
Sepanjang perjalanan Gara tampak hening, ia sudah lega karena semua permasalahan mereka perlahan teratasi dengan baik. Ia melirik sekilas ke arah Kharisa. Kemudian melukis senyum indah meski tidak begitu lebar di wajahnya.
"Kau benar-benar wanita ajaib. Semua bisa kau rubah termasuk hatiku, Kharisa." batin Gara sembari memalingkan pandangannya kembali fokus ke arah jalan.
Sejenak kembali terputar memori mereka saat baru-baru menikah. Benar-benar tidak ada akur sedikit pun bahkan keduanya kerap kali melontarkan kata-kata hinaan pada sesama kala keduanya beradu mulut.
Dan sekarang hal itu seakan hanya suatu kenangan yang menggemaskan bagi mereka.
Jika semua musibah begitu berat, jangan lupakan sang kuasa yang selalu menyelipkan berlian di bongkahan batu itu. Seperti halnya dengan musibah yang mereka lewati, Tuhan sudah menyelipkan hati bagi dua insan yang saling menguatkan hingga bersatulah Gara dan Kharisa menjadi cinta.
Setelah perjalanan berakhir, kini mobil memasuki halaman kediaman Tuan Tedy. Mentari kemerahan tampak menghiasi halaman rumah megah nan asri itu. Bunga-bunga tampak berkilau terpantul dengan cahaya sore.
Sepasang suami istri terlihat tengah menikmati suasana sorenya.
"Gara sudah pulang, Ayah." ujar Nyonya Harina sudah menampilkan wajah bahagianya begitu juga dengan sang suami.
Mereka gemas sendiri mengingat tingkah cemburu anak dan menantunya itu.
Gara turun dari mobil kemudian memutar ke arah pintu mobil tempat Kharisa duduk. Tuan Tedy dan Nyonya Harina masih memperhatikan apa yang anak mereka lakukan.
Apakah akan ada pertengkaran di rumah ini? begitulah batin keduanya menerka-nerka. Setelah lama diam terjawab sudah.
"Ayah, Ibu, Gara bawa Kharisa ke kamar." ucapnya sembari menggendong tubuh sang istri masuk ke dalam rumah.
Belum sempat pria itu melangkah lebih jauh, Kharisa merasakan tubuhnya ada yang mendekap. Ia membuka matanya, tampaklah dagu tegas berbulu tipis di atas wajahnya.
Itu artinya ia sedang berada dalam gendongan Gara.
"Turunkan aku! Gara turunkan aku." teriak Kharisa menyadari posisinya saat ini.
"Sudah diamlah." sahut Gara acuh tetap melangkah.
"Turunkan aku! kalau tidak-"
"Kalau tidak apa?" potong Gara dengan tatapan menantang.
Kharisa yang masih kesal dengan ulah suaminya segera menggigit dada Gara tepat di bagian ujung milik Gara. "Arghh..." Gara merintih keras hingga refleks tangannya melepaskan gendongan Kharisa saat kakinya melangkah di bagian tangga depan pintu rumah.
"Aaaaa...." Kharisa pun ikut berteriak karena terjatuh di tangga.
Wanita itu meringis kesaktian memegangi punggungnya yang terasa patah sepertinya.
"Astaga Gara, Kharisa." Nyonya Harina sontak berlari kecil bersama suaminya.
Terlihat Gara mengusap-usap dadanya karena kesakitan, begitu juga Kharisa yang kesakitan di punggungnya.
"Kau benar-benar." kesal Kharisa menatap marah pada Gara.
"Gara, apa yang kau lakukan?" hardik Nyonya Harina.
__ADS_1
"Bu, Kharisa yang menggigit nen*nku." terang Gara sembari masih mengusap-usap dadanya.
"Kharisa, ayo Ibu bantu." Nyonya Harina berusaha membantu Kharisa bangun.
"Ah...sakit, Bu. Pinggang Kharisa seperti patah deh." ucapnya dengan kesakitan.
"Pelan-pelan, sayang."
"Kalian ini ada apa sih? barusan mesra-mesraan kok sekarang seperti kucing sama tikus lagi?" ujar Tuan Tedy kesal.
"Yasudah, Kharisa biar aku bantu gendong, Bu." Gara hendak melangkah meraih tubuh Kharisa namun terhenti.
"Tidak, aku tidak mau. Bu, bantu Kharisa."
"Iya, Sayang."
Kharisa masuk ke kamarnya dengan langkah berat karena setengah menyeimbangi tubuhnya yang sakit di bantu oleh Nyonya Harina dan Tuan Tedy.
"Kak Risa, kenapa kak?" Vino dan Vano yang tengah bersantai di ruang keluarga mendadak bangun dari duduknya.
"Ini gara-gara kalian. Benar-benar kalian yah." Kharisa mengomel sepanjang jalan.
"Van, kok kita?" tanya Vino kebingungan sembari berbisik pada saudara kembarnya.
"Wah ini pasti gara-gara kakak ipar." tebak Vino sangat tepat.
Tak lama kemudian Nyonya Harina dan Tuan Tedy kembali bergabung dengan Vino dan Vano. "Ada apa sih dengan Kakak kalian?" tanya Nyonya Harina penasaran.
"Kita juga tidak tahu, Bu." jawab Vano dan Vino serentak.
Mereka duduk bersama di sofa yang tertata rapi, sementara di kamar tidak ada yang tahu apa yang terjadi saat ini.
"Risa..." panggil Gara berusaha lembut.
"Apa kau sengaja menjatuhkan aku?" Kharisa menatap dengan penuh selidik pada Gara.
"Bukan aku, tapi aku yang suruh." elak Gara cepat.
"Aku akan tanggung jawab, meski bukan salahku. Oke?" Gara berusaha berdamai dengan sang istri.
"Ini salahmu, kau sebagai suamiku harusnya melindungi istri. Bukannya membuat celaka." ketus Kharisa lagi.
Gara hanya menghela nafas kasar. "Ayo kelahi saja. Aku lelah jika harus berdebat dengan wanita. Bagaimana kalau kita saling menembak saja." batin Gara berusaha lebih sabar.
Dimana-mana wanita akan jauh lebih benar jika soal membela diri. Kecuali jika pria itu memiliki mulut seperti wanita, barulah dia bisa menang melawan cerewetnya wanita.
"Apa? kenapa tanganmu mengepal seperti itu? kau mau menghajar ku?" tanya Kharisa.
Gara terkejut, "Tidak, aku ingin memijat tubuhmu. Makanya aku berusaha melatih tangan dengan seperti ini." elak Gara.
__ADS_1
Gara melangkah mendekati istrinya yang sudah bertelungkup di tempat tidur, perlahan ia duduk di sisi Kharisa.
Saat tangan pria itu sudah menyisipkan baju Kharisa ke atas punggung, "Apa yang kau lakukan?" hardik Kharisa langsung menepis kasar tangan suaminya.
"Bagaimana aku mau memijat mu kalau kau tidak ku sentuh? sudah diamlah!" Gara meletakkan kembali tangan Kharisa agar tidak menghalanginya.
Kharisa pun menurut, ia menenggelamkan wajahnya di bantal empuk. Gara mulai memijat punggung mulus sang istri.
Suasana hening. Gara yang sadar tak ada reaksi dari istrinya.
"Kau mau mati yah?" tanya Gara melihat Kharisa yang membenamkan wajahnya di bantal.
"Sudah pijit saja. Jangan perdulikan aku." balas Kharisa.
Tanpa Gara tahu, Kharisa tengah menahan rasa malunya saat ini. Mendengar ucapan Kharisa, Gara pun melanjutkan aksi tangannya.
Begitu nikmat pijitan sang suami, hingga Kharisa tak sadar jika ia sudah terlelap saat itu. "Apa masih sakit?" Gara kembali bersuara.
Tak ada jawaban. Ia menoleh ke samping untuk menjangkau wajah Kharisa.
"Hey..." Gara membalikkan tubuh sang istri.
Kharisa menutup matanya dengan bibir yang terbuka dan tak lupa meninggalkan jejak di bantal itu. Gara tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Dasar, pabrik pulau." ledek Gara yang memperbaiki posisi tidur Kharisa dan tak lupa ia mengganti bantal untuk sang istri yang sudah basah terkena salivahnya.
Kharisa mengerjap kemudian kembali terlelap, namun Gara yang memberi selimut di tubuh istrinya tanpa bisa mengendalikan diri tertelungkup.
"Emh..." suara Kharisa yang meraih lengan Gara dan memeluknya.
Mata Gara membulat menyadari posisinya saat ini dengan Kharisa. Wajah keduanya sudah sangat dekat.
"Gara-"
Nyonya Harina yang tanpa sengaja langsung masuk ke kamar anaknya karena ingin memberikan minyak untuk pereda nyeri terkejut mendapati posisi anaknya saat ini.
"Ibu." Gara langsung bangkit dari tempat tidur kemudian kebingungan.
Nyonya Harina tersenyum lebar, "Sudahlah, Ibu tidak jadi masuk. Sepertinya kau sudah bisa jadi obat. Lanjutkan, Nak." ucap Nyonya Harina terkekeh tanpa mau mendengarkan penjelasan Gara.
"Bu." panggil Gara lagi namun tidak di gubris dan pintu sudah tertutup kembali.
Gara berdecak kesal, "Laki-laki selalu salah." ucapnya kemudian menjatuhkan tubuhnya di kasur tepat di samping Kharisa.
"Awas kau...dasar laki-laki hidung belang. Gatel, sudah punya istri masih juga jelalatan."
Terdengar celotehan Kharisa yang masih tetap memejamkan matanya.
Gara terkejut mendengarnya saat ia hendak terlelap. "Apa yang dia maksud itu aku?" batin Gara menerka-nerka.
__ADS_1