
"Hey...Kharisa bangunlah."
"Tidak, aku mohon jangan bawa aku. Aku tidak ingin!" Suara Kharisa menggema di ruangan itu. Gara yang berusaha menyadarkan sang istri terkejut merasa suhu badan Kharisa begitu panas.
"Astaga. Dokter!" Berteriak sembari menekan tombol di ruangan itu untuk meminta bantuan.
Menunggu Dokter dengan wajah cemasnya Gara merasa tubuhnya semakin tercekik karena pelukan Kharisa begitu kuat. Ia sadar jika Kharisa tengah ketakutan saat ini.
"Aku senang kau memelukku begitu erat tidak perduli dengan sakitku, tapi aku sedih karena pelukan ini di sebabkan hal yang menakutkan dirimu, Kharisa." batin Gara masih menatap wajah Kharisa dengan tatapan yang tidak bisa di artikan lagi.
Tok
Tok
Tok
Tiga kali ketukan pintu dari luar ruangan terdengar membuyarkan tatapan Gara pada istrinya. Terlihat Dokter bersama suster kini masuk dan kembali menutup pintu ruangan itu. Keduanya melangkah semakin mempersempit jarak mereka.
"Dok, tolong. Istri saya demamnya tinggi sekali." ucap Gara masih dalam pelukan Kharisa hingga terlihat jelas tubuhnya yang seperti tercekik.
"Saya akan memeriksa pasien sebentar." ucap Dokter dengan wajah ramahnya tak perduli jika tenaganya sudah mulai lelah karena hari sudah semakin malam namun pekerjaannya masih begitu banyak.
"Silahkan, Dok."
Setelah beberapa saat Dokter usai memeriksa keadaan Kharisa, dan seiring berjalannya waktu itu juga Kharisa sudah tidak bersuara lagi pelukan yang begitu mengikat tubuh Gara sudah mulai mengendur.
Gara benar-benar tidak memperdulikan sakit di tubuhnya lagi, dengan sekuat tenaganya ia menggerakkan tangannya itu demi meraih wajah sang istri yang tampak sangat pucat.
"Istri anda mengalami depresi, untuk sementara ini jangan biarkan ia terlalu berpikir berat, Tuan. Saya khawatir hal ini akan mengguncang kejiwaannya. Untuk sementara waktu kami akan memberikan obat penenang, namun selama itu juga pastikan tidak ada hal yang ia takutkan kembali muncul."
Menegak kasar salivahnya yang begitu sulit saat mendengar penjelasan sang Dokter. "Apa tidak masalah hal ini, Dok?" tanya Gara.
"Sepertinya ini sangat mengkhawatirkan, Tuan. Istri anda memiliki trauma besar, jika sedikit saja mengalami kesalahan kita akan kesulitan menghadapinya. Tapi saya akan usahakan memberikan yang terbaik, mohon bantuan kerja samanya."
"Baik, Dokter. Terimakasih."
Dokter pergi meninggalkan ruangan yang hanya tersisa Gara dan juga Kharisa di sana. Suasana yang hening membuat Gara memilih untuk memiringkan pelan tubuhnya agar bisa menatap sang istri yang masih terlelap dengan tenangnya.
Netra indah itu terus menatap intens wanita cantik yang berwajah pucat dan setelahnya ia mengalihkan tatapan pada tubuhnya sendiri. Ada seringai tipis mengembang di bibir merah pria itu.
__ADS_1
"Jangan bodoh, Gara. Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa dengan tubuhmu yang lemah ini. Pastikan kau sembuh agar bisa menghadapi semuanya." Mengingat kejadian saat itu ia sama sekali tidak bisa melakukan apa pun pada Khard saat di hotel karena ketidak berdayaannya sungguh membuat Gara lebih menyayangi tenaganya saat ini.
"Aku akan menjagamu, Kharisa. Aku tidak akan membiarkan mu menderita. Ini semua salahku. Biarkan aku berjuang hingga tetes darah penghabisanku." Masih dengan mengusap lembut wajah istrinya ia pun turut mendaratkan ciuman di kening, kedua mata, dan terkahir di bibir yang hampir tidak berwarna itu.
Pelukan ternyaman ia berikan pada kharisa dan mulai memejamkan matanya, namun belum sempat Gara memejamkan mata terdengar kembali suara ketukan pintu dari luar. Knock pintu terbuka perlahan dan menunjukkan sosok Vano di sana.
"Kakak ipar belum tidur?" tanyanya pelan sembari meneruskan aksinya menutup pintu dan melangkah masuk.
"Ada apa, Vano?" tanya Gara lirih.
"Ibu menyuruhku untuk menemani Kakak dan Kakak ipar di sini." terangnya.
"Oke, kau tidurlah di ranjangku. Aku akan tetap tidur di sini." sahut Gara kemudian memejamkan matanya.
Vano yang sudah duduk di samping ranjang Kharisa mengusap wajah Kakaknya. Terlihat manik mata hitam bulat kecil itu berkaca-kaca. Ia benar-benar ingin sekali membuat Kakaknya bahagia, namun apa yang harus ia lakukan saat ini selain menuruti perintah sang Kakak? masalah kehamilan dan pemerkosaan Kharisa saja kedua adiknya masih tidak mengetahuinya.
"Kak, maafkan Vino dan Vano masih belum bisa melindungi Kakak. Ini kali terakhir kami akan diam dan bersikap polos. Maafkan Vano jika setelah ini Vano tidak akan mau menurut pada Kakak lagi untuk selalu berada di rumah dan fokus belajar." gumamnya masih menatap wajah cantik di depannya dengan bersampingan wajah pria tampan yang sudah terlelap.
Tanpa Kharisa ketahui Vino dan Vano sudah mengurus seluruh kebutuhannya untuk bersekolah. Bukan jalur yang seperti Kharisa inginkan untuk melewati berbagai tes paket, melainkan dengan melewati jalur yang Tuan Tedy tawarkan.
Kedua pria kembar itu meski sudah menolak tawaran dari Tuan Tedy, namun Tuan Tedy sudah memberikan kontak untuk mereka jika ingin merubah pikiran, dan orang kepercayaan Tuan Tedy tentu bisa membantu mereka kapan pun itu.
Setelah lama ia memandangi wajah sang Kakak, ia memutuskan untuk segera bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju ke tempat tidur milik Gara. Merebahkan tubuh dengan pelan, dan memiringkan tubuhnya agar masih bisa melihat sosok Kakak yang selama ini selalu memperlakukannya bak balita yang membutuhkan pengawasan instens dari seorang Ibu.
Jika di ruangan itu hanya ada keheningan dalam sunyinya malam, berbeda dengan suasana di kantor tempat Kharisa bekerja.
Di ruang terang namun hanya ruangan itu saja yang terang, terlihat dua orang yang baru saja usai mengerjakan pekerjaan mereka, Rika dan juga Rifal. Mereka menyandarkan tubuh tepat di sandaran kursi kerja masing-masing.
"Sudah selesai?" tanya Rifal.
"Sudah, Presdir. Kita pulang sekarang?" tanya Rika.
Tok
Tok
Terdengar dua ketukan di ambang pintu ruangan itu, seorang security yang berdiri di sana. "Permisi, saya ingin memberi tahu jika di ruang kerja Nona Kharisa ada suara dering ponsel. Apa saya membawanya kemari atau di biarkan saja?" tanyanya dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Rika dengan sigap berdiri. "Presdir, saya permisi untuk membawakan barang milik Kharisa."
__ADS_1
"Silahkan Rika." Rifal juga bergegas mengemasi barangnya dan segera beranjak pulang. Rika sudah berjalan ke ruang kerja Kharisa.
Sejak tadi ponsel itu tak henti-hentinya terus saja berdering. Sesampainya di ruang kerja Kharisa, wanita itu segera meraih benda tipis persegi panjang itu.
"Mungkin ini Kharisa yang mencari ponselnya." gumamnya namun masih terdengar jelas oleh sekurity yang berdiri di ambang pintu.
"Terimakasih yah, Pak. Saya akan segera membawa pulang ini untuk memberikannya." sahut Rika kemudian beranjak pergi dari sana karena hari sudah begitu larut.
"Sama-sama Nona."
Rika melangkah menuju keluar gedung menuju mobilnya, di perjalanan ponsel milik Kharisa kembali berdering setelah tadi sempat mati tanpa sempat Rika mengangkatnya.
"Halo." ucap Rika.
"Halo sayang, wah ternyata suaramu bisa berubah juga yah? apa itu setelah kita menghabiskan waktu bersama? hem? aku merindukanmu. Mengapa kau tidak membalas pesanku sejak tadi? apa kau sengaja biar aku menelpon mu? Kharisa?"
Wajah gugup Rika terlihat jelas, ia merasa sudah lancang mengangkat telepon milik orang lain. "Maaf-"
"Sst, aku tidak ingin mendengar kata maaf dari orang yang sangat aku cintai. Aku hanya ingin mendengar kabar anak kita? apa anak kita sehat? Kau masih menjaga dirimu dari pria gila itu, kan? aku harap begitu. Tunggu aku, kita akan segera hidup bersama." terdengar suara yang jelas meski ia seperti berbicara pelan dan bersembunyi di balik telepon itu.
"Pria gila? siapa ini? dan apa laki-laki ini atau pria gila itu yang menyebabkan Kharisa syok dan pingsan tadi? astaga, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Rika membungkam mulutnya gugup.
"Hey, siapa yang belum tidur!" Suara bernada tinggi terdengar di seberang telepon itu. Dan benar saja sambungan telepon pun terputus.
"Sebenarnya apa yang Kharisa alami? mengapa seperti membuatku penasaran saja? astaga Rika kau tidak boleh mencampuri urusan orang lain."
Ia melangkah kembali dan masuk ke mobilnya, ponsel milik Kharisa kembali ia masukkan ke dalam tas itu. Sepanjang perjalanan Rika terus berpikir tentang apa yang baru saja ia dengan di telepon.
"Baiklah besok pagi aku akan menjenguk Kharisa ke rumah sakit sebelum berangkat kerja." ucapnya dan menginjak pedal gas mobil menuju rumahnya.
***
Wanita yang tampak terbaring di samping sang suami tiba-tiba bangun dari tidurnya. Kerutan di kelopak matanya tidak membuat kecantikannya kurang sedikit pun. Kegelisahan, penyesalan kembali terlintas di benak Nyonya Harina.
Ia memikirkan nasib malang menantunya itu. "Kharisa, nasibmu sungguh malang, Nak. Seharusnya Ibu bisa percaya penuh dengan mu. Ibu seharusnya bisa menjadi orangtua mu yang baik. Tapi sekarang justru Ibu yang meragukan mu. Maafkan Ibu, Sayang. Ibu akan menjanjikan kehidupan yang bahagia untuk mu setelah ini. Apa pun yang terjadi, Ibu tidak perduli siapa ayah dari anak yang ada di dalam kandungan mu itu. Ibu akan menebus seluruh dosa kami semua padamu."
"Bu..." Suara lirih terdengar jelas di indera pendengar Nyonya Harina yang tengah berdiri menatap keluar jendela itu menikmati pemandangan lampu-lampu banguna yang menjulang tinggi di sana.
"Ayah." Nyonya Harina sangat terkejut mendengar suaminya yang baru sadarkan diri. Ia mengusap kasar wajahnya yang tengah menangis dan berlari cepat mendekat begitu juga dengan Vino yang mendengarnya.
__ADS_1
"Ayah." Vino mendekat dan tersenyum melihat Tuan Tedy yang sudah sadarkan diri.