
Gara tentu paham siapa orang di maksud Kharisa. "Ikuti aku!" Kharisa mulai berlari mengikuti langkah lebar kaki sang suami.
Gara terus menatap berbagai sudut tempat itu mencari Khard. Kali ini adalah kesempatan emas untuknya membalas apa yang sudah lama ingin ia lampiaskan.
"Jika aku menemukanmu di sini lihat, Khard. Aku tidak akan mengampunimu." batin Gara geram.
Bayangan mendadak terlintas di penglihatan Gara. Dengan cepat pria itu berlari dengan menggandeng tangan Kharisa. Ia tidak ingin gegabah dengan kemarahan dan mengakibatkan Kharisa terlupakan.
"Sialan mengapa aku jadi ketahuan. Aku tidak ingin membuat keributan di tempat seperti ini. Aku belum mendapatkan Kharisa." Khard mulai panik.
Ia kini sudah berada di ruangan yang terlihat sebagai tempat pengolahan produk. Dari lantai itu terlihat beberapa alat yang tengah bergerak berputar mengolah bahan-bahan di bawah sana.
Derap langkah kaki Gara dan Kharisa pun terdengar semakin mendekat. Pandangan Khard semakin tidak fokus, ia terus menghindari keduanya hingga perlahan ia mundur semakin mundur dan semakin mundur.
"Ternyata kau masih ingin aku yang menghabisimu, Khard?" Suara Gara terdengar berat. Tangannya sudah mengepal geram mendapati Khard berada di depannya.
Tidak ada tempat untuk bisa berlari lagi, karena beberapa pekerja di pabrik itu ikut menyaksikan keberadaan Khard di tempat yang tidak semestinya ia kunjungi.
Dengan penuh percaya diri, pria itu merubah ekspresi wajah yang tadinya cemas kini terkekeh. "Untuk apa kau menghabisiku? kau takut jika Kharisa akan jadi milikku?"
Mendengar ucapan yang berupa ejekan Gara sudah tidak bisa menahan kemarahannya. Hari ini Tuhan sudah memberikan kesempatan khusus untuknya melampiaskan kemarahannya yang tertunda selama ini.
Pria itu dengan cekatan sudah melayangkan satu tendangan ke wajah Khard. Kaki jenjangnya melayang berkali-kali di kepala Khard. Kharisa yang terkejut melihat aksi suaminya hanya bisa membungkam mulutnya sendiri.
Darah segar bercucuran di bibir Khard. Pria tampak ingin melawan dengan meraih kaki Gara, namun sayangnya Gara sudah melingkari tubuh Khard dengan tubuhnya yang sempat menggantungkan kaki di leher pria itu.
Kini Gara kembali memelintir tangan Khard ke belakang.
"Ahhhh." Terdengar rintihan Khard meringis kesakitan.
"Gara, hentikan." Kharisa berteriak sembari berlari mendekati keduanya.
"Kharisa jangan mendekat!" teriak Gara.
Namun sayangnya Khard justru memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong Gara dan melepaskan diri.
Gara tersungkur ke lantai sementara Khard sudah berlari dan menerkam Kharisa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kharisa saat Khard sudah memeluknya dan merubah posisi keduanya menjadi Khard memeluk Kharisa dari belang tak lupa satu pisau tajam ia raih di pinggangnya dan di arahkan pada leher Kharisa.
__ADS_1
"Pergi denganku, dan untukmu jangan mendekat!" ancam Khard pada Gara.
Gara perlahan mendekati, "Ah..." Kharisa merintih kesakitan merasakan kulit lehernya tergores benda tajam itu.
"Khard, kau melukainya." teriak Gara panik.
"Aku katakan jangan mendekat! aku tidak akan segan membunuh Kharisa. Jika dia tidak bisa bersamaku, makan kau pun tidak akan bisa bersamanya."
Ketiganya berputar layaknya orang yang tengah mengambil ancang-ancang untuk bertanding. Kharisa terus diam mengikuti langkah Khard di belakangnya.
Mata Gara dan Khard saling bertaut tanpa sadar jika langkah mereka semakin meluas. Dan semakin menjauh.
Perputaran terus terjadi, Khard tengah berpikir keras bagaimana ia akan membawa Kharisa keluar dari tempat itu jika keadaan sudah semakin ramai. Bahkan tempat untuk mereka keluar itu sangat mudah di jangkau.
Suasana begitu menegang. Gara berpikir apa yang harus ia lakukan agar bisa meraih Kharisa tanpa memberikan luka baru lagi dari benda tajam itu.
Wajah tegang kini semakin tak terkendali kala langkah Khard mendekati sebuah alat pengolah produk di bawah sana.
"Khard, awas!" teriak Gara namun sayang teriakan itu bahkan tidak bisa mencegah keduanya jatuh.
"Kharisa!" Gara berlari mendekat dan melihat Khard dan Kharisa menggantung di sebuah besi yang terpasang di sana.
"Gara tolong aku." Kharisa menangis ketakutan melihat ke bawah. Ia tidak siap jika harus tergiling dan hancur.
Gara meraih tangan sang istri, sementara Khard sudah ikut menggantung di tubuh Kharisa.
"Hei kalian matikan mesin!" teriak Gara panik. Sebagian pekerja tampak ikut membantu.
Proses tarik menarik akhirnya membuahkan hasil. Kharisa sudah hampir naik ke atas sementara Khard masih menggantung di kaki Kharisa. Pria itu lelah, karena tangannya masih belum begitu pulih akibat benturan saat mendapat hukuman di sel tahanan.
"Ayo pegang tangan ku." pintah Gara pada Khard setelah berhasil menolong Kharisa dan memeluk sang istri.
Khard dan Gara saling tatap, pria itu terdiam membisu. Ia tidak menyangka jika Gara yang seharusnya membunuh dirinya saat ini justru masih mau menolongnya. Setitik cairan bening lolos di wajah Khard saat melihat uluran tangan Khard yang sudah tidak bertumpu di tubuh Kharisa melainkan sebatang besi.
"Maafkan aku Gara, Kharisa." ucapnya dan pria itu mencoba meraih tangan Gara namun sayangnya tangan satunya sudah tidak sanggup menanggung beban tubuhnya hingga akhirnya ia tergiling bersama bahan olahan di bawah sana.
Kharisa dan Gara terkejut, panik dan syok. Begitu juga dengan beberapa pekerja yang ikut menyaksikan insiden mengerikan itu.
Semua tidak ada yang menduga jika Khard akan bernasib semalang itu. Begitu pula dengan sikap Gara, tidak ada yang menduga jika tangannya akan siap terulur untuk pria yang sudah mengambil kesucian istrinya.
__ADS_1
Begitulah kehidupan, selamanya tidak akan saling berbalas. Terkadang keburukan tidak harus di balas keburukan. Karena sejatinya suatu teguran akan ada ganjaran yang setimpal.