
"Aku tidak ingin masuk ke dalam kehidupan kalian lagi. Biarkan aku hidup tenang, diriku sangat kotor. Kualitas diriku tidak mampu menutupi kekuranganku saat ini." tutur Kharisa dengan meneteskan air matanya.
"Aku tahu kau tidak menginginkan diriku, Kharisa." ucap Gara.
"Beri aku kesempatan untuk merebut hatimu." Gara kembali bersuara.
Kharisa terkejut mendengar pernyataan pria itu yang tidak lain adalah suaminya.
Gara bergerak mendekati Kharisa lalu ia menggendong Kharisa tanpa permisi keluar ruang rawat itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kharisa.
"Aku akan mengantarmu pulang sekarang. Adikmu pasti sangat khawatir." terang Gara tanpa mau menatap wajah sang istri.
"Turunkan aku!" pekik Kharisa dengan berusaha memberontak dari gendongan pria kuat itu.
"Diamlah." pintah Gara.
Gara dan Kharisa menuju ke mobil, Randa mengikuti di belakang dan segera membukakan pintu mobil. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Di perjalanan Kharisa hanya sesekali mencuri pandangan pada Gara, sementara pria itu terlihat sangat serius menatap jalanan di depan.
Kharisa tampak ingin melontarkan satu perkataan pada suaminya itu. "Apa ini semua karena Tuan Tedy?" tanya Kharisa dengan ragu.
Gara sejak tadi acuh padanya seketika menatap Kharisa tajam.
"Jangan sangkut pautkan apa pun tentang kita pada Ayah." ucap Gara.
Kharisa terdiam, ia membuang wajahnya pada sekeliling jalan yang mereka lalui dengan mobil itu.
"Dari mana kau tahu tempat tinggal ku?" tanya Kharisa dengan wajah kagetnya.
"Kau lupa aku ini siapa?" tutur Gara.
Kharisa memutar matanya malas saat mendengarkan perkataan suaminya, memang benar jika mengenai keberadaan dirinya tentu bukanlah hal yang sulit bagi Gara.
Vino dan Vano yang mengintip dari balik korden jendela sangat tak menyangka dengan kepulangan Kakaknya.
Dengan cepat kedua pria itu membuka pintu rumah lalu berjalan cepat menghampiri Kharisa yang berdiri bersampingan dengan Gara.
__ADS_1
"Kak Risa, Kakak ipar pasti kau telah membuat sesuatu pada Kakak kami!" pekik Vino dengan beraninya.
Gara hanya melempar tatapan tajam padanya. "Vino, tidak dia telah menolong Kakak, ayo sekarang kita masuk." ajak Kharisa tanpa mau mengatakan apa pun pada suaminya yang masih berdiri di samping mobil itu.
Belum sempat Kharisa melangkahkan kakinya, tiba-tiba Gara sudah menarik cepat tangan wanita itu. Hingga Kharisa terjatuh dalam pelukan Gara.
Vino dan Vano membulatkan mata mereka, menatap aneh pada Kakaknya dan suaminya itu.
"Lepaskan!" pekik Kharisa setengah berbisik.
"Aku akan datang kemari setiap waktu. Dan siapkan kamar untuk kita di sini." pintah Gara kemudian melepaskan pelukannya.
"Jangan lakukan itu, aku tidak akan mau." sahut Kharisa membantahnya.
"Siapkan atau aku yang akan menyiapkan kamar untuk kita di rumah Ayah." ancam Gara lalu menyunggingkan senyumannya.
Kharisa begitu geram mendapatkan ancaman seperti itu, Gara sangat tahu kelemahan istrinya yang enggan untuk kembali bertemu dengan kedua mertuanya itu.
Gara pergi masuk ke mobil, kemudian Randa melajukan mobilnya meninggalkan Kharisa dan kedua adik mereka yang masih menatap kepergian pria itu.
Vino dan Vano segera mendekati kakaknya. "Kak Risa, apa yang terjadi mengapa Kakak tidak pulang-pulang?" tanyanya dengan cemas.
"Aku tidak mungkin mengatakan jika aku sedang hamil dan aku di rawat di rumah sakit." gumam Kharisa dengan penuh kebimbangan.
"Lalu mengapa Kakak bisa pulang dengannya?" tanya Vino begitu penasarannya.
"Sudahlah mau sampai kapan kau introgasi Kakak. Pasti Kak Risa kelelahan, ayo kita bawa masuk." tutur Vano dengan menggandeng tangan Kharisa.
Terlihat jelas wajah pucat wanita itu perasaannya benar-benar tidak enak kali ini. Ketiga saudara itu kini sudah masuk ke dalam rumah.
Kharisa langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang berukuran kecil itu. Matanya menatap ke segala sudut kamar tanpa ada kekuatan lagi pada diri wanita tangguh itu.
"Baru saja aku ingin memulai hidup baru, namun masalah sudah kembali datang padaku. Tuhan jauh mempercayaiku untuk merawat titipannya. Tapi mengapa dengan jalan yang hina seperti ini?" ucapnya dalam hati.
Lagi-lagi Kharisa memendam semua masalahnya, ia tidak ingin kedua adiknya ikut sedih dengan beban hidupnya. Bagi Kharisa cukup sudah penderitaan kedua adiknya selama berpisah darinya.
Lamunan Kharisa tiba-tiba tersadar saat mendengar ponsel miliknya berdering di dalam tas yang ia letakkan di sampingnya.
Mata Kharisa menatap layar ponsel yang memperlihatkan nama kantor. "Halo," ucapnya dengan menempelkan benda tipis itu.
__ADS_1
"Nona Kharisa, anda tidak masuk bekerja hari ini?" tanya Rika.
"Astaga Rika, maafkan saya. Saya baru saja keluar dari rumah sakit keadaan saya sedang sangat lemas kali ini." terang Kharisa sembari menepuk sekali jidatnya.
"Sakit? anda sakit apa? maafkan saya karena tidak tahu, saya hanya ingin menanyakan keberadaan anda karena Presdir Rifal sudah datang dan menanyakan keberadaan anda tadi." terang Rika.
"Saya hanya..." Kharisa tampak terdiam sejenak ia bingung ingin mengambil alasan apa. "Kurang darah, iya saya kurang darah Rika." lanjutnya.
"Baiklah saya akan memberi tahu pada Presdir Rifal mengenai keadaan anda. Semoga cepat sembuh yah."
"Baik, terimakasih Rika. Dan panggil saja saya Kharisa." ucapnya dengan ramah.
Panggilan pun terputus, kini Kharisa melanjutkan tidurnya di kamar berukuran kecil itu. Sampai ia tidak mendengar lagi suara ketukan pintu yang berasal dari luar kamarnya.
Vino membuka pintu kamar itu, ia melihat kakaknya yang sudah terlelap.
"Kasihan Kak Risa, dia pasti kelelahan. Sampai cepat sekali terlelapnya." gumam Vino seraya meletakkan teh hangat di meja sudut kamar itu.
***
"Apa sudah jatuh cinta padanya?" tanya Mr. Dave menatap penuh menyelidik pada Gara yang baru saja tida bersama Randa.
Di ruangan luas bernuansa gelap itu kini hanya ada Gara dan Mr. Dave. Randa yang hanya menunggu mereka di luar tampak gelisah. Ia takut jika Mr. Dave akan sangat marah.
"Maafkan saya Mr. Dave, Saya tidak memiliki perasaan pada wanita itu. Ini semua demi orangtua saya, Ayah saya. Dia sedang sakit dan dengan adanya wanita itu kesembuhannya jauh lebih cepat." terang Gara.
Tawa Mr. Dave menggelegar di ruangan itu. Tubuhnya ikut bergetar mendengar pengakuan Gara.
Gara yang menatapnya hanya berusaha menenangkan diri setenang mungkin. "Tidak mencintai? lalu dengan meninggalkan pekerjaan di Cina demi wanita itu, kau bilang tidak mencintai?" pekik Mr. Dave.
Mata Gara bergerak kesana kemari ia merasa pertanyaan Mr. Dave kali ini benar-benar menjurus pada kesalahannya.
"Iya tentu saja, Mr." sahut Gara.
Pria itu mengangguk beberapa kali lalu ia beranjak dari sofa dan mendaratkan satu pukulan di wajah Gara.
"Anggap pukulan ini sebagai peringatan jangan bermain api dengan wanita mana pun. Dan ingat siapa dirimu." ancam Mr. Dave.
"Pergilah!" pintah Mr. Dave.
__ADS_1
Gara yang sama sekali tidak memegang wajahnya kini segera menundukkan tubuh lalu beranjak pergi meninggalkan Mr. Dave.
Terlihat jelas sobekan kecil di ujung bibir pria tampan itu.