
"Kurang ajar! memangnya dia siapa berani sekali menamparku." hardik Gara menatap kepergian istrinya ke dalam kamar mandi.
Kini tiba-tiba saja pintu ruang rawat itu terbuka, Gara seketika menatap kaget melihat kehadiran Tuan Tedy dan Nyonya Harina.
"Kalian." ucapnya.
"Gara, bagaimana keadaanmu?" tanya Nyonya Harina dengan raut wajah khawatirnya.
Sementara Tuan Teddy yang masih merasa kesal dengan tingkah putranya terus menatap ruangan seolah tengah mencari keberadaan seseorang.
"Baik, Bu." jawab Gara singkat.
Nyonya Harina tampak menghela nafasnya, "Loh ini tangannya kenapa, Bu?" tanya Tuan Tedy terkejut saat tatapannya tak sengaja melirik ke arah putranya.
Sebenarnya ia enggan untuk memberikan perhatian pada putranya, namun bagaimana pun anak tetaplah seorang anak. Tidak akan bisa terputus dengan hal apa pun.
Gara tampak membuang tatapannya pada Tuan Tedy, ia masih sangat kesal.
"Tangannya masih tidak bisa berfungsi, Ayah. Ini akan membutuhkan waktu untuk kembali melalui terapi." terang Nyonya Harina.
"Oh, baguslah setidaknya dengan begitu kau akan bisa mempergunakan tanganmu untuk hal yang lebih baik."
Mata Gara seketika menatap begitu kesal mendengar penuturan Ayahnya, begitu juga dengan Nyonya Harina yang mendengarnya.
Karena yang ia fikirkan Tuan Tedy akan kembali syok setelah mendengar keadaan putranya.
"Ayah." sahut Nyonya Harina memegang lengan suaminya.
Berusaha untuk membuat suaminya berkata yang tidak akan melukai hati anaknya. "Dimana menantu kesayangan ku?" tanya Tuan Tedy tampak acuh pada kemarahan Gara.
"Dia masih membersihkan tubuhnya yang kotor dari pria lain." sahut Gara dengan penuh penghinaan.
"Plaaakk." Kembali suara tamparan pun terdengar di ruangan itu, namun kali ini bukan dari Kharisa melainkan dari ibunya sendiri.
"Gara, jaga bicaramu Nak. Lihat Ibu, lihat wanita yang ada di hadapanmu saat ini. Ibu juga seorang wanita, apa kau tidak berfikir bagaimana jika ibumu mendapat penghinaan seperti yang kau katakan barusan?"
__ADS_1
Nyonya Harina berbicara dengan mata yang menatap Gara dengan nanar. Seolah kata-kata Gara benar terasa menyayat hati Nyonya Harina.
"Ibu sangat berbeda dengannya." tutur Gara menolak pembelaan Nyonya Harina pada Kharisa.
Belum sempat perdebatan panjang berlangsung, kini Kharisa sudah keluar dari kamar mandi. Matanya menatap heran pada tiga orang di hadapannya saat ini.
"Ayah, Ibu, kalian kemari?" tanya Kharisa dengan senyumnya.
"Iya, kami membawakan makan untukmu dan juga Gara. jawab Nyonya Harina sembari tersenyum menatap Kharisa di ikuti dengan Tuan Tedy yang juga tersenyum.
"Kharisa, makanlah dan kita akan bersiap pulang." pintah Tuan Tedy seketika mengejutkan semuanya.
Kharisa juga terkejut mendengarnya, karena yang ia tahu suaminya masih butuh beberapa hari lagi untuk mendapat perawatan di rumah sakit itu.
"Ayah, bukankah kata Dokter..." (ucapan Kharisa belum sempat ia selesaikan kini tatapannya sudah menatap pada sang suami yang tampak bernafas memburu seolah sedang menahan kemarahannya).
"Ayah fikir Gara akan jauh lebih baik mendapat perawatan di rumah saja, biarkan Dokter dan beberapa perawat yang ke rumah." terang Tuan Tedy.
"Ayah," Nyonya Harina kembali bersuara.
"Tidak, Bu. Keputusan Ayah sudah bulat. Biarkan Gara mendapat perawatan di rumah. Setidaknya dia sakit dan tidak membuat kita semua sakit mengkhawatirkan dirinya sementara dia seenaknya saja menghina kita." pekik Tuan Tedy.
"Ayah, biarkan Kharisa menjaga Gara di sini sampai Dokter yang menginjinkan Gara untuk pulang. Karena Kharisa khawatir dengan pelayanan di rumah tidak sebaik di rumah sakit. Kalau di rumah sakit sangat banyak tenaga medis yang membantu. Percayakan pada Kharisa, Ayah." tutur Kharisa lemah lembut.
"Bagaimana pun aku merasa sedikit lebih nyaman saat di rumah sakit. Setidaknya aku tidak harus memperlakukannya dengan sangat manis. Dan yah jika di rumah sangat banyak mata-mata dari keluarga Tuan Tedy. Aku muak jika harus bersandiwara dengan pria labil itu." Kharisa berbicara dalam hatinya seraya menatap tajam pada Gara.
"Kau benar-benar wanita ular, Ayahku saja yang tidak luluh dengan ucapan Ibuku, bisa jadi luluh setelah mendengar ucapanmu. Ciiih aku sungguh tidak sudi menganggapmu sebagai istriku." pekik Gara dalam hatinta seolah berbicara dengan Kharisa penuh cacian melalui sorot mata tajamnya.
"Ayah, benar kata Kharisa. Di sini aka jauh lebih baik dari pada di rumah. Ibu takut terjadi apa-apa dengan tangan Gara, Yah." Nyonya Harina pun ikut menimpali ucapan Kharisa.
"Ayah, Ibu, bagaimana keadaan Vino dan Vano? apa mereka nakal di sana?" tanya Kharisa yang memalingkan pembahasan mereka.
Nyonya Harina tersenyu dan menggelengkan kepalanya yang memakai sanggulan tidak begitu tinggi, menunjukkan wajahnya yang masih tampak segar itu.
"Adikmu sangat membuat Ayah dan Ibu benar-benar takjub. Mereka sangat rukun dan rajin, selain belajar terkadang mereka membantu para pelayan di rumah. Sampai Ayah pun melarangnya."
__ADS_1
Kemarahan Tuan Tedy yang tadinya menyala-nyala seketika tersenyum mengingat tingkah Vino dan Vano yang membuat suasana rumah mereka jadi hidup.
"Maafkan Kharisa, Ayah, Ibu sudah membuat kalian jadi terbebani." tuturnya dengan tak enak hati.
"Kharisa, kehadiran adik-adik mu bukanlah kemauanmu, tapi itu kemauan kami agar rumah kami juga merasakan ada anak pria di sana. Karena seperti yang kau tahu jika suamimu itu sudah tidak seperti pemilik di rumah itu lagi. Datang dan pergi sesuka hatinya saja." Tuan Tedy yang berbicara sembari melemparkan tatapannya pada Gara.
Percakapan mereka tampak asyik dan tidak menghiraukan Gara yang benar-benar kesal karena selalu di selipkan namanya di tengah-tengah pembicaraan mereka bertiga.
Tanpa terasa kini waktu sudah semakin larut hingga Tuan Tedy dan Nyonya Harina berpamitan untuk pulang.
Kharisa yang mengatarkan kepulangan kedua orang tua itu menghela nafasnya kasar dan menutup kembali pintu ruang rawat Gara.
"Aku bosan dengan pernikahan tidak berguna ini." Gara tiba-tiba kembali bersuara.
"Ya Tuhan baru saja satu masalah selesai kini datang lagi masalah dari biangkeroknya."
"Semua terserah padamu saja, mau lanjut atau tidak. Aku juga lelah, tapi jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu pada orang tuamu. Aku tidak mau ikut andil sebagai penyebab kemarahan atau hal lain yang kalian alami." jawab Kharisa dan segera meraih pekerjaannya kembali.
Gara yang terdiam memikirkan kesehatan Ayahnya tampak bimbang.
"Tok...tok...tok." Suara pintu ruangan kembali terdengar.
Kharisa denga cepat membuka pintu itu dan matanya menangkap sosok wanita yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Maaf, jam besuk suda habis." sahut Kharisa yang mengenali siapa wanita di hadapannya saat ini.
Ia melihat Reynka saat berada di acara pernikahannya, dan ternyata Nyonya Harina mengatakan padanya jika ia adalah mantan Gara.
"Aku kemari bukan untuk membesuk, melainkan untuk memeriksa keadaan pasienku sekaligus memberikannya suntikan vitamin." jawab Reynka dengan senyuman menggoda yang ia tujukan untuk membuat Kharisa cemburu.
Sayangnya ia tidak tahu benar siapa Kharisa, bagi Kharisa, Gara sama sekali tidak memiliki kualitas seorang suami yang ia idamkan.
Hanya bermodal tampan saja sangat tidak cukup, ia tidak berprestasi dan tidak mapan. Hanya ada kehidupan kelam saja di hidupnya.
Reynka yang kini sudah melangkah masuk ke ruang rawat Gara dengan sengaja menyenggol tubuh Kharisa, alih-alih ia membuat Kharisa kesal justru dirinya lah yang terhempas dari tubuh Kharisa.
__ADS_1
"Aduuuuh." rintih Reynka yang mengusap lengannya yang terhempas ke pintu.
"Cihhh." Suara Kharisa terdengar meremehkan kekuatan Reynka.