Game Pernikahan Mafia

Game Pernikahan Mafia
Chapter 21. Kemarahan Kharisa


__ADS_3

Sampai hari sudah semakin larut, Kharisa yang merasa kelelahan akhirnya memutuskan untuk menyudahi kerjanya dan mengakhiri panggilan video itu juga.


Sebelum panggilan video itu terputus Kharisa mengatakan. "Khard, maafkan aku banyak merepotkan mu. Dan ini saja masih sebagian, belum yang lainnya lagi yang sama sekali belum ku pelajari." ucap Kharisa.


Khard tersenyum mendengarnya. "Tidak apa-apa, aku akan membantumu sebisaku. Tapi waktunya ku rasanya sangat kurang. Sepertinya kita harus sering menambah waktu dan tentu tidak melalui panggilan video seperti ini." sahut Khard.


"Baiklah aku akan mencari waktu yang lebih banyak lagi nanti." jawab Kharisa.


Panggilan video pun berakhir, kini Kharisa yang menoleh pada Gara memastikan jika pria yang suka mencari gara-gara padanya itu sudah tidur.


"Sebaiknya kau tidur selamanya saja, aku lelah jika harus menghadapi dirimu itu." tutur Kharisa terdengar pelan namun jelas di telinga Gara.


"Kurang ajar dia, berani sekali menyumpahi diriku tidur selamanya." gumamnya tanpa mau membuka mata.


Kini malam yang melelahkan bagi Kharisa kembali menyapa, setelah satu hari ia menghadapi berbagai cobaan hidup kini saatnya baginya untuk mengistirahatkan tubuh dan fikirannya.


Mata indah yang perlahan mulai menutup seakan begitu menikmati dinginnya malam, meresapi kelelahan yang yang kian tak tertahankan lagi.


Gara yang memperhatikan dari tempat tidurnya, menatap acuh pada wanita cantik itu.


Akhirnya keduanya tidur tanpa ada kata-kata yang terucap dari mereka entah itu hanya ucapan selamat tidur sekali pun.


***


Beberapa hari telah berlalu Gara yang masih berada di dalam rumah sakit kini ditemani oleh utusan dari Mr. Dave, yaitu Randa.


Sementara Tuan Tedy juga sedang lemah dan ia tidak sanggup untuk ke kantor hanya ada dua orang yang bisa ia harapkan yaitu Khard dan Kharisa.


"Aku pergi dulu, dan kau aku titip suamiku." ucap Kharisa.


"Pergilah! bila perlu tidak usah kembali." sahut Gara.


Kharisa yang tidak menjawab hanya menatap Gara dengan tatapan tajam. Bagaimana tidak, masih sepagi ini dia sudah mencari gara-gara dengan istrinya.


Randa yang tampak berdiri tegak di dalam ruang itu, segera disuruh oleh Gara.


"Randa, Aku ingin kau mengawasi dia dan laki-laki itu pastikan jika mereka tidak melakukan sesuatu pada perusahaan Ayahku." pintah Gara.


"Tapi Tuan, saya di perintahkan kemari pada Mr.Dave untuk anda bukan untuk keluarga anda." bantah Randa.


"Randa." panggil Gara seakan penuh kemarahan pada pria itu.

__ADS_1


Akhirnya dengan berat hati Randa pun meninggalkan Gara di ruangan sendiri dan mengikuti perintahnya untuk mengawasi Kharisa dan Khard di perusahaan itu.


Setiap waktu setiap gerakan yang Kharisa dan Khard lakukan selalu di laporkan oleh Randa pada Gara. Sejauh ini gerak-gerik mereka berdua masih tidak ada yang mencurigakan.


Di ruang rawat saat ini Gara sedang di temani oleh salah satu anggota dari Randa. Dialah yang menghubungkan Gara dengan Randa melalui ponselnya, karena saat ini Gara yang masih tidak bisa melakukan hal apa pun.


"Randa, sebaiknya kau pulang kemari saja." pintah Gara.


"Baik Tuan," jawab Randa dengan cepat dan berlalu pergi meninggalkan kantor itu.


Namun Gara yang terus menatap beberapa foto yang di berikan Randa merasa ada yang aneh, ia melihat tatapan yang begitu terus tertuju pada istrinya seakan membuatnya merasa ada yang tidak beres.


"Apakah kamu melihat ada yang aneh dengan foto ini?" tanya Gara.


Hening sesaat, pria itu menatap ponsel di genggamannya kemudian ia mencerna apa maksud pertanyaan dari Gara. "Pria itu mengagumi istri anda, Tuan." jawabnya dengan sedikit ragu.


Gara tersenyum menyeringai seakan ia mendapatkan celah bagaimana agar pernikahannya bisa lepas. "Baiklah kalau begitu akan ku biarkan mereka menikmati waktu lebih lama lagi agar semua berjalan dengan semestinya, dan sepertinya aku tidak perlu melakukan hal apa-apa lagi." ucap Gara.


"Astaga baru kali ini aku melihat suami seperti ini, bagaimana justru dia bisa merasa senang ketika istrinya mendapat perasaan cinta dari pria lain?" tanya pria itu dalam hatinya.


Di kantor, Kharisa yang begitu fokus pada kerjanya tanpa sadar jika saat ini Khard sudah menarik kursi untuk berada lebih dekat dengannya.


"Yah." sahut Kharisa tanpa menatap pria di sampingnya itu.


"Boleh aku minta waktumu sebentar?" tanya Khard.


Kharisa yang baru tersadar dengan suara yang begitu jelas terdengar di dekatnya segera menatap dengan wajah kaget. "Astaga sejak kapan kau ada di sini?" tanyanya dengan canggung.


"Kharisa, itu tidak penting. Yang terpenting saat ini aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Khard pun meraih tangan Kharisa yang berada di atas keyboard laptop.


Namun dengan cepat Kharisa mendorong tangan itu untuk menyingkir dari genggamannya.


"Kharisa, aku mengagumimu sejak pertama aku melihat mu." tutur Khard berterus terang tentang perasaannya.


Kharisa yang terkejut mendengarnya, hanya terdiam tanpa bisa mengatakan apa-apa lagi. Matanya berulang kali bergerak kesana-kemari memandangi wajah Khard seolah mencari tahu kebenaran apa yang telah ia dengar barusan.


Hari menunjukkan sudah semakin sore, Kharisa pun memutuskan untuk segera pergi dari ruang kerjanya dan menuju rumah sakit.


"Kharisa." panggil Khard yang ingin mencegah Kharisa pergi dari ruangan itu, namun Kharisa sudah berlalu begitu cepat meninggalkannya seorang diri.


Suasana kantor tampak sepi para pekerja semua sudah pulang dan Khard segera mengemasi barangnya kemudian pulang.

__ADS_1


Di perjalanan Kharisa yang berada di dalam taksi terus berpikir apa benar yang barusan Khard katakan padanya, namun selama ini Kharisa sama sekali tidak menyadari akan hal itu. Ia hanya fokus untuk bekerja dan bekerja namun setelah Khard mengatakan padanya ia tidak tahu harus bagaimana lagi saat ini bersikap pada pria itu


"Mengapa dia bisa merasakan hal seperti itu?apa dia tidak berpikir jika aku sudah menikah saat ini dan aku menikah dengan anak dari atasannya?" gumam Kharisa yang tampak tidak habis fikir.


Tak lama setelah perjalanan singkat itu Kharisa pun tiba di depan sebuah rumah sakit yang mana Gara saat ini sedang dirawat.


"Aku lelah tapi aku masih harus menghadapi pria itu, bersabarlah Kharisa kau pasti bisa." ucapnya dengan menghela nafasnya kemudian membentuk sebuah senyuman agar memberi semangat pada dirinya sendiri.


Terlihat dari lorong rumah sakit, tepatnya di depan sebuah ruang rawat Gara terlihat Randa dan satu pengawalnya lagi berdiri menatapnya.


"Orang sakit sudah seperti buronan saja harus di jaga dengan dua pria seperti itu." gumam Kharisa.


"Apa kalian tidak mengijinkan aku untuk masuk?" tanya Kharisa yang menatap dua pria itu tanpa mempersilahkannya melewati mereka.


Randa pun membukakan pintu dan membiarkan Kharisa masuk ke dalam ruangan. Belum saja Kharisa duduk ia sudah mendapat sambutan dari tatapan Gara yang begitu tajam padanya.


"Mengapa cepat sekali pulangnya kupikir kau sudah lupa untuk pulang?" tanya Gara dengan tatapan menyelidik.


"Sudah sebaiknya kau istirahatlah dengan baik aku lelah." jawab Kharisa enggan untuk berdebat lagi dengan Gara.


"Cih...lelah? apa karena pria itu begitu sangat kuat?"


Kharisa yang mendengar perkataan Gara menatap bingung. "Apa maksud perkataanmu itu?" tanyanya mendekat pada Gara.


"Aku tahu kau pulang jauh lebih lambat dari jam kerja karena telah menghabiskan waktu kencan mu dengannya, kan?"


Kharisa sungguh tak habis pikir dengan ucapan suaminya. Bagaimana bisa ia mengatakan hal seperti itu sementara seharian ini Kharisa bekerja begitu giat di kantor tanpa memikirkan hal apa pun bahkan untuk istirahat saja dia tidak melakukannya.


"Apa yang kau pikirkan tentang aku dengannya?" tanya Kharisa meyakinkan jika dirinya sedang tidak salah mencerna ucapan Gara.


"Seperti wanita lainnya, tidak mendapat perlakuan baik dari suaminya dan dia menginginkan perlakuan baik dari pria lain. Seperti itu apa masih kurang jelas? baiklah kalau begitu akan lebih ku perjelas lagi, kau sudah menghabiskan berapa waktu lama dengannya? lalu apa dia juga terlihat kelelahan dengan permainan liarmu itu?" tanya Gara begitu sangat merendahkan Kharisa hingga ia merasa lelah dan rasa sabarnya rasanya benar-benar sedang di uji oleh Gara.


"Plaaaaak." Suara tamparan Kharisa tiba-tiba terdengar menggema di wajah pria yang tidak lain adalah suaminya sendiri.


"Aku memperlakukanmu dengan baik karena aku menghormati jika dirimu adalah suamiku, tapi ternyata aku salah, kau bukan pria yang pantas untuk di hormati dan kau sangat tidak pantas untuk di sebut sebagai seorang suami." tutur Kharisa dengan menatap penuh amarah pada Gara.


Sementara Gara semakin memperlihatkan kemarahannya juga sembari menahan diri karena tangannya memang masih belum juga bisa ia gunakan.


Kharisa yang segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri sama sekali tidak bersedih.


"Tenang Kharisa kau pasti kuat, ini semua demi Tuan Tedy. Harapannya begitu besar padamu. Setidaknya aku harus bisa membuat putranya sadar hingga ia mau bersikap dewasa. Selebihnya tentang pernikahan itu sebaiknya aku serahkan padamu, Tuhan. Aku yakin semua akan baik pada waktunya meski pun itu sebuah perpisahan nantinya "

__ADS_1


__ADS_2