
Ruangan yang berdominasi putih itu tampak memberikan kesan menegangkan. Berbeda dari tempat lainnya yang selalu memberikan ketenangan jika melihat ruangan serba putih.
Suara tangisan terdengar memenuhi ruang tunggu itu. "Ibu, tenanglah Ayah pasti sembuh." ujar Vano menenangkan Nyonya Harina yang masih ketakutan.
Bagaimana bisa tenang, selama di perjalanan tadi Tuan Tedy terus saja berbicara tentang semua perasaannya pada sang istri.
Sementara mobil mewah hitam tampak melaju dengan kecepatan tinggi. Seorang pria duduk bersandar dengan tubuh tegasnya di temani seorang wanita muda yang tengah bergelayut manja di lengannya.
"Sayang, maafkan aku yah? kita batal untuk shopping hari ini. Besok kita akan berangkat ke Paris. Hari ini kita tunda dulu. Kasihan Tedy dan Harina." bujuk Hengki pada sang istri yang masih tampak bau kencur itu.
Senyuman manis terlukis di wajah cantik Resa. "Iya, tidak apa-apa. Yang penting besok jadi yah?" ujarnya sembari memasukkan tubuhnya kedalam pelukan sang suami.
"Iya, Baby." Hengki tampak mencium kening sang istri mungilnya tersebut.
Perjalanan mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sakit. Dimana Tuan Tedy tengah berusaha untuk pulih.
"Jangan menangis. Semuanya sudah aku tangani. Tenanglah." Suara Hengki terdengar mampu membungkam tangis Nyonya Harina yang masih saja memenuhi ruang tunggu tersebut.
Wajahnya yang sembab menengadah mencoba melihat siapa yang datang. "Hengki..."
"Maafkan aku, atas kesalahan ku waktu itu karena tidak menghabisinya sekarang aku akan menebus dengan melenyapkan sampai ke akar-akarnya."
Vino, Vano, dan Nyonya Harina tampak menegang mendengar apa yang pria itu katakan, melenyapkan? apa itu artinya akan di bunuh?
"Wajah kalian jangan menegang seperti itu. Itu adalah hal yang biasa. Bagaimana kabar Tedy?"
"Suamiku...dia masih di tangani dokter. Bagaimana kau bisa tahu keadaan kami?" lanjut Nyonya Harina lagi.
"Kebetulan aku di beri kabar oleh anakmu. Maka dari itu aku segera ke rumah, ternyata kalian sudah berada di sini." terang Hengki lagi.
"Gara, maafkan kami Hengki. Sudah begitu merepotkanmu."
"It's okey."
"Itu anaknya boleh juga." bisik Vino yang melirik Resa di sebelah Hengki.
__ADS_1
"Hus...kamu mau sama anaknya? langkahi dulu bokapnya tuh. Sudah siap di potong jadi empat bagian tubuhmu?" balas Vano dengan enggan menatap ke arah Resa.
"Apa pun aku bakal langkahi kalau bisa dapat anaknya. Cantik bening banget."
Hengki yang sadar akan tatapan Vino merasa tahu apa yang ada di pikiran bocah itu. "Ehem..."
Vino seketika membuyarkan pandangannya dari Resa.
***
"Pak, tolong speednya di lajuka sedikit bisa?" Gara begitu tampak tidak sabar melihat perjalanan mereka yang masih membutuhkan waktu lebih lama lagi.
"Tenanglah, bukankah kau sudah meminta bantuan dengan Tuan Hengki?" ujar Kharisa yang mengelus lengan suaminya.
"Kharisa, aku takut terjadi apa-apa dengan Ayah. Kau tahu kan bagaimana jantung Ayah? Bagaimana jika..."
"Hey...lihat aku. Ayah akan baik-baik saja. Ayah akan menunggu anak kita yang lucu-lucu lahir. Ayah sedang menunggu kehamilanku, bukan?" Kharisa meraih kedua pipi sang suami agar menatap lurus padanya.
Mereka saling memandang begitu dalam, bahkan hempasan ombak yang terus menerjang speed tersebut sama sekali tak terasa lagi baginya.
Gara akhirnya tenang dan memeluk tubuh istrinya. Mereka hanya bisa pasrah dengan keadaan saat ini. Berharap apa yang di katakan Kharisa benar. Tuan Tedy akan baik-baik saja.
"Terimakasih yah. Kau selalu menenangkan aku." Mata sendu Gara tampak melihat pantulan wajahnya pada netra indah Kharisa.
"Aku mencintaimu."
Tanpa membalas ucapan Kharisa lagi, keduanya menyatukan bibir mereka sembari menikmati lautan lepas saat itu.
"Haduuuh nasib pengemudi." batin seorang pria yang mengemudikan speed itu.
Ombak pun semakin terasa menghantam speed mereka. Mengingat cuaca malam di laut begitu kencang.
"Maaf, Pak, Bu. Seperti kita tidak bisa melaju. Ombaknya kencang sekali." ujar sang pengemudi.
Gara dan Kharisa yang tengah memadu kasih akhirnya tersadar karena teguran pria itu.
__ADS_1
"Oh, iya." sahut Gara.
Kharisa mengusap beberapa kali lengannya yang terasa begitu dingin.
"Apa kau kedinginan?" tanya Gara, tanpa menjawab Kharisa hanya mampu mengangguk pelan.
"Sepertinya kita tidak bisa pulang malam ini. Lihat ini sudah malam kita belum pesan tiket juga." ujar Kharisa.
Benar, mereka sampai tidak sempat memikirkan untuk memesan tiket online. Kecemasan sudah memenuhi pikiran mereka. Bahkan jaringan saat ini pun sangat sulit di jangkau.
"Kita pikirkan nanti setelah sampai di Kota saja yah?" tanya Gara meminta persetujuan sang istri.
"Iya, semoga semua baik-baik saja." ujar Kharisa seraya tersenyum teduh.
"Kemari." Gara memasukkan tubuh istrinya kedalam pelukannya agar saling hangat. Kharisa tak berkata apapun lagi. Matanya hanya menatap ke atas yang menampilkan dagu sang suami.
Sangat nyaman, meski dalam cuaca yang begitu dingin. Ia merasa ingin menghentikan waktu saat ini juga.
"Tuhan, ini bahagiaku. Aku sangat nyaman dengan hal sederhana seperti ini. Aku mohon berikan keluarga kami kebahagiaan selalu. Dan berikan cinta yang tidak akan pernah habis untukku darinya. Aku mencintaimu, Garaku." batin Kharisa kemudian melingkarkan kedua tangannya pada tubuh sang suami.
***
Suasana di sebuah ruangan minim pencahayaan tampak seorang pria yang tengah di ikat rantai besar yang menempel pada tembok lusuh tersebut. Tempat tersebut tampak seperti ruangan pengeksekusian.
"Aah...tolong...!" Suara berat nan lirih terdengar bergema memenuhi ruangan itu tatkala besi panjang kembali menghantam tubuhnya yang sudah tampak basah. Bukan karena air, melainkan darah yang keluar dari setiap luka di tubuhnya.
"To...long... lepaskan saya. Please." Suara Mr. Dave terdengar semakin melemah.
Pukulan kembali menghantam tubuhnya, "Ah...."
Pukulan terus menghantam tubuhnya, kini ia tak lagi bersuara. Hanya pasrah dan berharap detik kematiannya segera tiba.
Semua perilakunya pada anggota mafia terputar kembali di benaknya seperti tampilan kaset. Tubuhnya yang berdiri dengan kedua tangan yang merentang ke atas terikat rantai terus bergerak setiap pukulan menghampirinya.
Buliran bening pun lolos begitu saja di kedua pipinya yang mulai tak berkerut. Terlintas kerapuhannya selama ini. Hidup yang begitu hampa rasanya sangat menyakitkan.
__ADS_1
Namun selama ini Mr. Dave sama sekali tidak pernah menunjukkan sakit maupun sedih itu.